Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Ngedate di 69 level


__ADS_3

Kami saling diam merenungi dan mengintropeksi diri siapa yang salah diantara kami. Raihan yang meninggalkan kami dan lebih memilih menemani Nura serta keluarganya ngobrol atau aku yang tidak ingin mendengar penjelasannya sedikitpun. Tapi menurutku kami sama sama salah. Raihan salah telah membiarkan aku menunggunya terlalu lama malah asik mengobrol dengan Nura serta keluarganya. Dan aku sendiri pun egois tidak mau memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan nya bahkan aku sampai mematahkan kartu ponselku.


Di tengah kebisuan kami tiba tiba Raihan berbicara lebih dulu."Aku minta maaf ya mba atas sikapku sama mba waktu itu. Waktu itu aku ingin menjelaskan nya tapi mba malah menolak penjelasan ku."


Aku menoleh dan menatap serius ke arahnya."Apa kamu menyalahkan aku?"


Raihan tersenyum lebar melihat ekspresi wajahku." Aku tidak menyalahkan mba, aku hanya cerita saja kalau waktu itu aku ingin menjelaskan nya tapi mba menolaknya mentah mentah."


"Apa beda nya kamu tetap saja menyalahkan aku."


"Beda dong sayang!" Raihan mulai menggombal dan aku langsung menghunus tajam.


Raihan tertawa kecil melihat ekspresi wajahku yang entah bagaimana rupanya saat ini." Mama mu benar benar menggemaskan kalau lagi marah, Zain."


Zain yang di sebut namanya tersenyum nyengir padaku. Aku semakin kesal di buatnya lalu mengarahkan pandangan ku ke arah lain.


"Apa mba mau mendengar penjelasan ku sekarang? agar mba tidak salah paham."


Aku menggeleng cepat." Sudah basi,"ucap ku dengan ketus tanpa menoleh ke arahnya.


Nampak Raihan menghela nafas besar."Bagaimana mba akan tau kalau mba tidak ingin mendengar penjelasan ku terlebih dahulu?"


"Aku bilang sudah basi. Kalau mau menjelas kan kenapa tidak dari dulu saja. Kenapa kamu tidak berusaha datang ke rumah lalu menjelaskan padaku. Tapi nyatanya apa, aku menunggu mu siang malam tapi kamu tidak kunjung datang tuh."


"Tapi mba sendiri kan yang meminta aku untuk tidak...."


Lagi lagi Raihan menyalahkan aku. Aku langsung beranjak pergi tanpa menghiraukan ucapannya yang belum selesai.


"Mba..!" Aku tidak mempedulikan panggilannya namun ketika aku sudah melangkah dengan jarak empat meter darinya tiba tiba sosok tubuh tinggi tegap menahan ku dari belakang. Tubuh siapa lagi kalau bukan tubuh Raihan yang sedang memeluk ku.


"Rai, lepasin. Aku harus pulang sekarang mumpung belum terlalu malam. Karena kalau terlalu malam sudah tidak ada bus lagi menuju tempatku."


"Biarkan saja. Aku tidak akan membiarkan mba pergi lagi dariku."


Aku yang sedang menggendong Zain kesulitan untuk melepaskan diri dari pelukan nya." Lepasin Rai, aku harus pulang sekarang."


"Tidak. Aku minta maaf mba, aku salah aku minta maaf. Apa yang harus aku lakukan agar mba mau memaafkan aku?" Akhirnya Raihan mengalah dan meminta maaf lebih dulu meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya bersalah.


"Rai, please lepaskan dulu aku sulit bergerak ini."


"Tidak akan aku lepaskan sebelum mba berhenti marah."


"Rai, aku ini bau lho, sejak pagi aku belum mandi, tidak berganti pakaian bahkan tidak gosok gigi. Apa kamu tidak jijik memeluk aku seperti ini?"


"Tidak peduli."


"Rai..!"


Raihan tidak mempedulikan ocehanku melainkan membalik kan tubuh ku kemudian menutup wajah Zain dengan telapak tangannya lalu mencium bibirku tanpa permisi. Aksi Raihan membuat mataku membelalak seketika. Aku sedikit berontak namun ciuman yang awalnya kasar semakin lama semakin melembut hingga membuatku terdiam dan terhanyut oleh ciuman lembut itu lalu melupakan keberadaan Zain di antara kami, melupakan kekecewaan serta kekesalan ku padanya dan tentu saja melupakan yang namanya dosa. Aku membalas ciumannya. Ciuman dari orang yang sangat aku cintai dan aku rindukan beberapa waktu ini. Kami saling pagut, mengecap dan bertukar saliva menumpahkan gejolak kerinduan yang membuncah di hati kami.


Lagi aku katakan bahwa kami bukan manusia suci melainkan manusia yang tak luput dari kata dosa. Manusia lemah iman yang tak dapat menahan hawa nafsu dan aku sebagai wanita normal tidak munafik dan tidak pula menampik bahwa aku menyukai ciumannya ciuman dari pria yang aku cintai selama ini.


"Papa lehan....Zen nda bica liat!" Teriak Zain di saat kami tengah berciuman. Aku tersentak begitu pula dengan Raihan lalu melepaskan pagutan kami yang rasanya masih menggantung dan nanggung.

__ADS_1


Raihan melepaskan tangannya dari wajah Zain. Aku menunduk malu sementara Raihan hanya tersenyum saja melihat tingkah ku.


"Sudah tidak marah lagi kan sayang? apa mau di cium lagi?" Tanya Raihan sembari tersenyum menggoda. Aku semakin menunduk kan wajah malu ku.


"Lihat boy, mama mu benar-benar menggemaskan sekali kalau lagi malu sama papa."


Zain tersenyum menggemaskan. Entah dia mengerti atau tidak ucapan Raihan yang pasti wajah Zain nampak berseri seri.


"Rai..!"Ku cubit perut nya yang terbalut oleh kemeja putih. Suatu kebiasaan jika aku sedang dalam keadaan salah tingkah ketika di goda olehnya.


"Awww, tuh kan selalu nyubit. Di cium saja kenapa sih mba biar lebih enak." Aku tidak menghiraukan protesnya melainkan mencubitnya kembali. Dan disaat itu pula Raihan menahan tanganku lalu membawa tubuhku ke dalam pelukannya. Dia memeluk dan juga Zain dengan erat.


"Aku sayang banget sama kalian, sayang banget." Ucap Raihan lalu menciumi pucuk kepala ku dan juga pucuk kepala Zain secara bergantian dan di saat itu pula aku mengeluarkan air mata. Raihan melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata ku yang terus menerus mengalir tiada henti.


"Maafkan aku ya mba, aku sudah membuat mba kecewa dan terluka. Sungguh aku sama sekali tidak ada niat melukai perasaan mba. Aku.."


"Sudah Rai, jangan di bahas lagi. Aku, aku sudah memaafkan kamu."


Raihan menatap dalam sorot mataku hingga tatapan nya mampu menggetar kan relung hati ku yang paling dalam." Apa, apa mba benar-benar sudah memaafkan aku dan tidak marah lagi sama aku?"


Saking terkesima oleh tatapan mata sipit nya sampai aku tidak mampu mengeluarkan kata kata melainkan hanya mengangguk. Yang lalu biarlah berlalu dan yang penting sekarang adalah Raihan membuktikan kata katanya.


Seulas senyum manis tersungging di bibirnya."Jadi....bagaimana dengan jawaban pertanyaan ku yang itu?" Tanya nya sembari menunjuk pada bunga mawar berbentuk hati. Aku mengikuti arah telunjuk nya lalu menyipitkan kedua mataku kemudian mengalihkan kembali pandanganku padanya.


Ku tatap sorot mata yang penuh harap itu dengan dalam." Kamu...benar-benar melamar ku Rai?"


"Iya mba, aku malamar mba. Mba mau tidak menikah denganku? menjadi istri serta ibu untuk anak-anak ku. Membesarkan anak-anak kita bersama sama. Menemani sepanjang usiaku ku dalam suka maupun duka." Kata kata Raihan begitu terdengar manis sekali di telingaku. Otak ku langsung treveling. Alangkah bahagianya jika aku menikah dengan Raihan. Sosok pria sempurna, muda, tampan, kaya, baik, penyayang, sangat mencintai ku serta anak ku Zain. Namun ada sesuatu yang masih mengganjal di hati ku yaitu restu dari keluarga nya karena aku tidak ingin menikah dengannya tanpa restu dari keluarga nya terutama dari Bu hajah Fatimah sebagai ibundanya.


"Tapi....apa orang tua mu setuju kalau kita menikah Rai?" Tanya ku dengan ragu. Aku takut jika lamaran Raihan ini tanpa sepengetahuan ibunya.


Aku tercengang mendengar jawaban panjang Raihan. Rasanya tidak percaya kalau Bu haji merestui kami menikah karena belum lama ini dia melamar ku untuk keponakannya, Andre. Apa raihan sudah tau akan hal itu bahwa ibu nya pernah melamar ku untuk saudara sepupunya? Ingin rasanya aku tanyakan saat ini tapi aku berpikir ulang mengenai sebab akibatnya jika aku bertanya.


"Kenapa bengong sayang?"


Aku sedikit terperangah lalu menggeleng cepat." Apa kamu serius, Rai?"


"Iya sayang aku serius. Bahkan ibu memintaku agar kita segera menikah."


Kedua bola mataku membesar."Benar kah?" Rasanya belum percaya atas apa yang Raihan ucapkan.


"Apa mba masih belum percaya? Ya sudah aku telpon ibu dulu." Raihan hendak merogoh ponsel nya namun aku buru buru mencegahnya.


"Jangan Rai."


"Kenapa mba, bukannya mba perlu bukti?"


Aku menggeleng." Aku, aku percaya kok."


Raihan tersenyum lebar." Terus sekarang bagaimana mba? Zain saja sudah setuju kalau aku menjadi papanya dan sekarang tinggal mamanya yang belum menjawab setuju tidak kalau aku menjadi papa pengganti untuk Zai."


"Hanya papa pengganti?"


"Tidak hanya itu dong, tentu saja jadi suami sah mama nya Zain."

__ADS_1


Aku tersenyum geli dan tanpa berpikir panjang lagi aku langsung mengangguk yakin. Aku yakin Raihan adalah jodoh terbaik ku yang tuhan kirim untuk menyempurnakan kebahagiaan hidup ku dan Zain.


"Mba serius?"


"Aku mau menikah dengan mu, Rai." Ucap ku tanpa ragu.


Sorot mata Raihan nampak berbinar binar dan bersamaan dengan itu senyum nya merekah sempurna."Benar kah? mba menerima lamaranku?"


"Iya Rai, aku mau menjadi istrimu, jadi ibu dari anak anak mu, menemani hidupmu sepanjang usiaku dalam suka maupun duka."


Raihan tersenyum lebar kemudian memeluk ku dan juga Zain yang sedang aku gendong. Selain itu, dia juga mengecup keningku dan mengecupi pucuk kepalaku juga Zain secara bergantian.


"Terima kasih ya sayang, terima kasih."


Setelah melepaskan pelukannya, Raihan merogoh sesuatu di dalam saku celananya. Aku memperhatikan apa yang sedang Raihan lakukan. Di tangannya terlihat sebuah beludru warna abu abu. Setelah itu, dia membuka beludru itu seketika itu pula aku terkesima melihat isi beludru itu yaitu sebuah cincin yang nampak mewah dan aku yakin itu merupakan sebuah cincin berlian. Raihan mengambil cincin itu dari dalam beludru kemudian meraih tangan kiriku karena tangan kanan ku sedang menggendong Zain. Setelah itu dia mencopot cincin yang ada di jari ku, sebuah cincin mas biasa yang aku beli di sebuah toko beberapa waktu yang lalu. Kemudian dia menyematkan cincin berlian itu di jari manis ku. Ukuran cincin bermata berlian itu benar benar pas seolah olah Raihan sudah tau berapa ukuran cincin yang ku gunakan.


"Rai, ini mewah sekali. Pasti harganya mahal banget." Ucap ku sembari menatap kagum pada keindahan jari tanganku yang sudah di hiasi oleh sebuah berlian yang nampak berkilau dan cantik sekali.


"Mba tau, mba jauh lebih berharga dari pada cincin berlian ini."


Aku menatapnya dengan mata berkaca kaca dan dengan perasaan yang tidak dapat ku ungkapkan dengan kata kata. Terharu, senang dan tentu saja bahagia telah di pinang oleh pria yang aku cintai dan dia begitu menghargai ku. Seorang pria yang aku inginkan menjadi suamiku meskipun usia kami terpaut cukup jauh.Tapi bukan kah cinta itu bisa hadir atau di rasakan oleh siapa saja tanpa memandang status atau usia termasuk aku dan Raihan. Raihan mencintaiku meskipun usiaku jauh lebih tua darinya begitu pula denganku mencintai nya meskipun aku tau bahwa Raihan jauh lebih muda dariku.


Untuk kali ini aku yang memeluk Raihan lebih dulu tanpa ada rasa canggung padanya. Bahkan tanpa ada rasa malu aku melabuhkan sebuah kecupan di pipi nya lalu berbisik.


"Terima kasih untuk cintamu yang begitu besar ini...Rai!"


Raihan nampak tersenyum lalu berucap." Kalau hanya cium di pipi tidak berasa mba, mending cium di bibir hehe." Lagi lagi ku cubit perutnya. Aku jadi malu telah nyosor lebih dulu.


"Selamat malam pak Raihan." Tiba tiba dua wanita yang entah dari mana asalnya menghampiri dan menyapa Raihan. Aku mengernyitkan dahi ku melihat kedua wanita muda yang berpakaian rapih itu.


"Oh ya, kalian sudah datang tepat waktu."Ucap Raihan pada dua wanita itu.


"Iya pak."


Kemudian Raihan mengalihkan pandangannya ke arah ku dan Zain.


"Zain, boleh tidak kalau papa mau ngobrol dulu sama mama?"


"Bole papa."


"Anak ganteng papa memang pintar dan pengertian." Raihan menjewel hidung mancung Zain hingga Zain tertawa lebar.


Setelah itu, dia mengambil alih Zain dari gendongan ku." Anak ku belum makan malam. Dan makanan nya sudah di sediakan di sana. Tugas kalian malam ini memberinya makan dan menjaganya dengan baik sampai urusan ku dengan calon istriku selesai." Kata Raihan pada kedua orang itu.


"Tunggu dulu apa maksudnya, Rai?" Aku bertanya karena aku bingung Zain mau di apakan.


"Zain akan di asuh dulu oleh mereka untuk sementara waktu sayang. Jangan khawatir mereka akan menjaga Zain dengan baik karena taruhannya adalah nyawa mereka."


Nampak kedua wanita itu saling pandang lalu menoleh ke arahku."Iya mba, tidak usah khawatir kami akan menjaga Zain dengan sangat baik."


"Tapi...Zain mau di bawa kemana Rai?"


"Ketempat khusus. Tempat nya cocok untuk Zain. Di sana juga ada mainan jadi Zain tidak akan jenuh menunggu mama papanya ngedate."

__ADS_1


Mendengar ucapan Raihan, aku jadi menunduk malu pada kedua wanita yang nampaknya tersenyum ke arahku. Bagaimana tidak malu, aku ini hanya seorang janda beranak satu yang akan di ajak ngedate oleh pria single. Bukan hanya sekedar single, pria itu pun jauh lebih muda dari ku.


__ADS_2