
Pandangan ku masih tetap fokus mengintai dua orang manusia beda jenis kelamin dan juga beda generasi itu hingga mereka keluar dari supermarket. Tanpa di sadari, aku mengikuti kemana pun mereka melangkah sekalipun ke dalam toilet. Aku merasa seperti seorang penguntit yang handal saja padahal ini pengalaman pertama kalinya menjadi seorang penguntit.
"Sayang, kamu tunggu saja di luar. Aku ambil mobil dulu di basemen," kata si wanita.
"Okey, honey." Si pria membalasnya sembari mencubit pipi si wanita dan membuat wanita itu tersipu malu kucing.
Pada saat mereka melakukan kemesraan di saat itu pula kamera ponsel ku siap membidik. Aku merasa geli dan jijik sekali mendengar serta melihat tingkah laku dua orang peselingkuh terutama sikap si wanita yang merasa seperti berusia belasan tahun saja. Padahal dia lebih cocok jadi emak nya si pria dari pada kekasihnya.
Mereka jalan terpisah. Si wanita masuk ke dalam lif sementara si pria berjalan ke arah pintu Utara.
Awalnya aku kebingungan memilih siapa yang harus aku ikuti namun pada akhirnya aku memilih mengikuti si pria saja hingga sampai di teras pintu Utara.
Selama menunggu mobil si wanita datang, pria itu berbicara mesra lewat telpon bahkan aku mendengarnya karena aku berdiri tidak jauh darinya.
"Iya, sayang. Aku habis belanja nih. Tenang saja nanti malam aku pasti datang kok. Apa sih yang tidak buat kamu."
Aku jadi ingin menertawakan wanita itu mendengar si pria berbicara dengan pacarnya yang lain. Wanita itu menyelingkuhi suaminya, eh, tidak tau nya dia sendiri di selingkuhi oleh pacarnya.
Sebelum mobil si wanita itu datang, aku berinisiatif mencari seorang ojek biasa. Aku memilih ojek biasa agar lebih bebas mengantar kemana pun karena aku sendiri tidak tau kemana tujuan mereka. Sebab, jika memesan ojek atau taksi online mereka hanya mengantar pada satu titik tujuan saja. Nanti aku bisa kerepotan jika harus mencari jasa transportasi yang baru.
Setelah mencari akhirnya aku mendapat kan seorang ojek biasa di bawah trotoar depan mall tersebut. Tak lama kemudian aku melihat si pria sedang menaiki sebuah mobil mewah dan aku meyakini mobil itu merupakan milik si wanita.
"Pak, ikuti mobil itu ya? jangan sampai lolos," kata ku pada mang ojek.
"Iya neng, tapi kalau mereka lewat tol gimana neng?"
Aku menggaruk belakang kepala ku. Si amang pandai melawak juga. "Sudah mang, jangan berandai andai dulu. Pokoknya ikuti saja mobil mereka."
"Siap lah, neng."
Akhirnya ojek sewaanku melajukan roda duanya mengekor di belakang mobil itu dan mengikuti kemana pun mobil itu melaju dan aku berharap mereka tidak menggunakan jalur tol.
__ADS_1
Setelah muter-muter mengikuti mereka akhirnya mobil itu memasuki sebuah pintu akses menuju sebuah apartemen yang nampak mewah.
Dari jarak yang cukup jauh ku perhatikan mobil itu. Keluar lah si pria beserta barang belanjaannya yang cukup banyak. Nampak nya belanjaan nya itu untuk stok kebutuhan satu bulan. Hebat sekali wanita itu, hidupnya di biayai oleh suami nya dia sendiri membiayai laki laki orang lain.
Ku perhatikan wanita itu tidak turun melainkan tetap di dalam mobil. Dan tak lama kemudian si pria beranjak memasuki apartemen tersebut. Selang beberapa detik, mobil itu melaju kembali keluar dari area apartemen.
"Mang, ikuti lagi mobil itu mang!"
"Siap, neng."
Mang ojek itu menuruti keinginanku untuk terus mengikuti wanita itu. Hari semakin gelap, suara adzan pun terdengar berkumandang meskipun terdengar samar sebab terhimpit oleh bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang.
Sempat terpikir untuk menyudahi menguntit dan kembali pulang ke rumah Oma.Tapi, entah mengapa hati ku justru terdorong untuk terus menguntit wanita itu hingga dimana dia memberhentikan mobilnya. Akhirnya aku mengikuti kata hatiku untuk terus menguntit nya.
Tanpa ada rasa lelah dan tanpa terasa si amang ojek melajukan motornya mengikuti mobil itu hingga ke daerah yang tidak terlihat lagi gedung-gedung menjulang tinggi.
"Mang, kita berada dimana ini?" Tanya ku pada mang ojek. Aku cukup heran, karena jalan yang kami lintasi bukan jalan arah pulang ke rumah nya dan aku masih ingat sekali arah menuju rumahnya meskipun hanya pernah sekali ke sana.
"Ya, ampun sejauh ini mang!" aku baru teringat pada orang-orang yang sedang cemas menunggu ku di rumah Oma. Tapi karena sudah terlanjur jauh maka lanjutkan saja, sudah kepalang tanggung. Mungkin nanti setelah berhenti aku akan hubungi mereka, pikirku.
Tiga jam berlalu. Kami masih mengikuti mobil itu hingga ke daerah pelosok perkampungan. Aku benar-benar heran sekali, wanita sosialita yang hidupnya penuh kemewahan itu masuk ke dalam sebuah kampung yang cukup sepi dan rumah penduduk nya bisa di hitung dengan jari. Apa yang akan dia lakukan di kampung ini? mencurigakan sekali.
Tak lama kemudian mobil itu berhenti di tepi sungai yang tidak besar. Aku meminta mang sopir untuk memarkirkan motor nya sedikit menjauh dari sungai itu. Aku sangat penasaran apa yang akan di lakukan oleh wanita itu di tepi sungai.
"Mamang tunggu disini ya?"
"Hati-hati ya neng."
Aku mengangguk kemudian beranjak pergi.
Ketika aku sedang mengendap endap di belakang rumah salah satu warga, tiba tiba seorang wanita paruh baya mengejutkan aku.
__ADS_1
"Astaghfiruallah hal adzim." Aku memegang dadaku yang berdebar kencang melihat wanita paruh baya itu.
"Kenapa neng, sedang apa di sini?"
"Anu Bu, saya....aku menoleh pada wanita yang sedang berdiri di bawah cahaya lampu remang sembari memainkan ponselnya dan menyender di mobilnya.
Wanita itu mengikuti arah pandang ku."Oh, wanita itu kesini lagi."
Aku meliriknya." Ibu kenal dengan wanita itu?"
"Kenal sih tidak neng, hanya tau saja. Soalnya dia sangat sering datang kesini dan kalau di hitung pun sudah tidak terhitung berapa kali."
Kening ku mengernyit mendengar nya." Kira-kira untuk apa dia datang kemari, Bu?"
"Untuk menemui seorang dukun, neng."
Ekspresi wajahku seketika berubah terkejut." Dukun!"
"Iya, letak rumah dukun itu berada di balik bukit sana," tunjuk wanita itu ke arah seberang sungai.
"Memang nya dukun apa orang itu?"
"Dukun pemuja setan, neng. Dia punya ilmu hitam. Ajian pengasih, pasang susuk, pelet, teluh, santet, guna guna. Pokoknya ilmu sesat lah neng."
Aku terbengong menatap ibu itu.
"Dukun itu hanya menerima tamu perempuan saja kalau pria di tolak. Terus kebanyakan yang datang adalah perempuan dari kota termasuk wanita itu. Dulu sih dukun nya Mbah Urip tapi dia sudah mati sepuluh tahun yang lalu kena ilmunya sendiri. Sekarang di gantikan sama mbah Sarif anaknya Mbah Urip. Sebenarnya, warga kami cukup resah dengan kehadiran dukun itu di kampung ini tapi tidak ada yang berani melawan nya. Kalau ada warga yang melawan taruhannya nyawa melayang atau gila keesokan harinya. Makannya kampung ini sepi karena satu persatu warga pada pindah dari kampung ini."
Mendengar dari cerita ibu itu aku jadi semakin penasaran apa yang di lakukan wanita itu hingga dia sering kali mengunjungi dukun tersebut.
Nampak wanita itu memasuk kan ponselnya ke dalam tas lalu berjalan menyebrangi jembatan gantung yang hanya muat untuk satu orang saja.
__ADS_1