Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Mimpi aneh


__ADS_3

Karena dorongan hati dan rasa penasaran, aku nekat memasuki ruangan yang pintunya sedikit terbuka itu. Aku masuk sembari mengendap endap persis seperti seorang pencuri yang hendak mencuri barang berharga milik si empunya rumah. Setelah berada di dalam ruangan terlihat hanya ruangan biasa dan tidak ada hal yang aneh di sana.


Di sana hanya ada lemari hias yang cukup besar dan lebar. Sepertinya lemari besar itu di peruntukan khusus untuk memuat bermacam macam photo yang terpajang di sana. Namun kebanyakan foto foto itu adalah foto lawas dan berwarna hitam putih. Aku perhatikan satu persatu photo photo itu. Kebanyakan foto masa muda Oma dengan seorang pria bule yang terlihat tampan dan aku rasa pria itu adalah almarhum suami Oma. Bersamaan dengan aku melihat pria bule itu, aku teringat dokter Bayu pernah cerita jika dirinya keturunan Belanda. Jadi kemungkinan besar pria bule itu adalah benar suami Oma dan Opa dokter Bayu.


Aku juga melihat foto foto masa bayi serta masa kanak kanak dokter bayu dengan berbagai gaya dan ekskresi. Dia terlihat menggemaskan sekali dan aku tersenyum memandang foto fotonya.


Kemudian sorot mataku tertuju pada sebuah foto seorang wanita muda yang nampak cantik sekali. Tapi yang membuat aku tercengang melihatnya adalah kenapa wajahnya mirip sekali dengan ku. Apakah foto wanita itu yang bernama Hanum? anak Oma serta mama dokter Bayu yang sudah meninggal. Tapi kenapa wajahnya begitu mirip denganku? padahal aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga Oma. Ketika aku terhanyut menatap wajah foto itu, tiba tiba foto itu hidup dan tersenyum ke arah ku. Sontak saja aku terkejut dan segera berlari keluar ruangan.


"Astaghfiruallah hal adzim." Berkali kali aku mengucapkan istighfar sembari memegang dadaku yang berdebar tak karuan setelah menjauhi ruangan itu.


"Apa foto itu benar benar hidup atau hanya halusinasi ku saja?"Ucap ku pelan.


"Nuri.." Panggil seseorang. Lagi lagi aku terkejut di buatnya lalu berjalan cepat namun baru beberapa langkah orang itu memanggilku lagi."Nuri, ini aku Bayu." Aku menghentikan gerakan langkahku setelah orang itu menyebut namanya. Kemudian aku berbalik melihat ke arah nya dan nampak dokter Bayu terlihat segar dengan rambutnya yang basah. Memakai celana pendek dan kaos oblong putih.


"Dokter..."Ucap ku, lalu menelisiknya memastikan orang itu adalah dokter Bayu bukan jelmaan.


"Kamu kenapa mau lari ketika aku panggil? apa kamu pikir aku ini hantu?" Sindir nya.


Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku. Setelah melihat foto wanita yang mirip sekali dengan ku, tiba tiba aku menjadi seorang penakut saat ini.


"Ah, maaf dok, aku hanya terkejut saja." Aku beralasan padahal sebenarnya aku memang ketakutan.


"Sebenarnya kamu mau kemana dan dari mana?"


"Aku, aku mau menemui dokter bayu tapi lupa sebelah mana kamarnya padahal tadi bibi Sukma sudah memberi tau."


Dokter Bayu nampak mengkerut kan keningnya."Tumben kamu mencari ku ada apa?"


"Mau pinjam charger apa boleh dok?"


"Oh, ya sudah yuk ikut ke kamarku."

__ADS_1


Aku terdiam dan berpikir jika aku ikut dengannya pasti akan melewati ruangan itu lagi. Tiba tiba saja aku merasa merinding membayangkan tadi karena ke jadian tadi benar-benar seperti nyata.


"Aku, aku tunggu saja di sini ya dok."


"Oh, ya sudah tunggu sebentar." Dokter Bayu bergegas pergi sementara aku menunggunya.


Setelah mendapat charger itu dari dokter Bayu aku segera pergi menuju kamar yang sedang ku tempati. Setelah tiba di dalam kamar aku menoleh pada Zain yang sedang tertidur lelap. Setelah itu aku segera menambah daya ponsel ku. Beberapa menit kemudian aku pun menyalakan ponsel itu nampak belasan pesan dari Raihan dan belasan panggilan tak terjawab muncul di layar ponselku.


Aku baca satu persatu pesan Raihan hingga pesan yang terakhir.


"Kenapa sikap mu berubah mba? apa karena sekarang ada dokter Bayu dan sudah dekat dengan keluarga nya sehingga mba berubah sama aku."


Kenapa Raihan menjadi pria egois? kenapa dia tidak mengakui kesalahannya dan meminta maaf padaku? kenapa dia mempertanyakan hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kami dan kenapa dia justru menuduhku dekat dengan dokter Bayu dan kenapa dia bicara seolah olah dirinya lah yang tersakiti.


Aku menyesal telah membuka pesan darinya hingga aku merasa kesal sendiri. Dalam keadaan bad mood aku pun membalas pesannya.


"Kenapa sikap ku berubah? mestinya kamu tanya pada dirimu sendiri apa yang membuat aku berubah."


Setelah membalas pesan nya aku langsung mencopoti kartu prabayar lalu mematahkan nya. Biar kan saja agar dia tidak lagi bisa menghubungiku. Dan mungkin ponsel ini pun harus aku kembalikan lagi padanya.


"Cup...cup...cup jangan menangis ya nak."Tangan wanita itu mengelus bayi yang sedang menangis itu seolah olah menenangkan nya.


"Meskipun kamu terlahir seorang wanita mama yakin kamu pasti akan tumbuh menjadi wanita yang sangat kuat. Setelah kamu sudah dewasa nanti tolong balas kan dendam mama pada orang yang sudah membuat kita terpisah ya nak." Sambung wanita itu dan tangannya terus saja mengelus pada bayi yang tak mau berhenti menangis.


Aku yang masih dalam keterkejutan melihat wajah bayi yang sangat mirip sekali dengan ku pun memberanikan diri bertanya pada wanita yang membiarkan anak nya tergeletak begitu saja di atas rerumputan.


"Siapa ibu? kenapa ibu meletak kan bayi ibu di situ? kasihan dia, dia kedinginan." Teriak ku pada wanita itu.


Wanita itu berdiri lalu tak lama kemudian dia berbalik menghadap ke arahku. Seketika itu pula pupil mataku hampir terlepas melihat wajah wanita itu yang sangat mirip sekali denganku dan bisa dikatakan itu adalah wajahku.


Sambil memegang wajah ku aku berteriak."Tidak, tidak mungkin, tidaaakkkkkk." Teriakan ku menggema di ruangan dimana aku dan Zain tidur malam ini. Keringat mengucur deras keluar dari tubuhku membasahi muka dan sebagian bajuku.

__ADS_1


"Astaghfiruallah hal adzim." Berulang kali aku mengucapkan kalimat istighfar. Aku mimpi aneh dan seumur hidup baru kali ini aku bermimpi aneh.


Aku menoleh pada jam weker yang terpajang di atas nakas. Saat aku datang tadi siang, bibi Sukma menaruhnya di kamar ini karena dia bilang agar aku tak kembali bangun kesiangan seperti waktu itu. Aku melihat jam itu sudah menunjukan pukul satu dini hari. Aku cukup terkejut karena aku sendiri belum melaksanakan ibadah isya dan aku pikir pantas saja aku bermimpi buruk karena aku belum melaksanakan sholat. Aku pun buru buru turun dari ranjang dan bergegas mengambil air wudhu.


Setelah melaksanakan sholat aku teringat kembali pada mimpi aneh itu. Masih terngiang di telingaku kalimat yang di lontarkan oleh wanita itu pada sang bayi yaitu meminta sang bayi untuk membalaskan dendam nya pada seseorang.


"Balas dendam!" ucap ku, keningku pun mengernyit. Aku benar benar di buat heran tentang mimpi aneh ku itu.


Keesokan harinya.


Ketika aku akan mengambil Zain yang sedang bermain dengan bibi Sukma aku melewati sebuah tempat santai. Nampak dokter Bayu dan Oma sedang mengobrol santai. Rasanya aku ingin ikut mengobrol bersama mereka tapi aku teringat Zain yang sudah cukup lama bermain dengan bibi sukma di taman depan.


Aku pun hendak melanjutkan langkahku namun sebelum aku menjauh aku mendengar namaku di sebut sebut oleh mereka.


"Nuri mirip sekali dengan mama mu Bayu. Oma merasa kehadiran dia disini seperti anak Oma hidup kembali. Oma ingin sekali kamu menikahi Nuri bay, agar dia bisa tetap tinggal di sini."


"Tidak mudah Oma. lagi pula belum tentu Nuri mau menikah denganku."


"Apa nya yang tidak mudah? kamu itu tampan Bayu, kamu juga seorang dokter juga seorang pengusaha dan banyak harta. Kamu pasti bisa dan mudah mendapatkan hati Nuri."


"Oma, Nuri itu bukan wanita matrealistis. Harta bukan tolak ukur hidupnya. Dia wanita sederhana dan apa adanya."


Jadi Oma ingin menjodohkan aku dengan dokter Bayu karena aku ini mirip dengan anaknya yang sudah meninggal. Aku pikir Oma benar benar tulus menyayangiku karena apa adanya aku bukan karena aku ini mirip dengan anaknya.


Aku melanjutkan langkahku kembali. Dalam perjalanan menuju taman depan aku memikirkan dua masalah yang cukup pusing menurutku. Masalah ku dengan Raihan di tambah lagi sekarang Oma ingin menjodohkan aku dengan dokter Bayu hanya karena aku ini mirip dengan anaknya. Ku akui dokter Bayu itu pria sempurna karena selain tampan dia juga mapan dan baik. Siapa pun wanita pasti akan terpesona padanya. Aku sendiri memang merasa nyaman dengannya tapi rasa nyaman ku ketika bersamanya berbeda dengan rasa nyaman ku ketika bersama Raihan.


"Sepertinya aku harus segera pulang kampung. Kasihan bang Supri kalau di tinggal terlalu lama, dia membuat kerupuk hanya seorang diri saja."Monolog ku di sela sela berjalan menuju taman depan.


Tiba di taman depan nampak Zain sedang asik bermain bola di temani seorang wanita berambut panjang dan dress panjang putih namun wajahnya tak nampak karena membelakangi ku. Dia menuntun Zain untuk mengambil bola yang terlempar cukup jauh. Nampak bibi Sukma duduk dan memperhatikan Zain serta wanita itu. Aku berjalan mendekati bibi Sukma.


"Bi, siapa wanita yang sedang bermain bersama Zain?"tanya ku sambil berdiri menyamping.

__ADS_1


Bibi Sukma nampak mengerutkan dahinya." Wanita bermain sama Zain? dari tadi Zain hanya main dengan saya non."


"Masa sih tapi itu sia...." Ucapan ku menggantung setelah melihat ke arah Zain yang sedang bermain sendirian. Kemana wanita itu? apa, apa aku berhalusinasi lagi. Tiba tiba bulu kuduk ku merinding. Aku langsung berlari ke arah Zain dan meraih tubuhnya lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2