
Ketika aku sedang menemani Zain main mobil mobilan, mba Nuri menghampiriku dan meminta tolong padaku untuk menjaga Zain karena dia akan mengantar kerupuknya ke setiap warung. Aku menyetujui permintaannya untuk menjaga Zain selama dia pergi.
Ku tatap kepergiannya dengan perasaan kasihan. Bagaimana tidak kasihan, sambil kedua tangannya menenteng kantong plastik ukuran besar berisi kerupuk, mba Nuri harus berjalan kaki mengantarkan kerupuknya dari satu warung ke warung lainnya dan aku yakin warung warung itu jaraknya berjauhan.
Terpikir olehku untuk membelikannya sebuah motor agar memudahkan dia untuk menjalankan aktifitasnya atau menjalankan usahanya. Tapi bagaimana cara memberikannya? karena aku yakin dia pasti akan menolaknya jika aku memberikan nya secara langsung. sebab, aku tau mba Nuri bukan tipikal wanita yang suka diberi secara cuma cuma.
Hari semakin siang dan aku mulai mencemaskan nya karena sudah satu setengah jam dia belum kembali. Namun di tengah kecemasanku, mba Nuri muncul dari balik pintu dengan wajah di tekuk. Sambil tersenyum aku menyapanya,"baru pulang mba Nuri?"
Mba Nuri tidak menjawab sapaan ku, melirik pun tidak. Dia berjalan melewati aku yang sedang duduk di lantai menemani Zain tanpa menoleh ke arah ku.
Aku menatap punggungnya yang sedang berjalan ke arah dapur dengan perasaan heran. Kenapa mba Nuri pulang dengan wajah cemberut dan mendiami ku? tanya ku dalam hati.
Aku mengikutinya menuju dapur dan setelah tiba di ambang pintu, ku lihat dia sedang memijit kakinya dalam posisi membungkuk. Mungkin mba Nuri merasakan pegal di kakinya karena habis berjalan dengan jarak yang jauh, kasihan sekali. Aku mendekatinya lalu menawarkan diri untuk membantu memijit kakinya tapi dia menolaknya. Sikapnya yang cuek serta raut wajahnya yang terus menerus cemberut membuat aku penasaran apa yang sudah terjadi? kemudian aku bertanya padanya.
"Ada masalah apa mba? apa mba bisa ceritakan ke aku masalahnya? siapa tau aku bisa membantu atau memberi masukan."
Dia menggeleng lalu menjawab," tidak ada," dengan pandangannya di alihkan ke arah lain.
"Mba..!"
"Kenapa kamu belum pulang Rai?" tanya nya, memotong ucapan yang belum sempat aku lontarkan.
"Mba mengusir aku?" tanya ku sambil memasang wajah serius.
"Di rumah mu sedang ada calon mertuamu serta calon istrimu. Apa kamu tidak ingin menemui mereka?" ujar nya dengan wajah tetap menekuk.
Aku menatapnya dengan tatapan serius kemudian bertanya," siapa calon mertua serta calon istriku yang mba maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan orang terpandang di kampung ini serta gadis paling cantik di kampung ini." Mba Nuri menjawabnya sambil menatap kesal ke arahku. Kemudian meninggalkan aku yang belum sempat berbicara.
Aku jadi mengerti sekarang kenapa sikap mba Nuri berubah dingin padaku? mungkin dia sempat melihat keberadaan Risa dan keluarganya di rumahku. Tapi, kenapa dia terlihat kesal, apa dia cemburu? seulas senyum tersungging di bibirku dan aku berharap dugaan ku benar.
Ku pandangi daun pintu kamar mba Nuri yang tertutup rapat. Apa segitu kesalnya dia sampai Zain saja dia bawa kurung ke dalam kamarnya. Sambil menunggu mba Nuri keluar kamar, aku merebah kan tubuhku di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselku. Tak terasa, sibuk main ponsel sehingga aku sudah melewatkan waktu dua jam. Ku lirik daun pintu kamar mba Nuri, berharap dia keluar kamarnya. Namun, bukan mba Nuri yang keluar kamar melainkan Zain anaknya.
"Zain...sini !" aku memanggil Zain tanpa beranjak dari sofa. Zain menoleh ke arahku lalu berjalan mendekatiku.
Ku angkat tubuh Zain lalu mendudukinya di atas sofa tepat di sampingku. Ku lirik lagi pintu kamar mba Nuri namun mba Nuri tidak memunculkan dirinya. Aku penasaran kenapa dia tidak saja keluar kamar padahal Zain sudah di luar. Karena penasaran aku bertanya pada Zain," mama mana sayang?" sambil mengelus belakang kepalanya.
Zain mendongak tinggi lalu menjawab,"Mama bobo," ucapnya.
"Mama bobo!" ucap ku, mengulangi jawaban Zain dan dia mengangguk.
Pantas saja sudah dua jam tidak keluar kamar ternyata mba Nuri sedang tidur. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Sempat terpikir untuk pulang ke rumah ku namun aku berpikir kembali kalau aku pulang siapa yang menjaga Zain sementara mamanya masih tidur. Aku tidak mungkin meninggalkan Zain sendirian di rumahnya apa lagi Zain sudah bisa membuka dan menutup pintu. Bagaimana jika tanpa sepengetahuan mba Nuri Zain keluar dari rumahnya? tidak aman untuk seorang balita seusia Zain bermain sendiri di luar rumah.
"Sayang, Zain mandi dulu yuk?" Ajakan ku mendapat sambutan senyuman gemas dari Zain, dia menurut di ajak mandi.
Setelah selesai di mandikan, selanjutnya aku bingung karena tidak ada baju ganti untuk Zain. Tidak mungkin juga aku memasuki kamar mba Nuri sekedar mencari baju ganti rasanya tidak sopan. Kemudian tak sengaja pandanganku mengarah pada jendela kaca samping rumah. Aku melihat ada deretan baju yang sedang di jemur di sana. kemudian aku pun bergegas keluar rumah untuk mengambilnya.
__ADS_1
Setelah itu, aku menyuapi Zain makan dengan telur yang sudah aku goreng. Zain makan dengan lahap sekali sehingga tinggal menyisakan beberapa butir nasi di atas piring dalam beberapa menit. Ketika aku menyuapi Zain dengan suapan terakhir, terdengar mba Nuri memanggil nama Zain berulang kali dengan suara terdengar panik. Belum sempat menyahutinya mba Nuri sudah muncul di balik pintu dengan penampilannya yang tak biasa.
Aku tercengang melihat nya. Sungguh penampilan yang membuatku tak dapat mengedipkan mataku. Pandangan mba Nuri mengarah pada kami yang sedang duduk di meja makan. Wajahnya terlihat cemas sekali. Kemudian dia berjalan ke arah kami lalu menggendong Zain dan berkata," Kamu bikin mama khawatir nak, kenapa Zain ke luar kamar?" dia berucap sambil mengelus pucuk kepala Zain.
Aku masih tercengang memandangi penampilan mba Nuri sore ini dan tanpa ku sadari mulutku berucap," hot mama."
Sambil mengerutkan dahinya mba Nuri berucap," hot mama," mengulang ucapan ku.
Tidak hanya itu, tanpa sadar aku juga berucap kata se xi tanpa mengalihkan pandanganku dari wanita sempurna di hadapanku. Mba Nuri mengulang ucapan ku kemudian menunduk memperhatikan penampilannya dan seketika dia terkejut melihat penampilannya sendiri. Wajahnya memerah seperti tomat mungkin dia malu telah berpenampilan seperti itu di hadapanku. Kemudian dia segera berlari kecil sambil menggendong Zain memasuki kamarnya.
Ternyata mba Nuri tidak sadar dengan penampilannya yang sangat se xi sekali. Bagaimana tidak se xi, dress pendek menampilkan pa ha ramping yang putih mulus serta belahan dada yang cukup lebar serta rambut panjang yang di ikat asal menunjukan leher jenjangnya sehingga menambah kesan se xi. Sungguh siapa pun laki laki yang melihatnya pasti akan terpesona dan tergoda melihat kesempurnaan bentuk tubuh mba Nuri termasuk diriku sendiri.
Selama ini mba Nuri menutupi kesempurnaan fisiknya dengan memakai pakaian pakaian besar yang sangat sederhana sekali bahkan sangat sering aku melihat dia memakai pakaian yang sudah lusuh.
Aku berjalan mendekati pintu kamar mba Nuri hendak menemuinya. Namun sebelum aku mengetuk pintu, mba Nuri sudah lebih dulu membuka pintunya. Aku memperhatikan penampilannya yang sudah berubah. Tubuh molek nya sudah terbalut oleh pakaian yang tertutup sehingga hanya nampak wajah dan telapak tangannya saja. Aku tersenyum melihat dia menunduk malu. Aku berpikir alangkah beruntungnya yang telah menjadi suaminya. Mba Nuri menutupi tubuh indahnya agar tak terlihat oleh laki laki lain selain suaminya. Dan aku merasa bersalah telah memandangi tubuhnya sedemikian rupa meskipun tanpa di sengaja.
"Aku lebih suka penampilan hot mama yang tadi," ucapku, mulai bicara dan sengaja meledeknya dengan sedikit menggoda.
"Jangan di kira aku merayu mu Rai, aku pikir kamu sudah pulang ke rumahmu tadi." Mba Nuri menyanggah ledekan ku dengan pandangan dia arahkan ke samping.
Aku tersenyum, gemas sekali rasanya pada mama muda satu anak ini. Kemudian aku menyahutinya," tidak apa apa kan kalau calon suami pengganti mba melihatnya?"
"Rai, jangan mulai deh!" ucap nya dengan wajah di tekuk.
"Pantas saja mas Surya tidak ingin melepas kan mba, karena mba wanita yang sangat istimewa," ucap ku dengan kesal. Tiba tiba aku membayangkan ketika mas Surya menggauli mba Nuri dan menyentuh seluruh tubuhnya dan tanpa ku sadari tanganku mengepal membayangkannya. Kenapa aku menjadi kesal, padahal mas Surya suami sah nya mba Nuri dan sudah hak nya.
"Rai..lebih baik kamu pulang sekarang sebentar lagi mau maghrib lho!" ucap mba Nuri, menyuruh ku pulang secara halus.
"Terserah kamu saja Rai, tapi aku tidak ingin Bu haji menyalahkan aku mengira aku menahan kamu di...!"
"Tidak ada yang tau aku di sini termasuk ibuku mba." Dengan cepat aku menyela perkataan mba Nuri agar dia tidak khawatir tentang keberadaan ku di rumahnya.
Mba Nuri menghela nafasnya lalu beranjak pergi dari hadapanku. Namun, aku segera menahan tangannya sebelum dia menjauh. Dia mendongak kan wajahnya menatap heran padaku lalu bertanya," ada apa Rai?"
"Apa aku boleh numpang mandi dan memakai peralatan mandi mba?" tanyaku, tanpa melepas tautan tangan kami. Mba Nuri tersenyum kecil dan sambil melepas tangannya dari genggamanku dia berkata," Kirain mau ngomong hal penting Rai." Mba Nuri berjalan memasuki kamarnya kembali dan beberapa menit kemudian dia kembali lagi ke luar sambil membawa sebuah handuk yang terlipat di tangannya.
"Ini handuk nya!" katanya sambil menyodorkan handuk itu ke arah ku dan aku meraihnya."
"Maaf ya, bukan handuk baru tapi bersih kok, baru aku ambil dari lemari," sambung nya lagi.
Memang handuknya sudah tidak terlihat baru tapi masih layak di pakai. Aku tersenyum padanya." it's okey mba, ini sudah lebih dari cukup. makasih ya!"
Dia mengangguk sambil tersenyum tipis. Aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
Malam hari setelah selesai melaksanakan sholat isya berjamaah, mba Nuri menyuruhku untuk pulang ke rumahku. Dia bilang dia merasa tidak enak hati pada ibuku meskipun aku menjelaskan bahwa ibuku tidak tau tentang keberadaan ku di rumahnya namun dia tetap menyuruhku untuk pulang.
"Ya sudah kalau gitu, aku pulang dulu ya mba? makasih lho untuk hari."
__ADS_1
"Hati hati Rai."
Aku mengangguk lalu berjalan menuju ke luar rumah. Jujur, rasanya berat sekali kakiku untuk melangkah meninggalkan mba Nuri yang sedang menggendong Zain. Aku menoleh ke belakang sebelum membuka gagang pintu, raut wajah mba Nuri terlihat sedih dan seperti sedang menahan tangis. Ku lepaskan gagang pintu dan berdiri tegak menatap ke arah mba Nuri yang sedang mengalihkan pandangannya ke samping seolah olah menyembunyikan wajah sedihnya dari ku.
"Katakan padaku kalau mba tidak ingin aku pergi?"
Hening...
"Mba tidak ingin aku pergi dari sini kan?"
Hening...
"Mba..!"
"Pergilah Rai, aku ingin kamu pergi dariku!"
"A..apa maksudmu mba?"
Mba Nuri tidak menjawab pertanyaan ku melainkan masuk ke dalam kamarnya. Aku menghela nafas berat dan kemudian meneruskan langkahku keluar dari rumahnya menuju rumahku.
Tiba di rumah, aku memasuki rumahku yang tidak terkunci setelah mengucapkan salam. Kemudian aku di kejutkan oleh kehadiran wanita yang sedang aku hindari tengah duduk santai di sofa ruang tamu.
"Kamu...kenapa bisa ada di rumahku?" tanyaku sambil menatap kesal ke arahnya. Benar dugaan ku kalau Risa pasti menunggu sampai aku pulang.
"Kak Rai, baru pulang kerja ya?" Dia balik bertanya sembari tersenyum malu malu.
Kemudian ibu muncul dan bertanya padaku," kamu baru pulang Rai? kasihan lho Risa dari tadi siang menunggumu." lalu ikut duduk di samping Risa.
"Siapa suruh menungguku?" tanya ku dengan ketus.
"Rai..!" ibu sedikit membentak ku lalu melirik ke arah Risa yang terlihat murung. Mungkin dia merasa tidak enak hati.
"Sekarang kamu kan sudah ketemu aku, sekarang kamu pulang saja. Lagi pula ini sudah malam dan tidak baik seorang perempuan berada di rumah laki laki," usir ku terang terangan.
"Rai..!" ibu membentak ku lagi.
"Ibu yang minta Risa untuk menginap di disini menemani ibu," sambungnya.
"Oh, ya sudah." kemudian aku bergegas pergi dari hadapan ibu dan Risa.
Tiba di kamar, aku segera mengemasi beberapa pakaianku dan ku masuk kan ke dalam sebuah tas. Sebagai bentuk protes ku pada ibu aku akan pergi sementara waktu.
Sambil mengendong tas berukuran sedang aku melewati ibu dan Risa yang masih mengobrol di ruang tamu tanpa menoleh ke arah mereka.
"Mau kemana kamu Rai? kenapa membawa tas?" tanya ibu terlihat cemas.
"Kemana saja Bu, yang penting tidak di rumah ini," jawab ku sambil menatap kesal ke arah Risa.
__ADS_1
"Rai...Rai..!"
Aku tidak menghiraukan panggilan ibu sambil berjalan ke arahku. Aku segera menaiki motor ku lalu melaju pergi.