Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Surprise dari Raihan


__ADS_3

Ketika kami baru saja memasuki restauran, seorang pria berpakaian rapih berjalan tergesa gesa menghampiri kami sambil tersenyum.


"Selamat malam dan selamat datang di restauran kami dengan bapak Raihan serta ibu Nuri kalau saya tidak salah?"sapa pria itu.


"Betul pak."Raihan menjawabnya, sementara aku hanya menyimak saja.


"Perkenalkan saya bayu selaku manager di restauran ini."Kemudian dia mengulurkan tangannya menyalami kami satu persatu.


"Pak Raihan dan Bu Nuri ini yang memesan ruangan private bukan?"


Aku melirik ke samping dimana Raihan berdiri sembari menggendong Zain, Raihan terlihat mengangguk.


"Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih pada bapak Raihan dan ibu Nuri, merupakan suatu kehormatan bagi kami bapak dan ibu sudah bersedia mengunjungi serta mempercayakan pelayanan pada restauran ini...."


Aku melirik lagi pada Raihan, dia terlihat manggut manggut saja menyimak kata sambutan yang menurutku berlebihan seperti menyambut seorang pejabat penting saja. Tapi jika di pikir Raihan juga merupakan orang penting dia seorang bos pemilik perusahaan.


Setelah selesai berbicara orang itu yang baru di ketahui bernama Bayu dan seorang manager di restauran ini membawa kami ke sebuah tempat dan ketika tiba di tempat yang di tuju aku tercengang melihatnya. Terlihat Satu buah meja serta tiga kursi bernuansa putih. Di atas meja terdapat lilin yang menyala serta bunga. Di sekeliling ruangan berjejer lilin yang menyala namun yang membuat aku lebih takjub lagi adalah pemandangan ruangan itu merupakan hamparan kota kabupaten dengan kerlap kerlip lampunya. Aku baru menyadari jika restauran ini berada di atas bukit sehingga terlihat kota kecil di malam hari.


"Bagaimana, mba suka tidak tempatnya?" tanya Raihan padaku yang sedang menatap takjub pemandangan kota di balik kaca besar yang terpampang di ruang ini. Aku melirik ke arahnya lalu mengangguk sembari tersenyum, Raihan pun ikut tersenyum.


"Ini belum seberapa mba, suatu hari nanti aku akan membawa mba dinner ke tempat yang jauh lebih menarik."


Aku hanya tersenyum saja karena tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata perasaanku saat ini. Ini merupakan pengalaman pertamaku makan malam di tempat yang luar biasa bagi ku namun kata Raihan ada restauran yang jauh lebih menarik dari restauran ini.


Raihan berdiri di belakangku kemudian dia berbisik,"tutup dulu matanya mba, ada kejutan untuk mba!"


"Kejutan apa Rai?"aku bertanya dengan rasa penasaran. Namun Raihan tidak menjawabnya melainkan menutup mataku dengan kedua tangannya lalu menuntunku mendekati meja. Setelah itu dia melepaskan tangannya dari mataku, Nampak Zain sedang duduk manis menatap pada kue cantik dan terdapat lilin di atasnya. Aku tidak tau sejak kapan ada kue itu di atas meja.

__ADS_1


"Apa...apa ini maksudnya Rai?"aku semakin penasaran di buatnya.


"Selamat ulang tahun bidadari ku!"


Aku membulatkan pupil mataku dan di saat rasa keterkejutan ku mendapat surprise dari Raihan, dia mencium pipi dan keningku cukup lama dan aku tidak menolaknya ketika Raihan melakukan hal demikian.


Aku menitik kan air mata karena tidak pernah menyangka Raihan masih ingat dengan hari ulang tahun ku. Padahal selama ini aku sendiri melupakan hari ulang tahun ku sendiri karena ibu ku sendiri pun tidak pernah mengingatkan hari lahir ku. Ini merupakan kejutan kedua kali Raihan padaku karena dulu sebelum aku menikah dan kami masih bersama sama Raihan pernah merayakan hari ulang tahunku meskipun tidak seistimewa kali ini, sebab, dulu dia masih seorang siswa putih abu abu.


"Duduk yuk mba, tuh, Zain sudah menanti mamanya untuk meniup lilin serta memotong kue nya."


Aku tersenyum dan mengangguk, kemudian berjalan ke arah meja dimana Zain sedang duduk manis menunggu kami. Sebelum meniup lilin Raihan memintaku untuk berdoa dan mengungkapkan harapanku di usiaku yang ke dua puluh tujuh tahun ini dan aku pun menurutinya.


Aku memejamkan mata kemudian berdoa dengan beberapa harapan di usiaku yang sudah tidak lagi muda. Setelah itu, aku meniup lilin yang ada di atas kue cantik. Raihan dan Zain bertepuk tangan serempak, senyum pun mengembang di bibir mereka seolah olah mereka senang sekali melihatku. Aku menatap mereka satu persatu tidak menyangka di ulang tahunku yang ke dua puluh tujuh tahun ini aku di temani oleh dua sosok pria yang aku sayangi.


"Semoga panjang umur dan selalu diberi kesehatan ya mba?"ucap Raihan, kemudian dia mencium keningku kembali dan aku tidak menolaknya.


"Terima kasih atas kejutan ini Rai!"


Zain yang sedang menggosok gosok kan jarinya ke atas telapak meja berwarna putih mendongak lalu melihat ke arahku.


"Ceyamat uan toun mama, Alapiyu!" Zain berucap dengan bahasanya yang kurang jelas.


Aku dan Raihan tertawa kecil, kemudian ku raih wajahnya dan menciuminya dengan gemas."Terima kasih ya sayang," kata ku, Zain tersenyum dan mengangguk.


Terlihat Raihan mengambil sesuatu di dalam saku celana bahannya, nampak beludru berwarna merah, seketika aku cemas, aku takut Raihan nekat melamar ku karena setahu ku di dalam beludru itu pasti terdapat emas. Bukannya aku tidak mau tapi aku belum siap mengingat status dia dan Nura yang belum jelas.


Raihan meraih tanganku kemudian dia meletakkan beludru itu di telapak tanganku, dengan gugup aku bertanya,"a..apa ini Rai?"

__ADS_1


"Ini hanya sebuah kado dari ku untuk hari ulang tahun mba," kata Raihan dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.


"Kado ulang tahun!"ucap ku mengulang.


"Iya, mba bukanya di rumah saja ya?" titah Raihan. Aku tersenyum malu karena sudah salah mengira. Beruntung pemikiran itu hanya ku ungkapkan dalam hati saja bukan langsung dari mulut ku, jika hal itu terjadi bisa malu sekali aku padanya.


"Terima kasih banyak Rai, kenapa repot repot sekali memberiku kado? kamu sudah memberi surprise seperti ini saja sudah luar biasa dan lebih dari cukup,"kata ku kemudian.


"Sama sekali tidak repot mba, hanya kado biasa tapi aku harap mba memakainya. Tapi kalau mba tidak suka jangan di buang di simpan saja ya?"


"Aku tidak pernah akan membuang sesuatu pemberian orang Rai, apalagi dari kamu. sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak atas surprise serta kado nya ya Rai?"


Raihan membelai pipiku dan aku membiarkannya, kemudian dia berkata," jangan kebanyakan berucap terima kasih mba, aku jadi merasa seperti orang asing. Apa yang aku lakukan ini tidak sebanding dengan...." Raihan menghentikan ucapannya membuatku mengernyitkan dahi.


"Tidak sebanding dengan apa Rai?"tanya ku penasaran.


"Oh, tidak, mba pasti sudah lapar kan?" Raihan mengalihkan pembicaraan namun aku membiarkannya meskipun sebenarnya masih penasaran.


Terlihat Raihan memencet sebuah tombol di sebuah benda berbentuk kotak kecil yang tersedia di atas meja dan beberapa menit kemudian tiga pelayan datang beriringan membawa nampan mereka masing masing. Aku berpikir restauran ini keren sekali, kita tidak perlu keluar ruangan atau berteriak untuk memanggil seorang pelayan, cukup dengan hanya memencet tombol yang tersedia saja pelayan itu akan datang dengan sendirinya.


Tiga pelayan itu meletakan menu makanan secara bergantian dan dalam hitungan menit, meja sudah penuh dengan berbagai macam menu makanan yang terlihat menggiurkan.


"Kenapa pesannya banyak sekali Rai?"aku bertanya setelah tiga pelayan itu keluar dari ruangan kami.


"Tidak apa, malam ini kan malam spesial mba. Lagi pula aku tidak tau mba mau makan apa, jadi aku pesan semua menu yang ada di restauran ini saja."


"Kamu berlebihan sekali Rai, bagaimana kalau tidak habis?"

__ADS_1


"Tinggal di bungkus dan bawa pulang mba, he he!" Raihan tersenyum nyengir dan aku pun jadi ikut tersenyum karena ucapan lucunya.


Kami makan dalam diam namun sesekali Raihan melirik ke arahku dan memberikan senyuman termanisnya. Dalam hati aku merasa bersyukur sekali telah di cintai oleh pria muda, tampan, bersikap baik dan lembut padaku.


__ADS_2