Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Rentenir menagih hutang


__ADS_3

Aku duduk termenung di atas kasur tempat tidur ku. Sementara Zain sedang bermain mobil mobilan di ruang TV. Banyak sekali yang aku pikirkan di otak ku. Tentang gosip aku dan Raihan, tentang suamiku serta tentang bagaimana caranya aku mencari uang tanpa harus meninggalkan Zain.


"Ya Allah...mudah kan lah bagi hamba mu ini untuk mencari jalan rezeki mu! karena aku tak mungkin mengharapkan pemberian dari suamiku." Aku bergumam dalam hati sambil menatap langit langit kamar.


Kegiatanku hari ini hanya mengasuh Zain sambil termenung memikirkan bagaimana caranya mencari uang namun belum saja menemukan idenya hingga aku lelah sendiri lalu tertidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur hingga terbangun karena mendengar suara keras ibu mengomeli anak ku hingga Zain menangis.


"Ya Allah, Zain!" Aku langsung bangun dan keluar dari kamar menemui anak ku yang sedang di jewer kupingnya oleh ibuku. Zain terlihat kesakitan dan menangis kencang.


Aku membelalakkan mataku melihat perbuatan ibu pada Zain lalu aku berteriak," lepas kan anak ku Bu!" segera aku berlari ke arah mereka kemudian mendekap Zain dan membawanya menjauh dari ibu.


Sambil mengelus punggung Zain di dekapanku, aku menatap geram pada ibu yang sudah menjewer kuping anak ku hingga memerah. Aku tidak terima atas perlakuannya yang sudah tega menyakiti anak ku.


"Tega sekali ibu menyakiti cucu ibu sendiri. Ibu benar benar nenek yang tidak punya hati dan perasaan." Aku berucap dengan suara ku lantang kan karena aku benar benar geram padanya. Selain itu, ku tajam kan pandanganku padanya agar ibu merasa takut lalu menyesali perbuatannya. Namun sebaliknya dia malah membela diri tidak ingin di salahkan.


"Kenapa kamu menyalahkan aku Nur? anak mu itu yang kurang ngajar telah menginjak tas ku. Tidak ada sopan nya sama kayak kamu."


"Bu, Zain masih terlalu kecil belum mengerti. Apa menurut ibu Zain tau kalau benda itu tas berharga milik ibu? Zain belum tau apa apa Bu, dia hanya taunya mainan. Mestinya ibu tidak meletak kan sembarangan tas ibu biar tidak di kira mainan oleh Zain."


"Halah, dasar anak mu saja yang bodoh, sama kayak kamu bodoh."


Aku semakin geram saja pada ibu telah mengatai anak ku yang belum mengerti apa apa dengan sebutan bodoh. Saking geramnya sampai gigiku bergemeletuk. Kalau saja dia bukan ibuku mungkin sudah ku remas mulut pedasnya.


"Sekali lagi ibu menyakiti anak ku, aku tidak akan segan segan melaporkan ibu ke polisi dengan tuduhan kekerasan pada balita," Aku mengancamnya dan ancaman ku ternyata dapat membuat mulutnya bungkam dan ekspresi mukanya menjadi tegang. Dan aku senang melihatnya. Biarkan saja agar dia tidak berani lagi menyakiti anak ku.


Aku pergi keluar rumah meninggalkan ibu yang masih diam mematung. Dengan perasan kesal dan geram ku banting daun pintu cukup keras. Kemudian aku menenangkan Zain di luar rumah.


Ketika aku sedang duduk di teras rumah sambil memperhatikan Zain yang sedang bermain mobil mobilan di luar rumah, seorang wanita paruh baya namun berpenampilan seperti wanita modern mengunjugi rumahku. Dia turun dari motornya lalu membuka kacamatanya. Aku masih memperhatikannya saja. Dia mendekatiku dan menyapaku dengan wajah datarnya.


"Permisi apa kamu yang bernama Nuri?" tanya wanita itu padaku dengan wajah congkak.


Dengan perasaan heran aku pun berdiri dan menjawabnya," benar saya sendiri, ada perlu apa ya Bu?"


"Saya kemari untuk menagih hutang dua juta, padahal ini sudah lebih dari masa tempo, mestinya minggu yang lalu kamu membayarnya," ujar wanita itu yang tidak aku kenali sama sekali tiba tiba saja berbicara masalah hutang dan membuatku terkejut bukan main.


"Hah, menagih hutang, maaf hutang apa ya Bu, rasanya saya tidak pernah berhutang apa pun sama ibu, kenal saja tidak."


"Memang bukan kamu yang meminjamnya tapi Bu Retno dan atas nama kamu."


"Apa.....ibuku yang meminjam uang dan atas namaku?"


"Iya, kalau tidak percaya tanya saja sama dia dan catatannya pun ada."

__ADS_1


Dadaku mulai bergemuruh dan sesak sekali rasanya. Tega sekali ibuku meminjam uang pada rentenir atas nama diriku yang tidak tau menahu. Aku beranjak masuk ke dalam rumah sampai aku melupakan anak ku yang sedang bermain di halaman rumah.


Ku ketuk pintu kamar ibu berkali kali sambil memanggilnya namun ibu tidak mau keluar kamar. Karena aku sangat kesal pada ibu yang tidak mau keluar, ku tendang tendang daun pintu menggunakan satu kakiku dengan keras sambil berteriak," Keluar Bu, cepetan keluar kalau tidak aku dobrak pintunya. Jangan pura pura tidak mendengar, aku tau ibu sengaja kan menghindari ku. Cepetan buka pintunya Bu!" Ibu masih belum mau membuka pintunya.


"Bagaimana ini mba Nuri, saya tidak ada waktu banyak. Mba Nuri harus membayarnya sekarang." Rentenir itu tiba tiba saja berada di belakangku saat aku masih menendang nendang pintu kamar ibu dengan emosi. Aku pun berbalik dan menimpalinya," tidak bisa begitu dong Bu, yang ngutang itu ibu saya, Kenapa harus saya yang membayarnya?"


"Tapi kan atas nama kamu!"


"Tapi saya tidak memakan uang itu Bu, tau saja tidak ibu saya pinjam uang sama ibu."


"Saya tidak mau tau, saya hanya mau uang saya kembali bersama bunganya. Mau kamu mengetahuinya atau tidak yang jelas ibumu meminjam uang saya dan harus kalian kembalikan sebanyak dua juta."


"Saya tidak punya uang sebanyak itu, ibu tagih saja sendiri sama ibu saya karena dia yang pinjam dan memakai uang itu." Dengan perasaan kesal aku hendak pergi namun tanganku di cekal olehnya.


"Kamu mau kemana? kamu harus bertanggung jawab membayar hutang ibumu padaku."


Aku menepis tangan nya yang baru saja ku ketahui sebagai seorang rentenir. Dia terlihat marah sekali pada apa yang aku lakukan padanya.


"Ibu sama anak sama saja, sama sama pembohong dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Aku tidak mau tau nya, besok uangnya harus sudah ada. Kalau tidak jangan salahkan jika anak buah ku mengobrak abrik rumah mu lalu menjual barang barang berharga mu."


Aku menelan saliva ku dengan susah payah mendengar ancamannya. Tidak bisa membayangkan bagaimana jika rumahku di obrak abrik oleh preman lalu mengangkuti barang barang yang ada. Di tengah aku terdiam, rentenir itu pergi meninggalkan rumahku.


Ku hirup udara dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan, berharap emosi yang sedang menyelimuti hati ku meredam dan aku pun tak henti hentinya beristighfar. Setelah emosiku merasa stabil, aku baru teringat pada Zain yang ku tinggalkan sendirian di halaman rumah.


Aku segera keluar rumah untuk menemui Zain, namun setelah di luar aku tidak menemukan keberadaannya. Aku mulai panik, berlari ke sana kemari mencari keberadaan Zain sambil berteriak memanggil namanya namun Zain tidak ku temukan. Dalam keadaan panik aku sempat berpikir kalau ada yang menculik anak ku. Aku merubuhkan tubuhku di lantai teras. mataku mulai berair lalu mengalir deras. Aku menangis sambil menyebut nyebut nama anak ku.


Namun, ketika aku sedang menangis, Raihan sudah berdiri di sampingku sambil menggendong Zain. Aku segera mengambil alih Zain lalu menciuminya sambil menangis.


"Aku menemukan Zain di jalan ke arah rumah ku mba!" ucap Raihan tiba tiba.


Tangisanku berhenti lalu menoleh ke arah Raihan." Apa Rai, kamu menemukan Zain di jalan ke arah rumah mu?" Rasanya tidak percaya Zain berjalan sejauh itu.


"Zen mau ke lumah uncle lehan mama!" Zain tiba tiba berceloteh seolah olah menjelaskan padaku.


"Jadi benar kalau Raihan menemukan Zain ke arah rumahnya? bukan Raihan yang mengada ada atau beralasan?"


"Terima kasih Rai!"


"Sama sama mba. Kenapa Zain bisa jalan di jalanan mba?"


Aku menghela nafas,"ceritanya panjang Rai!" jawabku sambil memandang ke arah jauh dengan tatapan penuh beban.

__ADS_1


"Tidak apa apa kalau mba tidak ingin bercerita."


"Rai...!"


"iya mba, kenapa?"


"Aku ingin bicara sama kamu!"


"Bicara saja mba, tapi apa mba tidak ingin mempersilahkan aku masuk?"


Aku tersenyum lalu mempersilahkannya untuk memasuki rumahku. Kami duduk di ruang TV di atas karpet karena aku harus merebahkan Zain yang sudah mengantuk.


"Mba mau bicara apa tadi?" tanya Raihan. Aku melirik ke arahnya yang sedang duduk di sampingku sambil bersender ke tembok.


Aku menghela nafas terlebih dahulu sebelum memberi tahu Raihan bahwa aku dan dirinya menjadi perbincangan orang orang kampung.


"Rai...!"


"Hem..!"


"Apa kamu sudah tau tentang gosip di kampung ini?"


Raihan tersenyum dan bersikap santai saja seolah olah tidak terkejut dan sudah mengetahuinya.


"Biarkan saja mba!"


"Kamu sudah tau Rai?"


Raihan mengangguk.


Tok tok tok..


Terdengar pintu di ketuk dari luar. Padahal kami belum bicara banyak mengenai gosip. Aku menoleh ke arah Raihan yang bersikap tenang saja tanpa ada rasa khawatir.


"Buka saja pintunya, siapa tau orang penting. mba tenang saja aku akan bersembunyi di kamar."


Aku menuruti perintah Raihan untuk membuka pintu terlebih dahulu. Namun ketika aku membuka pintu, aku tercengang melihat siapa yang datang ke rumahku sore hari. Bu haji, ibunya Raihan sedang berdiri di depan pintu dengan wajah yang datar dan tanpa mengucapkan salam.


"Bu..Bu haji !" sapa ku dengan gugup.


Bu haji tidak membalas sapaan ku bahkan wajahnya terlihat datar saja.

__ADS_1


__ADS_2