
Jika di lihat dari sikap Oma yang membicarakan tentang Nura, sepertinya Oma tidak menyukainya. Apa Nura seburuk yang Oma katakan? Apa Nura benar benar wanita matrealistis dan hanya mau pada pria-pria tajir saja? Lantas bagaimana perasaan Nura pada Raihan sebenarnya? apa dia benar tulus mencintainya atau hanya karena Raihan seorang pengusaha? bathin ku bertanya tanya.
Dari pertama masuk mobil hingga sampai di perempat jalan yang Oma bicarakan hanya tentang perangai Nura serta mamanya yang di pandang buruk olehnya hingga Oma terdiam sendiri seperti kehabisan bahan ghibahan untuk kedua ibu dan anak itu. Sebenarnya aku sendiri malas sekali jika membicarakan tentang kekasih Raihan apalagi mengingat kejadian saat di mall. Tapi karena aku menghargai Oma aku pun menyimaknya.
Setelah Oma kehabisan bahan pembicaraan baik aku, Oma maupun dokter Bayu terdiam dan kami hanya sibuk dengan pemikiran kami masing-masing sementara Zain tertidur di pangkuanku.
Ingatan ku kembali pada kejadian di mall tadi. Mengingat pertemuanku dengan Nura tanpa di duga di sebuah outlet merk ternama. Pertemuanku dengan orang tua Nura tanpa di sengaja, melihat kedekatan Raihan bersama Nura dan keluarganya di sebuah restauran, melihat Raihan jalan bersama dengan Nura hingga perdebatan ku dengan Raihan.
Apa aku salah jika aku merasa kecewa pada Raihan? apa aku salah jika aku cemburu? Raihan yang sudah puluhan kali menyatakan cintanya padaku, aku yang sudah membuka hati dan menerima cintanya. Apa aku salah jika aku merasakan perasaan kecewa dan cemburu setelah melihat dan merasakan apa yang terjadi tadi? Apa ini jawaban atas keraguanku selama ini padanya? aku rasa Raihan tidak benar benar mencintai ku, dia hanya terobsesi saja untuk memiliki ku. Jika cinta dan sayang dia tidak akan membiarkan aku pergi dan berusaha mencegahku dengan usahanya. Tidak akan membiarkan kami terlantar di tempat asing dan tidak akan jalan bahkan ngobrol dengan orang tua wanita yang katanya tidak dia cintai padahal aku dan Zain sedang menunggunya selama hampir dua jam. Bukan kah kata tega itu pantas di sematkan untuknya? Aku tidak habis pikir kenapa Raihan tega mempermainkan perasanku.
"Ayok kita turun nak Nuri." Ajakan Oma menyadarkan aku dari lamunan dan tidak menyangka ternyata kami sudah tiba di rumah besar milik Oma.
"I..ya Oma." Aku pun ikut turun dari mobil sambil menggendong Zain.
"Nuri.." Panggil dokter Bayu lalu mendekat." Biar aku saja yang menggendong Zain."Ucapnya, kemudian mengambil alih Zain dari gendongan ku.
"Terima kasih dok." Ucap ku setelah Zain berada di gendongan nya.
Aku dan dokter Bayu jalan beriringan masuk ke dalam istana milik Oma, sementara Oma sudah lebih dulu jalan di depan kami. Setelah berada di dalam rumah, kami di sambut oleh Bi Sukma. Dia nampak senang sekali melihat aku kembali lagi ke rumah besar ini.
"Ya ampun Non Nuri, bibi senang sekali si non kembali lagi ke rumah ini." Kata bibi Sukma dalam sambutannya.
"Iya bi, saya juga senang bisa bertemu dengan bibi lagi." Aku membalas sambutannya.
Kemudian bi Sukma melirik ke arah Zain yang sedang digendong oleh dokter Bayu." Den Bayu, iki cah Bagus siapa to, kok ganteng tenan?"Tanya bibi Sukma dengan logat bahasa jawa karena bibi Sukma berasal dari Jawa tengah.
"Anak ku lah Bi, he he." Canda dokter Bayu.
"Lah kapan nikahnya tau tau punya anak den Bayu?"
Dokter Bayu tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya lalu melirik ke arahku.
"Ini anak saya bi, namanya Zain. Ayok Zain Salim sama bibi Sukma."Jelas ku dan meminta Zain untuk mengulurkan tangannya menyalimi wanita paruh baya itu dan Zain menurut.
"Ya ampun cah ganteng, pinter banget ya?"Kata nya sembari mencubit gemas pipi gemil Zain.
"Sukma!" Panggil Oma pada bibi Sukma yang sedang bertegur sapa dengan Zain.
Bibi Sukma menoleh."Iya Oma."
"Tolong antar kan Nuri ke kamar nya, biarkan dia dan Zain istirahat dulu jangan banyak nanya dulu."Kata Oma.
"Biar aku saja yang mengantar Nuri sekalian mau mengantar kan Zain ke sana." Dokter Bayu tiba tiba menyela dan menawarkan diri.
"Ya, sudah terserah kamu Bayu. Oya nak Nuri, selamat istirahat siang ya, Oma juga mau istirahat dulu di kamar Oma."
Aku mengangguk." Terima kasih banyak Oma."Setelah berucap, aku dan dokter Bayu menuju kamar yang hendak ku tempati.
Setelah berada di dalam kamar, dokter Bayu meletak kan Zain di atas kasur yang dua hari lalu ku tempati."Hai anak ganteng selamat istirahat ya?"
__ADS_1
"Iya om!" jawab Zain.
Kemudian dokter Bayu menoleh pada ku yang sedang berdiri memperhatikannya dan Zain.
"Selamat istirahat ya Nuri!"
"Sama-sama dok."
Dokter Bayu tersenyum kemudian bergegas pergi. Tapi ketika sudah berada di ambang pintu dia menoleh padaku dan berkata.
"Bisa tidak mulai saat ini kamu jangan panggil aku dokter?"
Kening ku mengernyit. Sebenarnya ini bukan lah permintaan pertama dokter Bayu padaku namun sudah ke sekian kalinya. Namun lidah ku masih saja memanggilnya dokter.
"Lantas aku harus panggil apa? Mas, Aa, Uda atau Abang?" Aku balik bertanya karena aku sendiri juga bingung apa panggilan yang pas untuk dirinya.
"Yang enak di dengar dan nyaman saja Nuri. Panggil nama saja juga boleh kita kan hanya beda dua tahun." Saran nya. Kemudian dia keluar dari kamar dan menutup pintu.
Setelah kepergiannya aku menimang nimang panggilan yang cocok untuknya." Cocoknya apa ya? Mas Bayu, Aa Bayu, Uda Bayu, Abang Bayu, Bayu saja atau....Kak Bayu? ya, seperti nya lebih cocok kak Bayu." Kemudian aku menyunggingkan senyum.
Aku mengucek kedua belah mataku setelah terbangun dari tidur siang. Kemudian aku meregangkan otot ke kiri dan ke kanan secara bergantian dan di saat itu pula aku tidak menemukan keberadaan Zain yang mestinya sedang tidur di sampingku. Reflek aku bangun dan meloncat dari atas kasur lalu berteriak memanggil nama anak ku.
"Zain, Zain kamu dimana nak?" Aku berjalan ke sana kemari mencari sosok Zain. Di kamar mandi, di setiap sudut kamar sudah ku cari namun Zain tidak ada. Aku panik, aku takut kejadian penculikan itu terulang lagi dan sungguh kejadian itu masih menyisakan trauma tersendiri untuk ku.
Aku segera berlari keluar kamar tanpa memperhatikan penampilanku terlebih dahulu saking paniknya karena aku tidak ingin Zain menghilang lagi." Zain, Zain, Zain kamu dimana nak? Zain, kamu dimana nak?" Teriakan ku menggema di rumah besar itu hingga mengundang orang orang berdatangan.
"Ada apa non Nuri, ada apa?" tanya bibi Sukma dengan nafas terdengar ngos ngosan begitu pula dengan mba Ayu.
"Anak ku hilang bi, anak ku hilang." Jawabku dengan panik dan hendak mau menangis.
"Oala, bibi kira ada apa Non. Non Nuri nyari cah Bagus?"
"Iya bi, apa kalian melihat Zain?"tanya ku dengan rasa tidak sabar.
"Den Zain tadi di gendong sama den Bayu di bawa ke belakang Non, memangnya si non tidak tau?"Jelas bibi Sukma.
"Hah, apa bibi serius Zain dibawa oleh dokter Bayu?" Panik ku pun sedikit mereda setelah mendengar kata bibi Sukma.
"Iya Non, coba saja cari ke belakang. Bibi yakin den Zain pasti ada di sana."
"Terima kasih Bi." Setelah berucap aku langsung berlari ke arah belakang. Setelah tiba di belakang, nampak Oma serta dokter Bayu sedang mengobrol di tepi kolam renang yang cukup besar. Aku melangkah lebar mendekati mereka.
"Ya ampun nak, kamu bikin mama panik. Mama pikir kamu di culik lagi, mama takut sekali."
Zain yang sedang di pangku oleh dokter Bayu mendongak tinggi melihat ku. Begitu pula dengan dokter Bayu dan Oma menoleh ke arahku tanpa mengedipkan matanya dan mulut yang terbuka sedikit. Aku di buat bingung oleh mereka apa yang salah dengan diriku.
"Cantik sekali!" Aku mendengar gumaman dokter Bayu entah dalam keadaan sadar atau tidak.
Aku mengernyitkan dahi. Kenapa dokter Bayu memuji ku dengan kata cantik seperti baru pertama kali melihat wanita cantik saja. Apa ada yang salah dari penampilanku? Bathin ku bertanya. Aku langsung meraba kepala ku ternyata tanpa hijab dan menampakan rambut ku yang tergerai panjang, seketika itu pula pupil mataku membulat. Bagaimana aku bisa melupakan hijab ku. Setelah itu, aku melihat pada bagian tubuhku ternyata aku sedang memakai baju tidur lengan pendek serta celana sebatas lutut menampakkan kaki jenjang. Pupil mataku semakin membulat sempurna melihat penampilanku sendiri. Bagaimana aku bisa melupakan penampilan ku yang sedang memakai baju tidur pemberian bibi Sukma karena aku sendiri tidak membawa baju ganti. Aku jadi salah tingkah oleh kelakuan ku sendiri. Rasanya malu sekali pada Oma dan dokter Bayu dengan penampilan yang semestinya tidak layak ku tunjukan pada mereka.
__ADS_1
"Maaf dokter, Oma, a..aku lupa." Setelah berucap dengan gugup aku langsung berlari masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan panggilan Oma.
Di sepanjang jalan menuju kamar aku mengumpati diriku sendiri yang ceroboh hingga aku merasa malu oleh kelakuan ku sendiri. Saking paniknya mencari Zain hingga aku melupakan penampilan ku sendiri.
"Kenapa bibi Sukma dan mba Ayu tidak memberitahu ku sebelum aku menemui Oma dan dokter Bayu." Aku geleng-geleng kepala. Aku pikir tidak boleh menyalahkan orang lain atas kecerobohan diriku sendiri.
Aku kembali lagi pada Oma dan dokter Bayu setelah mengganti pakaian dengan pakaian bekas pagi ku pakai serta hijab yang menempel di kepalaku.
Dari kejauhan nampak mereka sudah melihat ke arahku dengan senyuman yang tersungging di bibir mereka.
"Kenapa ganti pakaian padahal aku lebih suka melihatmu berpenampilan seperti tadi." Goda dokter Bayu ketika aku baru tiba di hadapan mereka.
"Hus, kamu ini bay, Oma justru lebih suka Nuri berpakaian tertutup seperti ini jangan kayak si Jenni."
"Kok, ngomongin jenni sih Oma." Dokter Bayu protes karena mantan kekasihnya telah disebut.
"Ya sebagai perbandingan saja bay. Oma tidak suka melihat anak perempuan berpakaian terbuka seperti si Jenni. Meskipun tidak berhijab yang penting pakaian nya rapih tidak terbuka sana sini. Tapi lebih bagusnya lagi kepalanya di tutupi biar tidak mengundang kejahatan para lelaki hidung belang. Seperti penampilan nak Nuri ini Oma suka, nak Nuri mencerminkan wanita Sholehah."
Deg
Jantung ku seketika berdetak hebat. Apa Oma pikir aku ini wanita suci dan sholehah karena berhijab? andai saja Oma tau bagaimana kelakuan ku sesungguhnya. Aku sering kali berciuman dan berpelukan dengan Raihan meskipun kami saling cinta tapi apa itu bisa dikatakan wanita Sholehah? justru sebaliknya aku seperti wanita rendahan yang hina dan jilbab ku jadikan sebagai penutup aib ku. Mungkin orang yang tidak memakai jilbab dan berpakaian se xi lebih baik dari pada aku karena mereka sudah terang terangan menunjukan jati dirinya sementara aku? berhijab tapi sering kali berbuat dosa. Ya, semenjak kenal dengan Raihan aku jadi wanita pendosa. Tapi aku tidak menyalahkan Raihan karena aku sendiri mau melakukan dosa itu.
"Nak, Nuri kenapa berdiri saja? sini duduk." panggilan Oma menyadarkan lamunanku kemudian aku tersenyum dengan senyuman yang ku paksakan.
"I..iya Oma." Kemudian aku ikut duduk bersama di samping Oma.
Setelah ikut duduk bersama aku menyimak obrolan ngolor ngidul Oma. Namun sesekali aku ikut berbicara dan menjawab setiap pertanyaan yang Oma maupun dokter Bayu tanyakan. Waktu pun bergulir, tak terasa hari semakin sore hingga kami memutuskan kan untuk masuk ke dalam rumah.
Aku masuk ke dalam kamar ku untuk membersihkan tubuhku serta memandikan Zain namun baru saja aku hendak membuka pintu, bibi Sukma memanggilku.
"Ada apa bibi?"Tanya ku pada wanita paruh baya yang sudah di anggap keluarga oleh Oma serta dokter Bayu.
"Ini non, bibi hanya mau memberikan ini dari den Bayu." Bibi Sukma menyodorkan dua paper bag ke arah ku."Katanya pakaian ganti untuk non Nuri dan juga cah ganteng."Sambungnya.
Aku tersenyum tidak menyangka dokter Bayu membelikan pakaian ganti untuk kami, pakaian yang sangat kami butuhkan untuk saat ini.
"Terima kasih ya Bi, sampai kan salam terima kasih saya juga untuk dokter Bayu."
"Kalau itu sih, non Nuri sendiri saja yang bicara langsung. Bibi hanya memberikan barangnya saja."
"Ah ya Bi, nanti saya akan bilang langsung sama orangnya."
"Ya sudah kalau begitu bibi pamit dulu ya?"
Aku mengangguk.
Malam hari ketika aku baru menidurkan Zain, aku teringat pada ponselku yang mati total karena kehabisan daya. Ponsel mewah yang seharian ini tidak ku sentuh dan ku biarkan saja di dalam tas ku. Ku rogoh ponsel itu dan aku berniat akan meminjam charger milik dokter Bayu karena kebetulan ponsel kami sama.
Aku berjalan menuju kamar dokter Bayu setelah di beritahu oleh bibi Sukma terlebih dahulu dimana letak kamarnya. Ketika aku melangkah aku melewati sebuah ruangan yang pintu nya sedikit terbuka. Entah mengapa hatiku terdorong untuk memasukinya.
__ADS_1