Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Membuat kerupuk


__ADS_3

Ku hampiri ibu yang masih asik menonton film sinetron favoritnya di ruang TV. Ku lihat dia menonton sambil merebahkan tubuhnya di karpet. Sesekali ibu menyeka air matanya sambil matanya tak lepas dari layar TV. Aku heran kenapa ibuku menangis? Setelah ku perhatikan layar TV ternyata, film sinetron yang sedang di tonton nya lah yang membuat dia menangis. Aku hanya menggelengkan kepala melihat ibuku yang ternyata seorang baperan alias bawa perasaan.


"Ibu...!"aku memberanikan diri memanggilnya untuk membantuku membuat kerupuk di dapur meskipun aku tau pasti akan mendapat semprotan karena aku telah mengganggunya yang sedang asik menonton sinetron favoritnya. Kemudian, Ibu melirik ke arahku.


"Mau apa?" tanya ibu dengan mata yang di besarkan.


"Bantu aku buat kerupuk Bu, biar cepat selesai," Ucapku.


Ibu langsung menegak kan tubuhnya dan menatap serius ke arahku.


"Kamu berani nyuruh ibu? kamu kan tau aku sedang apa? film ku saja belum selesai. Sudah sana kamu saja duluan yang bikin. Nanti aku nyusul kalau film ku sudah habis."


Benar dugaan ku. Ibu akan mengomeli ku. Tanpa menyuruhnya lagi aku langsung beranjak pergi dari ruang TV. Terserah ibu saja mau bantu aku apa tidak. Toh meskipun membantu tidak banyak yang dia lakukan hanya menyuruh nyuruh ku saja, sama saja halnya dengan aku membuat kerupuk sendiri tanpa ada yang membantu.


Sudah tiga jam lamanya aku berkutat di dapur membuat kerupuk sendirian. Hening, aku tidak lagi mendengar suara ibu yang kadang kadang mengoceh sendiri. Aku penasaran lalu aku berjalan ke ruang TV ternyata ibuku sudah tertidur di atas karpet depan TV. Aku menghela nafas lalu kembali lagi ke dapur untuk melanjutkan membuat kerupuk. Rasa kantuk mulai menyerang kedua mataku. Namun, ku tahan saja agar proses pembuatan kerupuk selesai malam ini supaya besok pagi bisa langsung di jemur.


Aku tersenyum senang, akhirnya proses membuat kerupuk selesai dalam waktu lima jam. ku lirik jam yang menempel di dinding dapur sudah menunjukan pukul dua malam. Aku segera merapikan bekas membuat kerupuk yang terlihat acak acakan. Setelah itu, aku segera membersihkan diri di kamar mandi sebelum masuk ke kamarku.


Aku berjalan melewati ruang TV. Ku lihat ibu masih tertidur terlentang di atas karpet. Ingin rasanya membangunkannya agar dia pindah ke kamarnya. Namun, aku takut dia akan mengomeli ku lagi. Aku biarkan saja dia tidur di depan TV toh alas tidurnya bukan tikar tipis melainkan karpet tebal yang aku beli dengan harga tujuh ratus ribu saat Zain masih delapan bulan dalam kandungan. Aku butuh karpet itu karena aku akan memiliki seorang bayi. Aku membelinya memakai uang simpanan ku sendiri karena pada saat itu aku masih bekerja hingga usia kehamilanku memasuki empat bulan. Aku memutuskan untuk berhenti kerja karena aku mengalami mabok parah. Sering sakit bahkan sering pingsan di tempat kerja. Selain itu aku juga jarang masuk kerja sehingga membuat aku merasa malu pada atasanku serta rekan rekan kerja karena sering sekali membolos.


Aku masuk ke dalam kamarku namun aku merasa pikiran ku tidak tenang membiarkan ibuku tidur di luar. Aku keluar kamar lagi dan memberanikan diri untuk membangunkannya. Aku memanggil nama ibu berulang kali namun ibu tidak goyah goyah. ku guncang tubuhnya tetap saja tidak mau bangun. Akhirnya aku lelah sendiri dan membiarkannya saja tidur di depan TV.

__ADS_1


Sebelum aku kembali ke kamarku. Aku masuk ke kamar ibuku terlebih dahulu untuk mengambil selimut. Setelah itu, tubuh ibu ku tutupi dengan selimut miliknya karena aku takut dia akan masuk angin. Se kesal kesalnya aku pada sikap ibu yang tidak pernah adil padaku, dia adalah tetap ibu ku. Seorang ibu yang harus aku hormati dan aku sayangi.


Suara Adzan berkumandang. Aku mengejapkan kedua mataku perlahan lalu aku terduduk di kasur. Ku lihat Zain masih tidur pulas dengan posisi menempel di tembok. Ku biar kan saja yang penting tidak berada di tepi kasur. Setelah itu, aku bergegas keluar dari kamar ku untuk mengambil air wudhu. Ku lihat ibu masih tidur di depan TV. Selimut yang ku pasang semalam sudah terlepas dari tubuhnya. Baru hendak memasang nya kembali ibu menggeliat. Aku mengurungkan niat ku karena aku takut ibu akan marah jika di ganggu.


Pagi harinya saat aku sedang bolak balik keluar masuk rumah membawa penampi berisi kerupuk basah hasil buatan ku tadi malam untuk di jemur, ibu berteriak memanggilku. Aku segera meletak kan penampi di atas bunga pagar lalu tergopoh gopoh menghampiri ibu di ruang TV.


"Ada apa Bu?" tanya ku dengan detak jantung berpacu cepat. Aku terkejut mendengar teriakan ibu takut terjadi apa apa dengannya karena semalam dia tidur di luar kamar.


"Ada apa ada apa. Kenapa kamu ngga bangunkan aku tadi malam? kamu sengaja membiarkan aku tidur di luar biar jadi santapan nyamuk ya Nur?" tuduh ibu padaku dengan dada naik turun menahan amarah.


"Lihat nih lihat tanganku banyak bekas gigitan nyamuk. Kalau aku kena penyakit malaria bagaimana?apa kamu senang lihat aku sakit jadi kamu bisa bebas?" tuduh ibuku lagi.


"Kamu itu memang anak durhaka sama orang tua masa membiarkan ibumu sendiri jadi santapan nyamuk. Kamu sudah tidak mau peduli lagi sama ibu mu sendiri Nur?"


Aku menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nya. Selain untuk menetralisir degup jantungku, aku menahan emosiku dari tuduhan ibu.


"Aku sudah bangunkan ibu berulang kali tapi ibu tetap saja tidak mau bangun. Apa aku harus menarik ibu dengan kasar agar ibu mau bangun? kalau ibu menganggap aku tidak peduli sama ibu, lantas selimut di kaki ibu itu siapa yang mengambilnya kalau bukan aku? tidak mungkin hantu bukan? ujar ku dengan suara di tinggikan.


Ibu melirik ke arah selimut yang berada di mata kakinya lalu mendengus." Sudah ah, lama lama malas berdebat sama kamu."


Begitulah ibuku. Meskipun salah tetap saja tidak mau di salahkan dan selalu merasa benar. Gengsinya besar sekali.

__ADS_1


"sedang apa kamu Nur?" tanya ibu padaku yang sedang mengaur nasi dengan kecap untuk anak ku makan.


"Mau ngasih makan Zain sama kecap kan telurnya ibu makan tadi malam." jawab ku dengan kesal karena anak ku harus makan dengan kecap lagi. Tadi aku sempat ke warung yang lebih dekat untuk membeli telur tapi warung yang ku tuju sedang tutup.


"Halah, timbang telur saja kamu permasalahkan. tinggal beli lagi di warung banyak."


Aku diam saja lalu beranjak pergi menghampiri Zain yang sedang bermain sendiri di ruang TV.


"Belikan aku bubur dulu Nur, aku lapar. Salah mu sendiri kenapa ngga mau masak." titah ibu tiba tiba padahal aku baru saja mau menyuapi Zain makan.


"Apa yang mau aku masak Bu, ngga ada bahan makanan yang bisa ku masak."


"Ya kamu mikir kek, kenapa harus aku terus yang belanja."


"Karena ibu sendiri yang memegang semua uang kerupuknya."


"Setidaknya kamu belanja pakai duit mu yang di kirim sama suamimu."


"Apa ibu lupa dalam satu minggu ini siapa yang belanja? bahkan modal kerupuk saja aku yang beli. Terus uang hasil kerupuk dikemanakan? bukannya sudah kesepakan kita hasil keuntungan kerupuk untuk di makan bersama ya bukan untuk di simpan sendiri atau di berikan pada anak kesayangan?" Sindir ku dengan kesal.


"Banyak omong kamu Nur, si Supri kan bilang dia minjam nanti juga di balikin lagi." Lagi lagi ibu membela bang Supri.

__ADS_1


"Ck, dari jaman purba bilangnya selalu minjam tapi nyatanya sampai sekarang apa pernah dia mengembalikan semua uang yang pernah di pinjamnya termasuk uangku sebanyak dua puluh juta?"


__ADS_2