
Setelah mereka selesai makan pak Bagas pamit pulang namun setelah Maghrib dia mengatakan akan kembali lagi. Sebelum dia keluar dari ruang rawat dia mendekati ku lalu mengelus pucuk kepalaku.
"Saya pulang dulu sebentar ya!"
Aku mengangguk pelan dan memberikan senyuman tipis padanya.
Aku menatap punggung pak Bagas ketika dia berjalan menuju pintu keluar dengan perasaan nano nano. Entah lah aku tidak tau apa yang aku rasakan saat ini.
"Sayang, sekarang kamu makan ya?"
Aku mengalihkan pandanganku pada Raihan yang sedang mengaduk aduk bubur siap untuk menyuapiku lalu mengangguk.
"Coba buka mulutnya pelan sayang. Perut mu harus terisi makanan meskipun hanya sedikit."
Aku menuruti perintah nya membuka mulut ku sedikit. Raihan dengan sabar menyuapiku. Meskipun bubur itu terasa pahit di lidahku tapi aku harus memakannya karena selain menghargainya aku juga harus cepat sembuh dari sakit ku agar tidak terlalu lama merepotkannya.
Lima suapan lancar dan masuk ke dalam perutku namun suapan ke enam perut ku terasa mual sekali lalu memuntahkan semua isi perutku kembali. Raihan dengan sabar dan telaten membersihkan bekas muntahan ku tanpa ada rasa jijik.
Dokter yang menangani ku dan seorang perawat tiba tiba memasuki kamarku setelah Raihan baru selesai membersihkan bekas muntahan.
"Selamat sore pak Raihan dan Bu Nuri."Sapa dokter itu sembari berjalan ke arah kami.
"Selamat sore dok." Raihan balik menyapa.
"Kita periksa lagi ya Bu Nuri." Raihan menjauh dariku karena dokter itu akan memeriksaku kembali.
"Dok, dia selalu memuntahkan makanan yang dimakan. Kalau begitu terus bagaimana bisa mendapat asupan gizi untuk tubuhnya." Raihan memberitahu apa yang sudah berulang kali terjadi ketika aku makan selalu ku muntahkan seolah olah lambungku tidak bisa menerima asupan makanan.
"Apa tidak bisa memberi asupan gizi melalui selang saja dok?"
"Bisa pak Raihan. Tapi memberi selang nasogastrik hanya untuk pasien yang benar benar tidak bisa makan melalui mulut seperti orang koma atau sebagainya. Sementara Bu Nuri masih bisa mengunyah kan dan hanya saja lambungnya yang belum bisa menerima asupan makanan. Hal ini wajar terjadi pada setiap pasien dan untuk mengatasinya pak Raihan harus terus menerus memberikan asupan makanan. Jangan langsung di tuntut makan banyak. Sedikit atau di jeda saja seperti satu atau dua sendok dalam satu jam lalu jam berikutnya di berikan lagi dengan jumlah yang sama."
"Begitu dok!"
"Iya pak Rai."
Raihan mengikuti saran dokter. Dia memberiku makan dua sendok bubur tiap satu jam sekali dan apa yang di sarankan dokter itu memang tidak membuatku mual dan muntah.
"Rai, aku...mau...pipis." Ucap ku pelan.
"Iya sayang, kamu pipis di kasur saja biar aku ambilkan wadah."
Aku menggeleng cepat bagaimana rasanya buang air kecil di kasur pakai wadah tentu saja tidak nyaman.
"Aku..mau..ke..ke kamar mandi saja."
Raihan diam dalam waktu yang lama nampaknya dia sedang berpikir.
"Ya sudah." Tanpa bicara lagi Raihan mengangkat tubuh lemah ku dan membawa tiang infusan ke dalam kamar mandi.
Setelah berada di dalam kamar mandi dia mendudukkan aku di closet duduk yang telah di buka sebelum nya.
"Aku nunggu disini. Tenang saja aku tidak akan lihat kok." Setelah berkata dia berbalik, pandangannya di arahkan pada pintu kamar mandi.
Awal nya aku merasa tidak nyaman mau buang air kecil di depan seorang pria yang belum jadi suamiku. Tapi karena Raihan kekeh tidak ingin keluar dari kamar mandi mau tidak mau aku pun melakukannya.
"Sudah selesai sayang!" Tanya Raihan ketika aku sedang membenarkan letak celana ku.
"Sudah." Raihan berbalik mengarah padaku lalu menyunggingkan senyum manis. Aku menunduk malu di buatnya. Dia mengangkat tubuhku lagi serta membawa selang infus lalu membawaku ke luar kamar mandi.
Setelah berada di luar kamar mandi nampak pak Bagas sedang duduk di sofa bersama Zain dan pandanganya mengarah pada kami.
"Lho, ada pak Bagas. Kapan masuknya saya tidak mendengar." Ucap Raihan sembari berjalan ke arah tempat tidur.
"Kamu kan lagi di kamar mandi Rai, mana mungkin dengar."
"Iya juga ya." Kemudian Raihan meletak kan aku di tempat tidur lalu menyelimuti tubuhku.
"Apa Nuri sudah di beri makan Rai?"
"Dokter menyarankan di beri makan sedikit sedikit saja pak, karena lambungnya belum dapat menerima asupan makanan secara sempurna."
"Mama, papa, Zen punya mobilan balu." Zain tiba tiba berucap lalu berjalan kearah kami sembari membawa mainan di tangannya. Kemudian dia menunjukan nya pada kami sebuah mobilan remote dan aku perkirakan harganya jutaan.
__ADS_1
Raihan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Zain."Wah, siapa yang memberi Zain mobilan bagus ini?" tanya Raihan dengan nada memuji.
"Opa!"ucap Zain sembari menunjuk pada pak Bagas.
"Ohh, terus Zain bilang apa sama Opa?"
"Maacih."
Raihan menjewel hidung mancung Zain." Anak papa memang pintar." ucap Raihan. Aku hanya tersenyum tipis saja melihat percakapan antara Raihan dan Zain.
Kemudian Raihan berdiri lalu berjalan ke arah sofa dan duduk berhadapan dengan pak Bagas.
"Apa Nura tidak akan mencari pak Bagas?"
"Anak itu akhir akhir ini sangat jarang mencari saya dan saya pun jarang bertemu dengannya. Nura sering kali bilang kalau dia menginap dan menemani temanya yang tinggal sendirian karena orang tua nya sedang berada di luar negeri."
"Maaf sebelum nya pak, apa pak Bagas yakin kalau Nura sering nginap di rumah temannya."
"Saya yakin karena saya pernah mengeceknya langsung ke rumah temannya itu dan dia ada di sana. Lagi pula saya percaya Nura itu anak yang manis tidak mungkin dia berbuat neko neko di luar sana."
Nampak Raihan manggut manggut kecil mendengar kalimat panjang pak Bagas. Aku harap apa yang di katakan pak Bagas itu benar dan apa yang aku lihat tentang testpack itu mudah mudahan bukan miliknya, siapa tau saja milik orang lain yang di titipkan padanya.
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam tapi pak Bagas masih berada di ruang rawat ku.
"Apa sebaiknya pak Bagas pulang saja istirahat di rumah. Apalagi besok bapak harus kerja kan! maaf lho pak, bukan maksud saya mengusir." Kata Raihan pada pak Bagas yang sedang memainkan ponselnya.
Pak Bagas menoleh pada Raihan lalu tersenyum." Saya mau nginap di sini saja Rai, mau nemani Zain tidur. Besok saya berangkat kerja dari sini saja."
Rasanya seperti mimpi mendengar ucapan pak Bagas. Tidak menyangka dia ingin menginap di tempat yang sebenar nya tidak layak untuknya apalagi menemani ku dan Zain yang notabene nya bukan siapa siapa beliau.
"Apa pak Bagas serius mau tidur disini?"
"Iya saya serius." Kemudian dia beranjak dari sofa lalu mendekati Zain yang sedang tidur di kasur bulu. Setelah itu, dia merebahkan tubuhnya di samping Zain. Raihan nampak bengong melihat pak Bagas begitu pula dengan aku. Lalu Raihan menoleh ke arah ku."Belum bobo sayang?" Tanya nya Kemudian.
Aku menggeleng pelan.
Raihan bangkit dari duduknya lalu mendekatiku. Dia menarik kursi lalu di duduki nya."Tidurlah, sudah malam." Kemudian dia mengelus elus pucuk kepalaku dalam waktu yang lama hingga aku tertidur.
Setelah kepergian perawat itu aku melirik ke samping ternyata Raihan sedang mendekur halus. Dia tidur dalam posisi duduk dan meletak kan pipinya di atas kasur tepat di samping kepalaku. Ku elus pelan pucuk kepalanya agar dia tidak merasa terusik lalu terbangun.
Sembari mengelus kepala Raihan aku melirik kearah dua pria beda generasi yang sedang tidur pulas di bawah menggunakan kasur bulu dengan posisi pak Bagas memeluk Zain. Mereka nampak seperti seorang kakek dan cucu. Aku tersenyum melihatnya dan membayangkan andai saja ayah ku masih hidup dan yang saat ini memeluk Zain adalah ayahku kakeknya Zain.
Ternyata usapan tanganku di kepala Raihan mengusik tidurnya. Dia menegak kan duduknya.
"Apa yang di rasa sayang! maaf aku ketiduran." Raihan nampak cemas, mungkin dia pikir aku membangunkannya.
Aku menggeleng pelan."Ma..maaf, aku mengganggu tidur mu."
Raihan menghela nafas." Aku pikir kamu ingin sesuatu. Kenapa tidak bobo?"
"Aku..terbangun."
"Ya sudah sekarang bobo lagi ya!" Raihan melihat jam yang melingkar di tangannya." Masih jam dua sayang." Sambungnya, lalu mengelus elus pucuk kepala ku lagi agar aku tertidur. Perlakuan Raihan persis seperti perlakuan menidurkan seorang anak kecil. Tapi meskipun demikian aku merasa nyaman di elus elus olehnya.
Meskipun mataku terpejam tapi aku tidak tidur seratus persen. Dalam keadaan sakit seperti ini mana mungkin bisa tidur dengan nyenyak. Telingaku masih bisa menangkap suara suara di sekitar dengan jelas.
"Pak Bagas akan pulang sekarang?" Suara Raihan terdengar bertanya pada pak Bagas.
"Saya mau langsung ke kantor saja Rai. Saya bisa mandi di sana. Lagi pula di sana juga ada baju kerja jadi saya tidak perlu lagi pulang ke rumah."
"Tapi, pak Bagas belum sarapan."
"Tidak usah mikirin saya Rai, mikirin Nuri dan Zain saja karena mereka lebih membutuhkan mu. Kalau bukan kamu siapa lagi. Buktinya keluarganya saja tidak ada yang datang kemari kan."
"Iya pak."
"Ya sudah saya pergi dulu. Nanti saya akan usahakan datang lagi kemari."
"Padahal tidak usah repot repot. Saya tidak ingin pak Bagas kelelahan nanti."
"Tidak di repotkan. Justru saya senang apalagi ada Zain. Maklum lah saya ini sudah tua ingin sekali punya cucu tapi kedua anak saya nampaknya belum mau memberikan cucu untuk saya."
"Tidak apa apa kan kalau saya anggap Zain sebagai cucu saya sendiri?"
__ADS_1
"Dengan senang hati pak bagas. Semakin banyak yang sayang sama Zain semakin lebih baik kan. Apalagi Zain dari lahir tidak pernah di sayang oleh orang orang terdekatnya. Seperti ayah biologisnya, kakek nenek nya bahkan ibu kandung Nuri pun tidak pernah sayang sama Zain."
"Ya Tuhan, kasihan sekali kamu nak."
"Saya tidak mengerti apa salah Nuri sehingga Zain pun di benci oleh mereka."
"Apa mantan suaminya tidak pernah berlaku baik sama Nuri?"
"Setahu saya seperti itu pak. Nuri menikah karena perjodohan. Dan bersyukurnya Zain terlahir tidak mirip dengan mantan suaminya itu melainkan mirip dengan saya hehe."
"Ha ha ha, kamu ada ada saja Rai. Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu dan sampaikan salam saya sama nuri kalau dia sudah terbangun."
"Iya pak, akan saya sampaikan."
Hening.
Sebuah kecupan lembut mendarat di keningku dan di saat itu pula aku membuka mata." Rai...!"
Raihan tersenyum lebar." Maaf ya aku sudah membangun kan mu."
Aku menggeleng pelan.
"Pak Bagas?"
"Dia sudah pergi dan katanya salam sama kamu."
Aku tersenyum tipis.
"Rai..!"
"He'em, kenapa sayang?"
"Kenapa..pak Bagas tau aku di rumah sakit?"
"Oh, aku yang memberitahu nya saat dia menghubungi ku menanyakan keadaan mu sayang."
"Kenapa..pak Bagas baik sama aku, Rai?"
Raihan terdiam dia nampak berpikir namun kemudian dia menggeleng." Aku kurang tau sayang. Nanti aku akan menanyakan nya."
Suara pintu terbuka lalu dua perawat masuk dan mendekati kami.
"Maaf pak, mba Nuri harus di lap dulu badannya." Kata salah satu dari mereka.
"Oh ya silahkan." Kemudian Raihan menjauh dariku lalu mendekati Zain yang sedang main mobilan remote. Setelah itu, dia menggendongnya dan berjalan lagi ke arah ranjang.
"Sayang, aku dan Zain keluar dulu ya mau beli makanan."
Aku mengangguk pelan.
"Oya mba suster, kalau sudah selesai di lap dan saya belum kembali tolong jangan di tinggal dulu ya! tunggu saya sampai datang."
"Iya pak."
Setelah berpesan Raihan dan Zain keluar dari ruangan dan dua suster itu mulai mengelap tubuhku.
Sore hari menjelang Maghrib dan ketika Raihan sedang memandikan Zain di kamar mandi nampak pintu terbuka lalu masuk seorang pria paruh baya dan nampak masih gagah berjalan ke arahku sembari tersenyum serta menenteng beberapa paper bag di tangannya.
"Pak...Bagas!"
"Selamat sore Nuri, bagaimana keadaannya hari ini?"
"Alhamdulilah sudah lebih mendingan pak."
"Syukur lah saya senang mendengarnya. Oya, saya membawa bubur untuk mu siapa tau kamu bosan sama bubur rumah sakit dan ingin mencoba yang baru. Ini juga buburnya seratus persen sehat terbuat dari beras, salmon dan sayur sayuran. Kamu mau mencoba?"
Aku tersenyum lalu mengangguk. Entah mengapa aku tidak ingin menolak tawarannya dan ingin sekali memakan apa yang di bawakan olehnya saat ini.
Pak Bagas tersenyum lalu buru buru berjalan ke arah sofa dan meletak kan tiga paper bag di atas meja. Setelah itu, dia kembali lagi padaku membawa sekotak bubur yang terendus sangat wangi sekali di hidungku.
Pak Bagas menarik kursi lalu di duduki olehnya." Saya suapi ya?" ucap nya sembari mengaduk aduk bubur yang nampak masih mengepul serta senyum yang terus tersungging di bibirnya.
Aku tidak menolaknya melainkan mengangguk. Kemudian dia menyodorkan bubur itu ke arah mulutku dan aku pun membuka mulutku lalu mengunyah nya pelan.
__ADS_1