
Aku membawa Zain dari tempat bermainnya dan berlari masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan teriakan bibi Sukma.
"Non Nuri, tunggu!" untuk kesekian kalinya bibi sukma memanggilku. Aku yang sedang berjalan cepat seketika menghentikan pergerakan kakiku secara tiba tiba lalu berbalik. Nampak bibi Sukma berjalan tergopoh gopoh menyusul ku.
"Maaf bi, tadi saya ambil Zain tanpa bicara dulu sama bibi." Ucap ku, ketika bi Sukma sudah berada di dekat ku.
"Non Nuri kenapa seperti ketakutan gitu?" Tanya bi Sukma dengan nada keheranan dan deru nafas terdengar ngos ngosan.
Aku terdiam." Apa aku ceritakan saja pada bibi Sukma tentang wanita yang aku lihat tadi? Tapi apa dia akan percaya." Aku bermonolog.
"Non, Nuri kenapa termenung?"
Pertanyaan bi Sukma membuatku terperangah."Apa, apa bibi benar benar tidak melihat ada wanita berambut panjang menuntun Zain mengambil bola?"Aku balik bertanya.
"Lah, wong cah Bagus mainnya hanya sama saya dari tadi kok non."
"Lantas siapa wanita yang saya lihat tadi, bi?"
"Wanita yang mana non, tidak ada siapa siapa selain saya dan Zain."
"Apa, apa hanya halusinasi saya saja bi, tapi kenapa wanita itu seperti nyata."
"Non banyak melamun mungkin, lagi pula mana ada hantu siang hari. Saya sendiri yang sudah puluhan tahun tinggal di rumah ini tidak pernah melihat hal yang aneh aneh."
"Bisa jadi bi, saya hanya berhalusinasi saja."
Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke kampung di antar atau tidak di antar oleh dokter bayu pokoknya harus pulang hari ini. Aku mikirin bang Supri juga keluarga Sumi yang sudah ku anggap seperti keluarga ku sendiri jika meninggalkan mereka terlalu lama. Aku sudah tidak lagi mempedulikan Raihan, terserah dia mau bagaimana. Mau di paksa agar berjodoh pun kalau tuhan tidak menghendaki kita berjodoh, aku bisa apa. Oleh karena itu kalau masalah urusan jodoh aku serahkan saja padanya.
Aku menghampiri Oma serta dokter Bayu di tempat dimana tadi aku melihat mereka sedang mengobrol. Namun, setelah aku berada di sana mereka sudah tidak ada. Aku pun menghembuskan nafas besar.
__ADS_1
"Ada dimana ya mereka? kemana aku harus mencari mereka? rumah sebesar ini sulit sekali untuk bertemu orang."
Di saat aku bergumam tiba tiba wanita yang aku lihat di luar tadi melintas di samping ku dengan jarak beberapa meter. Aku pikir tidak mungkin dia seorang jelmaan setan atau Jin mengingat situasinya pada siang hari dan aku rasa kalau bukan sodara Oma bisa saja dia ART baru di rumah ini.
"Mba siapa? bukannya mba tadi yang menemani anak saya bermain di luar ya?"
Wanita itu diam saja menoleh pun tidak.
"Mba kenapa diam saja? apa mba sodara Oma atau pekerja baru di rumah ini?"
"Anak Oma."Jawabnya dengan suara mengayun pelan nyaris tak terdengar.
"Anak Oma!" ucap ku mengulang sembari berpikir kenapa Oma tidak mengenalkan anak Oma yang lain padaku, karena aku sendiri tidak tau tentang keluarga Oma atau anak anak Oma.
"Praak" suara sesuatu terjatuh ke atas lantai dan bersumber di pojokan mengalihkan pandanganku.Tapi aku tidak tau apa yang yang jatuh itu dan ketika aku menoleh lagi pada wanita itu dia sudah menghilang. Mataku membelalak sempurna lalu berlari menjauhi tempat dimana aku bertemu dengan wanita itu.
Brughh
"Nuri, kamu kenapa berlari? untung yang kamu tabrak aku coba kalau Oma." Kata dokter Bayu sedikit mengomel.
"Ma..maaf dok, saya ingin pulang kampung hari ini." Kata ku langsung pada intinya. Dan aku pun tak memberitahu padanya kenapa aku berlari. Aku rasa aku harus segera pergi dari rumah ini karena semakin lama aku di sini rasanya semakin sering melihat hal hal yang aneh.
Nampak dokter Bayu mengernyitkan dahinya."pulang hari ini? kenapa harus hari ini? Apa tidak bisa lebih lama lagi?"
"Hah, lebih lama!" Aku langsung menggeleng cepat. Bagaimana mau lama, baru satu hari saja aku sudah ketakutan. Semenjak melihat foto wanita yang mirip sekali denganku, aku sering kali berhalusinasi. Entah apa hubungan ku dengan foto itu.
"Kalau dokter tidak bisa mengantar aku tidak apa apa aku bisa pulang naik kendaraan umum saja."
"Bukan, bukan seperti itu. Tapi apa kamu sudah bicara dengan Oma terlebih dahulu?"
__ADS_1
Aku menggeleng."Aku belum bertemu dengan Oma dok."
"Oh, sepertinya Oma ada di taman belakang. Apa kamu mau menemui Oma terlebih dahulu?"
Aku mengangguk. Setelah itu, aku dan dokter Bayu mencari Oma ke tanam belakang. Setelah bertemu dengan Oma, aku membicarakan niatku untuk pulang sekarang dan sekaligus mohon pamit padanya. Awal nya Oma melarang ku dan meminta aku untuk tinggal lebih lama lagi di rumahnya. Namun setelah aku memberikan bermacam macam alasan akhirnya dia mengijinkan aku untuk pulang ke kampung.
Aku segera berkemas. Karena tak ada barang yang ku bawa maka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berkemas. Aku hanya membawa pakaian yang telah di belikan oleh dokter Bayu saja.
Sebelum meninggalkan rumah itu pun aku berpamitan terlebih dahulu pada semua orang yang tinggal di rumah itu baik Oma maupun pelayan. Dan ketika aku hendak menaiki mobil dokter Bayu, aku melihat sosok wanita itu lagi sedang berdiri tidak begitu jauh namun tidak menampakan wajahnya seperti dua kali aku melihatnya. Aku merasa bulu roma ku merinding lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
Setelah berada di dalam mobil pun aku masih melihat sosok itu masih berdiri di tempat. Karena aku saking penasaran pada wanita itu aku pun bertanya pada dokter Bayu.
"Dok, siapa wanita itu?" tunjuk ku pada wanita itu.
"Wanita! mana?" tanya dokter Bayu.
"Itu yang sedang berdiri?"
Nampak dokter Bayu mengernyitkan dahinya."Tidak ada wanita di sana nuri." Jawabnya.
Tiba tiba wanita itu menghilang dari pandangan ku dan aku sangat terkejut di buatnya.
Dokter Bayu mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah besar itu. Rumah yang membuat aku dapat melihat hal hal aneh. Aku pun tidak mengerti setelah melihat foto itu aku jadi selalu berhalusinasi melihat sosok seorang wanita. Entah apa hubunganku dengan foto itu.
Dokter Bayu fokus mengemudi sementara aku sibuk dengan pikiranku. Sibuk memikirkan tentang Raihan dan juga tentang wanita yang ada di dalam mimpiku.
"Balas dendam!" gumam ku lirih.
"Apa Nuri, kamu bicara apa?" dokter Bayu bertanya.
__ADS_1
"Oh, tidak dok. Aku hanya salah bicara." Aku menyangkalnya.