Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Akibat di hajar istri sah


__ADS_3

Setelah memarkirkan motorku, aku bergegas memasuki rumah sakit dengan langkah tergesa gesa agar cepat tiba di ruang paru paru dan memberikan makanan yang ku bawa untuk Sumi karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Aku yakin Sumi pasti sudah kelaparan di dalam sana.


"Nuri..."di tengah melangkah seseorang memanggilku dari arah belakang.


Aku menghentikan langkahku lalu berbalik dan ternyata dokter bayu lah yang memanggilku. Dia terlihat berjalan dengan langkah yang lebar, mungkin agar cepat sampai padaku.


"Nuri.."sapa dokter tampan itu dengan nafas terdengar sedikit tersengal.


"Dokter Bayu!"aku balik menyapa.


"Kamu mau keruangan ibu Mariam ya?"


"Benar dok."


"Kalau begitu bareng saja, saya juga mau mengecek ibu Mariam."


"Mari dok." Kemudian kami berjalan beriringan menuju ruang paru paru.


Ketika kami berjalan di koridor rumah sakit sorot mataku melihat sosok pria paruh baya yang sepertinya sudah tidak asing lagi sedang berjalan ke arah ruang rawat inap. Aku berusaha mengingat siapa sosok pria paruh baya itu dan sesaat kemudian aku mengingatnya. Pria buncit itu tak lain adalah pak umar mertuanya bang Supri. Tapi sedang apa dia berada di rumah sakit dan siapa yang sakit.


"Nuri.." ditengah rasa penasaran ku pada pria buncit itu, dokter Bayu memanggilku.


"Iya dok."


"Kamu sedang melihat apa?"


"Oh, saya sedang melihat orang yang saya kenal tadi di sana," tunjuk ku pada ruang rawat yang pintunya tertutup.


"Oh, saya kira melihat apa."


Aku tersenyum.


"Apa yang kemarin itu anak mu Nuri?"tanya nya di sela sela melangkah.


"Benar dok, anak saya dan baru berusia dua tahun lebih,"jawab ku tanpa ragu.


Dokter Bayu menghentikan gerakan langkah nya lalu memiringkan tubuhnya menatapku, aku pun menatap balik padanya.


"Kenapa dok?"tanya ku dengan heran.


"Jadi...kamu sudah menikah?"tanya nya dan terlihat ragu.


"Saya single parent dok."


"Maksud mu kamu.."


"Saya seorang wanita yang sudah menikah lalu bercerai."Aku memperjelas.


Dokter Bayu terdiam entah apa yang sedang dia pikirkan tentangku namun tak lama kemudian dia berucap," oh, maaf Ri." Dokter Bayu sendiri belum mengetahui tentang statusku karena dia tidak pernah bertanya sebelumnya dan aku pun belum pernah cerita padanya.


"Ehm,Dok.."


"Kenapa Nuri?"


"Apa....dokter itu kakak dari Nura kekasih nya Raihan?"aku memberanikan diri bertanya karena penasaran. Sebab, sebelumnya dokter Bayu pernah bilang kalau adik perempuannya sudah meninggal setelah dilahirkan.


"Kamu mengenal Nura?"Bayu balik bertanya.


"Tidak terlalu mengenalnya hanya pernah sekali bertemu."


"Lantas darimana kamu tau kalau aku kakak dari Nura?"


"Raihan."

__ADS_1


"Oh, Benar, Nura adalah adik ku dari istri kedua papa, kata oma papa menikah lagi setelah baru satu bulan mama meninggal. Aneh bukan, ketika istri dan anak baru meninggal dia menikah lagi. Aku sendiri sebenarnya tidak dekat dengan mereka termasuk papa karena semenjak meninggal aku di asuh oleh Oma, ibu dari mamaku. Dan kenal dengan Raihan pun hanya satu kali saja bertemu saat ulang tahun Nura."


"Apa Raihan dan Nura itu pernah satu sekolah atau satu kampus?"


"Saya kurang tau Nuri, tapi saya rasa tidak deh, soalnya setau saya usia Nura jauh di atas Raihan, mungkin beda usia sekitar lima atau enam tahun."


Aku mengernyitkan dahi ku, kenapa Raihan mencari pacar yang usianya sama dengan ku dan namanya pun hampir sama dengan ku? Apa dulu Raihan benar benar ingin melupakan aku sehingga dia mencari pacar yang persis sama denganku.


"Darimana dokter tau?"


"Dari biodata mereka, aku tidak sengaja melihat biodatanya. Raihan itu seorang pengusaha muda yang perusahaannya baru berdiri dan setau ku papaku penanam saham empat puluh persen di perusahaanya.


Lagi lagi aku mengernyitkan dahi ku setelah dokter Bayu bercerita. Aku berpikir apa karena orang tua Nura pemilik saham empat puluh persen di perusahaanya hingga Raihan mau menerima Nura untuk menjadi kekasihnya meskipun dia tidak cinta. Aku menelan saliva ku yang terasa tercekat di tenggorokan.


"Kenapa kamu menanyakan tentang Raihan dan Nura, Nuri?"


Pertanyaan dokter bayu membuyarkan sedikit lamunanku."Maaf dok, saya harus segera memberikan makanan ini kasihan teman saya pasti dia sudah kelaparan," aku mengalihkan pertanyaannya.


"Ah ya sudah, mari di lanjut."


Aku mengangguk. Kemudian kami melanjutkan langkah kami menuju ruang paru paru.


Baru saja membuka daun pintu Sumi sudah menyambut ke datangan kami dengan senyum sumringah.


"Nuri.."Sumi langsung memeluk ku.


"Sum, maaf ya aku datangnya kesiangan tadi ada urusan sedikit,"kataku, setelah melepas pelukannya sembari menyodorkan paper bag ke arahnya.


"Tidak apa apa Nuri, terima kasih ya kamu sudah bela belain bawain makanan ini untuk aku padahal kamu sendiri pasti sibuk di rumah."Kemudian Sumi mengambil paper bag itu.


"Tidak apa apa Sum, selagi aku mampu."


"emm, saya mau memeriksa ibu Mariam dulu ya Nuri?"ijin dokter Bayu.


"Iya dok silahkan."


Setelah dokter Bayu masuk ke dalam tirai, Sumi berbisik,"kenapa kamu terlihat akrab dengan dokter Bayu Nur?"


"Perasaan kamu saja Sum."Aku menyangkalnya meskipun sebenarnya aku merasa begitu dekat dengannya.


"Kalau aku perhatikan dari sikap serta tingkahnya, sepertinya dokter Bayu suka deh sama kamu."


"Jangan ngomong sembarangan Sum, kalau terdengar orangnya bisa malu aku Sum."


"Jiahh, kamu juga suka ya sama dokter itu, tapi tidak apa apa Nuri, aku dukung. Lagian dokter Bayu tampan dan kalau di perhatikan kalian seperti ada kemiripan. Dan kamu tau tidak kalau kata orang tua dulu kalau wajahnya ada kemiripan itu tandanya berjodoh."


Aku menyenggol lengan Sumi dengan siku ku agar dia berhenti bicara, apa lagi orang yang sedang di bicarakan nya keluar dari balik tirai.


Sumi terdiam, aku pun sama. Dokter Bayu melihat ke arah kami lalu memberikan senyuman manisnya. Aku pun membalas senyumannya.


"Sudah selesai dok?" tanyaku.


"Sudah, apa kamu mau keluar sama sama?"Dokter Bayu balik bertanya.


"Oh, tidak dok, saya akan melihat Bu Mariam terlebih dahulu. Dokter silahkan duluan saja."


"Kalau begitu saya pamit keluar dulu," ucapnya kemudian.


"Iya dok silahkan."Kemudian dokter Bayu ke luar dari ruangan paru paru.


Tak lama kemudian aku pun pamit pada Sumi setelah melihat kondisi ibu Mariam terlebih dahulu.


Di sela melangkah mataku tertuju pada salah satu ruang rawat yang di masuki oleh pak Umar mertua bang Supri. Namun ketika aku sedang memperhatikan pintu itu seseorang menyapaku.

__ADS_1


"Mba Nuri sedang apa di sini?"


Aku menyipitkan mataku melihat pria kurus dan rambut berjambul merah berdiri di hadapanku."Kamu Jono adiknya mba Yati kan?"


"Iya mba."


"Sedang apa kamu di sini?


"Jagain mba Yati mba?"


"Memang nya mba Yati kenapa?"


"Mba Yati sakit mba."


"Sakit apa?"


"Anu....itu mba Yati kecelakaan."


"Kecelakaan, kapan?"


"empat hari yang lalu mba."


Empat hari yang lalu, aku teringat empat hari yang lalu itu aku memergoki nya di sebuah hotel sedang e na e na dengan aki aki tua. Kemudian istri dari pria itu menghajar habis habisan mba Yati dan aku tidak tau bagaimana kondisinya karena pada saat itu aku meninggalkannya setelah mengambil bukti perselingkuhannya. dan saat ini aku yakin dia sakit bukan karena kecelakaan melainkan di hajar oleh wanita tua itu.


"Terus di dalam apa bapak mu sedang menunggunya juga?"


"Bapak baru saja pulang, sekarang giliran aku yang jagain."


"Oh, apa aku boleh melihat mba Yati?" tanya ku, aku penasaran separah apa sakitnya.


"Boleh mba, hayu." Kemudian aku mengekor di belakang Jono memasuki ruang rawat.


Jono menyibak kan tirai yang membentang."Sini mba masuk,"ajak Jono.


"Kamu sama siapa Jono?"mba Yati bertanya dengan suara pelan.


"Aku sama mba...."sebelum Jono meneruskan ucapannya aku lebih dulu menampakkan muka ku di hadapan mba Yati.


"Apa kabar mba Yati !"


Mba Yati terlihat terkejut sekali melihat kedatanganku. Kemudian dia segera mengalihkan mukanya yang bengkak parah hingga aku tidak bisa mengenali kalau wanita itu adalah mba Yati.


"Kenapa kamu membawa perempuan ja la ng ini kemari Sujonooooo.."teriak mba Yati. Dia terlihat marah sekali pada adiknya.


"Tapi ini kan mba Nuri adik ipar mba sendiri," kata Jono.


"Tapi aku tidak mau dia datang kemari, cepat usir dia dari sini Jono."


Aku menyungging kan senyum miring mendengar pengusirannya apa lagi kata ja la ng yang dia lontarkan. Tadi nya aku mau bicara baik baik dengannya tapi melihat sikapnya seperti itu aku jadi mikir wanita ini memang tidak layak di baik baikin.


"Sedang kondisinya seperti ini saja sempat sempatnya teriak dan ngatain orang Ja la ng. Padahal sakitnya juga akibat dari ke jalangan nya sendiri. Memalukan sekali,"sindir ku.


"Pergi kamu pergi.."


"Tidak perlu di usir juga aku akan pergi mba, aku hanya ingin memastikan saja bagaimana kondisi ipar laknat setelah di hajar oleh istri sah laki laki tua yang mba tiduri."


"Apa maksud mba?tanya Jono, ternyata dia tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada kakak nya.


"Diam kamu diam, pergi pergi!"teriak mba Yati mengusirku, dadanya naik turun sepertinya marah sekali.


Aku tersenyum miring melihatnya."Kamu tanyakan saja sama kakak mu ini apa yang sebenarnya terjadi sama dia Jono, kamu tau Jon, kakak mu seperti ini akibat ulah nya sendiri yang sudah berani main serong di belakang kakakku. Padahal kakak ku sedang sakit parah."


Ku alihkan pandanganku pada wanita yang sedang marah dan mukanya tidak ku kenali." Makannya jangan suka bermain api kalau tidak ingin terbakar. Jangan bermain main dengan suami orang kalau tidak ingin di hajar sama istrinya. Kartu mu ada di tangan ku lho mba, aku punya bukti perselingkuhan mu tinggal aku beri tahu bang Supri agar cepat menceraikan istri yang sering bergonta ganti batang. Ya smoga saja mba tidak terkena penyakit kelamin. Permisi..!"setelah berkata aku bergegas pergi.

__ADS_1


"Brengsek kamu Nuri, awas kamu Nuri,"teriak nya dan berusaha untuk turun dari ranjang pasien ingin mengejar ku namun Jono menahannya.


Ku tutup daun pintu itu dan dari luar pun teriakannya masih terdengar. Aku melangkah pergi tidak peduli.


__ADS_2