Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Buka hati belajar mencintai


__ADS_3

Aku dan Raihan duduk di tepi pantai di sebuah gazebo. Dengan bantuan lampu lima watt di atas kami, aku masih bisa melihat bibir Raihan yang terluka kecil dan darah yang meluber meskipun nampak remang remang.


Di hadapan kami deburan ombak terdengar bergemuruh sepertinya laut sedang pasang malam ini.


"Aku lap dulu ya darahnya,"ucapku, tanpa menunggu anggukan darinya aku mengelap bibirnya perlahan hingga bersih dan tinggal menyisakan luka nya saja.


"Maaf ya Rai, aku sudah melukai mu."


"Gigi mba tajam juga ya seperti gigi drakula," ledek nya dengan nada becanda.


"Kalau aku drakula bukan bibirmu yang ku gigit melainkan lehermu."


"Kalau drakula nya secantik ini aku tidak nolak di gigit mba, he he."


Aku mencubit gemas perut sixpack nya. Sebuah kebiasaan ketika aku merasa malu atau salah tingkah.


"Jangan di cubit dong mba, tidak enak rasanya, mending di cium saja."Raihan mulai menggoda namun aku hanya memajukan bibir bawahku saja.


Tidak terasa satu jam kami berada di pantai hingga aku meminta pulang karena aku merasa tidak sanggup lagi melawan dinginnya angin laut malam ini. Raihan pun menyetujui permintaanku untuk pulang saja ke rumah.


Tepat pukul dua belas malam kami baru sampai di rumah. Aku melepas sabuk pengaman yang melintang di perutku. Ku lirik Raihan, dia tidak ikut membuka sabuk pengamannya melainkan hanya memperhatikanku saja.


"Kamu tidak ikut turun Rai?"tanya ku.


"Apa kalau aku ikut turun itu artinya aku di perbolehkan menginap di rumah mba?"Raihan balik bertanya.


"Memang nya harus di bolehkan menginap dulu baru kamu mau turun?"


"He'em."


Aku menghela nafas."Ya sudah kalau kamu mau langsung pulang, pulang saja."


"Jadi mba tidak memperbolehkan aku nginap?"


"Mau tidur dimana? rumah ku banyak orang."


"Ya....tidur di kamar mba dan Zain lah."


Aku memajukan bibir bawahku."Nanti saja kalau kita sudah berjodoh."


"Kok bicara nya seperti yang tidak yakin begitu mba? yakin kan kenapa kalau kita pasti berjodoh!"


"Manusia hanya bisa berencana tapi tetap saja yang menentukan adalah tuhan Rai. Kalau Tuhan sudah menentukan kita tidak berjodoh bagaimana? apa mau menentang takdirnya?"

__ADS_1


"Selama menunggu masa Iddah mba aku akan terus berdoa agar Tuhan menjodohkan kita mba, bila perlu aku sogok pakai uang supaya tuhan mengabulkan doa ku," canda Raihan.


Aku tertawa kecil mendengar candaannya. "Apa kamu pikir tuhan itu pejabat negara yang tidak amanah dan bisa di sogok?"


Raihan tersenyum nyengir.


"Habis aku frustasi mendengar mba ngomong begitu jadi aku berandai andai jika Tuhan bisa di sogok, demi mba aku pasti akan melakukannya."


Aku menatap pria yang ada di sampingku dengan senyum tipis yang tersungging di bibirku. Dalam hati aku berkata bukan hanya kamu saja yang berharap menikah denganku Rai, tapi aku juga, aku juga ingin memiliki suami sepertimu.


"Kenapa menatapku seperti itu mba, apa mba berubah pikiran?"


Aku mengernyitkan dahi."Berubah pikiran?"


"Ya, siapa tau mba berubah pikiran untuk membolehkan aku nginap di rumah mba."


"Kalau kamu mau tidurnya satu kamar dengan bang Supri sih tidak masalah Rai."


Raihan tidak membalas ucapan ku melainkan menarik hidungku hingga wajahku ikut tertarik dan bersamaan dengan itu, dia mengecup lembut keningku. Setelah melepaskan bibirnya dari keningku, dia membelai pipiku sembari berkata.


"Aku sangat mencintaimu mba, aku berharap penantian panjang ku ini tidak lah sia sia. Buka lah hati mba seluas luasnya untuk aku dan belajar lah untuk mencintaiku."


Aku tersenyum. Andai saja dia tau bagaimana perasaan aku sebenarnya padanya apa mungkin Raihan akan merasa senang? ingin rasanya aku katakan padanya saat ini bahwa aku pun mencintainya. Tapi kenapa bibir ini rasanya sulit sekali berucap.


"Ya sudah mba masuk gih, mba pasti lelah hari ini, susah jagain anak banyak harus bolak balik ke rumah sakit lagi.


Kemudian aku membuka pintu mobil setelah Raihan membuka kuncinya. Namun sebelum aku menurunkan kakiku, Raihan memanggilnya ku.


"Kenapa Rai?" tanyaku.


"Aku akan sering sering jenguk mba dan Zain," ucap nya. Aku mengangguk dan tersenyum padanya.


Aku menatap mobil sport mewah itu hingga menghilang dari pandanganku. Ketika aku berbalik dan hendak masuk ternyata bang Supri sudah berdiri di ambang pintu. Sontak saja keberadaannya yang memakai sarung hingga kepala dan hanya menampakkan mukanya saja membuat aku terkejut. Beruntungnya aku belum sempat melemparnya dengan sandal ku.


"Kamu bang bikin aku terkejut saja." Aku mengomel.


"Dingin Nur," ucap nya.


"Kalau dingin kenapa keluar?"


"Mau lihat kalian lah."


"Memangnya kami apa mau dilihat segala."

__ADS_1


"Lagian kalian lama sekali di dalam mobil, hayo habis ngapain saja kalian."


"Kepo..."kemudian aku menerobos masuk sehingga bahu bang Supri ikut terdorong.


"Ishh, kamu Nur tidak sopan."


Aku tidak mempedulikan kekesalannya melainkan ngeloyor pergi dan bang Supri mengekor di belakangku.


"Nur.."panggil bang Supri di sela sela mengekor.


"He'em.


"Gimana rasanya naik mobil mewah?"


"Nano nano,"jawabku asal. Lagi pula bang Supri ada ada saja hal yang tidak penting ditanyakan.


"isss kamu Nur, aku serius nanya lho."


"Pokoknya tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata bang."


"Maksud mu?"


"Ya Abang coba saja sendiri."


"Maunya gitu sih Nur, tapi apa si Raihan mau menumpangi aku."


"Ya kalau hanya sekedar numpang duduk terus turun lagi mungkin Raihan tidak keberatan bang, ha ha ha." Kemudian aku bergegas ke dapur untuk mengambil air minum. Aku mendengar bang Supri menggerutu kesal, aku hanya tersenyum saja mendengarnya.


Setelah minum, aku melihat anak anak sudah tertidur diruang TV di atas kasur bulu yang telah di beli oleh Raihan ketika menjaga bang Supri di rumah sakit. Terlihat Rio menindih kaki mungil Fatan karena Rio tidurnya tidak bisa diam di tempat. begitu pula dengan kaki Ria menindih tangan Fatan. Aku geleng-geleng kepala saja melihat kedua adik Sumi menindas anaknya tanpa sadar. Karena aku tidak tega melihat nya tidur tertindih oleh kakak kakaknya, fatan ku alihkan saja ke kamar ku dan ku tidurkan di kasur yang sama dengan Zain. Supaya fatan dan Zain tidurnya tidak saling menindih aku pisahkan mereka dengan tubuhku sendiri. Zain tidur di sebelah kanan dan fatan sebelah kiri ku. Ku tatap mereka berdua, aku jadi merasa seperti seorang ibu yang memiliki dua orang putera.


Suara adzan subuh berkumandang, aku bergegas bangun. Ku lirik kiri dan kananku, dua balita ku masih tertidur dengan nyenyak. Sebelum aku beranjak keluar kamar, ku letak kan terlebih dahulu sebuah bantal guling sebagai pemisah agar mereka tidak saling tindih.


Sebelum aku ke kamar mandi, aku menyempatkan diri menggedor gedor pintu kamar bang Supri agar dia terbangun dan melaksanakan ibadah subuh.


"Iya Nur, jangan di gedor gedor terus...aku sudah bangun dan mau sholat." Suara serak khas orang bangun tidur terdengar menyahuti. Ternyata bang Supri sudah hafal kebiasaan ku yang sering kali menggedor pintu kamarnya di waktu subuh. Apalagi kalau bukan menyuruhnya untuk melaksanakan ibadah.


Setelah selesai mengambil air wudhu, aku tidak melihat bang Supri keluar dari kamarnya, aku yakin dia pasti tidur lagi.


"Dor dor doorrr..."Ku gedor pintu kamarnya lagi.


"Iya Nur, aku mau bangun nih," teriaknya.


"Ibadah dulu bang sudah jam lima," ucap ku dengan suara sedikit keras.

__ADS_1


"Iya, iyaaaa baweeel."


Aku sedikit kesal mendengar umpatan bang Supri, namun tidak aku hiraukan karena jika meladeninya bisa panjang seperti kereta.


__ADS_2