
Aku mematut diri di cermin besar yang ada di dalam toilet. Ku perhatikan penampilan ku mulai dari ujung kepala sampai batas pinggang nampak sudah rapih seperti semula.
Setelah merasa penampilanku sudah sempurna aku berjalan akan meninggalkan toilet. Namun ketika aku hendak membuka pintu tanpa sengaja ekor mataku melirik ke arah sepasang high heel yang masih tergeletak di atas lantai.
"Apa aku bawakan saja keluar siapa tau orangnya ada di luar."Monolog ku. Namun aku berpikir ulang bagaimana jika wanita itu sudah tidak ada di luar lalu kemana aku harus memberikan high heel itu nanti. Setelah menimang nimang akhirnya aku memilih untuk membiarkannya saja lalu meneruskan langkahku keluar dari toilet itu.
Ketika aku sudah kembali ke seasonal taste dan dari jarak jauh aku melihat Raihan sedang berbicara serius dengan seorang wanita yang wajahnya tidak nampak dengan jelas. Namun jika ku perhatikan dari pakaian yang sedang di gunakan olehnya rasanya aku tau siapa wanita itu. Dia seperti wanita yang ketakutan melihatku di dalam toilet tadi.
"Siapa wanita itu? Apa Raihan mengenal nya?" Gumam ku.
Sempat aku berpikir untuk mengambil kan high heel yang dia tinggalkan begitu saja selagi orangnya ada apalagi Raihan mengenalnya. Namun sebelum aku memutar badan untuk kembali ke toilet wanita itu lebih dulu beranjak pergi tanpa menggunakan alas kaki.
Setelah kepergian wanita itu dari seasonal taste aku berjalan ke arah dua pria yang sedang menungguku. Raihan melirik ku lalu memberikan senyuman manisnya dan aku pun membalasnya."Sudah sayang?" Tanya nya ketika aku akan menduduki kursiku.
"Sudah." Jawab ku lalu melirik pada mangkok bubur Zain yang sudah kosong.
"Lho, buburnya sudah habis, nak."
"Iya mba, Zain sudah ku suapi tadi." Bukan Zain yang menyahut melainkan Raihan.
Aku melirik ke arahnya." Makasih ya Rai, aku merepotkan kamu terus."
"Siapa yang merepotkan dan siapa yang di repotkan? aku ini calon suami mba dan akan menjadi ayah sambung Zain. Please deh, mulai sekarang jangan lagi bicara merepotkan dan merepotkan. Aku tidak ingin mendengar kata itu lagi keluar dari mulut mba." Raihan berucap panjang lebar. Jika dilihat dari raut wajahnya dia nampak kesal.
Aku tersenyum melihat wajah cemberut nya. Calon suami muda ku ini nampak imut sekali jika memasang wajah demikian."Okey deh, aku tidak akan bicara seperti itu lagi."
"Nah gitu dong, ya sudah makan dulu gih." Titahnya sembari tersenyum senang.
"Rai.." ucap ku di sela sela makan.
"Kenapa sayang?"
"Apa kamu kenal dengan wanita tadi?"
Raihan nampak mengerutkan dahinya."Wanita yang mana maksud mba?" Dia balik bertanya.
"Wanita tadi yang bicara sama kamu mba."
__ADS_1
"Ooh." Raihan mengangguk."Apa mba melihat kami ngobrol?"
"Secara tidak sengaja aku melihat nya."
"Apa mba cemburu?"
Aku menggeleng pelan.
"Jangan cemburu sayang, Tante Meri itu sudah punya suami bahkan sudah punya anak perempuan seusia mba."
Aku terdiam mendengar Raihan menyebut nama wanita itu. Nama yang seperti nya sudah tidak asing di telingaku. Aku mencoba mengingat pemilik nama itu namun daya ingatan ku ternyata tidak dapat bertahan lebih lama atau cepat lupa.
"Kenapa bengong?"Raihan menyadarkan aku dari lamunan.
"Oh, maaf Rai."
"Mba kenapa sih?apa ada masalah?"
"Rai, apa aku boleh bertanya?" Aku balik bertanya.
"Tanyakan saja. Memangnya mba mau tanya apa?"
"Oh, mba jangan salah paham dulu ya?"
"Aku hanya ingin tau saja siapa Tante Meri itu?"
"Dia...mamanya...Nura." Ucap Raihan pelan dan hati hati. Mungkin dia takut aku cemburu jika menyebut nama mantan kekasih yang tak di anggapnya itu.
"Mama nya Nura?" Seketika itu pula pupil mataku sedikit membulat. Aku baru teringat Oma dokter bayu pernah memberitahu aku nama mama Nura sekaligus ibu tiri dokter Bayu. Pantas saja selain namanya yang sudah tidak asing di telingaku wajah nya pun pernah sekali ku lihat saat Raihan mengobrol dengan Nura serta orang tua nya di sebuah restauran.
"Iya sayang. Kamu tidak marah kan?" Tanya Raihan. Bukan soal cemburu atau marah yang sebenarnya ingin ku tanyakan pada Raihan melainkan keheranan ku pada wanita itu kenapa dia ketakutan melihatku.
Aku menggeleng cepat." Aku tidak marah dan juga tidak cemburu Rai. Aku hanya heran saja."
"Heran, heran kenapa mba?"
"Tadi saat aku..."
__ADS_1
"Mama, Zen mau itu!" ucap Zain di sela sela kami mengobrol serius sembari menunjuk pada suatu arah.
Aku dan Raihan menoleh ke arah yang di tunjuk olehnya."Oh, Zain mau mainan yang seperti punya kakak itu?"Tanya Raihan dengan lembut sembari menunjuk pada seorang balita yang sedang memainkan robot control di atas meja.
Zain mengangguk."Iya papa, apa bole?"
"Boleh dong. Sehabis sarapan kita beli okey." Kata Raihan menenangkan anak ku yang tidak biasanya meminta sesuatu karena selama ini Zain tidak pernah neko neko minta di belikan sesuatu padaku melainkan aku dan Raihan sendiri yang membelikan sesuatu untuknya.
"Rai, Jangan di manjakan dengan uang atau barang berlebihan aku takut Zain akan menjadi anak manja yang harus di turuti segala kemauannya."
"Selama mengenal Zain, baru kali ini Zain minta di belikan mainan mba. Selama ini kan kita saja yang membelikan nya tanpa tau mainan apa yang di inginkan oleh Zain sebenarnya karena kita membelikannya atas keinginan kita sendiri. Untuk kali ini biarkan saja Zain yang memilih sendiri apa maunya dia sayang."
Aku menelan saliva ku setelah berdebat kecil senang nya. Ternyata Raihan lebih pekak terhadap keinginan balita seusia Zain daripada aku. Padahal Raihan bukan siapa siapa Zain melainkan hanya calon papa sambungnya namun ternyata aku kalah perhatian.
Raihan mengajak aku serta Zain keluar dari seasonal tastes setelah kami menghabiskan sarapan kami.
"Kita ke butik dulu atau mencari mainan untuk Zain mba?" Raihan bertanya ketika kami sudah berada di dalam lif.
"Terserah kamu saja bagaimana baiknya Rai." Yang menginginkan sebuah pesta pernikahan adalah Raihan dan yang menginginkan membelikan robot untuk Zain adalah dia jadi aku ikut saja apa mau nya Raihan.
"Kita beli robot dulu dan setelah itu baru ke butik.
Aku mengangguk menyetujuinya.
Raihan membawa kami kesebuah pusat berbelanja namun bukan pusat belanja yang pernah aku singgahi sebelumnya melainkan ke sebuah mall yang berbeda.
"Kamu bawa kami ke mall, Rai?"Tanya ku setelah kami berada di area basemen untuk memarkirkan mobil raihan terlebih dahulu.
"Iya mba, maksudku agar sekalian saja kita mencari di tempat yang sama. Apa mba keberatan?"
Aku menggeleng cepat." Terserah kamu saja Rai."
"Kenapa sih mba terserah aku terus?"
"Karena kamu calon imam ku." Goda ku. Raihan nampak tersenyum lalu mengelus pucuk kepalaku. Setelah itu dia menggandeng lenganku memasuki mall yang nampak sangat besar.
Setelah berada di dalam mall itu kami memasuki sebuah outlet mainan anak-anak. Raihan meminta Zain untuk memilih bentuk robot seperti apa yang dia inginkan. Setelah mendapatkan mainan yang di inginkan Zain, Raihan membawaku ke sebuah butik yang nampak cukup besar.
__ADS_1
"Mas Raihan.."Sapa seorang karyawan pada Raihan setelah kami memasuki butik itu.
Ketika kami sedang bertegur sapa tiba tiba tiga orang wanita yang berpenampilan layaknya wanita modern memasuki butik yang sedang kami kunjungi. Aku sangat mengenal salah satu dari mereka yang tak lain adalah Nura mantan kekasih Raihan sekaligus wanita yang sudah menghina serta menyiram aku dengan mocktail di tempat umum. Namun beruntungnya tempat itu sedikit remang remang hingga tidak banyak pasang mata yang melihat ketika Nura menyiram ku.