
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam akhirnya kami tiba di depan rumah orang tua mas Surya. Dari dalam mobil nampak orang tua, kedua adik mas Surya dan para suaminya sedang mengobrol di teras rumah. Ke enam orang itu menoleh ke arah mobil kami yang terparkir tepat di hadapan mereka. Ini merupakan ke tiga kalinya aku mengunjungi rumah mantan mertuaku karena selama masih menjadi istri mas Surya aku hanya pernah berkunjung dua kali saja, pada saat baru pertama menikah dan ulang tahun anak Elis adik bungsu mas Surya. Bukan tanpa alasan aku sangat jarang mengunjungi mantan mertuaku, sebab, mereka tidak menerima kehadiran ku dan anak ku.
Dimata orang tua serta kedua adik mas Surya aku adalah wanita matrealistis karena pada saat pernikahan kami, ibu dan abang pertama ku meminta uang tiga ratus juta dengan alasan uang itu sebagai mahar yang aku inginkan di pernikahan kami padahal aku sendiri tidak tau mengenai mahar dan mas Surya sendiri tidak bicara apa apa padaku.
Aku sendiri baru mengetahui ketika mas Surya marah lalu menceritakan tentang uang itu padaku. Aku berpikir pantas saja sejak awal pernikahan kami keluarga mas Surya sudah menunjukan sikap ketidaksukaan nya padaku ternyata penyebabnya adalah tentang uang tiga ratus juta yang mana uang itu hasil dari menjual kebun dan beberapa petak sawah. Dan gara gara uang itu anak ku Zain menjadi korban kebencian mereka.
Setelah mengetahui penyebab sikap mereka yang tidak pernah menyukaiku, aku menjadi merasa bersalah karena gara gara ibu serta bang Supra mereka kehilangan sebagian hartanya. Sering kali aku berkhayal memiliki uang tiga ratus juta, aku ingin sekali mengganti uang mereka yang telah di ambil oleh keluargaku agar mereka tidak terus menerus membenciku terutama membenci Zain karena walau bagaimana pun Zain adalah cucu mereka dan aku ingin sekali mereka menyayangi Zain sama seperti menyayangi cucu nya yang lain termasuk anak anak Ipah.
Sebelum turun dari mobil aku menghela nafas panjang dan mengucapkan bismillah. Aku berharap anak ku Zain berada di rumah ini.
Mereka nampak tercengang melihat ke arah kami yang baru saja turun dari mobil. Aku tidak tau apa yang membuat wajah mereka seperti itu. Entah karena mereka terkejut melihat kedatangan seorang mantan menantu yang sangat jarang sekali datang namun tiba tiba datang, entah karena pria tampan di sampingku atau mobil mewah yang kami tumpangi.
Aku dan dokter Bayu saling pandang kemudian berjalan beriringan mendekati mereka yang sudah berdiri secara serempak.
"Assalamualaikum ibu, bapak dan semuanya!" sapa ku. Selain salam, aku juga memberikan senyuman hangat pada mereka.
"Wa'alaikum salam."Dari enam orang itu hanya Danu suami adik kedua mas Surya yang menjawab salam ku. Sementara yang lainnya hanya diam bahkan ada pula yang menatap sinis ke arah kami.
"Mba...Nuri!" ucap Danu pelan, aku tersenyum tipis saja padanya.
"Bagaimana kabar ibu bapak serta yang lainnya sehat?"
"Tidak usah basa basi langsung pada intinya saja, mau apa kamu tumben tumbenan datang kemari? tanya mantan ibu mertua padaku, lalu dia mengalihkan pandangannya pada dokter Bayu dan menelisiknya dari bawah hingga atas."Oh, apa kamu mau pamer kalau kamu sudah dapat pengganti laki laki melebihi si Surya? pantas saja kamu minta cerai sama si Surya, habis manis sepah dibuang. Sudah morotin duit si Surya sampai habis terus sekarang kamu tinggalin begitu saja demi laki laki kaya dan lebih muda ini." Tuduhan yang mengandung unsur fitnahan itu cukup membuat aku kesusahan menelan saliva ku. Aku yakin mas Surya pasti sudah bicara mengada ngada pada keluarganya dan percaya saja padanya.
Aku melirik dokter Bayu, nampak dia menyipitkan kedua matanya. Aku merasa tak enak hati padanya, dia yang tidak tau apa apa harus terseret ke dalam masalah rumah tanggaku yang sudah bubar.
"Maaf Bu, Seperti nya saya harus meluruskan mengenai masalah perceraian kami agar ibu tidak sembarangan bicara dan menuduh orang lain penyebab saya minta cerai sama mas Surya. Saya mengenal dokter Bayu ini baru beberapa hari saja Bu dan jauh setelah saya bercerai dengan anak ibu. Ada pun masalah saya meminta cerai pada mas Surya bukan karena laki laki tapi wanita mana sih yang mau di poligami? Setelah tau di poligami apa saya salah kalau minta di cerai kan?"
"Halah, laki laki berpoligami itu hal yang wajar dan itu termasuk salah satu ibadah. Nabi saja banyak istrinya,"balas mantan bapak mertua dengan ke sok tahuannya mengenai poligami.
__ADS_1
"Oh, jadi menurut bapak poligami itu hal yang wajar?ya mungkin wajar untuk laki laki tapi tidak untuk perempuan."
"Apa kamu tidak tau kalau pahala menerima suaminya berpoligami itu sangat besar?"dengan entengnya mantan bapak mertuaku berkata demikian.
"Oh, pahala nya besar? benar kah pak? kalau begitu saya tanya sama ibu, apa ibu mau dapat pahala besar tapi bapak menikah lagi?"Dia tidak menjawab pertanyaan ku melainkan melotot tajam pada suaminya dan membuat pria ubanan itu menciut seketika. Dari raut mukanya saja aku sudah bisa menebak bahwa mantan ibu mertuaku itu tidak suka pada ucapan suaminya yang berpikiran kurang waras.
Kemudian ku alihkan pandanganku pada kedua adik perempuan mas Surya."Dan sekarang aku tanya sama kalian berdua, apa kalian mau di poligami oleh suami suami kalian ini?"tunjuk ku pada dua pria yang sedang berdiri berdampingan dan mereka saling pandang.
Kedua adik mas Surya nampak terkejut mendapat pertanyaan dari ku secara tiba tiba, namun tak lama kemudian adik pertama mas Surya menjawabnya.
"Ogah banget lah, siapa yang mau kasih sayangnya dibagi, batangnya di bagi, uang nya di bagi pula." Lalu dia melirik pada suaminya."Awas saja kalau kamu berani kawin lagi, aku tidak akan segan segan untuk memotong anu kecil mu itu biar sekalian tidak punya anu,"ancamnya dengan mata melotot dan suaminya nampak bergidik.
"Ha ha ha." Danu tertawa terbahak."Serius bang anu mu kecil? ternyata badan gede belum tentu anu nya gede juga ya, aku pikir anu mu gede banget bang, ha ha ha,"ejek Danu di sela sela tawanya.
Ledekan Danu membuat suami dari adik pertama mas Surya merasa malu dan menatap kesal pada istrinya.
"Kamu ini sembarangan saja kalau ngomong. Biar dikata anu ku kamu sebut kecil tapi kamu sering minta nambah dan bikin kamu ketagihan kan? walau pun kamu meledek ku seperti itu aku masih setia sama kamu, terkecuali kalau...."
Kemudian dia mengalihkan pandangan nya ke arah mantan ibu mertua ku."Bu, kalau bapak kawin lagi kebiri saja biar tau rasa." Setelah berkata dengan kesal dia masuk ke dalam rumahnya.
"Iya Bu, aku setuju sama kak Nani kebiri saja anu nya bapak kalau dia mau coba kawin lagi," kata Siti menyetujui. Mantan bapak mertuaku terlihat melongo kedua putrinya menyarankan pada istrinya untuk mengkebiri dirinya jika nikah lagi.
"Dan kamu Danu awas saja kalau mengikuti omongan bapak,"sambung Siti dengan nada mengancam suaminya.
"Jangan samakan aku dengan pemikiran bapak sit, kalau aku mau kawin lagi paling aku nunggu kita cerai dulu,"kata Danu terlihat santai.
"Apa maksudmu cerai Danu? jadi kamu sudah punya rencana untuk menceraikan aku?"tanya Siti dengan emosi yang mulai meluap.
"Aku tidak punya rencana cerai sama kamu sit, tapi itu bisa saja terjadi sewaktu waktu. Siapa juga yang tahan sama istri cerewetnya kayak kaleng rombeng," ledek Danu, muka siti menekuk seketika, dia nampak marah sekali.
__ADS_1
"Apa kamu bilang, aku kayak kaleng rombeng? apa kamu..."
"Sudah..sudah!" mantan ibu mertuaku menengahi perdebatan Danu dan istrinya lalu siti terdiam.
"Semua nya gara gara omongan mu pak, anak anak jadi bertengkar,"kata mantan ibu mertuaku pada suaminya, dia nampak kesal sekali.
"Kok kamu nyalahin aku? salahin mantan menantu kamu itu karena dia yang mulai," tunjuk mantan bapak mertua padaku. Aku mengerutkan dahi ku telah di salahkan oleh nya dan dalam hati aku mengumpat kesal.
Di tengah perdebatan, sebuah motor metik datang dan parkir di samping mobil dokter bayu. Nampak Elis adik bungsu mas Surya dan satu satunya keluarga mas Surya yang baik padaku beserta anaknya turun dari motor itu.
"Lho, ada mba Nuri!"sapa Elis sembari berjalan ke arah ku. Senyum pun tersungging di bibirnya, lalu aku membalas senyumannya. Aku bersyukur bertemu dengan nya, setidak nya aku bisa berbicara dengan satu satunya keluarga mas Surya yang bisa dikatakan lebih waras dan nyambung.
"Elis! aku balik menyapa, lalu kami saling berpelukan.
Setelah berpelukan, Elis melirik ke arah dokter Bayu.
Kalau mas ini.....!" Elis menelisik dokter Bayu dengan kalimat yang menggantung.
"Oh, ini temanku, kenal kan namanya dokter Bayu.''
"Oala, pak dokter to, tapi teman apa teman?" goda Elis, sebelah matanya di kedip kedip kan ke arahku.
Dokter Bayu tersenyum lalu menunduk. Aku membulatkan pupil mataku melihat Elis. sementara Elis hanya tertawa kecil saja melihat ekspresi ku.
"Lebih dari teman pun tidak apa apa mba, aku dukung lho, toh mba kan sudah jadi wanita single Sekarang, mba juga berhak bahagia lho."
"Ehmm Lis, apa kamu tau keberadaan mas Surya?"aku bertanya sekaligus mengalihkan pembicaraan karena aku tidak enak hati pada dokter bayu jika di goda terus menerus oleh Elis.
"Wah, memang nya ada apa mba? tumben tumbenan mencari mas Surya kemari?"Elis balik bertanya.
__ADS_1
Aku menceritakan tentang hilangnya Zain pada Elis sampai aku mencurigai bahwa yang membawa Zain adalah mas Surya. Elis nampak terkejut, dia bilang dia sempat bertemu dengan mas Surya tiga jam yang lalu dan membawa Zain. Namun saat Elis menanyakan tentang Zain, mas Surya mengaku sudah mendapat ijin dariku untuk membawanya. Dan yang membuat aku terkejut adalah Zain sudah di bawa ke Jakarta oleh mas Surya.