
Siang berganti malam, aku memperhatikan Zain yang sedang bermain puzzle sendirian karena Raihan sudah pulang sejak tadi sore. Namun tiba tiba suara mobil terdengar berhenti di halaman rumahku. Dengan rasa penasaran siapa malam hari yang bertamu aku pun mengintip di balik tirai jendela kaca dan nampak Raihan berpakaian rapih keluar dari dalam mobil pajero nya. Dalam hati aku bertanya kenapa Raihan kembali lagi ke rumah ku? bukannya seharusnya dia sudah kembali ke Jakarta malam ini.
Terdengar suara ketukan pintu. Aku yang memang sedang berdiri mematung di balik pintu sedikit terkejut mendengarnya. Tak mau membuang waktu aku segera membukanya. Raihan tersenyum ke arah ku, dia terlihat tampan sekali dan lebih dewasa, memakai kemeja lengan panjang abu abu dan celana panjang bahan.
"Kamu sudah rapih sekali Rai, apa mau pulang ke Jakarta malam ini?"aku bertanya karena ku pikir Raihan datang ke rumah ku hanya untuk pamitan sebelum berangkat.
"Aku mau mengajak bidadari ku untuk dinner malam ini," kata Raihan.
"Hah, bidadari, dinner!"kemudian aku melihat penampilan ku sendiri yang hanya menggunakan daster panjang yang warnanya sudah mulai memudar.
"Kamu panggil aku bidadari dengan penampilanku seperti ini?" tanya ku kemudian.
Raihan tersenyum lalu berkata," mau penampilan nya seperti apa, mba Nuri tetap bidadari ku."
"Dih, dasar raja gombal." Aku mengumpat, kemudian berbalik masuk ke dalam rumah. Raihan tertawa renyah lalu mengekor di belakangku.
"Aku serius ingin ngajak mba dan Zain dinner di luar."
Aku menghentikan langkah ku lalu berbalik. Raihan berdiri di hadapanku dengan jarak yang sangat dekat. Ku tatap wajah tampan nya dan bertanya," bukannya malam ini seharusnya kamu pulang ke Jakarta ya Rai?"
"Pulang?" kata Raihan mengulang.
"He'em."
"Rumah orang tuaku di kampung ini mba, rumah calon istriku juga di kampung ini. Jakarta itu hanya tempat persinggahan ku saja."
"Tapi kekasih mu ada di Jakarta Rai, aku yakin malam ini dia pasti mengharapkan kamu untuk menemuinya."
Terlihat jakun Raihan naik turun seperti sedang menelan saliva nya. Setelah itu, dia berucap kembali."Aku menyesal mba, kenapa tidak sabar menunggu mba. Di tengah ke putus asaan ku, aku menerima Nura meskipun sebenarnya aku tidak mencintainya"
"Rai...."
"Aku akan memutuskan Nura secepatnya mba!"kata Raihan terlihat tegas.
Aku menggeleng cepat."Jangan lakukan itu Rai, kamu pria baik, aku tau hatimu lembut dan aku tau kamu tidak pernah menyakiti hati seorang wanita. Jika kamu memutuskannya dia tidak hanya akan sakit hati sama kamu tapi sama aku juga karena secara tak langsung aku sudah merebut kamu dari dia." Aku tidak setuju dengan apa yang akan Raihan lakukan. Jika itu terjadi aku akan semakin merasa bersalah pada Nura karena aku seperti seorang pelakor yang telah merebut pacar orang demi ego ku. Lagi, aku katakan bahwa aku bukan wanita tidak memiliki hati yang akan tega menyakiti hati sesama wanita. Aku memang mencintai Raihan, aku menginginkan dia tapi tidak dengan cara harus mengorbankan perasaan wanita lain yang mencintainya. Mungkin kalau wanita itu hanya sekedar menyukai Raihan dan belum menjadi kekasihnya aku tidak masalah tapi Nura sudah menjadi kekasihnya, mereka sudah berkomitmen untuk menjalin sebuah hubungan meskipun belum mengarah pada pernikahan dan aku tidak sanggup menyakitinya.
"Kenapa mba lebih mementingkan perasaan Nura daripada perasaan mba sendiri?"
"Karena aku pernah mengalami posisi seperti Nura Rai." Aku teringat tentang dulu di saat aku sangat mencintai Andre, menginginkan dia. Belasan tahun aku menunggunya, mengharap dia datang menemui ku dan menikahi ku seperti kata dia dulu saat masih SD. Setelah menemukannya harapan ku pupus, aku merasa sakit hati karena pada kenyataannya dia telah menikahi wanita lain meskipun pada akhirnya mereka bercerai. Pengalamanku itu apa bedanya dengan Nura, dia yang sudah lebih dulu mengenal Raihan, menyukainya sejak mereka masih SMP dan sekarang mereka telah menjadi pasangan kekasih. Sekarang aku datang mau merebut Raihan darinya, apa aku akan tega menghancurkan harapan Nura? tidak, aku tidak akan tega.
"Apa mba punya masa lalu yang menyakitkan sehingga mba menjadi wanita perasa sampai mba bersedia mengorbankan perasaan mba sendiri demi kebahagiaan orang lain?"
Pertanyaan Raihan cukup membuatku blunder. Apa harus aku ceritakan tentang aku dan Andre? tapi itu kan hanya masa lalu dan sekarang Andre saja sudah menjadi seorang duda.
"Kita saling mencintai kan mba? kenapa harus memikirkan perasaan orang lain?"
"Karena aku tidak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain Rai."
__ADS_1
Raihan mendengus, nampak nya dia mulai kesal. Kemudian dia berkata,"aku benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran mba."
Aku mengerti dengan kekesalan Raihan atas sikapku yang mungkin bisa saja di nilai sebagai orang plin plan dan tak berpendirian. Di satu sisi aku mencintainya dan menginginkannya namun di sisi lain aku tidak ingin menyakiti hati orang yang juga mencintainya.
Ku raih sebelah pipinya dan ku katakan padanya," kita serah kan urusan jodoh kita sama Tuhan saja ya Rai?"
Raihan memegang tangan ku yang menempel di pipinya dan mengecupi nya." Aku hanya ingin berjodoh dengan mu mba, bukan perempuan lain."
Andai saja tidak ada penghalang di antara kami, ingin rasanya aku mengatakan apa yang telah Raihan katakan. Aku ingin mengatakan bahwa aku pun ingin berjodoh dengannya, sebagai pria terakhirku dan ingin menghabiskan sisa usiaku dengannya. Namun jodoh di tangan Tuhan, manusia hanya bisa berencana namun tuhan yang menentukan. Kita tidak tau apa yang akan terjadi di kemudian hari, tidak akan pernah tau juga bagaimana kelanjutan hidup kita di masa depan. Oleh karena itu aku katakan padanya serah kan saja urusannya pada Tuhan.
Di saat Raihan berulang kali mengecupi tanganku Zain menyapa kami," uncle mama.. ain?"dengan bahasa yang kurang jelas. Kami melirik ke arahnya lalu aku segera menarik tanganku dari genggaman Raihan.
"Uncle mau mengajak kita dinner sayang, Zain mau ikut?"Zain mengangguk meskipun sebenarnya dia tidak mengerti apa itu dinner.
"Kamu masih berniat mengajak kami dinner kan Rai?"aku bertanya memastikan, siapa tau Raihan berubah pikiran.
"Tentu saja mba."
"Kalau begitu aku ganti baju dulu ya?"
Raihan mengangguk dan tersenyum. Aku bergegas masuk ke dalam kamarku untuk mengganti pakaian yang lebih layak terlebih dahulu.
Raihan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan di tengah mengemudi dia berkata,"sudah lama ya Zain uncle tidak mengajak Zain jalan jalan? Zain mau jalan jalan lagi tidak dengan uncle?" Raihan bertanya pada Zain namun lirikannya mengarah pada wajah ku.
"Sebenarnya kamu itu ngajak Zain apa ngajak aku Rai?"
"Ngajak kalian berdua dong, kalian kan satu paket. Jadi kalau aku ngajak Zain mba harus ikut dan kalau aku ngajak mba Zain mesti ikut juga."
Disaat Raihan sedang fokus mengemudi aku mencuri pandang ke arahnya. Dari samping saja Raihan terlihat tampan sekali di tambah lagi pakaian yang dia kenakan menambah kesan dewasa dan wibawanya. Aku pikir bodoh sekali jika ada wanita yang menolak cintanya karena Raihan benar benar pria yang sempurna. Dia tampan, mapan, baik, penyayang anak kecil, dan juga lembut. Jika di bandingkan dengan andre kalau di lihat dari segi fisik mereka sama sama tampan namun di mataku Raihan lebih tampan tapi aku tidak tau menurut pandangan orang lain. Mereka sama sama baik, sama sama sayang pada anak kecil khusus nya pada Zain anak ku. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda, tutur kata andre lebih tergesa dan cerewet. gaya bahasanya lebih gaul serta ke barat baratan karena mungkin dia sering treveling ke luar negeri dan sikapnya nyeleneh serta sedikit pemaksa. Sementara Raihan, tutur kata serta gaya bahasanya tertata dan lembut serta sikapnya yang tenang. Mereka sama sama pria mapan namun yang menjadi poin plus untuk Raihan adalah meskipun dia orang kaya, punya banyak uang namun gaya hidupnya sederhana dan rajin beribadah, sebaliknya Andre, gaya hidupnya cenderung hedonis dan seperti sudah melupakan Tuhannya.
"Aku tau aku tampan mba, jangan memandang ku seperti itu." Ledekan Raihan menyadarkan aku dari tatapan ku yang tidak beralih dari wajahnya entah sejak kapan, sepertinya aku memandanginya sambil melamun. Aku menjadi merasa malu sekali telah kepergok sang pemilik fisik sempurna di sampingku.
Aku meluruskan kembali pandanganku ke arah depan namun Raihan melirik ke arahku dengan ekor matanya dan bertanya,"berapa lama lagi masa Iddah mba selesai?"
Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya dan balik bertanya,"memang kenapa?"
"Aku ingin segera menghalalkan mba biar mba lebih leluasa memandangiku siang dan malam." Raihan berucap tapi pandangannya lurus ke depan namun bibirnya menyunggingkan senyum.
"Kamu sedang menyetir Rai, jangan menggombal terus bahaya."
"Yang sedang menyetir itu mata, tangan serta kaki aku mba, kalau mulut dan telinga ku boleh dong menggoda mba "
"Awww sakit mba!" Raihan mengaduh karena aku mencubit pinggang nya. Sebab, Raihan bisa saja membalas setiap kata kata yang aku lontarkan dengan kalimat yang terkadang membuat aku merasa gemas sekali.
"Bisa tidak sih mba sekali kali di kasih enak gitu!" Raihan protes.
" Di kasih enak, maksud mu?"
__ADS_1
"Sekali kali di kasih ciuman gitu jangan cubitan mulu."
Aku semakin gemas mendengarnya kemudian tanganku hendak mencubit pinggangnya lagi namun tangan kiri Raihan menahan tanganku dan menggenggamnya erat.
"Sudah ya mba main cubit cubitan nya, aku tidak kuat geli nya mba. Kalau adik kecil ku terbangun bagaimana? apa mba mau tanggung jawab?"
"Tidurkan lagi saja Rai."
"Kalau aku sudah punya istri sih enak mba tidak perlu bingung. Tapi posisiku saat ini masih bujangan."
"Tinggal nikah Rai."
"Justru itu aku tanya ke mba, kapan masa Iddah mba selesai?"
"Rai.."
"Kenapa mba?"
"Di sekeliling mu banyak gadis gadis cantik yang masih perawan termasuk Nura tapi kenapa kamu menginginkan aku untuk menjadi istrimu?"
"Karena hati yang memilih kemana cinta itu berlabuh mba."
"Tapi kenapa harus aku Rai? kamu kan tau kalau aku sudah memiliki satu orang anak dan tentunya sudah tidak perawan. Apa kamu tidak ingin merasakan keperawanan seorang gadis?" Sebenarnya aku malu berbicara terlalu intim tapi aku penasaran dan ingin tau alasan Raihan yang masih menginginkan aku meskipun aku sudah memiliki seorang anak.
"Karena cinta mba, aku mencintai mba sejak mba masih menjadi gadis single. Tapi apa mba berpikir aku mencintai mba karena mba seorang gadis yang masih perawan? meskipun saat itu mba bukan lagi perawan aku tetap cinta sama mba. Aku tidak pernah memprioritaskan wanita itu harus perawan, tidak. Tapi aku lebih memprioritaskan hati wanita itu dan jika hatiku sudah tertaut maka aku akan melabuhkan perasaan cintaku pada wanita itu. Mba tau, mba adalah sosok wanita kedua yang aku cintai setelah ibuku, dan sebagai seorang laki laki normal yang menyukai lawan jenis, mba adalah cinta pertamaku dan akan menjadi cinta terakhirku."
Tuhan, pria tampan ini tulus sekali padaku, dia mencintaiku tanpa melihat kekuranganku. Sempat aku berpikir, apa aku abaikan saja perasaan Nura, biarkan dia merasa sakit karena kekasihnya aku ambil demi kebahagian ku, tapi apa aku akan setega itu menyakiti hati sesama wanita yang sama sama mencintai pria yang sama? aku menggelengkan kepalaku membayangkan itu dan Raihan menyadarinya.
"Mba kenapa?"tanya Raihan, tanpa melepas genggaman tanganku.
"Kamu hebat ya bisa menyetir mobil dengan hanya menggunakan satu tangan saja." Aku beralasan sekaligus mengingatkan Raihan karena dia masih menggenggam tanganku.
Raihan tersenyum dan membalas," aku juga bingung kok bisa ya!" Raihan tertawa kemudian dia melepaskan tanganku dan fokus mengemudi.
Satu jam kemudian kami tiba di depan sebuah restouran yang cukup besar yang terletak di kota kabupaten.
"Kita turun yuk, sini biar aku yang gendong Zain." Tangan Raihan terulur hendak mengambil Zain tapi aku menolaknya.
"Biar aku saja yang gendong Rai."
"Aku ini laki laki mba, Zain itu berat. Lagi pula bagaimana dengan tanggapan orang di kira suaminya tega sekali membiarkan istrinya menggendong anak sementara suaminya melenggang tampan."
"Tapi kita bukan suami istri Rai."
"Dimata agama dan negara kita memang belum menjadi pasangan suami istri but to be soon, tapi di mata orang orang yang tidak mengenal kita dan melihat kita pasti mengira kita adalah sepasang keluarga muda dan memiliki satu orang putra yang tampan serta inshaallah akan bertambah lagi."
"Kamu bicara apa sih Rai!"aku menundukkan wajahku rasanya malu sekali terus terusan di goda Raihan.
__ADS_1
Raihan tertawa renyah kemudian mengambil Zain dari pangkuanku lalu membawanya keluar mobil. Setelah itu dia jalan memutar kemudian membukakan pintu mobil dan berkata,"silahkan keluar bidadari cantik." Aku yang masih terdiam di dalam mobil menoleh ke arah nya dan menuruti perintahnya.
Kami berjalan beriringan dan masuk ke dalam restauran yang cukup ramai, kedatangan kami tak lepas dari banyak nya pasang mata yang memperhatikan.