Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Menemui Oma


__ADS_3

Aku terbangun dan duduk tegak dengan tubuh yang penuh dengan keringat serta denyut jantung berpacu cepat. Aku merasa apa yang aku impikan itu seperti sebuah kenyataan bukan sekedar mimpi.


"Mama.." Zain tiba tiba berdiri lalu memeluk ku dan menciumi pipiku. Mungkin dia terusik oleh teriakanku yang tak di sengaja.


"Maaf sayang, maaf. Mama sudah bangunin Zain bobo ya?" Aku membalas pelukannya.


"Mama napa?"


"Tidak kenapa-kenapa. Zain bobo lagi ya!"


Bersamaan dengan berucap tiba tiba pintu kamar terbuka. Aku menoleh, nampak Raihan memasuki kamar ku dengan wajah cemas.


"Ada apa sayang, ada apa berteriak?" Tanya Raihan sembari melangkah lebar ke arahku lalu duduk di sampingku dan mengusap wajah ku yang berkeringat dengan tangannya.


Aku mengernyitkan kening. Kenapa Raihan bisa tau kalau aku berteriak. Padahal letak kamar kami berjauhan dan di halangi beberapa ruangan.


"Kok, kamu tau kalau aku berteriak?" aku balik bertanya.


"Apa kamu bermimpi buruk?" Raihan malah memberikan pertanyaan.


"Rai, kamu belum menjawab pertanyaan ku, lho."


Raihan menghela nafas." Gimana tidak mendengarnya. Teriakan mu keras banget bahkan seperti nya semua penghuni unit apartemen ini mendengarnya." Aku memajukan bibir bawah ku mendengar ledekan nya.


"Ha ha ha." Raihan tertawa kecil melihat ekspresi wajah ku.


"Aku sedang bicara serius, Rai."


Raihan tersenyum lalu menarik pelan tubuh Zain yang sedang merangkul ku dari samping. Kemudian Zain di duduk kan di atas pangkuannya.


"Kamar ini tidak di lapisi peredam suara sayang. Jadi bicara sekalipun masih dapat terdengar dari luar apa lagi berteriak seperti tadi. Lagi pula aku masih di ruang TV belum masuk ke kamar."


Aku memegang lengan Raihan yang terdapat jam tangan. Jam itu sudah menunjukan pukul dua dini hari. Aku menyipit kan kedua mataku menatap nya." Kenapa kamu belum tidur? padahal sebentar lagi subuh."


"Acara bola nya belum kelar he he."


Aku mencebik kan bibir ku mendengar alasannya.


"Aku nanya serius lho sayang, kenapa kamu tadi berteriak?"

__ADS_1


Aku mengusap wajah ku dengan kedua tanganku terlebih dahulu. Setelah itu, aku menatap lekat wajah Raihan." Rai.."


"He'em."


"Aku bingung dengan diriku Rai, akhir-akhir ini aku sering kali berhalusinasi bertemu dengan sosok wanita yang sama bahkan sosok itu sampai terbawa mimpi."


Raihan mengernyitkan keningnya." Sosok wanita!"


"Iya."


Kemudian aku menceritakan mimpi yang baru saja aku alami. Selain itu, aku juga menceritakan tentang halusinasi ku yang sering kali bertemu dengan wanita itu bahkan aku bilang pada Raihan bahwa sosok wanita itu sudah berulang kali menolong ku. Entah itu hanya secara kebetulan saja aku sedang beruntung entah memang benar benar sosok wanita itu yang menolong ku.


"Sejak kapan kamu merasa berhalusinasi tentang sosok wanita yang kamu cerita kan itu?"


"Sejak....sejak.." Aku berusaha mengingatnya.


"Apa kamu lupa?"


Aku diam namun tak lama kemudian memori ku yang sempat nge blank itu muncul lagi di otak ku.


"Aku, aku ingat Rai."


Raihan masih antusias untuk mendengarkan ceritaku.


"Terus.."


"Saat aku tanyakan pada dokter Bayu masalah persamaan wajah ku dan mama nya dia bilang kami hanya secara kebetulan saja memiliki persamaan wajah atau di sebut dengan....Doppelgangeras."


"Benar kah?"


Aku mengangguk." Tapi Rai, masalah nya bukan itu."


"Apa?"


"Saat aku berada di rumah dokter Bayu tanpa sengaja aku menemukan sebuah foto wanita yang mirip sekali dengan ku."


"Foto!"


"Iya. Dan aku yakin foto itu adalah foto anak Oma yang dia ceritakan sama aku."

__ADS_1


"Terus."


"Saat aku sedang menatapnya, tiba tiba foto itu tersenyum sama aku, Rai.


Raihan mengernyitkan keningnya.


"Aku terkejut sekali lalu aku lari seperti seorang penakut. Nah, gara gara itu aku jadi sering kali berhalusinasi atau bermimpi yang aneh aneh."


Raihan terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


Hening sesaat.


"Sayang, besok antar kan aku ke rumah dokter Bayu ya!" kata Raihan.


Aku mengerutkan kening ku." Untuk apa?"


"Untuk bersilaturahmi lah. Sudah sekarang kamu dan Zain bobo lagi. Kasihan Zain, sedang enak enak tidur malah di ganggu mamanya."


Aku memajukan bibirku." Aku tidak sengaja, Rai. Lagi pula siapa juga yang mau di kasih mimpi yang menyeramkan seperti tadi. Melihat wajah orang sakaratul maut."


Raihan tersenyum dan mengelus pucuk kepalaku." Setiap makhluk hidup pasti akan merasakan yang namanya sekaratul maut di akhir hidupnya sayang. Jangan di takuti. Kalau kamu tidak ingin bermimpi buruk berdoa dulu sebelum bobo."


Aku menunduk malu. Ilmu agama ku tidak sedalam ilmu agama yang di pahami Raihan. Maklum, aku tidak pernah sekolah agama hanya saja aku belajar ngaji gratis di mesjid.


Aku merebahkan kembali tubuhku dan berusaha memejamkan mata. Sementara Raihan sedang memeluk Zain sembari berbaring dan mengusap usap punggung nya karena kedua mata Zain masih saja tidak mau memejam.


Hingga keesokan harinya atau tepatnya waktu subuh aku terbangun lalu menoleh ke samping, nampak Raihan sedang tidur pulas sembari memeluk Zain. Sepertinya dia ketiduran tadi malam.


Pagi hari dan setelah sarapan sesuai permintaan Raihan bahwa dia ingin aku mengantarnya ke rumah dokter Bayu pagi ini dan aku pun menyanggupinya.


Raihan melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota di pagi hari menuju rumah dokter Bayu.


Satu jam kemudian kami sudah memasuki kawasan perumahan elit. Mobil Raihan terus menyusuri jalanan yang nampak sepi dan rapih serta kiri dan kanan nya terdapat pemandangan rumah-rumah mewah yang berukuran besar. Jujur, aku takjub melihat perumahan itu.


"Apa..kamu mau memiliki rumah di kawasan perumahan ini setelah kita menikah sayang?" Tanya Raihan. Ternyata dia memperhatikan tingkah ku yang terkesan kampungan melihat rumah mewah.


Aku meliriknya lalu menggeleng cepat." Tidak mau, capek ngurusnya."


Raihan tertawa lebar.

__ADS_1


Aku memang tidak pernah punya cita cita ingin memiliki rumah mewah dan besar. Selain capek merawatnya, rumah besar itu hanya akan menjaga jarak hubungan antar penghuni yang tinggal satu atap. Seperti jarang bertemu dan kesulitan memanggil seseorang. Tapi, ini hanya dari sudut pandangku saja karena aku yang sudah terbiasa tinggal di rumah yang jauh dari kata mewah.


Akhirnya mobil yang kami tumpangi sudah berada di depan rumah yang sangat besar di mataku. Setelah itu, aku dan Raihan serta Zain turun lalu melangkah mendekati teras. Ketika kami sudah berada di teras, tak lama kemudian sebuah mobil Alphard berhenti tepat di samping mobil Raihan. Kami memperhatikan mobil itu dan tak lama kemudian keluar dua orang yang akan kami temui. Oma menyunggingkan senyum lebar pada kami sementara dokter Bayu bersikap biasa saja.


__ADS_2