
Sang Surya menyapaku melalui jendela yang sudah terbuka tirai nya hingga aku merasakan silau di kedua mataku. Setelah itu, aku langsung duduk tegak setelah menyadari bahwa aku bangun kesiangan. Sebenarnya aku sudah bangun saat subuh namun setelah melaksanakan ibadah subuh aku kembali tidur karena tak kuat menahan rasa kantuk serta tubuh ku yang terasa masih lelah.
Suara gemericik air terdengar di kamar mandi dan tak lama pintu kamar mandi itu terbuka. Raihan muncul dalam keadaan segar sekali dan wangi bunga lili. Dia menoleh ke arah ku lalu memberikan senyuman manisnya.
"Selamat pagi, sayang ku!" sapa nya.
Aku menunduk malu. Tapi bukan malu karena sapaannya melainkan penampilannya yang benar-benar menggoda keimanan ku. Rambut basah serta hanya menggunakan handuk kecil yang di sangkutkan pada pinggangnya.
Dengan rasa percaya diri dan tanpa ada rasa malu sedikit pun dia melangkah ke arah ku, benar-benar menggoda keimanan ku. Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain karena tak tahan menahan gejolak yang sudah mulai meronta. Jujur saja, aku takut sekali tidak bisa menahan hawa nafsuku.
"Hei, kenapa membuang muka seperti itu?" tanya Raihan setelah dia berdiri tepat di hadapanku sehingga wangi lili terendus dengan sempurna.
"Please deh, cepetan pakai baju,"kata ku tanpa melihat pada tubuh sixpack nya.
Rupanya dia tidak menghiraukan permintaanku melainkan lebih mendekat kan dirinya pada ranjang yang sedang ku duduki. Aku tau dia sedang mencoba menggodaku.
"Cepetan pakai baju, Rai. Kalau tidak ku tarik handuk mu." Aku mulai kesal, Raihan benar-benar menggodaku.
Terdengar Raihan tertawa renyah lalu dia berucap." Dengan senang hati kalau kamu mau menariknya. Ayok silahkan di tarik sayang." Bukan nya takut justru Raihan menantang ku.
Aku semakin kesal di buatnya lalu melempar dua bantal ke arahnya namun Raihan menangkapi dua bantal itu sembari tertawa renyah. Setelah itu, aku menyeret tubuhku hingga tepi ranjang lalu mendorong tubuh nya ke samping agar dia tidak menghalangi jalanku. Kemudian berjalan ke arah kamar mandi tanpa mempedulikan Raihan yang sedang menertawakan aku.
Setelah selesai membersihkan tubuhku, aku membuka pintu kamar mandi perlahan lalu mengedarkan pandanganku ke setiap penjuru kamar. Aku tersenyum senang ketika tidak mendapati Raihan di dalam kamar.
Aku menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai dasar lalu bertemu dengan Art. Dia tersenyum pada ku begitu pula denganku membalas senyuman nya.
"Saya baru saja mau manggil mba Nuri, di suruh ikut sarapan sama bu haji," kata Art.
__ADS_1
"Oh, terima kasih, Bi!"
"Iya mba Nuri." Kemudian Art itu pergi dari hadapanku.
Aku melanjutkan langkah ku menuju dapur. Ketika sudah sampai di ambang pintu dapur, aku melihat Bu haji sedang menyuapi Zain bubur di pangkuan Raihan. Selain memangku, sesekali Raihan mengelap mulut Zain jika terdapat bubur yang meluber dari mulutnya.
Senyum mengembang di bibirku melihat pemandangan yang sangat manis sekali. Tidak mengapa aku di buang oleh orang tua yang sudah membuat aku ada di dunia ini. Setidaknya aku akan memiliki suami dan ibu mertua yang akan selalu menyayangi dan melindungi ku serta anak ku.
Bu haji menyadari keberadaan ku lalu memanggilku. Raihan ikut menoleh ke arahku. Aku tersenyum pada mereka lalu mendekat.
"Ayok kita sarapan. Zain sudah makan duluan ini habis satu mangkok," ucap Bu haji sembari tersenyum.
"Terima kasih bu, Rai." Kemudian aku ikut duduk.
Bu haji memanggil Art untuk menemani Zain selama kami makan. Dan kami mulai makan setelah Art membawa Zain dan main di ruang tamu.
Awalnya Bu haji nampak terkejut namun tak lama kemudian dia menyetujui apa yang akan aku lakukan hari ini. Namun, Bu haji melarang aku membawa Zain karena takut ada pertengkaran dan tidak ingin berdampak buruk pada Zain. Aku dan Raihan pun menyetujui nya.
"Mama tinggal dulu ya, Zain jangan nakal sama Oma okey," ucap ku pada Zain ketika aku hendak pergi bersama Raihan dan Zain sedang di gendong oleh Bu haji.
"oke mama, cayang."
Kami tersenyum lebar mendengar respon Zain yang menggemaskan. Kemudian kami pun menyalimi Bu haji terlebih dahulu sebelum pergi.
Sebelum kami mendatangi rumah ku, Raihan lebih dulu memastikan pihak-pihak berkaitan yang akan membantu kami mengeksekusi dan mereka mengatakan bahwa mereka sudah siap dan sedang meluncur ke lokasi.
Raihan membonceng ku menggunakan motor metik milik ibunya. Kami pikir agar lebih simpel saja jika menggunakan motor dan tak repot parkir. Apalagi nanti akan kedatangan excavator serta beberapa mobil pick up jadi keberadaan motor tidak akan mengganggu saat eksekusi nanti.
__ADS_1
Setelah tiba di rumah, sejenak ku tatap rumah ku. Rumah yang aku bangun dengan jerih payah ku dan uang tabungan ku. Namun apa daya, hari ini terpaksa akan aku robohkan karena di bangun di atas tanah orang lain. Ya, ku anggap orang lain karena kami tidak memiliki hubungan darah mau pun kedekatan karena mereka sendiri pun tidak pernah menganggap aku anak atau saudara. Biarkan aku menjadi manusia jahat dan tak punya hati untuk kali ini, karena mereka pun manusia yang jahat dan tidak memiliki hati padaku selama hidupku.
"Bagaimana bang, apa sudah di kemasi barang-barang yang ada di pabrik?" tanya ku pada bang Supri yang sebelumya sudah ku beri tahu.
"Yang di pabrik sudah di kemas tinggal di angkut tapi yang di dalam rumah aku tidak berani Nuri, si Supra bisa membunuhku."
"Kemana mereka, kenapa terlihat sepi?" Tanya raihan.
"Masih pada tidur, Rai. Makanya aku leluasa ngeberesin barang-barang di pabrik."
Raihan melihat jam yang melingkar di tangannya." Ya ampun sudah jam sembilan masih pada tidur."
"Bagus dong, biarkan saja mereka tidur nyenyak di rumah ini untuk yang terakhir kalinya. Lagi pula biar kita lebih leluasa angkutin barang," ucap ku.
Tak lama kemudian tiga orang berbadan kekar sewaanku dan empat mobil pick up datang secara beruntun. Selain mereka, dua orang polisi yang sudah kami sewa pun datang menggunakan mobil dinas mereka. Hanya pak lurah saja yang tidak datang karena ada urusan. Tapi tidak mengapa, setidaknya kami sudah ijin terlebih dahulu padanya.
Setelah itu, aku menyuruh mereka untuk mengangkuti barang-barang yang ada di pabrik terlebih dahulu dan mereka pun menurut.
Mereka mulai mengangkuti barang-barang yang ada di pabrik hingga terangkut semua tanpa meninggalkan sisa barang satu pun karena pabrik itu akan aku robohkan juga.
"Beres Nuri," lapor bang Supri karena dia yang mengontrol kerja mereka.
"Okey, sekarang giliran yang di dalam rumah. Utamakan perabotan yang di luar kamar saja dulu bang."
"Siap boss."
Aku memajukan bibir bawahku ketika bang Supri menyebutku boss dan Raihan tersenyum melihat ku.
__ADS_1