
Cara makan bang Supri seperti orang yang tidak makan selama dua hari saja. Kaki di angkat sebelah ke atas kursi lalu tangannya menyerok penuh nasi berkuah lalu memasukannya ke dalam mulut sehingga pipinya tampak mengembung. Aku geli melihat cara makan bang Supri. Kenapa dia tidak menggunakan sendok padahal di meja sudah di sediakan.
Bang Supri menyadari kehadiranku di dapur. Juga, dia sadar sedang di perhatikan olehku. Kemudian, dia menoleh ke arah ku dengan mulut penuh makanan.
"Apa kamu lihat - lihat? ngiler kamu lihat aku makan enak? tenang, nanti ku sisakan untukmu." Ejek nya padaku. Aku tahu, dia mengambil semua sisa ikan di dalam wajan. Aku tidak menanggapinya lalu aku berjalan ke arah rak piring dimana tempat menyimpan gelas - gelas kaca.
"Sekalian ambilkan aku gelas Nur," titahnya padaku. Ku turuti perintahnya mengambilkan gelas untuknya lalu berjalan ke arahnya.
Tek
Ku letak kan gelas kosong itu tepat di hadapannya. Bang Supri terdiam melihat gelas kosong di hadapannya lalu menoleh ke arahku yang sudah berjalan untuk mengambil air minum di dispenser.
"Kamu itu be go apa to lol sih Nur? gelas kosong kamu suguhkan ke aku bukannya di isi air minum." Bang Supri marah padaku sampai mengeluarkan kata kata kotor yang tidak enak di dengar.
Aku melirik ke arah nya, dia masih melihatku dengan tatapan nyalang."Bukannya tadi hanya menyuruh ku untuk mengambil gelas saja ya?" Aku menjawabnya dengan santai karena aku tidak merasa bersalah. Memang dia sendiri yang menyuruhku ambilkan gelas bukan ambilkan air minum.
"Mestinya kamu paham lah, tidak perlu aku suruh. Memang dasarnya kamu itu bo doh dan to lol. tidak punya otak. Pantesan jadi pengangguran terus orang otak mu itu bodoh tidak pintar."
Aku berdecak sebal. Ingin rasanya merobek mulut kotornya bang Supri. Tega sekali menyebutku bo doh dan to lol. Apa dia merasa pintar? pintar dari mananya? waktu sekolah SD saja dia sering kali dapat nilai warna merah. Selain itu, dia sudah beberapa kali tinggal kelas. Aku yang memiliki perbedaan usia tiga tahun dengannya, justru aku duluan yang lulus sekolah SD, sementara dia masih menetap di kelas empat. Aku sudah lulus SMP dia malah baru mau masuk SMP. Aku lulus SMA dengan prestasi gemilang. Dia malah tidak diterima di SMA mana pun karena nilainya di bawah rata - rata.
Ku abaikan saja ucapan kotornya itu. Malas sekali kalau harus berdebat sama orang sok pinter seperti bang Supri. Dia kesal karena ku abaikan lalu dia berdiri dan berjalan ke arah ku. Sebelah tangannya meraih rambutku yang ku kuncir ekor kuda lalu menariknya kebelakang. Perbuatannya sontak saja membuat ku mendongak tinggi ke atas.
"Sudah berani melawan kamu sekarang sama aku hah?" sentak nya dengan suara lantang.
"Lepasin tanganmu dari rambutku bang. Sakit tau." Ucap ku kesal sambil memegang rambut ku yang sedang di tarik nya.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskan nya sebelum kamu minta maaf dulu sama aku."
"Kenapa harus minta maaf. Aku tidak punya salah apa apa sama kamu bang."
"Oh, masih berani melawan kamu. Belum kapok kamu." Bang Supri semakin kuat saja menarik rambutku sehingga membuat pori pori kepalaku terasa perih.
"Ya, ya aku minta maaf." Ucapku lirih. Aku sengaja mengalah daripada harus di tarik terus rambutku oleh kakak tempramental. Selain gaya bahasanya yang sering berucap kotor. Juga, bang Supri seorang tempramental yang kerap kali marah marah tidak jelas dan sering berlaku kasar pada siapa saja yang merasa menentangnya. Tidak hanya padaku saja dia kasar, terkadang dia kasar pula pada ibu jika keinginan nya tidak di turuti.
"Ha ha ha. Makannya jangan coba coba kamu melawan aku kalau tidak mau ku potong rambutmu ini." Bang Supri tertawa puas. Seolah olah dia sudah memenangkan sebuah pertarungan. Kemudian, dia melepaskan tangannya dari rambutku. Padahal aku tidak salah apa apa. Tapi, biarlah yang waras mengalah saja.
"Sup, Supri nih uangnya yang tadi kamu minta." Ibu tiba tiba datang ke dapur lalu menyodorkan uang dua ratus ribu pada bang Supri di hadapanku. Aku tau uang itu adalah uang modal kerupuk.
"Bu, bahan untuk membuat kerupuk sudah habis." Aku sengaja mengingatkannya agar ibu sadar uang yang diberikan pada bang Supri adalah uang modal kerupuk.
"Ya sudah Bu, aku pulang dulu. Si Yati pasti sudah menunggu uangnya." Tanpa bertanya, bang Supri memberi tahu sendiri kalau uang itu untuk istrinya yang hidupnya seperti sosialita. Padahal suami nya hanya kerja sebagai buruh pabrik gula.
"Ya sudah hati hati kamu Sup, bawa motornya jangan ngebut ngebut." Ujar ibu sambil mengelus elus lengan bang Supri.
"Sip Bu. Eh, Nur. itu lauknya aku sisain di meja. jangan lupa habiskan." Ucapnya dengan serius. Kemudian, dia beranjak pergi keluar rumah di temani ibu.
Aku tidak percaya kalau bang Supri menyisakan lauk untukku. Orang rakus dan pelit seperti dia mana mau berbagi dengan orang lain meskipun sama saudaranya sendiri. Aku pergi ke dapur untuk mencuci piring lalu melirik ke atas meja. Nampak piring bekas bang Supri makan tergeletak penuh dengan tulang belulang ikan di atasnya. Tulang belulang itu yang dia maksud di sisakan untuk ku. Aku tersenyum kecut melihatnya.
Adzan maghrib berkumandang. Aku bergegas akan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Baru saja membuka pintu kamar mandi, ibu memanggilku. Ku tutup kembali pintu kamar mandi lalu aku menghampiri ibu yang berada di ruang TV.
"Ada apa Bu?"
__ADS_1
"Ibu lapar, cepat bikinkan nasi goreng pakai telur dua. Satu campur, satu lagi di goreng mata sapi." Titah ibuku dengan entengnya.
"Bukannya ikan ibu masih ada di dalam wajan ya? kenapa tidak habiskan saja dulu ikannya?" Aku sengaja menyindirnya.
"Kamu itu lupa apa pura pura lupa Nur. Kan ikannya sudah di makan sama si Supri tadi. Sekarang sudah tidak apa apa dan aku lapar ingin makan."
"Kalau sekarang tidak ada apa apa kenapa tadi ikannya di kasih sama bang Supri?"
"Kamu kok sama saudara perhitungan amat Nur. Supri itu anak ku juga."
"Bukannya aku yang perhitungan tapi ibu sendiri yang perhitungan sama aku. Sama bang Supri nawarin dan di biarkan ikannya di makan semua sama dia. Sementara sama aku boro boro makan ikannya, kuahnya saja harus minta dulu ke ibu. Padahal ikan itu aku yang beli dan aku juga yang masak."
Lagi lagi aku memiliki ke beranikan untuk mengungkapkan kekesalanku hari ini pada ibu.
Ibu berdiri lalu berkacak pinggang. Dia tidak terima pada ucapan yang ku lontarkan.
"Oh, jadi kamu mau ungkit - ungkit masalah siapa yang beli? baru juga beli ikan sekali sudah sok kamu Nur."
"Bukan aku mau ungkit Bu, tapi aku heran sama sikap ibu yang tidak adil padaku." Aku langsung berbalik lalu jalan meninggalkan ibuku yang masih menatap ku dengan kesal.
"Heh, Nur. mau kemana kamu aku belum selesai ngomong. kebiasaan kamu tuh kalau orang tua ngomong selalu di tinggal."
"Aku mau sholat maghrib dulu Bu, biar setan setan nya pergi. Mending ibu sholat juga biar setannya pergi dari hati ibu." Aku berbicara di ambang pintu kamar mandi dengan suara ku lantang kan. Sengaja biar ibu mendengarnya. Entah dia mendengar atau tidak. Sebab, aku kesal sekali pada ibu. Waktu sudah memasuki sholat maghrib bukannya beribadah terlebih dahulu malah membicarakan masalah isi perut.
Selesai mengambil air wudhu, aku berjalan melewati ibuku yang masih saja menonton TV. Aku heran pada ibu. Dia sudah tua tapi ibadahnya bukannya bertambah malah semakin berkurang.
__ADS_1