Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kejutan sebuah motor


__ADS_3

Pukul delapan malam Zain sudah tertidur dengan pulas, ku perhatikan telinganya bekas di jewer pak Yanto tadi pagi terlihat masih memerah. Sekeras itu dia menjewer Zain sampai bekasnya saja masih membekas.Tidak akan aku biarkan pak Yanto menyakiti anak ku lagi dan jika itu terjadi lagi aku akan membuat perhitungan dengannya.


Malam ini aku pun tidak memiliki kegiatan apa apa selain menemani Zain tidur, sementara aku sendiri belum mengantuk. Aku menoleh pada ponsel yang ku letak kan di atas meja rias kemudian terpikir untuk melihat sosial media yang sudah lama tidak di buka.


Setelah di buka kabar pertama yang muncul di berandaku adalah beberapa foto selfi Andre. Jika ku perhatikan Andre kerap kali meng-upload foto foto tampannya dengan berbagai gaya dan di berbagai lokasi. Jika di perhatikan kolom komentar rata rata kaum wanita yang mengomentari berupa pujian untuknya. Aku rasa wajar saja jika dia di gandrungi para wanita karena Andre sendiri memiliki wajah yang tampan dan kaya.


Jika Andre lebih senang bermain sosial media dan memamerkan foto foto keren nya, berbeda lagi dengan Raihan, dia sepertinya tidak suka mempublish dirinya di jejaring sosial. Raihan lebih tertutup bahkan di Facebook nya saja tidak ada foto foto dirinya melainkan hanya beberapa gambar anime saja dan akun nya pun terakhir aktif empat tahun yang lalu, itu artinya Raihan tidak pernah lagi bermain Facebook.


Kemudian aku membuka pesan inbox, terlihat deretan pesan dari berbagai orang yang ku kenal dan tidak di kenal. Satu persatu aku membuka dan membacanya.


Pesan yang pertama ku buka adalah pesan dari Andre. banyak sekali kalimat kalimat yang dia kirim ke aku namun satu pun tidak ku balas karena aku yang sangat jarang membuka Facebook.


Pesan selanjutnya adalah dari Ipah, namun aku men skip nya karena aku tidak ingin lagi berurusan dengannya.


Pesan selanjutnya adalah dari Elis, adik mantan suamiku mas Surya. Dia bilang sangat di sesalkan aku bercerai dengan mas Surya karena dia lebih menyukaiku dari pada Ipah. Jadi perceraian ku dengan mas Surya sudah sampai di telinga keluarganya. Dalam hati aku bersyukur, semakin beritanya menyebar kemana mana malah semakin bagus jadi aku tak perlu repot lagi untuk bercerita.


Pesan selanjutnya adalah dari Danu, suami dari mantan adik ipar nomer dua. Dia bilang dia sangat mendukung aku bercerai dengan mas Surya karena menurut dia aku tidak pantas dengannya. Dia sendiri bilang bahwa dia juga ingin menceraikan istrinya, adik mas Surya nomer dua, dengan alasan istrinya terlalu cerewet dan banyak nuntut dan ujung ujungnya dia minta alamat rumahku. Aku geleng-geleng kepala saja membacanya.


"Dasar laki laki buaya!" gumam ku dalam hati.


Setengah jam sudah aku bermain Facebook, kemudian aku mengakhiri nya lalu keluar dari akun. Ku letak kan kembali ponsel jelek ku di atas meja rias.


Ku pandangi langit langit kamar dan kemudian berusaha memejamkan mata namun sulit sekali terpejam. Tiba tiba perutku berbunyi keroncongan dan aku baru sadar bahwa aku belum makan dari siang. Kesibukan ku membuat kerupuk, Zain yang di sakiti oleh pak Yanto dan berdebat dengannya, kedatangan mba Yati yang meminta uang untuk berobat bang Supri serta Bu Rida yang datang menagih hutang ibu membuat aku melupakan perutku yang kosong.


Aku bergegas bangun dan berjalan ke dapur dan tiba di dapur langsung melihat nasi di penanak ternyata tinggal kerak nya saja. Aku melihat laci siapa tau ada mie instan ternyata kosong. Kemudian aku melihat isi kulkas ternyata hanya ada bumbu bumbu dan satu butir telur. Ada telurnya tapi tidak ada nasi percuma saja. Ternyata kejadian kejadian tadi juga membuat aku melupakan bahan pangan ku yang semestinya berbelanja tadi sore.

__ADS_1


Dengan terpaksa malam ini rasa lapar yang mendera aku tahan saja sampai pagi. Aku menoleh ke arah jam yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Ingin rasanya aku mempercepat waktu agar segera pagi.


Ketika rasa kantuk mulai datang dan hendak memejamkan mata, samar samar telingaku menangkap deru mobil berhenti di halaman rumahku. Aku membuka mataku kembali lalu bangkit dan mengintip di balik tirai jendela kamar ku. Terlihat setengah kepala mobil pick up sedang mejeng cantik di depan rumahku. Dalam hati aku bertanya siapa malam malam yang datang ke rumah? aku penasaran karena di jendela kamar ku tidak terlalu jelas maka aku bergegas ke luar kamar dan hendak mengintip di jendela ruang tamu.


Aku membuka sedikit tirai jendela dan terlihat dengan jelas sebuah mobil pick up seperti dari sebuah dealer karena di atas mobil itu ada dua buah motor sport dan motor metik.


Di tengah rasa penasaran, aku di kejutkan dengan turunnya dua orang pria dari dalam mobil. Satu pria sangat aku kenal dan satu pria lagi sepertinya seorang sopir karena memakai seragam.


"Raihan..!" ucap ku, sembari mengucek mata karena rasanya seperti sedang bermimpi Raihan datang lagi di malam hari.


Aku bergegas membuka pintu dan keluar. Raihan menoleh ke arahku lalu tersenyum manis.


"Hello bidadari ! kenapa belum bobo? menunggu suaminya datang ya?"Raihan menggodaku sambil jalan ke arahku dan menenteng dua buah paper bag yang berbeda.


Aku mengerutkan dahi melihatnya."Kamu kok malam malam kesini Rai?"tanya ku dengan heran.


"Dasar raja gombal."


Raihan tertawa renyah kemudian menimpali ucapan ku." Tidak apa apa di sebut raja gombal yang penting hati ini serius sama mba."


Aku mencebik kan bibirku mendengar ucapan Raihan. Setelah itu, aku melirik pada pria yang sedang menurunkan motor satu persatu.


"Rai...itu..!"aku menunjuk pada motor yang sedang di turunkan oleh pria berseragam.


"Iya, itu motor kamu dan aku."Raihan menjelaskan seolah olah dia mengetahui lebih dulu bahwa aku akan mempertanyakan kedua motor tersebut.

__ADS_1


"Hah, motor kamu dan aku, apa maksudmu?"


Sebelum Raihan menjawab pertanyaan ku, pria berseragam itu menghampiri kami dan berkata,"maaf mas Raihan, ini kunci motornya!" kemudian pria itu menyodorkan dua kunci motor pada Raihan dan sambil tersenyum Raihan meraihnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah di dalam dompetnya.


"Ini uang bensin nya pak, tolong di terima ya!" Raihan menyodorkan uang itu pada pria yang ku ketahui seorang sopir dealer.


"Wah, tidak perlu mas Raihan.Tadi kan mas Raihan sudah memberinya di muka." Pria itu menolak.


"Tidak apa apa pak, terima saja."Kemudian Raihan memaksa tangan pak sopir itu untuk memegang uangnya dan pada akhirnya sang sopir mau menerima uang pemberian Raihan.


Aku melirik pada dua motor yang terpajang di depan rumah ku. Motor sport yang biasa Raihan pakai dan motor vario berwarna putih tipe 160 ABS dengan kisar harga di atas tiga puluh juta yang terlihat masih kinclong. Aku mengetahui harganya karena aku sendiri sebelumya berencana akan membeli motor Vario seperti itu hanya saja tabungan khusus untuk membeli motor tinggal sedikit lagi mendekati cukup.


"Motor besar itu milik ku dan motor vario itu untuk mba dan Zain," Tiba tiba Raihan memberitahu dan hal itu membuat aku melebarkan pupil mataku. Raihan membelikan motor untuk ku dengan harga di atas tiga puluh juta. Lagi lagi dia memberikan kejutan untuk ku, sebuah motor yang aku inginkan selama ini.


"Rai..."


"Sstttt, aku tidak mau ada penolakan mba."


"Tapi Rai..."


"mba.."


Aku mendengus kesal."Kamu berlebihan Rai, kemarin saja kamu memberikan aku kalung berlian dengan harga di atas satu miliyar dan sekarang kamu memberikan aku motor di atas harga tiga puluh juta."


"Mba tau, kedua benda itu tidak ada harganya di bandingkan diri mba. Mba jauh lebih berharga dari pada kedua benda itu. Jangan kan berlian dan motor, pesawat jet saja jika aku mampu membeli nya akan aku berikan untuk mba he...he.."!

__ADS_1


Ucapan Raihan membuat aku tersenyum, merasa senang dan lucu. Belum menjadi siapa siapanya saja dia sudah begitu royal padaku. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana jika Bu haji mengetahui kalau anaknya memberikan barang barang mahal padaku apakah dia akan membenciku dan menganggap aku wanita matrealistis.


__ADS_2