
Rasanya sulit sekali menghentikan air mata yang terus menerus mengalir seperti sumber mata air. Perkataan mas Surya benar benar menyayat hatiku sehingga menjadi luka dan menyisakan rasa perih serta rasa sakit tiada kira. Mas Surya tega sekali mengatai ku jelek, kuper dan bodoh karena aku hanya tamatan SMA. Dia juga tidak segan membandingkan aku dengan mantan istrinya yang menurutnya sempurna karena aku sendiri belum pernah bertemu bahkan melihat bagaimana bentuk rupa mantan istri suamiku yang kerap kali di banggakannya.
Sambil menangis ku tatap Zain yang sedang tertidur meringkuk di atas kasur lantai karena aku pindah dari kamarku dan mengisi kamar yang kosong. Aku akan menempati kamar kosong sampai mas Surya kembali ke Jakarta. Ku tatap lekat lekat wajah anak ku dan aku selalu berdoa semoga sikap kasar suamiku tidak menurun pada anak ku Zain.
Aku mendekap erat tubuh anak ku. Satu satunya harta yang paling berharga yang aku miliki. Satu satunya orang yang paling dekat dan satu satunya orang yang mampu membuatku bertahan menjalani hari hariku. Aku memeluk Zain dalam tangis hingga aku tertidur dan ketika aku terbangun jam sudah menunjukan pukul lima subuh.
Aku bergegas bangun dan ku paksakan menyeret kedua kakiku untuk membersihkan tubuhku serta mengambil air wudhu karena aku belum menjalankan ibadah sholat subuh.
Gara gara permasalahan yang ada aku hampir saja melupakan gorengan pesanan Raihan.
"Bismillah....jangan pernah berkecil hati Nuri....jadikan hinaan suamimu sebagai semangat untuk terus mencari rizki yang halal..tunjukan padanya bahwa kamu masih bisa hidup meski tanpa nafkah darinya. Dan semoga hinaan yang diucapkan oleh suamimu dapat mengurangi dosa dosa mu...amin."
Ku langkah kan kakiku dengan semangat menuju dapur. Setelah tiba di dapur aku segera membuat adonan bakwan, tahu isi serta pisang goreng. Aku membuat gorengan dengan jumlah melebihi pesanan Raihan karena sisanya akan aku jual keliling. Lebih baik aku usaha mencari uang daripada di rumah hanya akan mengingat hinaan suamiku pikirku.
Tepat pukul enam pagi gorengan sudah selesai ku goreng semuanya namun belum sempat ku tata karena gorengan masih dalam keadaan panas. Suara ketukan pintu serta salam terdengar dari arah pintu teras depan dan aku meyakini bahwa orang itu pasti Raihan yang hendak mengambil pesanannya.
Aku membuka pintu teras samping benar saja motor besar milik Raihan terparkir di halaman rumahku. Aku segera menghampiri Raihan yang masih mengucap salam lewat pintu samping rumah.
"Wa'alaikum salam.....Rai..!" jawabku.
Raihan menoleh ke arahku yang baru muncul di samping rumah.
"Mba Nuri..hampir saja jantung ku copot mba," ucap Raihan sembari tersenyum manis sekali.
"Berlebihan kamu Rai..!" aku menimpalinya dengan sedikit becanda.
"He...he..apa sudah selesai pesanan ku, mba?"
"Belum selesai ku tata Rai..maaf ya aku kesiangan."
"Tidak apa apa mba, biar aku bantu menatanya ya mba biar cepat selesai."
"Apa aku tidak merepotkan kamu Rai?"
"Tidak sama sekali mba, ya sudah yuk." Rai menarik lenganku memasuki rumah lewat pintu samping.
Setelah tiba di dapur Rai masih saja menggenggam erat tanganku.
"Mana gorengannya mba biar aku tata?" Raihan bertanya dan matanya sibuk melirik sana sini mencari keberadaan gorengan yang hendak di tata namun tangannya masih saja menggenggam tanganku.
"Rai...!"
"Ya mba...!"
"Tanganku tolong lepaskan dulu!"
"Owh, he..he..maaf mba aku lupa." Rai segera melepas kan genggamannya lalu menggaruk tengkuknya.
Aku tersenyum tipis melihat kelakuan Raihan yang menurutku hiburan di pagi hari. Raihan seperti bunglon, kadang bisa bersikap dewasa sekali dan kadang bisa bersikap seperti anak kecil yang tingkahnya bisa membuatku terhibur.
"Mana gorengan yang harus ku tata mba?"
"Ini Rai..!" aku hendak mengangkat penampi berisi gorengan hangat yang menggunung dan akan aku turunkan ke bawah lantai agar mudah menatanya namun dengan sigap Raihan mengambil alih penampi gorengan di tanganku.
"Biar aku saja mba."Raihan membantu menurunkan penampi ke bawah lantai.
Aku dan Raihan duduk di lantai sambil menata gorengan ke dalam wadah berukuran cukup besar.
__ADS_1
"Tadi bangun jam berapa Mba? tanya Raihan membuka percakapan di antara kami.
"Jam lima. Tadi aku kesiangan Rai..!"
"Jam lima kesiangan? memangnya biasanya jam berapa kalau membuat gorengan?"
"Jam setengah lima. Adzan subuh biasanya aku langsung bangun."
"Apa setengah lima mba mulai membuat gorengan?"
"Tidak, sholat subuh dulu baru membuat adonan."
"Wanita Sholehah!"
"Hah?"
"Owh, saya salut sama mba Nuri, tidak pernah melupakan kewajiban sebagai umat muslimah yang taat."
Aku hanya tersenyum mendengar pujian dari Raihan. Raihan terdiam aku tau dia sedang memandangi wajahku dan entah apa yang menarik dari wajah jelek ku ini sehingga Raihan masih saja memandanginya.
"Jangan menatapku seperti itu Rai!" ucap ku sambil menunduk.
Raihan tidak menanggapi ucapan ku melainkan tangannya terangkat lalu membelai lembut pipi kananku. Aku terperanjat kaget lalu menjauhkan wajahku dari tangan Raihan.
"Mba.....!" ucap Raihan namun tatapannya tak lepas dari pipi kananku.
Aku mendongak menatap balik pada Raihan.
"Pipi kanan mba Nuri kenapa terlihat membiru? dan sudut bibir mba kenapa terluka?"
"Ini...ini aku tadi ke jedot pintu Rai," ucap ku sambil menutup wadah yang sudah terisi gorengan dengan penuh.
"Apa mba pikir aku percaya?"
"Rai...sudah siang, bukannya kamu mau buru buru ke kampus?"
"Apa ini ulah perbuatan suami mba?"
"Rai..aku baik baik saja. ini hanya luka kecil kamu tidak usah khawatir. Lebih baik kamu cepat pergi ke kampus. Ini semuanya sudah selesai."
Terdengar Raihan menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian ia mengambil dompetnya di saku celana lalu mengambil uang dua ratus ribu.
"Ini uangnya mba...!" ucap Raihan sambil menyodorkan uang itu ke arahku.
"Apa tidak ada uang pas saja Rai?
"Tidak usah di kembalian mba, kembaliannya aku titip untuk Zain saja ya?"
"Raihan...!"
"Aku serius mba, uang itu bukan untuk mba tapi untuk Zain."
"Tapi Zain belum butuh uang Rai..!"
"Simpan saja dulu sama mba Nuri, nanti kalau Zain butuh mba bisa memberikannya."
Raihan paling bisa memberi alasan padahal aku tau dia memang sengaja memberikan uang kembalian nya untukku.
__ADS_1
"Mba, sisa gorengan itu mau di kemana kan?" tanya Raihan setelah bersiap siap akan keluar rumahku dan melihat tumpukan gorengan di atas penampi.
"Aku mau dagang keliling Rai..!"
"Apa tidak capek mba?"
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Raihan."Namanya juga cari uang Rai..tidak ada yang tidak capek."
"Semangat ya mba cari uangnya..!"
"Kamu juga Rai, semangat kuliahnya. Belajar yang benar jangan sering bolos."
"Hehe...! ya sudah kalau begitu saya pergi dulu ya mba?"
"Iya, hati hati bawa motornya."
Aku mengantar Raihan hingga menaiki motor besarnya. Sebelum Raihan memakai helm nya dia tersenyum terlebih dahulu padaku. Aku pun membalas senyuman Raihan.
Aku menatap dua lembar uang berwarna merah di tanganku."Alhamdulilah pagi pagi sudah dapat rizki melalui tangan Raihan."
Setelah itu aku memasuki kamar dimana Zain masih tertidur dengan pulas lalu menggendongnya dalam keadaan masih tidur.
"Mama...!" ucap Zain di gendongan belakang punggungku.
"Zain sudah bangun nak? maaf ya mama ganggu Zain bobo kita harus dagang sayang."
"Iya mama..!"
"Zain tidak apa apa ikut dagang dengan mama?"
"Iya mama..!"
"Ya sudah yuk kita dagang."
Aku menggendong Zain di belakang punggung menggunakan jarik serta membawa dagangan di atas kepalaku.
"Bismillah...semoga dagangan kita hari ini laris ya nak?"
"iya mama..!"
Aku mulai berdagang keliling mendatangi satu rumah ke rumah lainnya ada yang membeli ada pula yang menolak dagangan ku. Butuh waktu satu jam aku berdagang hingga dagangan ku habis tak tersisa. Orang bilang gorengan ku enak dan besar besar oleh karena itu gorengan ku cepat habis.
"Alhamdulilah nak, gorengan kita sudah habis."
Aku kembali pulang ke rumah dan setelah tiba di rumah ku lihat mas Surya sedang berdiri di teras rumah sambil berkacak pinggang melihat kedatanganku yang membawa penampi bekas wadah dagang. Ku abaikan mas Surya lalu aku masuk ke dalam rumahku lewat pintu samping rumahku.
"Kita mandi yuk nak?" aku menurunkan Zain hendak memandikannya.
"Nuri...!" teriak mas Surya dengan lantang di ambang pintu dapur. Zain terkejut begitu pula denganku. Zain langsung menangis lalu memelukku.
Aku menatap kesal ke arah mas Surya." apa mas itu tidak bisa bicara lembut sedikit? kamu sudah buat Zain ketakutan mas."
"Salah mu sendiri kenapa cuekin aku? suami bangun tidur bukannya di layani malah kamu keluyuran pagi pagi."
Ternyata mas Surya tidak tau jika aku habis berdagang keliling. Biarlah mungkin memang lebih baik dia tidak perlu tau apa kegiatan ku di pagi hari.
"Cepat buatkan aku kopi." Mas Surya menyuruhku untuk membuatkannya kopi seolah olah dia amnesia atas kejadian tadi subuh telah menampar serta menghinaku.
__ADS_1