Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Ipah oh Ipah


__ADS_3

Sore hari.


Aku terbangun dari tidur siang ku begitu pula dengan Zain yang terlihat lebih dulu terbangun lalu memainkan mainannya di dalam kamar. Ku lirik jam yang menempel di atas dinding ternyata waktu sudah memasuki sore hari dan aku bergegas bangun dan membiarkan Zain bermain sendiri.


Dengan sedikit berjalan sempoyongan aku melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh muka terlebih dahulu karena aku merasa mataku masih terasa lengket. Setelah membasuh muka aku mendengar seseorang sedang mencuci piring aku menoleh ke arah sumber suara itu dan ternyata bang Supri sedang berdiri di depan wastafel pencuci piring yang cukup menumpuk dan belum sempat ku cuci karena kedatangan mas Surya.


Semenjak sakit, bang Supri menjadi sosok kakak yang lebih baik, selain sikapnya yang tidak lagi tempramental pada ku dia juga kerap kali membantuku membersihkan rumah atau membantuku membuat kerupuk. Bang Supri sendiri tidak lagi bekerja di pabrik gula karena sudah di putus kontrak oleh pihak perusahaan. Dengan fisiknya yang sudah tidak lagi sekuat dulu pihak perusahaan merasa ragu untuk memperkerjakan nya kembali.


Meskipun demikian bang Supri mendapat kompensasi uang sebanyak tiga puluh juta dari pihak perusahaan dan aku memintanya untuk di tabung saja agar nanti setelah dia benar benar sembuh dari sakitnya bisa di gunakan untuk modal usahanya kelak dan bang Supri menyetujuinya.


Aku berjalan mendekatinya." Kenapa tidak di biarkan saja cucian nya, biar aku saja yang mencucinya."


Bang Supri menoleh ke arahku dan tersenyum." tidak apa apa Nuri, semakin aku banyak gerak semakin aku cepat sehat."


Aku tersenyum mendengarnya." Apa mas Surya sudah pulang?" tanyaku kemudian.


"Sudah, aku paksa pulang dia. Awalnya dia tidak mau pulang."


Aku mendengus kesal." Sudah jadi mantan pun sikap nya masih saja tidak berubah."


Bang Supri menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh ke samping." Aku perhatikan kamu sangat membenci si Surya, apa selama kamu menikah dengan si surya dia mengasari mu?" tanya nya kemudian. Bang Supri sendiri tidak tau bagaimana sikap mas Surya padaku, dia hanya beranggapan bahwa mas Surya suami yang baik dan sering memberikan uang banyak. Oleh karena itu, bang Supri kerap kali memalak ku ketika mas Surya pulang karena dia fikir aku banyak uang.


Aku mengangguk." Sangat sering," jawabku.


"Aku pikir dia suami yang baik dan mencukupi kebutuhan mu Nuri."


"Kalau dia suami yang baik dia tidak akan membohongiku bang, Abang juga tidak akan melihat aku berpakaian lusuh."


"Maksudmu membohongimu bagaimana Nuri?"


Aku menceritakan bagaimana mas Surya padaku, mulai perlakuannya hingga nafkah yang dia berikan padaku selama aku menjadi istrinya tanpa aku tutup tutupi dari pada bang Supri.


"Apa Nuri...selama ini si Surya hanya memberi mu nafkah lima ratus ribu dari gaji dia delapan juta lima ratus?" tanya bang Supri dengan wajah terkejutnya.


Aku mengangguk.


"Dan selama itu kamu tidak protes sama si Surya?"


"Karena selama itu dia tidak pernah memberi tahu berapa gajinya dan dia mengaku sisa uangnya untuk membayar hutang bekas biaya pernikahan kami."

__ADS_1


"Ya ampun Nuri, aku saja yang hanya bergajih tiga juta hanya memegang tiga ratus ribu untuk beli bensin dan sisanya ku berikan semua sama si Yati. Kok tega sekali si Surya itu sama kamu. Aku pikir selama ini dia memberimu uang banyak."


"Tapi kenyataan tidak demikian. Sudah lah bang jangan ngebahas mantan ku lagi bikin pusing kepalaku."


Bang Supri tersenyum lalu melanjutkan lagi mencuci piringnya.


Ketika sedang bersantai aku membuka sosial media ku yang sudah tiga minggu tidak aku buka. Setelah terbuka kabar pertama yang muncul di berandaku adalah deretan status galau Ipah Saripah istri mas Surya. Dengan perasaan kepo aku membuka profil Facebooknya. Terdapat banyak sekali status galau dan sindiran yang ditujukan dan ku yakini untuk mas Surya.


Aku tersenyum saja membacanya dengan tidak ada rasa malunya dia curhat masalah pribadinya ke dunia maya seolah olah Facebook adalah teman curhatnya. Apa dia lupa kalau curhatan serta sindirannya di baca oleh ribuan pengguna Facebook termasuk aku? Apa dia tidak malu padaku aib rumah tangganya aku ketahui? memang dasarnya tak berotak dan memalukan sekali.


Dalam hati aku berkata, begitulah jika mendapatnya dengan cara merampas tidak akan bahagia pada akhirnya. Namun dibalik semua itu, aku bersyukur dan berterima kasih pada Ipah karena berkat dia telah merampas mas Surya dariku, aku jadi terbebas dan tak ada lagi tekanan lahir bathin yang aku rasakan.


Setelah itu, aku membuka pesan inbox, ternyata banyak sekali pesan yang masuk salah satunya dari Andre.


"Kamu kemana Nuri? kenapa rumah mu sepi? lima kali aku bolak balik ke rumahmu tapi kamu tidak ada."


Ku perhatikan tanggal kirim pesannya ternyata tanggal dimana saat aku berada di rumah sakit selama satu Minggu. Kemudian aku pun membalasnya.


"Maaf Dre, aku sedang merawat kakak ku yang sedang sakit."


Ku tunggu balasan chat darinya tapi setelah sepuluh menit menunggu tidak ada balasan, mungkin Andre sedang offline.


Dalam hitungan menit foto ku sudah di gandrungi puluhan komentar baik komentar dari orang orang yang ku kenal maupun yang tidak ku kenal. Semua komentar rata rata memuji kecantikan ku terutama dari beberapa pemilik akun laki laki.


Ada puluhan komentar yang memuji kecantikan ku namun ada satu komentar yang mencuri perhatianku karena dia satu satunya pengguna akun yang mengomentari hanya berupa emoticon kesal saja bukan dengan kata kata pujian seperti lainnya. Aku penasaran pada akun facebook yang bernama Anonymous itu kemudian aku membuka profilnya namun aku tidak menemukan apa apa di sana akunnya pun seperti di kunci. Kemudian ada beberapa pesan inbox masuk lalu aku pun membacanya. Deretan kata pujian dari beberapa orang telah masuk di pesan inbox ku namun ada satu pesan yang sepertinya merasa kepanasan.


"Jangan merasa sok kecantikan deh kamu. Kasihan deh, sudah di ceraikan oleh mas Surya sekarang malah mempromosikan diri di Facebook. Kenapa?di dunia nyata tidak laku ya? ha ha ha."


"Ipah oh Ipah," gumam ku. Aku geleng-geleng kepala saja membacanya. Aku heran, kebenciannya padaku sudah melebihi kronis bahkan sudah akut. Padahal dia sudah mendapatkan apa yang dia mau tapi masih saja membenciku. Apa memang dasarnya penyakit hati nya sudah tidak bisa di obati lagi sehingga dia terus saja memusuhiku. Aku sendiri sudah tidak mau tahu dan tidak ingin berurusan lagi dengannya atau pun dengan mas Surya tapi kenapa dia sepertinya yang ingin terus menerus berurusan denganku. Ingin ku abaikan saja tapi rasanya tanganku ini gatal ingin membalasnya.


"Bukannya sok kecantikan tapi memang sudah dasarnya cantik dari lahir jadi cantik nya tidak akan luntur bukan karena cantik di tutupi make up tebal satu inchi terus kalau kena air meluntur, setelah luntur berubah jadi nenek sihir yang menakutkan." Aku selipkan emoticon tertawa terbahak bahak.


Sebelum dia membalas ledekan ku aku mengirim pesan kembali.


"Oya, hampir lupa. Jagain itu suaminya jangan sampai tergoda lagi sama mantan istrinya yang sok cantik ini. Tau tidak sih, kemarin saja dia bilang ingin balikan lagi. Tapi jangan khawatir mba, aku sudah menolaknya mentah mentah karena aku pikir ngapain mungut barang bekas sementara pria tampan dan juga mapan sedang mengantri untuk di terima cintanya. Mba masih ingatkan sama pria tampan yang membuat mulut mba terbuka lebar karena saking terpesona? nah itu salah satunya. Tapi masih ada lagi lho yang lebih tampan dan juga mapan tapi sepertinya tidak usah aku publish soalnya aku takut mba terserang jantungan dadakan kalau melihatnya."


Aku segera menutup akun Facebook ku kembali, entah dia membalasnya atau tidak aku tidak tau. Aku sendiri sengaja memanasinya seperti itu agar dia lebih protektif lagi pada mas surya sehingga dia tidak lagi menggangu hidupku.


Baru saja aku keluar dari akun Facebook, sebuah pesan chat dari Raihan masuk dan aku membacanya.

__ADS_1


"Aku cemburu."


Aku mengernyitkan dahi ku membaca pesan darinya karena aku tidak mengerti apa maksud Raihan.


"Cemburu kenapa sih Rai? aku tidak mengerti."


"Cemburu sama pujian dari berbagai lelaki."


"Maksudnya apa sih aku tidak mengerti."


"Wajah mba cukup aku saja yang menikmatinya tidak boleh di nikmati oleh pria mana pun."


Aku berpikir keras untuk mencerna apa maksud yang di katakan oleh Raihan namun otak ku tidak sampai ke arah sana.


"Jangan mengutarakan kalimat ambigu dan membuat aku pusing mencari tau apa maksudnya Rai, to the point saja kenapa sih!" Aku mulai kesal.


Raihan membalas lagi namun dengan emoticon tertawa dan membuat aku makin kesal saja dibuatnya.


"Nuri.." panggil bang Supri dan dia berjalan ke arahku yang sedang duduk di atas sofa sembari membawa lima paper bag hasil shopping di pasar.


Aku mendongak." Kenapa bang?"


"Ini semua untuk aku Nur?" tanya nya, kemudian duduk dan meletak kan lima paper bag itu di atas meja.


"Iya, memang kenapa? Abang tidak suka?" aku balik bertanya.


"Bukan...bukan begitu, tapi apa tidak kebanyakan Nuri?ini banyak sekali kamu beli pasti tidak cukup dengan uang satu juta."


Aku tersenyum."Tidak apa apa bang, aku ikhlas. Lagi pula Abang kan sering bantu aku membuat kerupuk."


"Tapi apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan padaku Nuri, Kalau tidak ada kamu mungkin aku sudah mati."


"Bang..."


Terlihat bang Supri mengeluarkan air matanya. Dia menangis dan baru kali ini aku melihatnya menangis.


"Kamu tau Nuri, selama aku menikah dengan ipah, aku hanya bisa membeli baju satu potong dalam dua tahun. Karena aku tidak mau Ipah merasa kekurangan atas uang yang aku berikan tiap bulan padanya. Aku tidak masalah asal Ipah bahagia berumah tangga denganku. Tapi sekarang aku sedih Nuri, selama aku sakit seperti ini dia yang selalu aku manjakan tidak pernah menjenguk ku. Sementara kamu adik yang aku sia sia kan selama ini adalah orang yang paling tulus menolong ku."


Bang Supri mengungkapkan perasaannya di tengah tengah tangisannya, kasihan sekali melihatnya. Nasibnya berkebalikan dari nasibku. Bang Supri dengan suka rela memberikan hampir semua gajinya pada sang istri demi ingin melihat istrinya bahagia sekalipun dia tidak bisa membeli pakaian untuknya namun istrinya bersikap masa bodoh padanya. Sementara aku sendiri tidak bisa membeli pakaian karena nafkah yang tak layak aku dapatkan dari mantan suamiku dan sikap masa bodohnya padaku.

__ADS_1


__ADS_2