
Hari ini adalah hari Bu Mariam pulang dari rumah sakit setelah satu Minggu di rawat. Seperti biasa kesibukan pagi ini adalah berbenah, memasak, memandikan anak- anak dan memberi mereka sarapan.
"Hari ini mama sama nenek fatan akan pulang dari rumah sakit,"kata ku di sela sela menyuapi Zain dan Fatan. Mereka semua menyimak termasuk bang Supri.
"Apa iya Nur?"
Aku mengangguk.
"Syukurlah jadi nanti anak-anak bisa pulang ke rumah mereka."
Ria dan Rio melihat ke arah bang Supri dengan wajah terlihat murung.
"Emm, maksud bang supri kalau nanti kalian pulang ke rumah kalian, nanti rumah ini jadi sepi lagi dan Zain tidak punya teman lagi, ya tidak Zain?"
Zain mengangguk.
Aku menjelaskan maksud dari bang Supri meskipun sebenarnya tidak tau benar atau tidak. Aku hanya tidak ingin anak anak berfikir bahwa kami tidak menyukai keberadaan mereka di rumah ini dan menginginkan mereka segera kembali ke rumah mereka.
"Mama mau pulang Wawa?"tanya fatan dengan mata berbinar binar.
"Iya sayang."
"Horeeeee!"teriak fatan, mengangkat tinggi tangannya.
"Ibu ku benar benar sudah sembuh kak?"tanya ria.
"Iya ria, ibu mu sudah sembuh."
Senyum tersungging di bibir Ria dan Rio."Alhamdulilah....aku senang kak, kalau ibu sama ka Sumi pulang jadi nanti kami tidak lagi merepotkan kak Nuri sama bang Supri,"ucap Ria.
"Lho kok ngomongnya begitu, kak Nuri tidak pernah merasa di repotkan oleh kalian justru Kakak senang bisa merawat kalian. Kalian semua kan sudah kakak anggap sebagai adik-adik kakak."
Rio dan Ria saling pandang kemudian tersenyum ke arah ku."Terima kasih ya kak, kami senang punya kak Nuri, semoga kebaikan kakak di balas sama Allah."
"Amin."Aku mengelus pucuk kepala mereka dengan sayang. Mereka anak-anak yatim yang sudah di tinggal oleh ayahnya sejak mereka masih kecil, sama hal nya denganku yang sudah di tinggal oleh ayah ku sejak usia lima tahun. Dan di situ bermula penderitaan ku, ayah meninggal dan ibu serta kedua kakak ku mulai menjahati ku. Ibu menyuruhku mengganti peran ayah untuk mencari uang. Tiap hari aku bersekolah sambil berdagang es lilin, pulang sekolah aku harus berdagang keliling kampung. Kalau dagangan ku tak habis ibu sering kali memarahiku dan memberiku makan hanya satu kali dalam sehari tanpa lauk. Namun di balik kesusahan ku, aku bersyukur karena Tuhan memberiku otak yang encer. Dari SD hingga SMA aku sekolah gratis karena selalu berprestasi. Aku juga sering mendapat uang saku dari pemerintah dan setiap mendapat uang saku aku tidak pernah memberitahu ibu karena pasti akan di rampas oleh nya. Uang saku itu aku gunakan untuk kebutuhan sekolahku berupa seragam dan buku jika ada sisa aku menabungnya. Pergi dan pulang sekolah aku selalu berjalan kaki dengan jarak beberapa kilo meter. Aku tidak pernah Jajan, setiap jam istirahat aku hanya membaca buku tidak seperti teman-teman ku yang berlarian ke kantin karena mereka memiliki uang. Tak heran jika sejak sekolah aku tidak memiliki teman sekolah karena aku orang miskin. Satu satunya teman yang mau berteman denganku waktu SD hanya Andre, itu pun hanya berlangsung satu tahun sebelum dia pindah ke Padang. Setelah SMP dan SMA aku benar benar tak memiliki teman baik, rata rata siswi tidak menyukaiku karena status sosial yang notabene nya aku orang miskin. Selain status sosial mereka juga tidak menyukai ku karena aku memiliki otak yang encer dan sering berprestasi di sekolah. Dan selain alasan kedua itu, mereka tidak menyukaiku karena tak sedikit siswa yang tertarik padaku karena kata mereka wajahku cantik dan kebulean. Aku tak pernah memperhatikan bagaimana bentuk rupa wajahku karena di rumah aku sama sekali tidak memiliki cermin. Walau pun aku bisa melihat wajahku sendiri itu ketika aku berada di sekolah dan bercermin di kaca jendela sekolah dan pantulannya pun hanya berupa bayangan saja. Aku baru bisa merasakan hidup enak ketika aku lulus SMA dan diterima di sebuah perusahaan besar dengan posisi yang lumayan dan bergaji cukup besar. Namun setelah menikah hidupku kembali lagi seperti dulu, begitu sulit dan pelik.
"Ya sudah kalian habiskan makannya sebentar lagi kita berangkat sekolah.
Ria dan Rio mengangguk.
"Ria, biasanya kalau kalian berangkat dan pulang sekolah naik apa?"tanya ku, ketika hendak mengantar mereka sekolah. Bukan tanpa alasan aku bertanya karena setelah Sumi dan Bu Mariam pulang dari rumah sakit aku tidak akan lagi mengantar mereka.
"Jalan kaki kak,"jawab Ria.
__ADS_1
Aku terdiam, kenapa mereka sama denganku saat aku masih sekolah yang harus berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh. Sempat terpikir oleh ku untuk membelikan mereka sepeda tapi rasanya kasihan jika mereka harus mengayuh sepeda dengan jarak yang cukup jauh apalagi sekolah Ria harus melewati jalan raya dan aku rasa cukup berbahaya jika Ria melintasi jalan itu dengan sepeda. Kalau Rio tak masalah karena sekolah nya cukup dekat dan tak perlu mengikuti jalur jalan raya.
"Apa aku belikan Sumi motor saja biar dia bisa mengantarkan adik adik nya ke sekolah," gumam ku pelan dan aku pun tak sadar jika gumaman ku terdengar oleh Ria.
"Kak Nuri bicara apa?"tanya Ria.
"Oh, tidak. Ya sudah yuk naik semuanya."
Aku mengantar Ria dan Rio terlebih dahulu ke sekolah masing masing. Seperti biasa aku mengantar Rio lebih dulu karena sekolahnya lebih dekat. Setelah itu mengantar Ria hingga pintu gerbang sekolahnya.
"Belajar yang benar ya Ria?"
"Iya kak." Ria menyalimi ku dan hal itu bertepatan dengan kedatangan sebuah motor di samping ku. Aku menoleh dan ternyata mas Surya sedang mengantar si cungkring. Dia pun menoleh padaku dan nampak sedikit terkejut.
"Nuri.."sapa mas Surya.
Aku segera mengalihkan pandangan ku dan menancap gas karena aku tidak ingin seperti kemarin terulang lagi. Ku lirik kaca spion mas Surya sedang membuntuti ku, aku kesal sekali melihatnya. Di depan ku terdapat sebuah truk besar yang sedang berjalan lamban karena terlihat muatan yang banyak lalu aku salip saja truk itu dan menambah kecepatan hingga aku melaju dengan pesat. Ku lirik kaca spion sudah tak nampak lagi mas Surya di belakangku mungkin dia kesulitan menyalip truk itu karena jalur sebelah kanan cukup rapat oleh pengendara.
Aku bernafas lega karena tidak di buntuti lagi oleh nya dan motorku melenggang jauh menuju rumah sakit. Tiba di rumah sakit aku segera memasuki gedung besar itu setelah memarkirkan motorku terlebih dahulu.
Setelah tiba di pintu ruang paru paru aku segera membuka pintu itu dan nampak dokter Bayu dan Sumi sedang berbicara.
"Nuri.."sapa Sumi, wajahnya berseri seri mungkin dia senang karena hari ini ibunya sudah boleh di bawa pulang.
"Hai Nuri..!"sapa dokter Bayu sembari memberikan senyum hangatnya.
"Ini Sum, untuk sarapan mu tapi aku tidak membawa untuk makan siang mu karena hari ini Bu Mariam sudah boleh dibawa pulang kan dok?"
"Benar sekali Nuri, boleh pulang sekarang juga,"jawab dokter Bayu.
"Iya Nuri, terima kasih,"ucap Sumi lalu mengambil kantong plastik yang aku sodorkan padanya.
"Alhamdulilah terima kasih ya dok!"
Dokter Bayu tersenyum.
Setelah itu, aku memasuki tirai dimana Bu Mariam berbaring dan di ekori oleh Sumi serta dokter Bayu. Nampak Bu Mariam sedang duduk dan memakan bubur rumah sakit sendiri, dia sudah nampak bugar dan sehat.
"Ibu..!"aku menyalaminya.
"Nak Nuri !"ucap bu Mariam sembari tersenyum.
"Bagaimana keadaan ibu, apa ibu sudah kuat dan siap untuk pulang hari ini?"
__ADS_1
"Iya nak, ibu sudah siap dan ingin segera pulang. Sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak anak ibu serta cucu."
"Iya Bu, mereka juga sudah tidak sabar menunggu kalian pulang. Emm, kalau begitu saya mau ke tempat administrasi dulu dan sekalian mencari taksi ya biar ibu bisa segera pulang."Setelah berkata, aku hendak beranjak pergi namun Bu Mariam menahan tangan ku.
"Kenapa Bu?"
Sambil menitikkan air mata Bu Mariam berucap,"terima kasih banyak ya nak Nuri sudah membantu ibu serta anak anak ibu. Di saat sanak saudara dan tetangga tidak ada yang peduli pada kami tapi Allah masih menolong kami melalui sosok berhati malaikat seperti nak Nuri."
Aku memeluknya."Aku sudah menganggap ibu seperti ibu ku sendiri dan anak-anak ibu sudah ku anggap adik-adik ku sendiri. Tidak usah di pikir kan ya bu!"setelah berucap aku melepas pelukan ku dan bergegas pergi untuk membayar biaya perawatan.
Ku langkahkan kakiku menuju tempat administrasi namun dokter Bayu ternyata mengekor di belakangku.
"Nuri..!"panggil nya dan aku menghentikan langkah ku lalu berbalik.
"Iya dok."
"Kamu mau ke tempat adminitrasi?"
Aku mengangguk.
"Mulia sekali hati mu Nuri, Bu Mariam benar kalau kamu sosok wanita berhati malaikat. Bodoh sekali jika ada laki laki yang menyia nyiakan mu seperti mantan mu itu."
Aku tersenyum tipis."Dokter berlebihan sekali. Bukan kah sesama mahkluk itu harus saling tolong menolong? jangankan pada manusia pada hewan pun sama."
"Itu yang aku suka dari kamu Nuri."
"Suka?"
"Emm." Dokter Bayu menggaruk tengkuknya dan tersenyum nyengir.
"Ya sudah dok, saya ke adminitrasi dulu ya?"
"Eehh, Nuri sebentar."Aku tidak jadi melangkah.
"Kenapa dok?"
"Kamu...tidak usah mencari taksi di luar. Gimana kalau aku saja yang menjadi taksi nya?"
Aku sedikit membesarkan pupil mataku, tidak menyangka saja dokter Bayu menawarkan diri nya untuk mengantar Bu Mariam. Dia yang sudah mengobati pasien nya dia pula yang ingin mengantarkan pasien nya pulang.
"Tapi dok, rumah kami jauh lho!"
"Tidak apa apa Nuri, sekalian biar aku tau dimana rumah mu. Boleh kan?"
__ADS_1
Aku tersenyum dan mengangguk.
Setelah itu kami berpisah. Dokter Bayu ke arah ruangan nya untuk bersiap siap karena sebenarnya hari ini dia tidak ada jadwal di rumah sakit ini. Tapi karena hari ini Bu Mariam akan pulang maka dia harus melakukan pemeriksaan untuk yang terakhir kalinya. Sementara aku melanjutkan langkahku menuju tempat administrasi.