
Jam sudah menunjukan waktu maghrib. Namun hujan belum saja menunjukan tanda tanda akan reda. Raihan memandangi hujan di luar melalui jendela sambil menyibak kan sedikit tirai nya.
Aku memperhatikan Raihan setelah menidurkan Zain di kamar. Kemudian aku menyapanya dan membuyarkan lamunannya. Raihan menoleh ke arah ku lalu berjalan dan mendekati ku. Dengan jarak yang hanya beberapa senti saja Raihan menatapku lekat. Raihan menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajahku seketika pandangan kami bertemu. Raihan hendak mencium ku namun sebelum bibirnya menyentuh bibirku dia berhenti dengan jarak beberapa senti lalu berucap," apa mba mau sholat Maghrib berjamaah denganku?"
Hembusan nafas harum Raihan menguar dan aku menyukainya. Tanpa ku sadari mataku terpejam merasakan hembusan hangat nafasnya. Dan dalam keadaan terpejam Raihan menggodaku,"apa mba mau ciuman dariku?"
Aku membuka mataku lalu menunduk malu dan menjawab,"maaf Rai...aku..!" aku tidak melanjutkan lagi ucapan ku karena aku merasa malu sekali jika bicara jujur kalau aku menyukai harum nafasnya.
Raihan tersenyum lalu mengangkat daguku sehingga wajahku terangkat ke atas menatap pada wajahnya kembali.
"Cepat lah bercerai mba, agar aku bisa menikahi mu dan kita menjadi pasangan yang halal. Aku tau mba mulai menyukaiku kan?"
Lidah ku rasanya kelu sekali untuk berucap sehingga aku tidak bisa menjawab pertanyaan Raihan. Kedua mataku menatap wajah tampannya namun bibirku terkunci rapat. Jujur aku katakan bahwa aku memang mulai menyukainya bukan sebagai adik melainkan sebagai pria dewasa. Aku menyukai setiap perlakuan lembutnya sehingga aku merasa nyaman dekat dengannya. Sosok seperti Raihan lah yang aku butuhkan untuk menemani ku dan membimbing jalan hidupku.
Suara petir menggelegar di atas langit membuyarkan kediaman kami yang saling bertatapan sehingga kami tersadar bahwa belum melaksanakan sholat maghrib. Raihan tersenyum melihat aku yang salah tingkah lalu dia memintaku untuk segera mengambil air wudhu. Aku pun mengangguk menyetujui perintahnya.
Aku menggelar dua sajadah di ruang TV lalu kami melaksanakan sholat magrib berjamaah. Sudah kesekian kalinya aku sholat berjamaah dengan Raihan, ibadah yang tidak pernah aku lakukan bersama suamiku sendiri karena mas Surya tidak pernah ingin melaksanakan sholat.
"Rai, apa kamu lapar?" tanyaku sambil melipat sajadah.
"Kalau aku lapar mba mau apa?"
"Mau masak Rai!"
Raihan tersenyum lalu menimpali," boleh mba, aku ingin menikmati masakan mba malam ini."
Aku tersenyum lalu bergegas ke dapur. Di dapur aku terdiam sejenak memikirkan hendak masak apa? kemudian aku membuka kulkas dan aku melihat sekantong plastik ikan di dalam freezer. Aku baru ingat bahwa tadi siang aku sempat membeli ikan di penjual ikan keliling dan aku belum sempat memasaknya. Aku mulai menyibukkan diri memasak sementara Raihan menunggu di ruang tamu. Setengah jam kemudian, masakan sederhanaku sudah selesai. Ikan goreng, sambal serta tumis kangkung sudah ku hidangkan di atas meja makan.
Aku berjalan ke arah ruang tamu untuk memanggil Raihan. Namun setelah di ruang tamu, ku dapati Raihan yang sedang tidur di atas sofa. Pantas saja tidak ada suaranya bahkan tidak memunculkan dirinya di dapur ternyata dia tertidur. Aku mendekatinya lalu berjongkok. Ku letak kan tanganku di atas pipinya kemudian menepuk nepuk nya pelan.
Raihan tidak membuka matanya melainkan tangannya bergerak meraih tanganku yang sedang menepuk pipinya. Kemudian dia membawa telapak tanganku ke arah mulutnya lalu menciuminya dalam keadaan mata terpejam. Aku tercengang melihat perlakuan Raihan. Apa dia sedang bermimpi? pikirku.
"Rai, Raihan...apa kamu sedang mengigau?" aku bertanya pada orang yang sedang tidur berharap mendengar suaraku lalu dia terbangun.
Raihan tidak menjawabnya melainkan tersenyum manis sambil terus saja menciumi telapak tanganku.
"Rai, kamu ini tidur apa pura pura tidur sih?" tanya ku dengan nada sedikit kesal. Raihan masih tidak mau membuka matanya namun mulutnya berbicara.
"Aku sedang bermimpi menikah dengan mba dan melakukan malam pertama kita!" ucapnya lalu membuka matanya.
Aku memajukan bibirku merasa kesal telah di kerjai olehnya. Ku tarik tanganku dari genggamannya lalu pergi ke arah dapur. Raihan mengekor di belakangku dan tanpa ku duga tangannya meraih tubuhku memelukku erat dari belakang.
"Rai, jangan seperti ini aku sudah lapar sekali." Aku menolak di peluk Raihan karena aku takut ibuku tiba tiba datang lalu melihat kami berpelukan.
"Dua menit saja mba!"
Akhirnya aku membiarkan Raihan memelukku meskipun aku merasa was was.
"Sudah Rai, lepaskan kan!"
__ADS_1
"Satu menit lagi mba!"
"Rai.....!" ku cubit tangannya dan membuatnya memekik kesakitan lalu melepaskan kedua tangannya di pinggangku.
"Mba Nuri tega sekali!" ucap Raihan sambil memegang lengannya yang ku cubit.
"Habisnya kamu nakal sih Rai!" kemudian aku melanjutkan lagi langkahku menuju dapur.
Raihan makan dengan lahap padahal menunya sangat sederhana. Sambil mengunyah aku memperhatikan Raihan yang makan tanpa sendok melainkan dengan tangannya langsung. Padahal jika di rumahnya Raihan selalu makan pakai sendok.
"Tumben kamu makan tanpa sendok Rai?" godaku.
"He...he ! ternyata makan dengan tangan langsung lebih terasa nikmat mba."
"Baru tau ya?"
Raihan mengangguk lalu memasukan kembali makanan ke dalam mulutnya.
Hujan sudah mulai reda dan Raihan pamit akan pulang ke rumahnya. Selain hujannya sudah reda Raihan juga takut ibunya sedang menunggunya di rumah karena ibunya bilang hari ini pulang dan saat ini mestinya sudah sampai di rumahnya.
"Salam sama Bu haji ya Rai?" ucapku ketika Raihan menaiki motornya.
"Siap mba, ya sudah aku pulang dulu mba."
"Hati hati Rai!"
Adzan subuh berkumandang dan aku segera bangun. Ku lirik Zain yang sedang tertidur pulas di sampingku lalu menciuminya sebelum aku beranjak dari tempat tidurku. Seperti biasa, setelah melaksanakan sholat aku membuat adonan gorengan. Aku menggoreng beberapa gorengan dengan semangat hingga sampai selesai.
Ku pandangi tumpukan gorengan di atas penampi lalu aku tersenyum melihat hasil jerih payah ku dari subuh. Aku bergegas membersihkan diri lalu mengganti pakaianku yang lebih layak di pakai. Kemudian aku menggendong Zain yang masih tertidur pulas namun tiba tiba dia terbangun karena terusik.
"Maaf ya sayang mama ganggu tidur Zain, kita cari uang lagi ya nak?" Zain tidak menjawab dia hanya diam saja mungkin masih belum sepenuhnya sadar.
Aku berjalan menyusuri jalanan sambil menggendong Zain dan membawa penampi di atas kepalaku. Aku mulai mengeluarkan suaraku mengundang para pembeli namun tak ada satu pun yang menghampiriku. Ketika aku bertemu seseorang dan menawarkan dagangan ku mereka menolak nya. Bahkan ketika aku mendatangi rumah para pelanggan ku mereka pun menolak padahal biasanya jika aku datang mereka menyambutnya dengan senang. Tak jarang aku menemukan orang yang bersikap sinis padaku ketika aku menawarkan dagangan ku.
Aku menghampiri rumah Bu Rina, orang baik yang selalu memberikan baju bekas untuk Zain. Biasanya dia selalu membeli dagangan ku dengan jumlah yang banyak.
"Bu Rina....apa mau membeli gorengan?" teriak ku di depan teras rumah. Tak selang lama, Bu Rina muncul dari balik pintu rumahnya dan melihat ke arahku.
"Eh, Nuri baru kelihatan lagi...kemana saja seminggu tidak jualan?" tanya Bu rina dengan ramah. Bu Rina memang selalu ramah padaku.
"Kemarin saya sakit dan sempat di rawat di rumah sakit lima hari Bu Rina!"
"Ya, Allah Nur, serius kamu sakit?"
"Iya Bu!"
"Terus sekarang bagaimana keadaanmu?"
"Alhamdulilah sudah sehat bu, ini sudah bisa jualan lagi."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, saya pikir kamu kemana Nur!"
Aku tersenyum lalu menawarkan dagangan ku,"apa Bu Rina mau membeli gorengan?"
"Boleh Nur, tapi sepuluh ribu saja ya? soalnya suami serta anak anak lagi nginap di rumah eyangnya.
"Oh, baik Bu!" aku segera menurunkan penampi ku lalu meletak kan nya di atas lantai teras rumah Bu Rina.
Bu Rina terlihat bengong melihat penampi berisi tiga macam gorengan hangat yang masih banyak. Karena merasa heran Bu Rina diam saja lalu aku pun bertanya," kenapa Bu Rina diam?"
"Kok, gorengannya tumben masih banyak gini Nur?"
"Iya Bu, pagi ini hanya Bu Rina yang membeli gorengan saya. Saya juga heran kenapa semua orang yang saya tawari menolak termasuk pelanggan yang biasanya membeli tapi pagi ini mereka menolaknya."
Bu Rina terlihat diam mendengar keluhan ku tentang dagangan ku yang belum laku.
"Nur...!"
"ya, Bu Rina !"
"Maaf ya Nur, maaf banget sebelumnya. Sebenarnya sih saya tidak percaya tentang gosip yang beredar di kampung ini. Karena kebetulan ada kamu di sini jadi saya ingin menanyakan langsung sama kamu benar atau tidaknya. Mungkin penyebab orang orang tidak membeli gorengan kamu karena gosip itu."
Aku menatap serius pada Bu Rina lalu bertanya," gosip apa ya Bu maksudnya?"
"Itu Nur, saya mendengar gosip kalau kamu selingkuh sama Raihan anaknya Hajah Fatimah yang ganteng itu. Maaf ya nur, semoga gosip ini tidak benar."
Aku menganga mendengar cerita dari Bu Rina bahwa aku di gosip kan selingkuh dengan Raihan. Pantas saja hampir semua orang memandang sinis padaku dan tidak mau membeli dagangan ku.Ternyata penyebabnya adalah gosip yang mengabarkan bahwa aku wanita bersuami telah berselingkuh dengan Raihan. Apa kedekatan ku dan Raihan bisa dikatakan selingkuh meskipun kami tidak memiliki ikatan apa pun? Lantas siapa orang yang tega menyebarkan gosip ini sehingga mematikan mata pencaharian ku? pikirku.
"Itu tidak benar Bu, saya sama sekali tidak memiliki hubungan apa apa dengan Raihan. Dia dekat dengan saya murni dengan niat menolong. Lagi pula saya tau diri Bu, saya ini sudah bersuami dan Raihan masih terlalu muda." Aku menyangkal gosip yang diberi tahu oleh Bu Rina. Meskipun sebenarnya aku ragu dengan ucapan ku sendiri mengingat Raihan yang sering memeluk serta menciumku.
"Iya Nur, saya percaya sama kamu. kamu yang sabar ya Nur."
Aku mengangguk lemah.
"Ya sudah Nur, saya mau gorengannya dua puluh ribu. Sepertinya suami serta anak anak sebentar lagi pulang."
Aku mengangguk lalu memasukan lima puluh biji gorengan ke dalam kantong plastik lalu memberikannya pada Bu Rina."
"Kenapa banyak sekali Nur? saya hanya pesan dua puluh ribu saja nur."
"Tidak apa apa Bu, daripada tidak di makan. dan ini sisanya mungkin akan saya bagikan ke yang lainnya."
"Wah, terima kasih ya Nur."
"Sama sama Bu, kalau begitu saya permisi dulu ya Bu!"
Aku kembali pulang ke rumahku. Ku turunkan Zain dari gendonganku serta ku letak kan penampi gorengan yang masih sangat banyak di atas lantai teras rumahku. Aku bingung mau aku apakan gorengan yang masih sangat banyak ini. Jika aku membagikannya ke tetangga, aku takut mereka menolaknya karena tadi saat aku menawarkan dagangan ku, mereka semuanya menolak.
Ketika aku tengah memikirkan tentang gorengan ku, sekelompok anak santri melewati jalan depan rumahku. Karena rumahku memang tidak jauh dari sebuah pesantren jadi sering kali anak anak santri berseliweran. Terlintas di pikiranku untuk memberikan semua gorengan ku pada mereka lalu aku pun memanggil mereka untuk singgah ke rumahku. Mereka senang sekali mendapat makanan gratis dariku dan ada beberapa santri yang mendoakan kebaikan untuk diriku.
__ADS_1