Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Risa, sugar baby!


__ADS_3

"Eeeeeeee."


Setelah selesai makan terdengar ibu bersendawa cukup keras dan panjang tanpa menutup mulutnya. Nampak tulang belulang ikan dan ayam menggunung di atas piring bekas makan ibu. Nampak pula sisa lauk pauk yang masih utuh. Ayam goreng sisa tiga potong dari sepuluh potong. Ikan gulai sisa satu potong dari lima potong ukuran besar. Cap cay sisa setengah piring dan sambal masih utuh tidak tersentuh karena ibu tidak suka makanan terlalu pedas. Aku sendiri sengaja membuat sambal itu untuk makan ku dan bang Supri nanti.


Ibu menoleh pada bang Supri yang sedang duduk di sampingnya."Ibu sudah kenyang Sup, ibu ngantuk mau tidur." Ucap ibu lalu berdiri tegak hendak beranjak.


"Baru juga makan Bu, jangan langsung tidur tidak baik untuk kesehatan ibu. Lagi pula kata orang tua jaman dulu bilang kalau habis makan jangan langsung tidur pamali." Bang Supri menasehati kebiasaan buruk ibu yang ternyata tidak berubah dari dulu.


"Kamu Sup, ibu ini kan termasuk orang tua yang lahir pada jaman dulu. Ibu tidak pernah tuh dengar orang tua dulu ngomongin pamali kalau habis makan langsung tidur."


"Ibu di kasih tau nya kok..."


"Ah, kamu itu sup, anak baru kemarin sore tau apa? malah sok nasehati ibu. Sudah ah, ibu ngantuk mau tidur dulu." Setelah berucap ibu beranjak dan melewati aku yang sedang berdiri tidak jauh. Namun ibu melirik datar saja pada ku tanpa ekspresi.


Bang Supri geleng-geleng kepala melihat ibu yang pergi begitu saja setelah kenyang." Ternyata kebiasaan buruk ibu masih saja melekat dan kayaknya sulit berubah, Nur."


"Sudah lah bang biarkan saja lebih baik Abang makan saja dulu." ucap ku sembari berjalan mendekati meja makan.


"Tapi, dia itu kan sudah tua Nur, mestinya mikir semakin tua itu ya harus berubah jadi lebih baik bukan semakin menjadi jadi."


"Sudah bang, doain yang baik baik saja buat ibu, mending Abang makan gih."


Bang Supri mengalihkan pandangannya pada sisa makanan di atas meja."Gulai ikan nya tinggal satu, Nur." Ucap bang Supri dan pandangan nya tak lepas dari gulai ikan itu.


"Makan saja bang, habiskan."


Kemudian dia memiringkan bahu nya lalu mendongak tinggi karena posisiku yang sedang berdiri di sampingnya." Kamu serius Nur ikannya buat aku?"Tanya nya kemudian.


"Iya makan saja habis kan. Cap cay juga ayamnya. Eh, tapi ayamnya sisakan satu ding buat makan Zain."


"Apa kamu tidak makan nyuruh aku habiskan semuanya?"


"Aku mah gampang bang. Makan sama telor ceplok saja jalan." Bang Supri nampak tersenyum lebar. Kemudian aku mengambil piring dan gelas bekas makan ibu dan menaruhnya di wastafel.


"Aku mau ke pabrik dulu ya bang dan tolong beresin mejanya kalau sudah selesai makan." Ucap ku ketika hendak beranjak pergi dari dapur.


Bang Supri hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan hingga kedua pipinya terlihat menggelembung. Jika aku perhatikan cara makan ibu dan bang supri memiliki persamaan yaitu sama sama makannya banyak dan tergesa gesa.


Aku masuk ke dalam pabrik nampak ibu ibu sedang sibuk berjibaku membuat kerupuk. Semenjak ada ibu ibu yang membantuku, aku jarang berkecimpung di produksi. Untuk quality control pun aku serahkan pada bang Supri dan Sumi sementara aku fokus memasarkan nya. Sudah ada belasan toko besar yang ku masuk kan produk ku dan semua nya laku keras. Selain itu aku juga berencana akan memasuk kan produk ku ke mini market tapi masih menunggu surat ijin usaha terlebih dahulu. Dan mudah mudahan setelah produk kerupuk ku bisa masuk ke mini market, besar harapanku produk ku juga bisa masuk ke super market di kota.


"Sumi!" aku memanggil Sumi yang belum menyadari kehadiran ku.


Dia menoleh namun tidak hanya Sumi melainkan ibu ibu yang lain pun ikut menoleh karena suaraku yang sedikit keras.


"Kenapa Nur?" Tanya Sumi.


"Kemari Sebentar." Aku menyuruh Sumi untuk mendekatiku dan Sumi pun menurut.


"Kenapa Nur?" Sumi bertanya kembali setelah mendekat.


"Kamu sedang sibuk banget tidak?"

__ADS_1


"Tidak terlalu sih. Memangnya mau apa?"


"Emm, antar aku keluar sebentar beli nasi bungkus untuk makan kalian siang ini soalnya aku tidak masak." Bukannya aku tidak ingin masak hanya saja stok bahan mentah yang tersisa tidak mencukupi untuk makan sembilan orang. Mestinya sepuluh tapi bang Supri sudah makan lebih dulu sisa makanan ibu.


"Oh yaudah yuk." Kami berjalan beriringan ke luar pabrik menuju motor yang terparkir. Namun sebelum aku pergi aku mengambil Zain terlebih dahulu di dalam rumah karena aku tidak ingin meninggalkan Zain meskipun hanya sebentar. Kejadian penculikan waktu itu membuat aku lebih protektif lagi menjaga Zain.


Aku melajukan motorku membonceng Sumi dan di tengah tengah kami terselip Zain.


"Memang nya mau beli nasi rames dimana Nur?" Tanya Sumi di pertengahan jalan.


"Kita cari di pinggir jalan raya saja Sum."


"Maksud nya nyari warteg di pinggir jalan raya?"


"Iya."


"Aku ingin makan nasi Padang boleh tidak Nur?"


"Boleh dong."


Setelah keluar dari kampung dan berada di jalan raya kami mencari rumah makan padang. Setelah menemukan letak rumah makan Padang kami menyisi dan memarkirkan motor ku di samping sebuah mobil berwarna hitam.


Setelah motor terparkir cantik aku dan sumi bergegas masuk ke dalam rumah makan Padang lumayan cukup besar lalu memesan sepuluh bungkus nasi. Delapan bungkus untuk makan siang ibu ibu yang bekerja dan dua lagi untuk aku dan sumi.


Ketika kami sedang menunggu nasi bungkus, tanpa sengaja pandanganku mengarah pada dua pasang kekasih yang nampak sangat mesra duduk di meja paling pojok. Namun yang membuat aku tercengang adalah sepasang kekasih itu nampak aneh. Si pria nampak tua dan rambutnya pun penuh uban. Sementara si wanita nampak masih muda dan segar. Tapi, eh sebentar! Seperti nya aku familiar sekali sama sosok wanita yang sedang menggunakan rok mini serta baju kurang bahan sehingga dada nya nampak menyembul.


Ketika aku sedang memperhatikan sepasang kekasih itu, tiba tiba pandangan si wanita mengarah padaku dan seketika itu pula pandangan kami bertemu. Dia melihatku dengan mimik muka terkejut begitu pula dengan aku yang tak kalah terkejut. Bagaimana tidak terkejut, wanita yang dulu memakai pakaian sari', anak seorang ustad yang dulu terkenal di kampung ku namun sekarang meredup karena suatu scandal yang menimpanya, wanita yang berpendidikan tinggi karena kuliah dan kerap kali merendahkan ku, wanita kebanggaan seorang ibu yang memakai pakaian sangat tertutup namun memiliki lidah yang sangat tajam dan sering kali menghina pendidikan serta kemiskinan ku dan wanita yang mencintai pria yang mencintaiku. Tidak menyangka penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat dan yang lebih parah lagi dia bermesraan dengan seorang pria tua yang aku yakini pasti sudah memiliki seorang istri dan anak mungkin cucu.


"Risssaaa!" gumam ku lirih namun masih terdengar oleh Sumi sehingga dia menoleh ke arahku.


"Lho, bukannya itu si Risa anak ustad Amir, Nur? kok...." Aku mencubit kecil lengan Sumi hingga dia tidak melanjutkan ucapannya.


Risa berubah salah tingkah ketika melihat orang yang dia kenal sedang memperhatikan nya. Kemudian dia mengajak si laki laki tua itu untuk pergi dari bangku yang mereka duduki.


"Bukannya kamu Risa anaknya ustad Amir ya? kok, pakaian mu berubah jadi kurang bahan gini?" Tanya Sumi ketika Risa dan pria tua itu melintasi kami karena kebetulan kami berdiri tepat menuju arah pintu keluar masuk rumah makan Padang itu. Namun Risa tidak menghiraukan ucapannya bahkan menoleh pun tidak seolah olah dia tidak mengenal kami.


Namun si pria tua itu menghentikan gerakan langkahnya lalu menoleh pada kami."Sayang apa kamu kenal dengan mereka?" Tanya nya pada Risa.


Risa melirik sinis ke arah kami."Tidak kenal Om, tapi setau ku mereka warga paling miskin di tempat tinggal ku. Sudah yuk pergi." Ucap nya kemudian.


"Dih, baru jadi sugar baby saja sudah sombong ngatain kami warga paling miskin kayak sendiri nya orang kaya saja padahal emaknya banyak utang di warung warung." Sumi balik mencibir sinis. Aku juga kesal mendengar ucapannya.


Risa menatap tajam Sumi sepertinya dia tidak terima atas perkataan nya."Kamu..."


"Apa!"Sumi balik menantang Risa. Dagu nya di angkat dan kedua tangannya di tengger kan di atas pinggangnya.


"Kamu tau, teman ku ini_"Sembari menepuk nepuk pundak ku." Seorang pengusaha kerupuk terkenal se_kecamatan. Jadi jangan sembarang ngomong ngatain kami orang paling miskin. Dari pada keluargamu! Bapak mu saja terkenal ustad cabul, emak mu terkenal banyak utangnya dan kamu sendiri kerjanya hanya morotin kakek kakek ini. Dih, apa nya yang di banggain."


Jakun pria tua itu nampak naik turun sepertinya dia mulai kesal di ledek oleh Sumi.


"Enak saja ngatain aku kakek kakek. Gini gini aku masih kuat sepuluh ronde semalam. Apa kamu mau mencobanya?" Risa langsung menyiku perut pria itu dan wajahnya berubah menekuk.

__ADS_1


"Ha ha, dih ogah banget e na e na sama situ. Gini gini aku masih waras ya!"


"Sudah Sum, sudah." Aku melerai perdebatan Sumi dan mereka."Silahkan di lanjut jalannya pak!"ucap ku pada pria itu.


Dengan wajah yang tidak enak di pandang akhirnya mereka beranjak dari hadapan kami.


Pandangan kami mengikuti arah berjalan nya Risa dan pria tua itu. Namun yang membuat aku geli adalah apa si Risa tidak malu sepanjang jalan menuju keluar pinggangnya di rangkul oleh pria tua yang lebih cocok jadi bapaknya dari pada jadi kekasihnya di depan banyak orang? karena yang melihat mereka bukan saja kami melainkan pengunjung lainnya.


Pandangan kami mengalih ke arah mobil hitam yang terparkir di luar. Terlihat si pria membukakan pintu mobil untuk risa.


"Dih, tidak menyangka ternyata anak ustad mainannya sama kakek kakek peyot. Apa orang tuanya tau gimana kelakuan anaknya di luar, Nur?"


Aku tidak menjawab melainkan hanya mengedik kan bahu. Lagi pula bukan urusanku dan terserah nya mau berbuat apa.


"Mungkin itu yang namanya karma di bayar tunai Nur, dulu emak nya sering banget ngatain aku kupu kupu malam kalau bertemu di warung bubur bahkan dia sering kali memanggilku dengan sebutan jablay dan ternyata sekarang anak nya jadi jablay beneran."


Aku mengelus elus punggungnya agar Sumi tenang dan tidak terbawa emosi mengingat perlakuan Bu Rida padanya. Andai saja Sumi tau jika Bu Rida pun sangat sering menghinaku namun aku lebih memilih diam dan tidak bercerita karena aku tidak ingin mengumbar kejelekan orang lain sekesal apapun. Aku lebih memasrahkan nya saja pada Tuhan dan biar Tuhan yang membalas perbuatannya.


"Sudah selesai mba!" pria yang sedang melayani pesanan kami tiba tiba memberi tahu jika pesanan kami sudah selesai sembari meletak kan satu kantong besar berisi nasi bungkus di atas meja.


Kami mengalihkan pandangan kami pada pria itu." Oh, Emm, berapa totalnya mas?" Tanya ku.


"Dua ratus enam puluh ribu, mba."Jawab pria itu.


Aku segera merogoh dompet ku lalu memberikan uang tiga lembar warna merah. Kemudian kami bergegas ke luar setelah aku menerima uang kembalian.


"Sum, kamu yang bawa motor nya ya! si Zain tidur nih." Ucap ku setelah berada di luar.


"Siap Nur."


Kemudian Sumi melajukan motorku menuju arah kampung kami. Mulanya Sumi melajukan motornya cukup cepat namun di tengah jalan dia memelankan laju nya. Selain itu pandangannya pun mengarah ke arah kiri. Aku cukup heran di buatnya.


"Kenapa Sum?"


Sumi tidak menjawab pertanyaan ku melainkan menyisi dan memberhentikan motornya.


"Sum mau apa?"


"Lihat itu Nur, bukan nya itu mobil si risa dan kakek tua itu?"


Aku mengikuti arah pandang Sumi dan terlihat sebuah mobil hitam terparkir di samping kandang kerbau yang nampaknya sudah tidak terpakai dan di bawah pohon mangga. Jika pengendara mobil atau motor melajunya cepat tidak akan melihat ada mobil yang terparkir di sana. Namun mata Sumi Jeli sekali bisa melihat keberadaan mobil itu.


"Kenapa mobil nya terparkir di sana ya, Nur?"


"Tidak tau Sum. Sudah yuk cepat pulang kasihan ibu ibu sudah menunggu kedatangan kita."


"Sebentar Nur, perhatikan deh. Itu mobilnya seperti goyang goyang, Nur."


Aku menautkan kedua alisku lalu menoleh lagi pada mobil itu. Ku perhatikan dan benar saja kata Sumi jika mobil itu bergoyang. Seketika aku teringat pada waktu di apartemen Raihan. Jam dua dini hari kami menemukan mobil yang bergoyang di area parkir dan ternyata dua manusia sedang berbuat mesum.


Aku geleng-geleng kepala mengingat hal itu." Sudah Sum, biar kan saja. Lebih baik kita pulang sekarang." Aku mengajak Sumi pulang karena aku tau apa yang sedang di lakukan oleh Risa dan pria tua itu di dalam mobilnya.

__ADS_1


"Ish, sebentar Nur, aku penasaran kenapa mobilnya bergoyang." Sumi menolak, dia justru malah melangkah mendekati mobil itu.


"Sum!"aku memanggilnya namun Sumi tidak menghiraukan panggilanku.


__ADS_2