
Selama Sumi menemani ibunya di rumah sakit kesibukan ku semakin bertambah. Selain mengurus Zain dan bang Supri aku juga mengurus anak serta kedua adik Sumi. Selain mengurusi mereka aku pun sering menyempatkan diri sekedar mengirim makanan atau menemani Sumi di rumah sakit meskipun hanya beberapa jam saja.
Pagi ini aku masak nasi goreng banyak untuk sarapan anak anak serta untuk sarapan Sumi di rumah sakit. Aku membawa anak serta kedua adik sumi yang masih terbilang kecil tinggal di rumahku untuk sementara waktu sampai Bu Mariam sembuh dan kembali pulang. Karena aku tidak tega membiarkan mereka tinggal di rumahnya meskipun ada adik Sumi yang cukup besar dan bisa mengasuh adik adiknya. Selain itu aku juga cukup repot jika harus bolak balik ke rumah Sumi dan ke rumah sakit. Semenjak kehadiran mereka rumah ku menjadi ramai. Tapi meskipun begitu aku senang karena Zain punya banyak teman apalagi anak serta kedua adik Sumi penurut dan tidak neko neko.
"Kasihan kamu Nuri, harus jagain banyak anak. Selain itu kamu juga harus bolak balik ke rumah sakit." Kata bang Supri sambil melihat ke arah wajan berukuran besar berisi nasi, telur, sosis, baso dan sayuran yang sedang aku urak arik.
"Tidak apa apa bang, selagi aku mampu. lagi pula hitung hitung aku belajar merawat banyak anak siapa tau nanti aku mau nambah anak lagi...eh."Aku langsung menutup mulut ku.
Bang Supri tersenyum mendengar aku bicara blak-blakan." Tidak apa apa Nur, bukan nya hidup itu harus punya planning ya."
"He he betul, kalau tidak punya planning dan jalan di tempat saja bukan hidup namanya bang." Sambil orek orek nasi aku tersenyum membayangkan jika kelak aku menikah lagi dengan seorang pria baik lalu memiliki banyak anak dan di saat itu pula aku teringat pada Raihan yang sudah satu Minggu ini tidak berkunjung ke rumah ku melainkan hanya video call saja. Aku pun geleng-geleng kepala kenapa bisa tiba tiba membayangkan sosok Raihan.
"Kenapa Nur senyum senyum sendiri?lagi mengkhayal ya?" tanya bang Supri sekaligus meledek, ternyata dia memperhatikan gesture serta raut wajahku dan itu cukup membuat aku malu sekali sama bang Supri.
Aku tidak menanggapi ledekan bang Supri melainkan hanya tersenyum saja. Setelah meledek bang Supri pergi ke kamar mandi sementara aku terus saja mengurak arik nasi hingga nasi serta campurannya menjadi sebuah nasi goreng.
"Ria....Ria..."Aku berteriak memanggil nama adik Sumi paling besar dan baru kelas satu SMP. Baru saja di panggil bocah itu sudah menyembulkan dirinya di pintu." Iya kak Nuri."Dia menyahuti.
Aku menoleh ke arahnya." Kemari, tolong bantuin kakak bawain piring piring ini ke ruang TV untuk sarapan kita," titah ku. Bocah itu pun menurut.
Setelah beberapa piring itu tertata di atas tikar serta teko berisi air putih dan gelas gelas kosong, kami duduk mengelilinginya. Bang Supri memimpin doa sebelum kami mulai makan. Setelah itu, bang Supri serta kedua adik Sumi mulai menikmati nasi goreng nya sementara aku menyuapi Zain serta anak Sumi yang baru berusia empat tahun terlebih dahulu. Biarkan anak anak kenyang dulu aku bisa makan setelahnya. Di sela sela makan aku mengambil foto mereka kemudian ku upload di status sebuah aplikasi chat dengan caption.
"Mungkin begini rasanya kalau memiliki banyak anak, rumah rame dan makan pun rame rame."
Selang beberapa menit sebuah pesan chat masuk dan aku membacanya.
"Iya sayang, nanti setelah kita menikah kita buat anak yang banyak bila perlu nambah sebelas lagi biar pas satu lusin." emoticon love.
Aku tersenyum membacanya, sebuah pesan yang menggelikan. Siapa lagi kalau bukan pesan chat dari Raihan karena ponsel ini hanya terdapat nomer Raihan saja. Sebenarnya bukan maksud ku memberitahu padanya atas keinginanku memiliki banyak anak, namun aku merasa senang saja karena di rumah ku ramai oleh anak anak.
Aku pun membalas pesan chat nya.
"Punya anak satu lusin dikira anak kucing kali ya? Kucing mah enak sekali ngebrojolin langsung satu lusin."
Raihan membalasnya dengan emoticon tertawa terbahak. Kemudian menyusul pesan teks.
__ADS_1
"Kalau manusia enaknya hanya membuatnya saja ya sayang." emoticon tersenyum nyengir.
Aku geleng-geleng kepala membacanya. Aku pikir semakin di ladeni semakin ngaur nanti. Kemudian aku membalas pesan nya hanya berupa emoticon menjulurkan lidah kemudian menutupnya.
Ternyata kesibukan ku yang berbalas pesan dengan Raihan di perhatikan oleh bang Supri yang sudah selesai lebih dulu makannya.
"Makan dulu Nur, nanti lanjut pacarannya. Itu nasi mu keburu dingin."
"Dih, siapa juga yang pacaran orang lagi berbalas pesan doang."
Bang Supri memajukan bibir bawahnya sebagai isyarat dia tidak percaya atas sangkalan ku.
Setelah selesai makan aku membereskan semua bekas makan kami dan di bantu oleh bang supri. Sementara Ria aku memintanya untuk menjaga adik adiknya.
"Bang.." panggilku ketika aku sedang mencuci piring dan bang supri sedang meneguk air.
"Kenapa Nur?" tanya nya, sembari memegang gelas minumnya dan melihat ke arahku.
"Aku mau titip anak anak dulu ya bang, mau ngantar sarapan untuk si Sumi." Tiap hari aku memang harus mengantar makanan untuknya karena yang menjaga ibunya hanya dia sendiri. Sumi merasa kesulitan ketika mencari makanan ke luar karena ibunya tidak ingin di tinggal barang sebentar.
"Ya sudah Nur, kamu hati hati."
Aku melajukan motorku menuju rumah sakit dimana dulu aku serta bang Supri pernah di rawat.. Aku sengaja membawa ibu Mariam ke rumah sakit itu mengingat fasilitasnya yang memadai juga tempatnya nyaman serta pelayanannya bagus meskipun bukan VIP. Butuh waktu satu setengah jam menggunakan kendaraan pribadi namun akan lebih lama lagi jika menggunakan kendaraan umum, sebab, harus bergonta ganti angkutan umum untuk sampai ke rumah sakit itu.
Akhirnya aku tiba di rumah sakit yang besar kemudian memarkirkan motorku di parkiran khusus roda dua.
Aku memasuki ruangan kelas dua khusus ruangan penderita paru paru. Ruangan itu hanya memuat untuk tiga pasien saja jadi tidak terlalu ramai. Terlihat hanya dua ranjang pasien yang terisi oleh pasien dan satu ranjang kosong. Ruangan itu terlihat besar, bersih dan rapih.
"Sumi.."aku memanggilnya.
Sumi menyembulkan kepalanya di balik tirai yang panjang dan besar sebagai sekat pemisah antara ranjang satu dengan ranjang lainya. Dia tersenyum ke arahku dan aku pun membalasnya. Kemudian aku mendekatinya dan masuk ke balik tirai itu. Ku lihat Bu Mariam sedang memejamkan mata mungkin dia sedang tidur.
"Bagaimana keadaan ibumu Sum?"
"Ya masih begini saja Nur, nanti siang akan menjalani penyedotan cairan yang ada di paru paru ibu." Sumi menjelaskan. Aku bersyukur setidaknya Bu mariam tidak perlu melakukan operasi. Karena kalau di operasi aku tidak yakin akan mampu membiayainya atau tidak. Tapi kalau hanya sekedar rawat inap atau menyedot cairan yang tidak terlalu memakan biaya banyak sepertinya aku masih mampu.
__ADS_1
"Ini aku bawakan sarapan, kamu makan dulu gih biar aku yang jagain ibumu," titah ku sambil menyodorkan kantong kresek ke arahnya.
Sumi menerima nya dengan mata berbinar dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, dia memakannya. Setelah dia selesai makan aku keluar rumah sakit sebentar untuk mencari warteg. Aku berniat akan membelikan nasi untuk makan siang Sumi nanti, soalnya tadi pagi aku hanya sempat masak nasi goreng untuk sarapan saja. Aku berjalan ke arah rumah makan Padang yang terletak di seberang jalan tepat di depan rumah sakit. Setelah berada di rumah makan Padang aku di sambut oleh seorang pria paruh baya memakai baju batik, sepertinya dia pemilik rumah makan Padang yang aku datangi.
"Mau pesan apa neng?" tanya pria itu.
"Saya mau pesan nasi di bungkus satu ya pak," jawabku, sembari ekor mataku melirik ke arah etalase.
Tiba tiba ponsel pria tua itu berbunyi dan dia merogoh nya." Sebentar ya neng," ucap nya, sembari berjalan pelan menjauhiku.
"Tul, patul..."dia berteriak memanggil seorang laki laki yang sedang mengelap meja dan membelakangi.
"Iya pak." Sahut pria itu.
"Ada pembeli, tolong kamu layani. Aku mau angkat telpon dulu."
Kemudian pria itu berjalan ke arah dimana banyak tumpukan makanan yang di simpan di dalam etalase. Ketika dia sedang berjalan aku merasa mukanya tidak asing dan pernah melihat nya tapi lupa dimana. Sementara dia sendiri belum melihat ke arahku.
Ketika dia sudah berada di dekat etalase kemudian menghadap ke arahku yang sedang berdiri di samping.
"Mau pesan apa m...."mulutnya menganga melihatku.
"Dari dekat aku bisa mengingat pemilik muka berantakan itu, siapa lagi kalau bukan berondong nya mba Yati, pria yang sedang shoping bersama mba Yati di toko pakaian beberapa waktu yang lalu, ternyata dia bekerja di rumah makan Padang ini.
"M....m...mba..."ucapnya dengan gagu.
"Kamu itu selingkuhannya mba Yati yang waktu di toko pakaian itu kan?" tanya ku.
Dia mengibas ngibas kan telapak tangannya,"Bu....Bu..bukan mba. Su..dah tidak lagi."
Aku tersenyum miring mendengar cara bicaranya yang tiba tiba gagu. Karena aku tidak memiliki banyak waktu karena harus cepat kembali pulang ke rumah, aku tidak lagi mengintrogasi pria itu. Terserah dia masih pacaran atau tidak dengan mba Yati. Sekali pun mereka sudah putus aku tidak akan sudi menganggap wanita yang sudah tidur dengan banyak laki laki itu kakak ipar ku lagi. Aku segera memesan nasi serta lauk pauknya. Setelah membayar dan menerima satu bungkus nasi, aku langsung meninggalkan pria itu.
Meskipun aku tidak melihat tapi aku yakin pria bertampang berantakan itu sedang menatap punggung ku.
Aku kembali ke ruang khusus penderita paru paru sembari membawa tiga kantung plastik lalu ku berikan pada Sumi.
__ADS_1
"Ini Sum, ada nasi Padang untuk makan siang mu nanti dan buah buahan serta cemilan biar kamu tidak bete menjaga ibumu."
Sumi tidak langsung mengambil apa yang aku sodorkan melainkan dia menitik kan air matanya kemudian memeluk ku.