Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Baju bekas untuk Zain


__ADS_3

Satu persatu warung - warung kecil tersebut aku datangi untuk menitipkan dagangan kerupuk ku. Ada yang sudah habis, ada yang tinggal beberapa bungkus lagi, ada yang sudah bayar, ada yang bayar hanya separuh dan ada pula yang belum bayar sama sekali. Begitu lah, dagangan kerupuk ku tak selalu berjalan lancar dan sering kali tersendat masalah pembayaran karena warung yang ku titipi hanya berupa warung - warung kecil yang pendapatannya tidak seberapa.


Aku kembali berjalan menuju warung terakhir penitipan kerupuk ku sambil menuntun Zain dan menenteng plastik besar yang sudah berkurang isinya. Tiba di warung terakhir, aku menyapa pemilik warung yang sedang menyapu teras rumahnya.


"Bu Siti apa kerupuknya sudah habis?" tanya ku sambil berdiri di depan warungnya.


Bu Siti menoleh padaku lalu meletak kan sapu nya di pojokan pintu.


"Sudah habis Nur. Tapi, ibumu dua hari yang lalu mengutang uang lima puluh ribu sama saya. Dia bilang bayarnya pakai duit kerupuk saja"


Aku terperangah mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Bu Siti bahwa ibuku memiliki hutang lima puluh ribu padanya. Entah untuk apa dia mengutang uang sebanyak itu pada Bu Siti.


Sebenarnya masalah hutang mengutang sudah sangat sering di lakukan oleh ibuku dan ujung ujungnya aku yang membayarnya. Tapi, aku tidak pernah tahu untuk apa uang tersebut, karena jika aku menanyakan padanya dia akan marah padaku.


"Ya sudah tidak apa apa Bu, ini saya bawakan lagi. Jadi hutang ibu saya di anggap lunas ya Bu Siti?"


"Iya Nur."


Aku bergegas pergi meninggalkan warung Bu Siti sambil menggendong Zain. Kasihan anak ku dari tadi ku suruh jalan kaki, karena aku sendiri kesusahan membawa kantong plastik besar berisi kerupuk.


Aku berjalan kaki menyusuri jalanan batu kerikil kecil. Melewati satu rumah ke rumah lainnya.


"Nur Nuriiii !"


Suara seorang wanita memanggil namaku di sebuah teras rumah sebelah kanan ku. Lalu, aku menoleh pada orang yang memanggilku tersebut.


"Ada apa Bu Rina?"


"Ke sini sebentar."


Kemudian, aku berjalan mendekati Bu Rina yang sedang berdiri dan menenteng kantong plastik hitam.


"Ini baju baju bekas Reza pakai. Sudah tidak muat di badannya karena sekarang Reza badannya nya montok. Siapa tau pas di badannya Zain. Tadinya saya mau ke rumah kamu tapi untungnya kamu lewat depan rumah saya. Jadi, saya tidak perlu lagi ke rumah kamu,"ucap Bu Rina sambil menyodorkan kantong kresek di tangannya ke arahku dan aku menerimanya lalu tersenyum padanya.


"Alhamdulilah. Terima kasih banyak ya Bu Rina."

__ADS_1


Aku selalu mengucapkan syukur dan terima kasih ketika ada orang yang memberiku sesuatu meskipun sesuatu itu berupa barang bekas seperti yang aku terima saat ini.


"Sama sama Nur. Nanti kalau baju Reza sudah tidak muat saya kasih untuk Zain lagi."


"Terima kasih Bu. Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu Rina."


Aku melanjutkan lagi langkahku menuju rumahku yang letak nya masih jauh. Di tengah melangkah, aku mendongak kan wajahku ke atas melihat langit yang mulai menghitam.


"ya Allah, semoga tidak turun hujan dulu sebelum aku sampai di rumah,"gumam ku lirih.


Aku mempercepat langkahku karena aku takut hujan tiba tiba turun lalu membasahi semua jemuran kerupuk yang sudah mulai mengering. Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi Ibu pasti akan kembali murka dan aku yakin dia akan memintaku untuk membelikan bahan - bahan kerupuk kembali.


Aku tidak mau hal itu terjadi. Uang nafkah dari suamiku yang hanya tersisa satu lembar uang berwarna merah tidak akan ku gunakan untuk menuruti kemauan ibu lagi.


Aku berjalan cepat hingga berlari sampai aku tidak memperhatikan ada sebuah batu cukup besar sedang menghalangi jalanku.


Bruugh


Aku terjatuh begitu pula dengan Zain yang ku gendong ikut terjatuh bersamaku. Anak ku menangis histeris karena terkejut dan bersyukurnya dia tidak sempat menyentuh tanah karena sebelah tubuhku menahannya. Aku segera menggendong Zain kembali dan menenangkannya dari tangisan. Meskipun lutut ku terluka dan terasa perih serta mengeluarkan darah aku biarkan saja yang penting anak ku tidak terluka barang secuil pun. Setelah Zain kembali tenang, aku melanjutkan lagi langkah ku dengan luka di lutut sambil menggendong Zain dan menenteng kantong kresek hitam berisi pakaian bekas untuk anak ku.


"Alhamdulilah, kerupuknya tidak kehujanan dan sudah kering." Aku tersenyum dan tak henti hentinya mengucapkan rasa syukur.


Rumahku terlihat sepi sepertinya ibuku belum pulang. Aku sendiri tidak tahu kemana ibuku pergi karena dia tidak pernah memberi tahu kepadaku jika mau pergi kemana pun.


Ku ambil kunci yang ku letak kan di atas pintu. Aku sengaja menyimpannya di atas pintu karena aku takut ketika aku sedang mengantar kerupuk ibu pulang dan mencari kunci pintu.


Aku menurunkan Al di depan TV lalu menyalakan TV slim berukuran 21in. Kemudian aku mengganti chanelnya dari chanel favorit ibu ke chanel film kartun anak.


"Sebentar ya nak, mama mau ambil obat dulu untuk mengobati luka mama." Zain mengangguk lalu kembali fokus menonton film kartun. Jarang sekali dia bisa menonton film kartun dengan leluasa karena selama ini TV tersebut di kuasai oleh ibuku sendiri padahal TV itu aku yang membelinya.


Setelah mengobati luka di lutut ku, aku mengeluarkan semua isi kantong kresek pemberian Bu Rina tadi di jalan. Terlihat beberapa potong baju serta celana bekas dan warnanya sudah terlihat memudar teronggok di hadapanku.


"Zain sini nak, kita coba baju baru dulu yuk," ajak ku pada Zain. Zain tersenyum senang lalu berjalan mendekatiku. Aku mulai menjajal kan satu persatu baju bekas tersebut di tubuh Zain.


Setiap ada orang yang memberi baju bekas selalu aku bilang baru pada Zain. Aku tidak tega jika mengatakan bahwa baju itu adalah baju bekas meskipun Zain sendiri belum mengerti mana baju bekas dan mana baju baru.

__ADS_1


Sejak pertama kali Zain lahir. Dia tidak pernah memakai baju baru. Semua yang dia pakai merupakan baju bekas pemberian orang orang yang merasa iba padaku. Aku sendiri belum pernah membelikan baju baru untuk Zain karena keterbatasan uang yang ku miliki. Begitu pula dengan suamiku yang selalu bilang tidak memiliki uang lebih. Orang tua suamiku tidak pernah memberikan apa pun pada anak ku begitu pula dengan ibu kandungku. Sering kali aku termenung memikirkan sikap para orang tua. Mengapa semua kakek nenek anak ku tidak ada yang peduli dan sayang pada anak ku? apa salah Zain pada mereka? dua pertanyaan itu yang sering kali berputar putar di otak ku.


Setelah selesai menjajal kan beberapa potong baju bekas, aku menyimpan nya ke dalam kardus tempat penyimpanan baju Zain karena Zain tidak memiliki lemari pakaian.


"Nur Nuriii !"


Teriakan ibu terdengar dari arah dapur memanggil namaku. Aku segera keluar dari kamar lalu berjalan menuju dapur untuk menemui ibu ku. Terlihat pakaian yang di kenakan oleh ibu basah kuyup sepertinya dia habis kehujanan.


"ya Bu."


"cepat rebus kan air panas ibu mau mandi," titah ibu padaku lalu aku mengangguk karena aku pun tak tega melihatnya basah kuyup seperti itu. Seburuk apa pun perlakuannya padaku dia adalah ibuku yang harus ku hormati dan ku junjung tinggi.


Beberapa saat kemudian air yang ku rebus mendidih lalu ku tuangkan ke dalam bak besar di kamar mandi.


"Bu, airnya sudah ku tuangkan di dalam bak," lapor ku pada ibu yang sedang duduk menunggu air panas.


"Nur Nurii !"


Ibu berteriak memanggil namaku kembali. Aku bergegas menghampiri ibu yang baru keluar dari kamarnya.


"Ya Bu."


"Mana hasil penjualan kerupuk?" tanya ibu sambil menadahkan tangannya ke arahku.


Aku segera merogoh kantong daster lusuh yang ku gunakan.


"Ini Bu." Aku menyodorkan uang tersebut dan ibu mengambilnya dari tanganku.


"Hanya dapat tiga ratus ribu. Soalnya ada dua puluh yang tidak laku. Terus ada yang belum bayar dan untuk bayar hutang ibu sama Bu Siti,"ucap ku lagi.


Ibu menghitung jumlah uang tersebut kemudian menyisihkan selembar uang lima ribu lalu menyodorkannya pada ku.


"Ini upah mu,"ucap ibu.


Aku yang membuat kerupuk itu, aku pula yang mengedarkan nya ke warung - warung. Tapi aku hanya di beri upah lima ribu jika pendapatan di bawah empat ratus ribu dan di beri upah sepuluh ribu jika pendapatan di atas empat ratus ribu setiap kali mengantar kerupuk seminggu sekali.

__ADS_1


__ADS_2