
Raihan ijin padaku akan pergi bersama dokter Bayu ke suatu tempat namun aku tidak bertanya kemana tujuan mereka. Sementara Zain sedang di asuh oleh bibi Sukma bersama Art lainnya. Aku duduk sendirian di sebuah sofa sembari termenung memikirkan siapa aku? apakah aku ini benar-benar anak ibu Hanum dan pak Bagas, cucu Oma Melisa?
Di tengah termenung Oma datang menghampiriku lalu aku melirik padanya dan memberi senyuman. Oma pun membalas senyuman ku. Setelah itu, dia menyodorkan sebuah buku berukuran cukup tebal. Sejenak aku memandangi buku itu lalu bertanya padanya." Apa itu Oma?"
"Ini album kenangan almarhumah mama Hanum yang Oma simpan dari tahun ke tahun. Oma rasa kamu harus melihatnya agar kamu memiliki gambaran mengenai bagaimana wajah mamamu."
Saliva ku rasanya tercekat di tenggorokan. Oma sudah mengklaim bahwa aku anak ibu Hanum padahal belum ada bukti yang menjorok ke sana.
"Oma, kenapa Oma yakin kalau aku ini anak ibu Hanum sementara belum ada bukti yang menguatkan."
Oma duduk di sampingku lalu merangkul tubuhku." Tapi feeling Oma mengatakan kalau kamu cucu Oma. Meskipun nanti kenyataanya kamu bukan anak Hanum, Oma tetap akan menganggap kamu cucu Oma."
Aku memeluk nya dan menumpahkan airmata ku. Aku merasa terharu dan bahagia telah di kelilingi oleh orang orang baik dan sayang padaku. Raihan, Bu haji dan sekarang Oma. Aku amat sangat bersyukur sekali.
Oma meninggalkan aku setelah memberikan album foto itu. Dia mengatakan akan ikut bermain bersama Zain di taman. Ku buka album foto yang berukuran cukup tebal dan sampul nya sudah nampak usang. Ku buka lembar demi lembar album itu. Setiap lembaran yang ku buka senyum pun mengembang di bibirku melihatnya. Album itu hanya berisi foto foto ibu Hanum sejak beliau masih bayi, anak-anak, remaja, menikah hingga memiliki seorang balita.
Dari bayi hingga anak-anak, ibu Hanum nampak sangat menggemaskan. Sementara foto-foto ketika remaja hingga menikah beliau nampak cantik sekali tak ubah nya wajah ku. Pantas saja semua orang yang mengenal ibu Hanum mengatakan jika aku sangat mirip sekali dengannya karena jika di perhatikan tingkat kemiripan kami hampir mendekati sembilan puluh persen.
Ketika aku membuka lembaran terakhir album itu, nampak sebuah foto keluarga yang terlihat amat sangat manis. Pak Bagas dengan wajah tampannya menggendong balita laki laki sembari tangan kiri merangkul pundak seorang wanita yang mirip sekali denganku serta perutnya yang nampak membesar sedang duduk di kursi roda. Aku merasa foto ini adalah foto terakhir keluarga ini jika melihat dari background nya yaitu sedang berada di rumah sakit. Mungkin ketika ibu Hanum hendak melakukan persalinan.
Aku terhanyut menatap mereka dan tanpa sadar ku usap-usap wajah mereka dan ku elus perut besar ibu hanum." Apa, apa kalian benar-benar orang tuaku? apa kalian keluarga ku? Apa, apa di perut ibu ini adalah aku?" Tiba tiba air mataku mengalir begitu saja.
Di tengah termenung di iringi tangisan tiba tiba sebuah tangan bertengger di bahuku. Hal itu cukup mengejutkan ku. Aku mendongak miring ternyata Raihan memberikan senyuman padaku.
"Rai.." Aku segera mengusap kasar air mataku lalu menekuk kan wajahku. Bagaimana tidak kesal jika di kejutkan dalam keadaan pikiran terhanyut pada suasana yang menyedihkan.
"Maaf sayang aku tidak bermaksud mengejutkan mu. Padahal aku sudah dari tadi berdiri di belakangmu." Kemudian dia berjalan memutari sofa lalu duduk di sampingku.
Kening ku mengernyit. Kenapa aku tidak menyadari kehadiran Raihan. Apa aku terlalu dalam memikirkan masalahku hingga aku tidak menyadari keberadaan seseorang di sekitarku.
"Rai.."
"He'em."
__ADS_1
"Kamu darimana?"
"Membantu dokter Bayu."
"Bantu apa?"
"Sudah pulang Rai, mana Bayu?" Tiba tiba Oma datang menghampiri kami.
"Sudah Oma, dokter Bayu masih di makam."
"Apa sudah di bongkar?"
Raihan melihat jam yang melingkar di tangannya." Sepertinya sekarang sedang di lakukan Oma."
"Oh, apa kamu bisa antar Oma kesana?"
"Oma mau melihat pembongkaran makam?"
"Tentu saja. Oma harus menyaksikan sendiri."
"Apa aku boleh ikut?"
Raihan dan Oma melirik ku." Apa kamu serius mau melihat?" Tanya Raihan.
Aku mengangguk." Jika di bolehkan."
Setelah mengobrol cukup lama, kami memutuskan pergi ke pemakaman bersama tanpa membawa Zain. Oma meminta bibi Sukma untuk mengasuh Zain selama kami pergi.
"Apa Bu Hanum benar-benar ibu kandung ku? ibu yang telah melahir kan aku ke dunia ini? jika iya, apa penyebab kami terpisah? kenapa aku harus bertemu ibuku setelah dia sudah tidak ada lagi di dunia ini?"
Ku usap air mataku yang mengalir kembali. Di perjalanan menuju makam, aku hanya duduk termenung. Bahkan obrolan oma dan Raihan pun rasanya tidak terdengar di telingaku.
"Sudah sampai sayang." Raihan tiba tiba menepuk bahuku. Sorot mataku langsung mengedar ke sekeliling luar mobil. Benar saja kalau Raihan sudah memarkirkan mobilnya di depan pemakaman. Sebelum turun, ku usap air mataku dan membenarkan letak hijab ku.
__ADS_1
Raihan turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Oma. Setelah itu, dia membuka kan pintu mobil untuk ku.
Setelah berada di luar mobil, Raihan memegang lenganku lalu menuntun aku memasuki pemakaman.
Dari jarak yang semakin mendekat nampak orang-orang sedang berkumpul di pemakaman khusus keluarga Oma. Ada dokter Bayu, satu orang polisi, pihak medis, ustad dan dua orang penggali makam.
Kedatangan kami menjadi perhatian orang orang di sana. Kami memberikan senyuman pada mereka dan mereka pun membalas senyuman kami.
"Bagaimana Bayu?" Tanya Oma pada dokter Bayu ketika kami baru saja tiba.
"Masih di gali Oma."
"Kenapa lama sekali padahal tidak terlalu dalam." Oma mulai mengomel nampak nya dia sudah tidak sabar. Begitu pula dengan aku.
"Tanahnya terlalu keras yang membuat mereka tidak bisa bekerja dengan cepat."
"Sabar Oma!"ucap Raihan.
Satu jam kemudian makan itu selesai di gali. Setelah itu, dua orang penggali makam itu mengangkat kain kafan berukuran kecil yang nampak sudah menghitam dan dan nampaknya tidak utuh. Jantungku berdebar tidak karuan melihat kain kafan itu. Raihan memegang erat tangan ku.
"Kok jasad nya kayak masih utuh." Celetuk salah satu penggali ketika mereka meletak kain kafan itu di atas rumput.
Kami saling pandang." Apa serius pak?" Tanya dokter Bayu dengan suara sedikit tinggi agar terdengar oleh mereka.
Kemudian orang itu menoleh ke arah kami."Iya pak! dalamnya terasa seperti keras."
"Coba di buka sekarang," kata seorang ustad.
Kemudian seorang pihak medis dan satu orang polisi mendekati kain kafan yang sudah menghitam dan tidak terlalu utuh itu lalu mereka membuka nya perlahan.
"Astaghfiruallah hal adzim." Ustad itu beristighfar cukup keras ketika kain kafan sudah terbuka. Semua orang yang melihat jasad bayi itu tercengang melihatnya. Kemudian pihak medis melakukan pemeriksaan pada jasad itu. Sementara aku, Raihan, Oma dan dokter Bayu yang sedang berdiri lebih jauh menatap bengong pada mereka.
"Apa yang terjadi ustad?" tanya dokter Bayu.
__ADS_1
Mereka menoleh pada kami." Ini bukan jasad manusia dokter Bayu, tapi sebuah boneka karet." kata pihak medis menjelaskan.
"Apa!" ucap dokter Bayu dengan suara tinggi lalu berjalan cepat mendekati mereka. Raihan mengekor di susul Oma dari belakang. Sementara aku hanya berdiri di tempat. Kaki ku rasanya sulit sekali di gerak dan tubuhku mulai gemetar.