
Aku dan Raihan bernafas lega akhirnya Elis dan keluarganya bersedia mengurus kedua anak mas Surya dengan syarat kami membantu biaya dua anak itu. Sebenarnya Elis dan ibunya bukan tidak ingin merawat mereka tapi karena kendala biaya yang membuat mereka ragu. Tidak ada yang mencari uang di keluarga mereka. Suami elis sedang menganggur sementara bapak mantan mertua terkena penyakit struk. Suami adik pertama mas Surya merantau tapi tidak ada kabar, sementara adik kedua mas Surya sudah bercerai dua bulan yang lalu. Jika di pikir miris juga hidup keluarga mas Surya.
Tidak terasa sibuk kesana kemari mengurusi masalah keluarga mas Surya ternyata siang sudah berganti malam saja. Saat ini aku dan Raihan sedang menuju arah pulang ke kampung halaman kami.
"Kamu lapar sayang?" Tanya Raihan di saat aku menyenderkan tubuhku ku ke sandaran jok dan menutup mata karena aku merasa hari ini benar benar lelah sekali.
Aku pun membuka mata lalu melirik nya." Aku tidak lapar Rai, melainkan sangat ngantuk."
Raihan menyunggingkan senyum." Tapi calon suami mu ini lapar banget lho!"
"Oh!"
"Hanya oh!"
"Terus?"
"Apa tidak mau menemani ku makan dulu?"
Aku tersenyum." Mau dong. Ya sudah kita cari rumah makan sekarang." Raihan tersenyum lalu mengelus pucuk kepalaku.
Raihan memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah makan padang karena di sepanjang jalan yang kami lewati tidak menemukan restauran melainkan rumah makan biasa saja.
Kemudian kami memasuki rumah makan Padang yang nampak cukup ramai pengunjung itu lalu mencari bangku yang kosong. Setelah duduk seorang staf menghampiri kami dan menanyakan pesanan. Raihan memesan nasi dan lauk pauk nya serta segelas teh hangat. Sementara aku hanya teh panas saja dan Zain tidak di pesankan apa apa karena dia sudah makan sebelumnya.
"Kamu beneran tidak mau makan, sayang?" Tanya Raihan ketika pesanan kami sudah berada di hadapan kami. Aku menggeleng lalu meneguk teh hangat.
"Ya sudah aku makan dulu ya!" Aku mengangguk.
Kemudian Raihan mulai memakan makanannya. Aku tersenyum melihat cara makan nya yang nampak kaku karena Raihan tidak biasa makan menggunakan tangan secara langsung. Di tengah sedang memperhatikannya tanpa sengaja ekor mataku menangkap pada sepasang pria dan wanita yang baru saja masuk lalu duduk di bangku tepat di belakang Raihan. Aku sangat mengenal siapa pria itu namun aku tidak mengenal wanita yang nampak masih sangat muda seperti berusia belasan tahun.
"Ustad Amir dengan siapa itu?"monolog ku. Ku perhatikan ustad Amir, dia nampak mesra sekali dengan wanita yang pantasnya menjadi anaknya.
Ternyata Raihan memperhatikan arah pandang ku." Kamu lihatin apa sih?" Tanya nya lalu memutar bahunya ke arah belakang. Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah ku kembali."Bukan nya itu ustad Amir?" Aku mengangguk." Terus itu wanitanya siapa?" Aku mengedik kan bahu ku.
"Anak nya mainnya sama om om, bapaknya main nya sama bocah ingusan. Dasar keluarga aneh." Gumam Raihan.
"Husss, biarin saja Rai, itu urusan hidup mereka."
Raihan tersenyum nyengir dan menggaruk belakang kepalanya.
__ADS_1
Setengah jam berlalu aku dan Raihan meninggalkan tempat itu setelah melakukan pembayaran. Sebelum kami keluar dari rumah makan Padang itu, aku melirik ke arah dimana pak Amir duduk dan makan bersama pacarnya. Dunia ini isi nya hanya kita berdua, mungkin itu yang ada di pikiran pak Amir saat ini karena dari pertama dia datang dan kami mau pergi dia tidak saja menyadari keberadaan kami padahal jarak kami cukup dekat.
"Sayang, aku mau pesan martabak telor dulu pesanan ibu." Kata Raihan setelah kami berada di samping mobil.
"Ibu haji!"
"Iya, calon ibu mertuamu." Ucap Raihan sembari tersenyum dan aku pun ikut tersenyum.
"Ya sudah aku tunggu di mobil saja." Raihan mengangguk lalu beranjak pergi.
Aku menidurkan Zain terlebih dahulu di jok belakang lalu keluar lagi dan berdiri sembari menyender di mobil. Ketika aku sedang mengotak atik layar ponselku telingaku menangkap suara orang yang sedang berbicara mesra dan di iringi tawaan. Aku pun mendongak dan ternyata orang yang berbicara sembari becanda itu ternyata ustad Amir dan gadis belia.
"Ustad Amir." Sapaku ketika dia sedang berjalan ke arah sebuah motor yang terparkir tidak jauh dari mobil kami. Ustad Amir dan gadis belia itu menoleh ke arahku lalu seketika itu pula pak Amir melepaskan tautan tangannya dari tangan gadis belia itu.
"Nu...Nuri! Ucap nya gugup dan memancarkan wajah terkejut melihatku.
Aku menyungging senyum."Pak Amir habis makan di rumah makan padang ini juga ternyata." Ucap ku pura pura baru tau.
"I..iya Nuri."
"Pak Amir dengan siapa itu?"
Keningku mengernyit." Belajar ngaji di rumah makan Padang."
"Anu...anu...maksud saya...Ehmm tadi habis belajar ngaji kami mampir dulu kemari." Kata ustad Amir gelagapan.
"Oh..begitu!"
"Emm, dek Nuri sendiri kenapa ada di sini?"
"Saya juga habis makan di dalam ustad, bahkan saya sempat melihat ustad juga di sana. Tadinya mau nyapa tapi saya takut ganggu kemesraan ustad." Jawab ku sembari tersenyum. Ustad Amir nampak salah tingkah, gestur tubuhnya pun bergerak gerak."Dan sekarang saya sedang menunggu calon suami." Sambung ku.
"Ca...calon suami!" ucap nya gagap.
"Iya, ustad."
Setelah berucap ustad Amir nampak terbengong entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Sayang, kenapa nunggu nya di luar?" Tiba tiba Raihan datang membawa dua kotak martabak. Kemudian dia menoleh ke arah dua orang yang berdiri mematung.
__ADS_1
"Oh, ada ustad Amir tah." Ucap Raihan sembari tersenyum.
Raut muka ustad Amir memancarkan muka terkejut melihat keberadaan Raihan."Kamu...kamu anak nya hajah Fatimah itu kan, Rai, Raihan!" Tanya nya.
Si gadis belia itu tiba tiba menjauhi ustad Amir dan berdiri dengan jarak dua meter darinya. Kemudian dia tersenyum malu malu pada Raihan entah apa maksudnya. Tapi sayangnya Raihan tidak meliriknya sama sekali melainkan aku yang menatap gemas pada sugar baby nya ustad Amir.
"Betul ustad."
"Kamu...kemana saja? anak saya setengah gila mencari kamu."
"Mencari saya mau apa?"
"Ya dia mencari kamu saja."
"Oh, saya sudah bertemu kok."
"Apa benar? dimana kalian bertemu? dimana dia sekarang?"
"Kok ustad bertanya dimana keberadaan anak ustad pada saya?"
"Bukanya kamu bertemu dengan dia?"
"Ya, tapi saya hanya bertemu sebentar saat dia sedang bersama dengan laki laki tua."
"Apa maksud mu?"
"Makan nya pak ustad jangan ngurus anak orang saja anak sendiri pun harus di urus. Kasihan dia salah jalan." Sindir Raihan. Ustad Amir nampak salah tingkah namun cenderung malu begitu pula dengan gadis belia itu.
"Ya sudah pak ustad, saya tidak banyak waktu. Kasihan calon istri saya sudah menunggu saya terlalu lama."
Pak Amir mengerutkan dahi yang nampak sudah keriput." Calon istrimu!
"Iya."
Ustad Amir menatap kami secara bergantian entah apa yang dia pikirkan.
"Ka...kalian.."
"Iya pak ustad kami merupakan calon suami dan calon istri yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Mohon doa restunya ya pak ustad." Kemudian Raihan membuka pintu mobil." Ayok sayang masuk." Ucap Raihan sembari menarik pelan lenganku dan aku pun menurut memasuki mobil.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah kaca mobil sebelum Raihan melajukan mobilnya. Nampak ustad Amir dan sugar baby nya masih saja menatap mobil kami dengan pikirannya masing-masing.