Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Jadi rebutan


__ADS_3

Tepat pukul sembilan malam acara telah usai dan para tamu undangan pun satu persatu mulai meninggalkan tempat acara tak terkecuali aku. Raihan meminta para staf nya untuk membersihkan tempat acara di keesokan harinya saja, sebab, gedung itu akan beroperasi mulai dua hari ke depan dan malam ini Raihan meminta seluruh staf kebersihan untuk pulang ke rumah mereka masing masing mengingat mereka sudah lelah bekerja seharian membantunya dari awal hingga selesai.


"Nuri, apa kamu mau pulang ke kampung malam ini juga?" tanya Bu haji di sela sela menunggu Raihan yang sedang berbicara dengan para stafnya.


"Sebenarnya saya ingin pulang tapi...."


"Nuri dan Zain malam ini akan menginap di apartemenku Tante. Mana mungkin aku mengantar mereka pulang ke kampung sudah malam begini. Tante tau sendiri bukan kalau aku tidak kuat menyetir malam hari." Andre menyela ucapan ku yang belum selesai tersampaikan. Aku sedikit kesal melihatnya karena dia main menyela saja.


Bu haji mengernyitkan keningnya lalu bertanya kembali namun pada Andre." Kamu serius akan membawa Nuri dan Zain menginap di apartemen mu yang hanya satu kamar itu dre?"


"Memang kenapa Tante? biar pun kecil tapi nyaman. Aku akan membeli apartemen yang lebih besar setelah kami menikah nanti," jawab Andre dengan percaya diri.


"Dre....!" aku menyentak nya dan ku pelototi dia agar tidak sembarangan berucap.


Andre menggaruk tengkuknya."He he...maaf sayang aku hanya bicara dan siapa tau perkataan ku ini terkabul kan menikah dengan mu dan membeli apartemen besar untuk kita tempati bersama anak anak."


Aku semakin kesal mendengar perkataan ngaur Andre. Aku malu sekali pada Bu haji dengan gamblangnya dia berkata demikian. Padahal kami tidak memiliki hubungan apapun kecuali hubungan pertemanan. Aku tidak menanggapi perkataan Andre lagi melainkan mengalihkan pandanganku ke arah lain dengan wajah menekuk sebagai bentuk kekesalanku padanya.


"Mba Nuri serta Zain ikut dengan ku dan ibu biar lebih aman. Aku tidak percaya denganmu bisa saja kamu apa apakan mereka apa lagi apartemen mu sangat kecil." Raihan tiba tiba bicara sembari berjalan ke arah kami. Aku serta lainnya menoleh ke arahnya


"hei, hei, hei...mentang - mentang sudah menjadi bos besar kamu meledek ku mengatai apartemenku kecil. Meskipun kecil tapi nyaman little bro. Nuri dan Zain betah betah saja berada di apartemen ku jadi aku rasa tidak masalah meskipun kecil."


Raihan berdecak dan menimpalinya."Nyaman apanya big bro, apa kau tidak tau di apartemen mu itu sudah terjadi dua kali pembunuhan dan korban nya adalah wanita dan dua kali bunuh diri dengan cara terjun dari lantai atas. Dan kau tau, tower yang sedang kau tempati itu dan di flat 205 telah terjadi pemerkosaan dan pembunuhan? bukan kah itu berdekatan dengan apartemen mu? aku sih tidak masalah kalau mereka mau ikut dengan mu."


Tiba tiba aku merasa merinding mendengar cerita Raihan tentang pemerkosaan dan bunuh diri, terlepas itu cerita nyata atau hanya sekedar fiktif belaka.


Begitu pula dengan Andre, dia terlihat tercengang mendengarnya namun kemudian dia menggeleng lalu menyangkalnya." Apa kau pikir aku percaya sama cerita bohong mu itu? kamu sengaja kan membuat cerita bohong agar Nuri merasa takut dan tidak mau ikut denganku?"


Raihan berdecak kesal kemudian berkata," kalau kamu tidak percaya searching saja di internet. Kamu bukan orang bodoh bukan?" Raihan terlihat kesal karena dia di anggap telah bercerita bohong.


"Sudah sudah kalian ribut terus dari tadi. Biar Nuri saja yang memutuskan mau ikut dengan siapa? Bu haji menyela perdebatan kecil antara raihan dan Andre sehingga mereka terdiam.

__ADS_1


Kemudian Bu haji melihat ke arahku dan bertanya," Bagaimana Nuri kamu mau ikut dengan kami atau ikut dengan Andre?"


"Pasti ikut denganku dong Tante, Nuri dan Zain kan datang kemari dengan ku, jadi aku yang harus mengantarkan mereka pulang nanti." Andre menyahuti dengan rasa tidak sabar dan percaya diri.


"Andre, kamu diam dulu," kata Bu haji dengan kesal.


Aku masih diam, bingung mau ikut dengan siapa antara Raihan atau Andre. Jika ikut dengan Andre, aku takut pada cerita Raihan tapi aku tidak enak hati jika menolaknya karena dia sendiri yang membawaku ke Jakarta. Jika ikut dengan Raihan sudah pasti aman karena ada Bu haji tapi aku merasa malu padanya. Tiba tiba aku memiliki ide untuk bertanya saja pada Zain biar dia yang memutuskan akan ikut dengan siapa.


"Ehm, aku serahin sama Zain saja ya keputusannya?" ucapku, kemudian aku mendekat kan mulut ku ke telinga Zain dan bertanya,"Zain mau ikut dengan uncle Raihan atau om Andre?" Zain melirik ke arah Andre kemudian beralih ke wajah Raihan. Terlihat wajah mereka menegang berharap harap cemas seperti sedang menunggu keputusan seorang juri pada suatu perlombaan.


"Ikut om Andre saja ya sayang? tawar Andre sembari tersenyum nyengir namun Zain diam saja.


"Zain kok tidak menjawab pertanyaan mama, Zain mau ikut om Andre atau uncle Raihan?" tanya ku mengulang, karena sepertinya Zain masih bingung mau ikut dengan siapa sama hal nya seperti aku.


"Uncle lehan mama!"jawab Zain tiba tiba. Raihan terlihat tersenyum lebar sementara Andre memasang wajah cemberut kemudian dia berkata," Zain tega sekali sama om, katanya Zain mau main keliling kota Jakarta dengan om.


"Zain tenang saja, uncle juga akan mengajak Zain jalan jalan kemana pun yang Zain mau." Raihan tidak ingin kalah dari Andre.


"Apa? Zain sudah memilihku lho." Raihan menyela ucapan Andre.


"Sudah...sudah, kalian itu seperti kucing dan tikus bertengkar mulu. Sudah malam lebih baik kita pulang sekarang." Bu haji menengahi perdebatan Raihan dan Andre hanya karena gara gara aku. Rasanya aku jadi malu pada Bu haji karena gara gara aku anaknya serta keponakannya jadi bertengkar.


"Ayok Zain, ikut dengan uncle." Raihan hendak mengambil alih Zain dari gendonganku namun aku menahannya.


"Kenapa mba?" tanya Raihan sembari menatap ku. Aku memalingkan wajahku dari tatapannya kemudian berkata," maaf Rai, aku mau ikut dengan Andre saja." Aku berpikir ulang, lebih baik aku ikut dengan Andre karena aku teringat pada Nura, semakin aku memberikan celah pada Raihan semakin Raihan akan menyakiti gadis itu. Aku tidak ingin kehadiranku di tengah mereka berdampak pada hubungan mereka.


"Tapi Zain ingin ikut aku mba, kenapa mba menolak?" Raihan terlihat seperti kecewa dengan keputusan ku.


"Karena....Andre yang membawaku ke Jakarta."


Kemudian aku menoleh ke arah Bu haji." Maaf ya Bu haji saya mau ikut dengan Andre saja."

__ADS_1


"Kamu serius Nuri?"


Aku mengangguk." Iya Bu, soalnya pagi pagi sekali saya harus kembali lagi ke kampung. Saya mengucapkan banyak terima kasih karena telah mengundang saya ke acara yang luar biasa ini. Terima kasih ya Bu haji, Raihan."


"Nuri, jadi kamu serius akan ikut dengan ku?"


Aku mengangguk.


"Oh my God...yes, yes, yes!" Andre terlihat senang sekali karena aku memilih ikut dengan nya.


"Kalau begitu kami permisi dulu Tante, little bro, kau tau..yang namanya sudah jodoh tidak akan lari kemana buktinya...ha ha ha!" Andre ijin pamit dengan nada meledek Raihan dan Raihan sendiri terlihat kesal padanya.


Kami beranjak meninggalkan Raihan dan bu haji menuju parkir mobil yang letaknya tidak terlalu jauh dan masih dapat terlihat oleh mereka. Dari kaca jendela terlihat Raihan masih memandang ke arah mobil kami hingga mobil kami melaju meninggalkan area parkir.


Aku menghela nafas dan memejamkan mataku lalu bergumam tanpa sadar." Begini mungkin lebih baik."


"Kamu bilang apa Nuri?"tanya Andre di sela sela mengemudi.


Aku membuka mata lalu mengernyitkan dahi kemudian menggaruk kening yang tak gatal mencoba berpikir aku bicara apa barusan. Namun pertanyaan Andre ku alihkan dengan jawaban ku.


"Aku ingin pulang ke rumahku."


Andre berdecak dan berkata," sepertinya tadi kamu tidak bicara seperti itu.


"Tapi aku ingin pulang Dre, bisa kah kamu antar aku ke terminal?"


Andre melirik ke arah ku kemudian bertanya," apa kamu serius mau pulang malam ini juga Nuri?"


"Iya, kalau kamu tidak mau mengantar aku pulang tidak masalah, aku bisa pulang naik bus saja." Tiba tiba aku menjadi badmood dan aku tidak mengerti dengan perasanku sendiri.


"Okey, okey...aku antar kamu pulang malam ini juga sayang, jangan marah gitu dong nanti cantik mu jadi hilang." Godaan Andre sama sekali tidak mempengaruhi mood ku. Aku tidak menghiraukannya dan hanya menatap lurus ke depan tanpa berekspresi.

__ADS_1


__ADS_2