
Bukannya aku tidak sanggup untuk mengganti dengan uang dua ratus ribu, namun masalahnya anak ku Zain benar salah atau tidak. Meskipun aku tidak tau bagaimana kejadian sebenarnya tapi aku merasa pak Yanto sedang berbohong padaku. Jika aku memberikan uang itu sama saja dengan aku menyalahkan anak ku sendiri.
"Heh, Nuri, aku itu tidak memeras kamu, aku hanya minta ganti rugi. Kamu kok sama pelitnya kayak ibu kamu Nur." Pak Yanto mulai kesal sampai menyamakan aku dengan ibu. Bicara tentang ibu, aku jadi teringat padanya kenapa ibuku belum kembali saja padahal sudah setengah tahun lamanya. Jujur saja, ketidak beradaan ibu di rumah membuat aku sedikit bernafas lega, tidak lagi mendapat kemarahan dan omelan nya serta perlakuannya yang lain meskipun aku harus menanggung semua hutang ibu yang menagih padaku. Aku kesal namun seburuk buruknya sikap ibu dia adalah ibuku dan aku merindukannya.
Karena pak Yanto menyangkut pautkan aku dengan ibu, aku menjadi bertambah kesal. Kemudian aku masuk ke dalam rumah lalu mengambil uang lima puluh ribu sebanyak empat lembar. Setelah itu aku keluar lagi lalu melemparnya ke hadapan pak Yanto.
"Ambil, ambil silahkan ambil dan cepat pergi dari rumah saya. Dan satu lagi cepat itu pagar pekarangan rumah bapak agar ayam ayam bapak tidak memasuki pekarangan rumah saya. Kalau ayam ayam bapak masih masuk ke pekarangan saya, saya tidak akan segan segan untuk memotong nya." Aku bicara dengan nada tinggi dan berapi api membuat pak Yanto bengong melihatku. Aku tau aku salah telah memberinya uang dengan cara di lempar, tapi bagaimana aku sudah terlanjur kesal dan emosi. Aku juga tidak ingin dia menganggap aku lemah dan takut padanya.
Pak Yanto segera memunguti uang yang ada di tanah, terlihat sekali kalau dia tidak memiliki harga diri. Ini merupakan perdebatan ku dengan pak Yanto yang pertama setelah ibuku tidak ada di rumah karena selama itu aku tidak memiliki masalah dengannya meskipun aku merasa terganggu dengan ayam ayamnya yang berkeliaran di halaman rumahku dan meninggalkan kotoran. Dulu saat ibu ada di rumah sering kali dia bertengkar dengan nya tak lepas dari masalah ayam.
Aku kembali masuk ke dalam rumah setelah pak Yanto kembali ke rumah nya. Lihat saja, dia akan melaksanakan perintah ku untuk memagari pekarangan rumahnya tidak, jika tidak berarti ada kelainan di otaknya.
Di sore harinya ketika aku sedang mengangkat jemuran kerupuk yang sudah mengering, aku di kejutkan dengan kedatangan mba Yati istri bang Supri. Ternyata dia masih punya muka setelah aku mengusirnya beberapa waktu yang lalu ketika dia menagih hutang ibuku yang berjumlah dua ratus ribu.
Penampilan mukanya yang menor serta memakai rok mini yang memperlihatkan dempul hitam nya dia berjalan ke arahku yang sedang memegang penampi berisi kerupuk.
Dari jarak jauh pun ku pandang sinis dia karena aku memang tidak suka padanya semenjak dari pertama dia nikah dengan bang Supri hingga sekarang karena sikap nya yang arogan dan sok kaya bahkan sering kali menghina ku.
"Mau apa lagi mba kemari? jangan bilang mau nagih duit lagi sama aku, kalau mau tunggu saja sampai ibuku pulang." kata ku dengan ketus.
Sambil bersedekap dada dan memandang sinis ke arahku dia membalasnya."Sombong sekali kamu Nuri, orang miskin dan baru juga jadi pedagang kerupuk keliling saja sudah belagu apalagi kalau jadi pengusaha dan kaya."
Aku berdecak kesal, tidak tau saja dia bahwa usahaku yang dia anggap remeh ini menghasilkan uang berkelipatan besarnya dari gaji suaminya yang berjumlah hanya tiga juta.
"Oh, masa sih aku sombong? ya meskipun aku menjadi pedagang kerupuk setidaknya aku berpenghasilan lho bukan hanya kerjanya minta sana minta sini demi memenuhi kebutuhan gaya hidup." Aku menyindirnya dan mba Yati mulai terlihat kesal mendengar sindiran ku.
"Sudah aku ini orang sibuk, langsung saja ada urusan apa kemari?" tanyaku kemudian. Mba Yati terdengar mendengus kesal kemudian berkata dan membuat aku antara percaya dan tidak percaya.
"Kakak mu sakit sudah satu Minggu berbaring saja di rumah dan tidak bekerja."
__ADS_1
Aku melongo saja mendengar laporan dari mba Yati tentang bang Supri." Bang Supri sakit? sakit apa dia?" tanya ku penasaran, karena tumben dia sakit dan istrinya melapor padaku.
"Mana ku tau, orang berobat saja belum."
Aku mengernyitkan dahi mendengar pengakuan mba Yati, bagaimana bisa dia membiarkan suaminya sakit tanpa di obati.
"Kalau sakit kenapa di biarkan dan tidak di bawa berobat mba?"
"Ngomong mah gampang Nur, tapi apa kamu tidak mikir kalau berobat itu pakai duit?"
"Ya ialah pakai duit kata siapa pakai daun." Aku menimpalinya dengan kesal.
"Itu kamu tau Nuri."
Aku berdecak kesal."Ya sudah, laporannya aku terima. Terus sekarang mau apa lagi?"
"Mau minta duit untuk berobat kakak mu bang Supri."
"Ya karena kamu itu adiknya bang Supri makannya aku berani minta duit buat berobat kakakmu itu."
"Bang Supri tidak pernah menganggap aku adiknya dari dulu hingga sekarang mba, mba itu kan istrinya mestinya mba sendiri yang bertanggung jawab bukan melimpahkannya ke aku."
"Aku tidak ada duit Nuri, makannya aku minta sama kamu."
"Bukan nya mba orang kaya ya?"aku menyindirnya.
"Sudah lah Nuri, kamu jangan membahas kemana mana. Cepat kasih duitnya ke aku biar aku langsung membawanya berobat. Aku sudah tidak betah melihatnya tidur terus dan tidak berpenghasilan." Mba Yati dengan entengnya memaksa aku untuk memberikan uang padanya. Benar benar picik sekali. Bukanya aku tidak memiliki hati membiarkan kakak ku sendiri sakit dan di biarkan saja, meskipun bang Supri tidak pernah berlaku baik padaku. Terlebih aku ingin melihat tanggung jawab mba Yati sebagai pasangan hidup bang Supri yang mestinya susah senang di jalani bersama bukan hanya ketika senang nya saja.
Aku masih diam dan menatap kesal ke arahnya.Tidak habis pikir sama bang Supri yang memiliki istri bersifat pintar kodek.
__ADS_1
"Cepat Nuri, mau kasih duit tidak kamu. Kalau tidak mau ya sudah, aku akan membiarkan bang Supri sakit terus mati, tidak masalah bagiku kalau dia mati, aku ini kan cantik masih banyak laki laki kaya yang mau sama aku."
Aku geleng - geleng kepala mendengar omongan kakak ipar ku, tidak habis pikir dia memiliki pemikiran seperti itu. Sayang pada bang Supri ketika sehat dan ada uang saja tapi ketika bang Supri tidak berdaya rasa sayangnya hilang. Apa memang selama ini mba Yati tidak sayang sama bang Supri? Jika di perhatikan dari penampilan bang Supri yang selalu terlihat dekil saja memang sudah bisa di tebak jika mba Yati demikian pada bang Supri. Kalau memang benar dugaan ku betapa bodohnya bang Supri demi cinta dia mempertahankan mba Yati meskipun sifatnya sudah terlihat jelek.
Sekesal atau sebenci apapun aku pada bang Supri karena sikapnya yang tidak pernah baik padaku dari masa kami kecil hingga tumbuh besar tapi aku masih memiliki hati dan rasa sayang padanya meskipun secuil. Aku mana tega membiarkan bang Supri sakit terus di biarkan. Bergegas aku masuk ke dalam rumah lalu mengambil uang simpanan sebanyak satu juta kemudian kembali lagi pada mba Yati yang sedang berdiri di teras rumah.
"Ini....ini uang untuk berobat bang Supri, uang untuk berobat ya, bukan untuk di pakai sama mba," kataku mengingatkannya, siapa tau saja dia memakainya sendiri mengingat sikap piciknya. Terdengar mba Yati mendengus kesal lalu mengambil kasar uang yang aku sodorkan padanya kemudian bergegas pergi dari rumahku.
Aku menatap punggung mba Yati dengan harapan semoga mba Yati mempergunakan uang itu benar benar untuk berobat bang Supri bukan di pergunakan untuk kebutuhannya sendiri. Namun jika itu terjadi aku akan membuat perhitungan dengannya. Besok rencana aku mau melihat apakah benar bang Supri sedang sakit atau hanya akal akalan mereka saja.
Pukul setengah enam dan aku baru saja selesai menyuapi Zain, terdengar suara teriakan suara perempuan di teras rumah sambil menggedor gedor pintu.
Aku terusik sekali dan bergegas mendekati pintu setelah menyimpan piring bekas makan Zain terlebih dulu. Setelah membuka pintu aku di kejutkan oleh kedatangan Bu Rida dengan muka marahnya dan ustad Amir dengan muka ketakutannya. Dahi ku berkerut melihat kedatangan kedua orang terpandang di kampung ku. Suami nya terpandang karena seorang ustad, dan istrinya terpandang karena gaya hidup sosialitanya dan mulut pedasnya.
"Maaf ada urusan apa ya menjelang Maghrib datang ke rumah saya?"aku bertanya karena penasaran.
"Aku kesini mau menagih hutang ibu mu pada suamiku berjumlah lima juta." Kata Bu Rida dengan suara keras serta berapi api. Untung rumahku jauh dari tetangga jadi suara keras Bu Rida tidak mengundang mereka untuk menonton kami.
Ustad Amir menarik narik lengan istrinya sambil berkata," sudah Bu, nanti saja menagih nya sama Bu Retno, Nuri tidak tau apa apa."
"Bodo amat, aku mau uangku balik sekarang," sentak Bu Rida pada suaminya.
"Cepat kamu bayar hutang ibumu Nuri, berani sekali ibumu diam diam ngutang uang suamiku dan sudah lama tidak di kembalikan,"
"Apa ibu tidak bisa bicara dengan suara sedikit rendah?"aku menyindirnya karena dari tadi dia bicara seperti bicara pada orang dengan jarak jauh saja padahal aku ada di depannya.
"Halah sudah jangan basa basi cepat bayar hutang ibumu."
Aku geleng-geleng kepala saja melihat sikap Bu Rida yang terkesan arogan. Aku sendiri bersikap biasa saja karena sudah tau sebelumya kalau ibuku memiliki hutang pada ustad Amir karena ustad Amir sendiri yang memberi tahu namun saat itu dia tidak menagihnya. Aku pun tidak ingin berdebat, selain waktunya memasuki Maghrib aku juga malas meladeni omongannya. Aku bergegas masuk ke dalam rumah lalu mengambil uang keuntungan dari hasil penjualan kerupuk bulan kemarin yang belum sempat aku simpan di bank. Setelah itu aku kembali pada mereka yang sedang menunggu ku di luar rumah.
__ADS_1
"Ini Bu, pembayaran hutang ibuku yang berjumlah lima juta, silahkan di hitung."Aku menyodorkan uang itu pada Bu Rida kemudian dia mengambil kasar lalu menghitungnya.
"Sudah pas kan Bu?" tanya ku, namun Bu Rida tidak menjawab melainkan ngeloyor pergi tanpa permisi lalu di ekori oleh ustad Amir di belakangnya. Aku menggeleng saja melihat sikap dua orang itu dan aku berharap uang yang sudah aku keluarkan hari ini menjadi berkah untuk ku dan Zain.