
Dahi ku mengernyit mendengar kalimat yang di ucapkan oleh wanita lansia yang sedang membelai pipiku, Hanum, kenapa dia memanggilku Hanum?bathin ku bertanya.
"Ma..maaf Bu, Na....nama saya Nu..Nuri,"ucap ku terbata. Aku merasa gugup sekali, jantungku pun berdebar tidak karuan di tatap serta di sentuh oleh wanita lansia di hadapan ku, entah mengapa aku merasa seperti itu dan aku merasa dekat sekali dengan wanita lansia namun nampak masih muda ini.
Dia terdiam lalu menurunkan tangannya dari pipiku namun sorot mata tua nya masih menatap lekat wajah ku.
"Iya Oma, namanya Nuri bukan.....Hanum, dia teman Bayu dari serang."Dokter Bayu menambahkan.
Setelah sadar dia menggeleng pelan lalu mengusap wajah nya."Ya tuhaaaan, maaf, maaf,"ucap nya, kemudian melangkah mundur.
"Oma minta maaf Oma hanya..."
"Oma, maaf di luar ada tamu yang mencari Oma." Kami semua menoleh pada sumber suara itu, nampak wanita dewasa sedang berdiri tidak jauh dari kami. Dan kedatangannya pun memotong kalimat Oma yang belum sempat di ucap kan, padahal aku penasaran sekali apa yang akan Oma itu katakan.
"Siapa pagi pagi yang sudah mencari ku, Ayu?"tanya Oma.
"Anu Oma, Ibu meri, istri...bapak bagaskara," jawab wanita yang baru di ketahui bernama Ayu dan salah satu ART di rumah besar Oma.
Oma serta dokter Bayu terlihat mengerutkan dahi mereka lalu saling pandang.
"Meri, ada perlu apa dia pagi pagi sudah datang ke rumah ku? tumben sekali," sungut Oma, dari raut wajah serta nada bicaranya sepertinya Oma tidak menyukai atas kedatangan tamunya itu.
"Oma, biar Bayu antar Oma untuk menemuinya," tawar dokter Bayu. Oma melirik ke arah ku." Tidak usah bay, kamu ajak saja teman mu ini untuk sarapan. Biar Oma sama Sukma saja yang menemui ibu tiri mu itu. Nanti Oma menyusul kalian,"tolak Oma, kemudian dia beranjak pergi lalu di ekori oleh bibi Sukma. Setelah Oma dan bibi Sukma menjauh, dokter Bayu mengajak ku untuk sarapan.
Di tengah aku dan dokter Bayu sudah berada di meja makan namun belum memulai sarapan karena masih menunggu Oma, orang yang sedang di tunggu pun datang.
"Pagi pagi sudah bikin kesal saja wanita ular itu." Oma menggerutu, dia nampak kesal sekali. Bibi Sukma dengan sigap menarik kursi lalu Oma duduk di atas kursi yang sudah di tarik oleh bibi Sukma.
Aku dan dokter Bayu melongo saja melihat kedatangan mereka. Apa lagi Oma datang tiba tiba menggerutu kesal.
"Sabar Oma, jangan emosi. Saya takut tensi Oma naik lagi,"ucap bibi Sukma lalu ikut duduk di kursi samping Oma.
"Sebenar nya ada apa Oma, bibi Sukma?"Dokter Bayu bertanya pada dua wanita tua yang wajahnya nampak masam.
"Bagaimana tidak emosi, pagi pagi wanita picik itu meminta Oma untuk melepas saham milik Oma di perusahaan yang di pimpin oleh ayah mu Bayu."Oma menjelaskan penyebab kekesalannya.
"Maksud Oma, mama Meri meminta Oma untuk melepas saham Oma sebanyak lima puluh persen di Unity Corp? apa semudah itu?"Dokter Bayu balik bertanya.
"Iya bay, Oma takut lama-lama mama tiri mu itu menghasut papa mu. Oleh karena itu, Oma minta sama kamu untuk berhenti saja jadi dokter bay, lalu fokus di Unity Corp."
Dokter Bayu menghela nafas lalu menyenderkan punggungnya.
__ADS_1
"Tidak semudah itu Oma, Oma sendiri tau kan cita cita Bayu dari kecil hanya ingin menjadi seorang dokter, dan passion Bayu adalah mengurusi orang sakit bukan mengurusi bisnis. Bayu tidak bisa berkecimpung di perusahaan karena itu bukan passion Bayu Oma."
Oma menghembuskan nafas besar.
"Bay, kamu tau kenapa Oma mempertahankan sisa saham yang tersisa? Oma hanya ingin mempertahankan apa yang seharusnya sudah menjadi hak kamu bay, Oma sudah katakan padamu bahwa Unity Corp adalah perusahan yang didirikan oleh opa mu dan di bantu oleh almarhum mama mu, sementara papa mu ikut membesarkannya setelah menikahi mama mu. Sebelum opa mu meninggal dia meminta mama serta papa mu untuk mengurus nya karena Oma mu ini tidak bisa mengurusnya sendiri. Tapi, selang empat tahun opa meninggal mama mu ikut meninggal setelah melahirkan adik mu, dan na'as nya adik mu pun ikut dengan mama mu meninggalkan kita. Lantas siapa lagi yang menjadi harapan Oma kalau bukan kamu bay? karena kamu satu satu nya keturunan Oma yang tersisa. Selain itu, apa kamu tidak kasihan sama opa serta mama mu yang sudah bersusah payah membangun perusahaan itu?"
Dokter Bayu nampak terdiam dan memijit keningnya, sementara aku hanya menyimak obrolan antara nenek dan cucu itu. Mereka membicarakan masalah kekayaan mereka di depan orang asing seperti ku seolah olah aku ini tidak ada di tengah-tengah mereka.
"Bay, Oma mu ini sudah sangat tua, Oma tidak tau berapa lama lagi tuhan kasih Oma hidup. Jika kelak tuhan ambil nyawa Oma rasanya Oma belum siap jika kamu belum masuk ke Unity Corp karena Oma tidak akan ikhlas kalau perusahaan itu jatuh ke tangan mereka seutuhnya."
Jika ku perhatikan dari apa yang Oma bicarakan dia terlihat tidak menyukai papa dokter Bayu apa lagi mama tirinya. Seperti ada kesenjangan atau perselisihan masalah perusahaan keluarga.
Dokter Bayu memajukan duduknya dan menatap lekat Oma." Kenapa Oma bicara tentang kematian? Bayu tidak suka Oma bicara seperti itu."
"Kalau kamu tidak ingin kehilangan Oma makannya kamu turuti keinginan Oma. Dan satu lagi bay, tolong cepat beri Oma cicit, cepat lah mencari pendamping hidup apa lagi usia mu sudah cukup matang."
Nampak jakun dokter Bayu naik turun seperti sedang berusaha menelan saliva nya. Kemudian pandangan nya mengarah pada ku yang sedang duduk di samping meja. Aku yang secara kebetulan sedang melihat ke arah nya buru buru menunduk kan wajah ku. Oma mengikuti arah pandangan dokter Bayu.
"Ya tuhan, gara gara kedatangan wanita ular itu dan membuat kesal, Oma jadi melupakan gadis cantik ini,"ucap Oma, sepertinya dia baru sadar jika ada aku di antara mereka bertiga. Padahal tubuhku ini cukup tinggi dan besar tapi ternyata Oma tidak melihatnya.
Aku mengangkat wajahku lalu memiringkan pandangan ke arah dimana Oma serta bibi Sukma duduk.
"Gadis..."gumam ku lirih, apa Oma tidak tau bahwa aku ini bukan seorang gadis melainkan emak emak yang sudah memiliki satu orang balita. Tapi sepertinya memang Oma belum tahu sebab dokter Bayu sendiri nampak nya belum bercerita tentang keberadaan ku di rumahnya sekedar menumpang sebelum mencari anak ku.
Aku tersenyum canggung padanya." Tidak apa apa Oma. Tapi, Oma masih terlihat awet muda dan cantik," puji ku, bukan sekedar membual tapi memang kenyataannya demikian. Meskipun sudah lansia tapi Oma terlihat bugar dan cantik seperti masih berusia lima puluh tahun kebawah. Maklum, namanya juga orang kaya dengan uang yang mereka miliki mereka bisa melakukan perawatan fisik dan juga kesehatan sepanjang usianya.
"Ha ha, nak Nuri bisa saja. Oya apa kalian sudah lama saling kenal?"tanya Oma, melihat ku dan dokter Bayu secara bergantian.
Aku dan dokter Bayu saling pandang. Kemudian aku memilih diam dan biar dokter Bayu sendiri yang menjawabnya.
"Belum Oma, sekitar baru satu Minggu."
"Satu Minggu!" ucap ulang Oma, dengan suara di naik kan satu oktaf. Nampak pupil mata tuanya sedikit membesar.
Aku dan dokter Bayu saling pandang melihat raut wajah Oma yang nampak terkejut.
"Memang kenapa Oma kalau kami baru kenal satu Minggu?"tanya dokter baru.
"Tidak, tidak apa apa. Oma pikir kalian sudah saling mengenal sejak lama. Jadi kalian belum mengenal satu sama lain?"
Aku dan dokter Bayu saling pandang kembali."Sudah Oma!"jawab kami secara bersamaan. Oma nampak menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Setelah berbincang kami mulai sarapan.
"Kamu tinggal dimana nak Nuri?"tanya Oma di sela sela makan.
"Saya tinggal di sebuah kampung Oma,"jawab ku sembari mengunyah nasi goreng.
"Apa kamu tinggal dengan keluargamu?"
Aku segera menelan makanan yang sedang ku kunyah agar aku tidak kesulitan untuk menjawab pertanyaan Oma berikutnya. Setelah makanan masuk ke dalam perutku, aku menjawabnya.
"Ayah saya sudah meninggal sejak saya masih berusia lima tahun, ibu saya saat ini sedang berada di Cirebon sudah delapan bulan. Dan saat ini saya tinggal bersama kakak kedua serta....anak saya Oma."
Oma menghentikan gerakan tangannya yang awalnya tengah mengaduk nasi goreng.
"Anak!"ucap Oma dan menatap ku dengan serius.
Aku mengangguk."Iya Oma, saya sudah memiliki seorang balita dua tahun lebih."
Oma mengernyitkan dahinya, aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan tentang ku. Kemudian dia melirik dokter Bayu namun cucunya itu tidak menghiraukan lirikannya melainkan sibuk makan seolah olah dia tidak mendengar obrolan kami.
"Jadi...kamu sudah menikah?" Oma kembali bertanya, sepertinya dia semakin penasaran saja tentang status ku.
Aku mengangguk pelan."Saya seorang single mom, Oma, dan kami sudah bercerai."
"Oma, kalau Oma bertanya terus kapan kalian makannya? lagi pula setelah sarapan ini kami mau mencari anak Nuri." Tiba tiba dokter Bayu menyela perbincangan aku dan Oma, padahal sejak tadi dia diam dan fokus makan saja tapi ternyata telinganya menguping.
"Mencari anak nak Nuri, apa maksudnya?"
"Anak Nuri ini dibawa kabur mantan suaminya kemarin pagi dan bayu mau membantu untuk mencarinya karena kebetulan mantan suaminya bekerja di kota Jakarta ini."
Oma nampak terdiam, dengan mulut sedikit terbuka namun tak ada kata kata yang keluar dari mulutnya. Aku pun tidak tau apa yang sedang dia pikirkan. Kemudian dia manggut- manggut kecil saja.
Setelah selesai sarapan, aku pamit kembali ke kamar untuk mengemasi barang ku yang ada di sana sebelum meninggalkan rumah ini dan mencari Zain.
Setelah selesai berkemas aku kembali ke luar dengan membawa barang ku. Namun ketika melewati sebuah ruangan yang pintunya terbuka setengah, samar samar aku mendengar suara Oma sedang berbicara dengan bibi Sukma. Aku pikir kebetulan sekali karena aku harus pamit pada mereka terlebih dahulu sebelum keluar dari rumah ini.
Ketika aku hendak melangkah masuk, aku mendengar perbincangan mereka tengah membicarakan ku. Aku pun mengurungkan niatku dan berdiri di tempat.
"Sukma, kenapa teman Bayu itu mirip sekali dengan Hanum?"
"Iya, Oma, mereka seperti pinang di belah dua. Saya saja sempat terkejut saat pertama kali melihatnya."
__ADS_1
"Kok bisa mirip sekali dengan anak ku ya Sukma, apa Bayu sudah menyadari kalau temannya itu mirip sekali dengan almarhum mamanya sehingga dia membawa teman nya itu ke rumah ini?"
Aku tercengang mendengar obrolan Oma dan bibi Sukma. Setelah itu, aku langsung meraba wajah ku, apa benar aku ini mirip dengan anak nya Oma yang bernama Hanum almarhum mamanya dokter Bayu? tapi jika benar, kenapa kami bisa mirip? apa hanya karena kebetulan saja.