Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pelukan Raihan


__ADS_3

Aku berjalan cepat keluar kantin sambil berderai air mata. Entah mengapa aku menangis. Entah karena telah di maki maki oleh orang yang tak dikenal di hadapan banyak orang atau melihat Raihan bersama Risa? aku tidak tau.


Ku langkahkan kakiku menuju taman dan Zain sudah tidak lagi menangis namun aku sendiri yang menangis. Tanpa sepengetahuanku Raihan menyusul ku dari belakang.


"Tunggu mba..!"


Aku menghentikan langkahku lalu menunduk. aku tidak ingin Raihan mengetahui bahwa aku sedang menangis. Namun ternyata Raihan sudah mengetahui dan aku segera mengusap air mataku.


"Mba Nuri dan Zain tidak apa apa kan? apa ada yang terluka?"


Aku menggelengkan kepala sambil menunduk.


"Rai, aku mau pulang saja naik kendaraan umum. Tidak semestinya aku ada disini."


"Iya mba, kita pulang sekarang."


"Biar kami pulang naik kendaraan umum saja Rai, bukan nya kamu masih ada jam kuliah? lagi pula kasihan Risa kalau kamu tinggalkan," ucapku sambil pandanganku mengarah pada Risa yang sedang memperhatikan kami dengan jarak tidak terlalu jauh.


"Mba, tau aku sedang bersama Risa?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Raihan melainkan melangkah pergi meninggalkan Raihan. Entah mengapa aku merasa kesal padanya.


Raihan mengekor di belakangku namun Risa memanggilnya. Raihan tidak lagi membuntuti ku melainkan menunggu Risa menghampirinya. Aku semakin kesal saja dibuatnya. Ku langkahkan kakiku dengan cepat menuju pintu gerbang keluar masuk kampus tanpa menoleh kebelakang karena aku tidak ingin melihat mereka. Apa aku ini cemburu? entah lah aku pun tak mengerti dengan perasaanku.


Ketika aku sedang menunggu kendaraan umum di sebuah halte kecil sebuah mobil Pajero berhenti tepat di depanku. Raihan menyusul ku. Ketika dia keluar dari mobilnya ku lihat Risa berada di dalam mobil Raihan bahkan duduk di depan.


"Mba, ayok pulang!"ajak Raihan padaku.


Aku tersenyum dengan senyum yang ku paksakan.


"Terima kasih Rai, biar aku naik kendaraan umum saja. Kamu antar saja Risa."


"Mba kenapa sih sikap nya berubah jadi seperti ini sama aku? aku minta maaf kalau aku melakukan kesalahan sama mba."


"Kamu tidak melakukan kesalahan apa apa Rai."


Ketika aku sedang berbicara dengan Raihan sebuah kendaraan umum jurusan ke daerahku berhenti tepat di depan halte aku segera menaikinya tanpa bicara pada Raihan.


"Mba, mba Nuri..!"panggil Raihan di luar mobil namun aku tidak menghiraukannya.


Tak lama sang sopir melajukan mobilnya meninggalkan halte serta Raihan yang masih menatap sedih ke arah angkutan umum yang ku tumpangi.


Di dalam angkutan aku termenung sekaligus bingung dengan sikapku. Kenapa aku marah pada Raihan hanya karena dia dekat dengan Risa, apa aku cemburu? tapi kenapa harus cemburu? aku wanita yang sudah bersuami sementara Raihan dan Risa mereka sama sama single dan muda lantas apa salahnya jika mereka menjadi sepasang kekasih? aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.


Angkutan yang ku tumpangi berhenti di suatu tempat dan orang orang mulai keluar untuk menaiki angkutan jurusan masing masing. Aku turun sambil menggendong Zain dan ketika aku sedang membayar ongkos sebuah mobil Pajero berhenti tepat di belakang mobil angkutan yang ku tumpangi. Raihan turun dari mobilnya sementara aku berjalan ke arah lain untuk mencari angkutan umum jurusan ke kampung ku. Ketika aku sudah mendapatkan angkutan jurusan kampung ku dan hendak menaikinya Raihan lebih dulu menarik tanganku dan membawa ku memasuki mobilnya tanpa bicara lagi.


Setelah aku berada di dalam mobil mataku melirik sana sini mencari keberadaan Risa namun tidak aku temukan. Raihan memperhatikan aku lalu tersenyum.


"Mba, mencari Risa?" tanya Raihan.


Aku menoleh kearah Raihan dan menatapnya menunggu Raihan mengatakan kemana Risa.


"Tadi Risa hanya menumpang sebentar mau ke toko buku," ucap Raihan lagi.


"Owh..!" Aku melihat lurus ke depan.


"Hanya Owh?"


Aku menoleh lagi ke arah Raihan.


"Terus aku harus jawab apa?"

__ADS_1


"Mba tidak ingin bertanya kenapa aku bisa bersama Risa?"


"Apa itu penting untuk di tanyakan?"


"Ya siapa tau saja ingin bertanya supaya mba tidak salah paham he..he!"


"Kamu mau bersama siapa pun itu bukan urusanku," ucap ku sambil ku majukan bibirku entah mengapa aku merasa masih kesal melihat kedekatan mereka.


Raihan meraih daku ku lalu memiringkan wajahku menghadap ke arah wajahnya. Jadilah kami saling bertatapan. Aku jadi gugup di tatap Raihan sedekat ini.


"Jujur padaku mba, apa mba cemburu aku bersama Risa?"


"Ti..tidak, un..untuk apa aku cemburu," jawabku dengan gugup.


Seketika saja Raihan mengecup bibirku sekilas. Aku tercengang mendapat kecupan mendadak dari Raihan.


"Mau jawab jujur apa mau aku cium lagi lebih dari tadi?"ancam Raihan sembari tersenyum jahil.


"Aku..aku tidak tau!"


Raihan hendak mencium bibirku lagi namun sebelum itu terjadi aku menghalangi bibirnya dengan telunjukku.


"To..tolong jangan seperti ini Rai, aku...wanita yang sudah bersuami."


Raihan terdiam kemudian membenarkan duduknya dengan pandangannya ke depan lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"maaf mba, maaf," ucap Raihan tanpa melihatku.


Aku duduk sambil memangku Zain. Pandangan ku lurus ke depan. Raihan mulai melajukan lagi mobilnya membawaku entah kemana. Di sepanjang jalan kami terdiam tidak ada obrolan apa pun. Raihan menjadi berubah sikap setelah aku menolak di ciumnya tadi. Di tengah kediaman kami aku memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu.


"Kamu kenapa hanya sebentar kuliahnya Rai?" tanya ku basa basi.


Raihan melirik ke arah ku dengan ekor matanya dan dengan wajah tanpa ekspresi.


"Owh!"


Aku memperhatikan jalanan yang kami telusuri dan aku merasa jalanan yang kami lewati bukan jalan arah pulang ke kampungku. Karena penasaran aku pun bertanya lagi pada Raihan.


"Kita mau kemana Rai? seperti nya ini bukan arah pulang."


"Aku ada keperluan sebentar ke suatu tempat."


"Owh!"


Raihan memberhentikan mobilnya di depan sebuah Showroom mobil yang cukup besar. Dia membuka sabuk pengamannya lalu menoleh ke arahku yang sedang memangku Zain yang tengah tertidur.


"Mba mau ikut turun atau mau menunggu di sini sebentar?"


"Aku tunggu disini saja Rai..!"


"Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar ya mba!"


Aku mengangguk.


Raihan turun dari mobil lalu berjalan ke arah showroom. Aku memperhatikan Raihan dari dalam mobil mau apa Raihan ke showroom mobil? apa dia mau membeli mobil? pikirku. Ku lihat seorang sekuriti membungkuk kan sedikit tubuhnya seolah memberi hormat. Setelah itu datang seorang pria paruh baya menyapa Raihan dan sepertinya sangat menghormati Raihan. Selain itu, ku lihat beberapa SPG menyambangi Raihan dan memberi hormat padanya. Dan tak lama ku lihat semua orang yang ada di showroom berkumpul dan terlihat seperti sedang melakukan meeting dadakan dan Raihan yang memimpin meeting tersebut.


Aku merasa heran pada sikap semua orang yang ada di showroom yang terlihat sangat menghormati Raihan. Apa Raihan bekerja di showroom ini? tapi kenapa sikap karyawan lainnya sangat menghormati Raihan seolah olah Raihan seperti seorang bos saja? sebuah tanda tanya di benak ku tentang Raihan dan aku penasaran.


Lima belas menit berlalu Raihan kembali ke mobil dimana aku sedang menunggunya sambil memangku Zain yang tertidur. Raihan membuka pintu mobil lalu tersenyum manis sekali membuat aku terpana melihatnya.


"Maaf ya mba, sudah menunggu ku terlalu lama."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum saja.


Raihan melajukan mobilnya meninggalkan showroom mobil dan di tengah perjalanan aku memberanikan diri bertanya tentang untuk apa dia ke showroom meskipun sebenarnya bukan urusanku tapi jujur aku penasaran.


"Rai...!"


"Ya mba!"


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Boleh mba."


"Apa kamu bekerja di showroom mobil tadi?"


Raihan tersenyum lebar lalu mengelus pelipisnya," Ya bisa dibilang seperti itu mba!"


"Tapi kenapa tadi orang orang di sana terlihat hormat sekali sama kamu?"


"Mba memperhatikanku tadi?"


"Aku tidak sengaja melihatnya."


"Mba Nuri menggemaskan ya?"


"Apanya yang menggemaskan Rai, aku ini sudah menjadi ibu ibu mana ada gemas gemasnya."


"Tapi dimata ku mba itu selalu menggemaskan sama seperti dulu."


Kami mengobrol sambil becanda hingga melupakan tentang showroom sampai kami tiba di rumah Raihan.


"Kamu membawa kami ke rumah kamu lagi Rai?" tanyaku setelah tiba di depan rumah Raihan dan Raihan mengambil alih Zain dari pangkuanku yang sedang tertidur.


"Barang barang mba dan Zain masih di sini kan? nanti sore saja kalau mba mau pulang. Lagi pula Zain tertidur mba."


Aku mengekor di belakang Raihan menuju kamarnya untuk menidurkan Zain. Setelah Raihan meletak kan Zain di kasur Raihan memandangku tanpa kedip. Aku menundukkan wajahku karena aku gugup di tatap seperti itu oleh Raihan.


Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang showroom karena Raihan belum menjawab pertanyaan ku. Tapi sepertinya Raihan tidak menyukai jika membahas masalah tempat kerjanya jadi ku urungkan saja rasa penasaranku.


"Mba Nuri lapar? tadi nya aku mau ajak mba makan siang di luar tapi melihat Zain tertidur aku jadi kasihan sama Zain kalau di ganggu tidurnya."


Aku hanya tersenyum saja.


"Apa mba mau tunggu aku beli makanan di luar?"


"Tidak usah repot repot Rai, masak mie saja."


"Mba serius mau makan mie saja?"


"Iya, siang siang gini sepertinya enak makan mie telor Rai!" Raihan tidak pernah tau jika makan mie merupakan makanan yang langka ku makan sebelum aku dekat dengannya karena mie dan telor adalah jenis makanan yang sangat jarang ku beli karena keterbatasan uang yang kumiliki.


"Ya sudah yuk kita masak mie!" ajak Raihan. kemudian kami berjalan beriringan menuju dapur.


"Rai, biar aku saja yang masak kamu tunggu saja di meja makan."


Raihan menuruti perintahku dia berjalan ke arah meja makan dan aku berjalan ke arah kitchen set. Karena mie dan telor sudah tersedia di atas meja kitchen set aku tak payah lagi mencarinya.


Ketika aku sedang memasak mie tiba tiba dua buah tangan kekar melingkar di tubuhku. Raihan memeluk ku dari belakang. Aku tersentak kaget mendapat pelukan dari Raihan secara tiba tiba.


"Rai....!"


"Tolong ijinkan aku memeluk mba seperti ini sebentar saja," ucap Raihan sambil memeluk ku erat.

__ADS_1


Aku memejamkan mataku, ku biarkan Raihan memelukku karena aku sendiri merasa nyaman berada di pelukannya. Aku yang tak pernah di perlakukan lembut oleh suamiku, aku yang tak pernah di peluk oleh ibuku serta kakak kakak ku, aku yang kehilangan pelukan dari seorang ayah sejak aku masih kecil, aku tidak munafik bahwa aku memang membutuhkan sebuah pelukan dari orang yang tulus padaku.


Aku tau apa yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan dan dosa di peluk oleh laki laki yang bukan muhrim ku. Dan mungkin bisa dikatakan aku sudah mengkhianati suamiku. Tapi aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Raihan apa bisa dikatakan berkhianat? Ku lupakan sejenak masalah dosa dan pengkhianatan karena aku saat ini memang benar benar menginginkan sebuah pelukan dari orang yang tulus padaku.


__ADS_2