Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Dunia sebesar daun kelor


__ADS_3

Kedua mataku memperhatikan Andre yang sedang menemani Zain mandi bola namun pikiranku menerawang kemana mana memikirkan banyak hal salah satunya adalah memikirkan tentang rencana ku setelah menjadi seorang single mom.


Andre dan Zain mengarah padaku lalu memberikan lambaian tangannya sembari tersenyum lebar. Zain nampak bahagia sekali ditemani oleh Andre bermain, jika di lihat mereka seperti seorang ayah dan anak. Aku segera menepis pemikiran yang tiba tiba saja muncul di otak ku. Aku tidak ingin mengharap banyak pada Andre, menjadi seorang teman saja itu sudah lebih dari cukup. Lagi pula aku tidak ingin dulu memikirkan tentang pasangan hidupku selanjutnya, bisa dikatakan aku masih trauma pada pernikahan ku. Hati manusia tidak ada yang tau, bisa saja orang itu baik di awal dan bisa berubah jahat di tengah.


"Nuri, apa kamu tidak ingin ikut bermain dengan kami?"panggilan andre menyadarkan aku dari lamunan. Kemudian aku menoleh ke arah mereka dan menggelengkan kepala. Namun ketika aku melihat sepasang keluarga baru berjalan ke arah ku, aku segera berdiri dan mendekati Andre serta Zain karena aku tidak ingin lagi berurusan dengan mas Surya mau pun Ipah.


"Dre, kita pulang sekarang yuk?"aku mengajak Andre pulang. Kemudian Andre mengajak Zain pulang namun dia menolak, seperti nya Zain masih belum puas.


"Zain belum ingin pulang Nuri!" lapor Andre padaku dengan sedikit keras karena jarak aku tujuh meter dengannya.


Aku menghela nafas kemudian melirik kearah satu keluarga yang sudah mulai mendekat dan aku pura pura tidak tau kedatangan mereka.


"Nuri..!"panggil mas Surya pada ku dan aku pura pura tidak mendengarnya. Tanpa di duga, mereka sekeluarga mendekatiku entah mau apa lagi mereka.


"Nuri!"sapa mas Surya yang sudah berdiri di sampingku. Aku melirik malas ke arahnya lalu pandanganku arah kan lagi pada Andre dan Zain.


"Siapa pria itu?" tanya nya kemudian.


"Teman." jawabku singkat dengan pandangan tetap mengarah pada Andre dan Zain.


"Teman atau...!"


"Bukan urusan mu lagi mas, kita sudah bercerai." Aku memotong ucapan mas Surya.


"Ck, ternyata mantan istriku yang terlihat alim ini berani selingkuh juga di belakangku," ejek mas Surya, dia menuduhku berselingkuh.


Aku menoleh ke arahnya dan menatap tajam sorot matanya kemudian bertanya,"apa kau bilang mas, kamu menuduh aku selingkuh di belakang mu? jangan asal fitnah kamu mas, aku bisa menuntut mu ke jalur hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik." Aku tidak ingin terlihat lemah lagi di hadapannya karena aku tidak ingin dia menyepelekan aku seperti ketika aku masih menjadi istrinya.


"Sombong kamu Nuri, mentang mentang dekat dengan laki laki kaya." Mas Surya mulai emosi. Salah sendiri dia sendiri yang memulai menuduhku selingkuh dengan Andre.


"Kamu mendekatiku hanya mau menuduhku selingkuh? buang buang waktu saja. Lihat itu istri tercinta serta anak anak mu sedang menunggumu."


Mas Surya melirik ke arah Ipah serta kedua anaknya sekilas kemudian pandangannya mengarah lagi pada ku.


"Apa pria itu, pria yang ada di pikiran mu saat malam pertama kita?"mas Surya mengingatkan sekaligus menyindirku. Aku terdiam sesaat, dalam hati aku bertanya apakah yang di katakan mas Surya itu benar atau sekedar mencari alasan saja karena aku sendiri tidak ingat apa apa. Tapi kalau dia benar aku menyebut nama seseorang tapi orang itu siapa ? rasanya tidak mungkin Andre, karena sejak berteman dengan Raihan aku benar benar tidak pernah lagi memikirkan Andre. Apakah Raihan? aku menggelengkan kepalaku, rasanya tidak mungkin juga aku menyebut namanya karena saat itu aku tidak memiliki perasaan apa apa padanya hanya sekadar merasa nyaman saja berteman dengannya meskipun usia Raihan jauh di bawahku.


"Aku tidak mengerti sama apa yang kamu tanyakan mas!"


Mas Surya berdecak kemudian berkata lagi," tidak mengerti apa pura pura tidak mengerti Nuri? dia pria yang bernama Raihan kan, nama pria yang kau sebut saat aku pertama kali menggauli mu?"


Jantungku terasa berhenti berdetak mendengar mas Surya menyebut nama Raihan yang aku sebut namanya saat mas Surya pertama kali mengambil mahkotaku. Dalam hati aku bertanya, apa iya Raihan yang aku sebut namanya? tapi kenapa aku tidak ingat apa apa.


"Benar bukan dia Raihan?"tanya mas Surya dengan nada menyelidik.

__ADS_1


Aku mengabaikan pertanyaan mas Surya rasanya sudah malas membahas masa lalu. Mau siapa pun yang aku sebut namanya aku sudah tidak peduli lagi.


"Andre....Zain! teriak ku pada dua orang yang masih asik bermain dan mereka menoleh ke arah ku lalu beranjak dari permainan tersebut dan mendekatiku serta mas Surya.


"Oh, bertemu mantan Nuri lagi rupanya, ingat ya sudah talak tiga, sudah tidak ada kesempatan lagi." Andre menyindir mas Surya dan ucapan nya membuat mas Surya terlihat kesal padanya. Sebelum mereka berdebat aku buru buru mengajak andre pergi dari hadapan mas Surya.


"Nuri, kenapa dia bisa menghampiri kita disini?" pertanyaan Andre terdengar konyol dan aku menjawabnya,"dia punya mata dan kaki, lagi pula ini tempat umum." Andre tertawa lebar, sepertinya dia menertawakan pertanyaan nya sendiri.


"Maksudku, apa dia tidak punya rasa malu mendekatimu lagi, padahal dia kan sudah menceraikan mu?"


"Kenapa kamu mempertanyakan hal itu padaku? kenapa tidak kamu tanyakan langsung pada mas Surya sendiri?" aku menjawab nya dengan sedikit ketus karena sudah dua kali dia bertanya yang seharusnya pertanyaan itu di tujukan pada mas Surya bukan padaku. Andre menggaruk tengkuknya dan tersenyum nyengir serta bergumam," yah, salah lagi."


Aku geleng - geleng kepala kemudian beranjak pergi menuju parkiran dan andre mengekor di belakang ku. Setelah tiba di parkiran, aku melihat mas Surya dan Ipah serta kedua anaknya sedang berdiri di parkiran motor yang tempatnya bersebelahan dengan parkiran mobil hanya di batasi oleh tali tambang saja, mereka pun menyadari keberadaan ku. Ketika mas Surya hendak menyambangi ku, Ipah lebih dulu mencekal lengan nya dan terlihat Ipah melotot tajam padanya.


Kemudian Andre datang sembari menggendong Zain, Andre sendiri menyadari keberadaan keluarga mas Surya yang berada tidak jauh dari parkir mobilnya dan berkata," oh, ketemu mereka lagi rupanya. Ternyata memang benar ya kalau dunia ini sebesar daun kelor, rasanya mudah sekali menemukan mereka."


"Bukan dunianya yang sebesar daun kelor tapi taman ini," ucap ku dengan sedikit kesal kemudian membuka pintu mobil lalu menaikinya. Andre tersenyum mendengar jawabanku kemudian dia memberikan Zain padaku karena dia hendak menyetir mobilnya. Aku melihat melalui kaca mobil, mas Surya serta Ipah masih memperhatikan kami hingga Andre melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.


Dalam perjalanan, otak ku terngiang kembali pada ucapan mas Surya tentang nama pria yang aku sebut namanya di malam pertama kami. "Raihan!" gumam ku dalam hati, aku menyebut nama Raihan dan seketika aku merasa merindukannya. Apa tanpa aku sadari aku memang sudah menyukai Raihan sejak dulu? pertanyaan itu terlintas di pikiranku karena saat ini pun aku masih saja belum bisa melupakannya padahal sudah berjalan hampir lima bulan aku tidak pernah lagi mengetahui kabar tentang Raihan. Jika Raihan tau bahwa aku sudah bercerai dengan mas Surya seperti yang dia inginkan apa dia akan merasa senang? pemikiran itu pun terlintas di pikiranku, namun sayangnya dia tidak mengetahuinya dan aku tidak tau dimana keberadaanya. Apa dia hanya ingin fokus kuliah saja agar segera lulus dan bisa mendapat kan pekerjaan yang lebih baik dan setelah itu, dia datang padaku memberikan surprise padaku? Aku tersenyum membayangkan hal itu terjadi, Raihan datang dan..!


"Nampak nya ada yang sedang senang setelah bercerai!"


Perkataan Andre membuyarkan lamunanku, aku terperangah dengan wajah bengong ku menoleh pada Andre yang sedang menyetir dan bertanya," kamu bicara apa Dre tadi?"


"Oh, tidak Nuri, aku hanya ingin mengingatkan awas itu Zain terjatuh." Andre beralasan. Aku menunduk ternyata Zain tertidur di pangkuanku, kepalanya miring ke kanan. Kemudian aku segera membetulkan letak kepalanya.


"Nuri..!" panggil Andre. aku menoleh dan bertanya," kenapa Dre?"


"Setelah ini, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Andre seperti sebuah pertanyaan yang penting untuk di jawab olehku.


"Mengurus surat perceraian karena aku ingin bercerai sah secara negara juga."


"Agar kamu mudah menikah lagi bukan?" tanya Andre dengan nada meledek.


Aku melirik malas dengan ekor mataku dan berkata," aku belum memikirkan hal sejauh itu!"


Andre tertawa lebar kemudian bertanya kembali." lantas apa rencana mu selanjutnya?"


"Kamu seperti wartawan saja Dre, bertanya terus dari tadi. kamu tau, sampai tenggorokan ku kering menjawab pertanyaan mu."


"Masa sih, tapi rasanya aku baru mengajukan dua pertanyaan lho!"


Aku tidak lagi menimpali ocehan Andre melainkan memejamkan mataku, namun tangan jail Andre menarik hidungku sambil berkata,"Jangan pura pura tidur Nuri, kamu tak sopan mengabaikan lawan bicaramu." Aku menepis pelan lengannya karena perbuatannya membuatku sulit bernafas.

__ADS_1


"Kamu hampir saja membunuhku Dre!" Aku protes kemudian wajah ku tekuk karena kesal padanya.


"Sorry sorry..!"


Aku tidak menghiraukan permintaan maaf Andre yang sok ke inggrisan itu, pandanganku tetap mengarah ke depan.


"Kamu makin menggemaskan saja kalau lagi cemberut gitu Nuri." Andre menggodaku mungkin agar aku melirik pada nya tapi sayangnya gombalannya tidak aku hiraukan.


Sebuah tepukan mendarat di bahuku, aku membuka mataku ternyata Andre membangunkan aku yang tertidur sepanjang jalan.


"Sudah sampai di rumah nyonya Nuri," ucap nya sembari membuka sabuk pengaman di perutnya.


Rasa lelah hati, pikiran serta fisik membuat aku tertidur sepanjang perjalan pulang, entah berapa lama aku tertidur karena setelah tersadar aku sudah berada di depan rumahku. Andre mengambil alih Zain dari tanganku agar memudahkan aku keluar dari dalam mobil. Zain sendiri masih tertidur, mungkin dia pun merasakan lelah juga habis bermain sepanjang hari di taman rekreasi.


"Nuri, Zain ku letak kan dimana?" Andre bertanya padaku yang kesadaran ku belum seratus persen.


"Letak kan saja di kamar ku Dre!" ucap ku sembari berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum karena tenggorokanku rasanya haus sekali. Setelah minum aku berjalan ke arah kamar dan memasukinya, ku lihat Zain sedang tidur di atas kasur kemudian aku membuka hijab ku dan menggerai rambut panjang ku karena rasanya gerah sekali dan ketika aku berbalik aku menubruk sosok tubuh Andre yang sedang berdiri di hadapan ku entah sejak kapan dia berada di kamarku. Sontak saja aku terkejut, Andre menatapku tanpa kedip aku pun terpaku karena terkejut dan gugup hingga aku melupakan bahwa aku tidak memakai hijab.


"Kamu cantik sekali Nuri!" ucap nya pelan. Aku mengerutkan dahi ku, dan seketika membulatkan mataku setelah tersadar bahwa aku tidak menggunakan hijab. Tubuh Andre segera ku dorong ke luar kamar namun dia menolak dan malah memeluk ku. Aku terkejut atas apa yang Andre lakukan padaku, dia memeluk tanpa ada rasa canggung sambil berkata," ijinkan aku memeluk mu Nuri, kamu tau aku rindu sekali dari dulu sama kamu." sejenak aku terhanyut atas ucapannya namun ketika aku teringat pada saat aku menangisi pernikahannya dengan mantan istrinya rasanya ke percayaan ku pada Andre mengikis. Aku segera mendorong kuat tubuh besarnya hingga dia terdorong ke belakang namun tidak sampai terjatuh.


"Aku tidak suka kamu main peluk aku Dre, jangan samakan budaya sini dengan budaya luar," ucap ku dengan nada tinggi. Andre mengusap wajahnya dengan kasar lalu berkata,"im sorry, aku khilaf." Kemudian dia beranjak keluar kamar.


Aku menghela nafas kesal, kemudian memakai jilbab ku kembali dan keluar kamar menemui Andre. Terlihat Andre sedang duduk di atas sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


"Apa kamu mau aku buat kan kopi atau air dingin?"Andre mendongak mendengar tawaran ku.


"Air dingin saja Ri, gerah," pintanya, aku manggut manggut kecil kemudian bergegas pergi menuju dapur.


Setelah aku selesai membuatkan jus jeruk, aku segera menemui Andre namun terdengar Andre sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon. Aku menghentikan langkah ku karena takut mengganggunya.


"Kapan kau pulang ke rumah mu little bro? apa kamu tidak rindu dengan ibumu?"


"Wah, hebat sekali kamu bos, bisa buka cabang lagi, keren."


"Kapan syukuran nya? oh, okey okey, aku usahakan datang demi bos kecil ku ini ha ha ha!"


Dalam hati aku bertanya dengan siapa Andre berbicara? mereka terlihat akrab sekali. Entah kenapa rasa penasaran tiba tiba hinggap di pikiranku untuk mengetahui siapa orang yang sedang berbicara dengan Andre.


Setelah Andre menutup telponnya aku melanjutkan langkahku mendekatinya lalu meletak kan jus jeruk serta cemilan di atas meja tepat depannya.


Andre tersenyum melihat jus jeruk segar telah tersedia di meja." terima kasih Nuri cantik dan baik hati," ucapnya, kemudian dia meneguk jus itu hingga menyisakan seperempatnya.


"Apa kamu haus banget ya Dre?" aku bertanya sembari menurunkan pinggulku menduduki sofa berhadapan dengannya.

__ADS_1


"Banget Nuri!" jawabnya sambil tersenyum dan pandangannya tak lepas dari wajahku. Aku sendiri sedikit risih di tatap demikian olehnya.


__ADS_2