
Aku menatap kepergian mba Nuri, dia pamit pulang ke rumahnya karena hari sudah semakin sore. Tadinya ayah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang namun mba Nuri menolaknya dengan alasan rumahnya dekat. Apakah benar rumah ku berdekatan dengan rumahnya? Jika memang benar senang sekali rasanya. Setidaknya kepergiannya dari rumahku saat ini bukan lah kepergiannya untuk yang terakhir kalinya dan sewaktu waktu aku masih bisa menemuinya di rumahnya.
"Bu..apa aku boleh bertanya?" Tanyaku setelah kami berpindah tempat di ruang tamu.
Ibu melirik ku dan bertanya,"mau tanya apa Rai?"
"Apa ibu tau dimana rumah mba Nuri?" tanya ku dengan serius pada ibu dan berharap ibu mau memberi tau padaku.
"Chiee...sepertinya ada yang ke semsem." Bukan ibu yang menjawabnya malah ayah yang menyahuti dengan nada menggodaku.
"Jangan salah paham dulu dong yah, aku punya hutang budi sama mba Nuri. Selain hutang budi aku juga punya hutang uang sama dia." Aku buru buru menjelaskannya.
Ibu memutar bola matanya kesamping lalu bertanya,"Hah, apa Rai, kamu punya hutang uang sama Nuri? kok bisa seorang bos pedagang online berhutang sama cewek?"
"Bukannya begitu Bu, tadi itu mba Nuri yang membayar biaya perobatan ku Bu. Tadinya aku mau mengganti uangnya tapi di dompetku hanya sisa uang lima puluh ribu. Sebenarnya mba Nuri sendiri tidak ingin di ganti uangnya dia bilang kalau aku menggantinya nanti pahala untuknya bisa hilang."
"Baik juga dia ya! andai saja ayah punya anak laki laki yang sudah dewasa, ayah mau deh jodohin dia sama Nuri. Selain cantik, Nuri juga baik, cocok kalau di jadikan menantu iya tidak Bu?" Ayah menyahuti sembari pandangannya mengarah pada ibu meminta pendapatnya.
"Tapi sayangnya yah, kita hanya memiliki satu anak laki laki dan masih kecil pula," jawab ibu lalu mereka tertawa bersama.
Saliva ku terasa tercekat di tenggorokan. Aku merasa kesal sekali mendengar obrolan mereka. ayah berkhayal memiliki anak lelaki dewasa dan ingin menjodohkan anak lelaki dewasanya dengan mba Nuri. Apa dia lupa bahwa anak lelaki satu satunya ini meskipun usianya masih belia tapi sudah bisa mencari uang sendiri? meskipun seandainya aku menikah di usia ku saat ini yang baru tujuh belas tahun aku yakin aku pasti mampu menafkahi istriku dengan usahaku yang ada. Ibu juga, terang terangan mengatai ku masih kecil. Apa menurut mereka usia menjadi tolak ukur atas kedewasaan seseorang? apa mereka tidak tau bahwa ada orang yang umurnya sudah dewasa tapi bersikap seperti anak anak? Ada pula yang usianya masih anak anak tapi sikapnya sangat dewasa seperti aku ini salah contohnya. Teman temanku saja mengakui kalau sikapku ini lebih dewasa dari usiaku.
Aku berusaha bangkit dari kursi yang aku duduki lalu berjalan tertatih meninggalkan ibu serta ayahku yang sedang asik mengobrol dan isi obrolannya hanya membuat ku kesal saja.
"Hei, Rai..kamu mau kemana?"tanya ibu ketika menyadari aku sudah berdiri dan berjalan pelan.
"Ke kamar, gerah aku disini," jawab ku tanpa menoleh pada ibu.
"AC nya sedang nyala normal kok gerah Rai!" ucap ayah. Namun, aku tidak menghiraukan ucapan ayah melain melanjutkan melangkah pelan.
"Tunggu Rai..biar ibu bantu!" cegah ibu sambil berdiri tegak.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Aku menolaknya dan ibu diam di tempat.
"Biar kan saja Bu, nanti juga kalau dia jatuh dari tangga yang merasakan sakitnya juga dia sendiri."
Aku mencengkram erat pegangan tangga sebagai bentuk kekesalanku atas sikap kedua orang tuaku yang masih saja menganggap ku anak kecil. Tega sekali ayah bicara seperti itu meskipun hanya niat becanda. Kalau aku jatuh beneran bagaimana?
Akhirnya aku sampai juga di kamar pribadiku setelah bersusah payah menaiki anak tangga. Ku rebahkan tubuh lelahku. Lelah setelah beraktifitas seharian di tambah lagi musibah kecil yang menimpaku. Sambil menyilang kan kedua tanganku di bawah kepala serta tatapan lurus ke atas langit langit aku membayangkan sosok mba Nuri, bidadari yang yang telah menolongku.
__ADS_1
"Nuri Aisha....nama yang cantik seperti wajahnya, cantik pula seperti hatinya." Aku bergumam dengan senyuman yang tak lepas dari bibirku.
Aku tidak menyangka jika aku tinggal di kampung yang sama dengannya. Kenapa aku baru mengetahui jika ada wanita secantik mba Nuri di kampung ini? Benar kata ayahku, aku yang tak pernah bergabung dengan para pemuda di tempat tinggal ku serta tak pernah main di sekitaran dimana aku tinggal membuat aku tidak mengenali orang orang yang tinggal satu kampung denganku. Bukannya aku sombong, tapi aku tidak memiliki waktu untuk bermain. Hari hariku hanya ku habiskan untuk sekolah serta menjalankan bisnis online ku saja. Oleh karena itu, tak banyak orang di kampung ku yang mengetahui jika orang tuaku memiliki anak lelaki dan mungkin termasuk mba Nuri.
Orang tua ku sendiri sebenarnya bukan asli penduduk kampung ini. Kami berasal dari kota Surabaya dan tiba tiba saja pindah ke kampung ini sejak aku masih kelas satu SMP, kakak kedua ku kelas dua SMA dan sekarang sedang berkuliah di Jakarta serta kakak pertamaku sudah menikah dan ikut dengan suaminya tinggal di kota Bogor. Aku sendiri tidak tau apa alasan ayah membawa kami tinggal di kampung Kenanga ini? sebuah kampung cukup besar yang di huni oleh lebih dari empat ratus kepala keluarga.
Satu minggu kemudian. Kakiku sudah sembuh meskipun lukanya belum terlalu kering tapi lumayan bisa di gerak kan dan bisa berjalan normal. Aku juga sudah melakukan aktifitas ku seperti semula, bersekolah dan menjalankan bisnisku.
Pagi ini aku berencana untuk mengunjungi rumah mba Nuri, selain untuk bersilaturahmi, jujur aku merasa rindu padanya. Aku berjalan menyusuri jalanan menuju rumah mba Nuri sesuai dengan petunjuk yang telah di beri tau oleh ibu. Ternyata tidak sulit mencari dimana keberadaan rumahnya. Letak rumah yang terpencar dan menyendiri di tengah tengah pekarangan yang cukup luas, terlihat sederhana namun cantik karena di kelilingi oleh bermacam macam tanaman bunga dan aku rasa mba Nuri tipikal wanita yang hobi menanam bunga.
Aku berjalan mendekati pintu rumahnya. Kemudian membuka sandalku lalu menaiki teras. Ketika aku hendak mengetuk pintu, aku seperti mendengar suara orang sedang bertengkar di dalam rumah. Ku tajam kan pendengaran ku dan benar saja suara laki laki dan suara perempuan sedang berdebat.
"Kemarin aku sudah kasih uang dua juta, kenapa sekarang kamu minta lagi bang? apa kamu pikir aku ini mesin pencetak uang?"
"Gaji mu kan besar Nuri, aku yakin duit mu masih banyak. Lagian aku ini mau pinjam bukan minta."
"Halah, alasan saja minjam. Dari dulu selalu minta duit dengan alasan pinjam tapi tidak pernah di kembalikan."
"Aku bukan tidak mau mengembalikan uang mu Nuri tapi aku belum ada duit."
"Bagaimana mau punya uang kalau hidupnya hanya bermalas malasan. kamu kan sudah punya istri dan anak bang, kenapa masih saja tidak berubah!"
"Jangan sok ngajari aku kamu Nur, karena aku lebih tau dari pada kamu."
Hening...
Namun kemudian pintu terbuka dan muncul sosok pria berkulit sawo matang dengan wajah yang tak enak di pandang. Aku yang berdiri di tengah pintu tersentak kaget kemudian menyingkir memberi jalan pada pria di hadapanku karena dia sendiri menatap nyalang ke arahku. Dia berjalan angkuh melewati ku. kemudian sebuah pot kecil berisi tanaman bunga di tendang nya hingga pecah berserakan. Setelah itu, dia pergi dengan berjalan kaki.
Aku masih mematung di tempat. Aku jadi merasa bingung untuk meneruskan menemui mba Nuri atau kembali pulang saja. Namun di tengah kebingungan ku, seorang wanita cantik yang sedang aku cari muncul dari balik pintu.
"Mba Nuri...!"sapa ku.
"Raihan..kenapa kamu bisa ada disini?" tanya mba Nuri dengan wajah bingungnya. Aku tidak menjawabnya melainkan pandangan ku terfokus pada sebelah pipi mulusnya yang memerah. Aku yakin pria tadi telah menampar mba Nuri.
Tiba tiba aku menjadi geram pada pria tadi, wanita yang sudah mengisi pikiranku akhir akhir ini telah di sakiti nya. Kemudian aku bertanya,"Siapa pria tadi mba?"
"Pria, pria yang mana ya?" mba Nuri malah balik bertanya dengan sikap yang di buat setenang mungkin meskipun sebenarnya sorot matanya menampakan kesedihan namun aku tidak ingin menyinggungnya dengan pertanyaan yang dapat membuatnya bertambah sedih.
"Pria yang baru keluar dari rumah mba."
__ADS_1
"Oh, apa kamu dari tadi di sini nya Rai?" tanya mba Nuri dengan nada menyelidik.
"O...tidak mba aku baru saja datang." Aku berbohong karena aku tidak mungkin berterus terang kalau aku sudah mendengar pertengkaran mereka.
"Dia kakak ku Rai!" ucap mba Nuri tiba tiba. Dan aku hanya bergeming huruf O saja.
Mba Nuri manggut manggut kecil. Kemudian dia mengajak ku memasuki rumahnya dan kami duduk sambil mengobrol di ruang tamu. Kami bercerita banyak hal, tentang sekolahku, tentang pekerjaannya, tentang keluargaku namun satu hal yang tidak aku tanyakan padanya yaitu mengenai keluarganya. Aku senang sekali melihatnya tertawa lebar ketika aku bercerita hal hal yang lucu. Ketika kami sedang asik bercerita di selingi becanda, terdengar teriakan seorang wanita yang memanggil nama mba Nuri.
"Nuri....Nuri..!" teriak seorang ibu. Namun mba Nuri masih diam di kursinya.
Kemudian seorang ibu paruh baya muncul di ruang tamu dengan sorot mata tajam ke arah mba Nuri sambil membawa sebuah pakaian kemudian berbicara dengan suara keras.
"Kenapa baju ku belum kamu setrika Nuri? bodoh atau budeg sih kamu! aku sudah menyuruh mu berulang kali tapi tidak saja kau kerjakan." wanita paruh baya ini memarahi mba Nuri di depan ku seolah olah dia tidak menganggap ku ada. Sementara mba Nuri melirik ku sekilas, sepertinya dia merasa tidak enak hati atas sikap kasar ibunya.
"Aku belum sempat Bu!" jawab mba Nuri.
"Belum sempat bagaimana Nuri? apa gara gara kamu meladeni anak kecil ini jadi kamu tidak sempat menyetrika bajuku?" Mba Nuri melirik ke arahku dengan wajah yang cemas. dia sepertinya merasa tidak enak hati sekali padaku. Aku sendiri kesal sekali pada ibu ini telah menyebut aku anak kecil.
Kemudian sebuah pakaian mendarat tepat di wajah mba Nuri dan membuat aku serta mba Nuri sendiri terkejut. Ibunya telah melempar pakaian nya ke wajah mba Nuri dan berkata," cepat kau setrika kan bajuku ini karena aku mau memakainya sekarang."
Mba Nuri meraih pakaian yang menutupi wajahnya. Matanya berembun namun dia menahannya agar tidak mengalir ke pipi. Setelah itu, dia menoleh ke arahku dan berucap dengan suara tertahan," ma..maaf ya Rai, aku..tidak bisa menemani mu lama lama."
"Maafin aku ya mba, gara gara aku mba di perlakukan seperti ini."
"Bu..bukan salahmu Rai! aku yang salah karena aku tadi tidak langsung mengerjakan perintahnya makannya dia marah. Maafkan sikap ibuku ya? dan lain kali saja kita bercerita lagi."
Aku mengangguk dan aku pun pamit pulang pada mba Nuri. Di perjalanan menuju pulang ke rumahku, dua kejadian yang aku lihat di rumah mba Nuri tadi dapat ku simpulkan bahwa mba Nuri tidak diberlakukan baik oleh keluarganya.
Hubungan pertemanan ku dengan mba Nuri terjalin dengan baik. Kami sering bertemu hanya untuk sekedar bercerita atau sekedar makan bersama.
Satu tahun kemudian. Hubungan pertemanan kami masih terjalin baik dan komunikasi yang lancar. Saat ini aku sedang bersama mba Nuri makan siang di sebuah restauran. Aku mentraktirnya karena dalam dua minggu ke depan aku tidak bisa menemuinya karena aku harus fokus ujian terakhir sekolahku.
"Kamu belajar yang rajin ya biar lulus agar orang tua mu bangga padamu,"ucap nya namun padangan nya di alihkan ke arah lain dan seperti menahan tangis. Aku merasa mba Nuri sedang ada masalah. Tidak mungkin dia menangisi ku yang mau ujian akhir sekolah, pikir ku.
"Mba kenapa? apa ada masalah?"
Mba Nuri mengalihkan pandangannya ke arahku lalu menjawab," oh, tidak Rai. aku hanya terharu saja karena sebentar lagi kamu lulus."
Aku tersenyum mendengarnya dan dalam hati aku berucap," Dan setelah lulus nanti aku akan mengungkapkan perasaanku pada mu selama ini mba!"
__ADS_1
Dua minggu kemudian. Ujian terakhirku pun sudah selesai. Seulas senyum tersungging di bibirku karena sebentar lagi aku akan lulus lalu akan mengungkap kan perasaanku pada mba Nuri. Aku berjalan ke arah rumah mba Nuri, dua minggu tidak bertemu rasanya rindu sekali. Namun, setelah tiba di halaman rumahnya, ku dapati sebuah tenda ukuran kecil dan banyaknya orang di sana. Aku bertanya pada salah seorang yang berjalan ke arahku dan menanyakan ada acara apa di sini? dia menjawab bahwa acara ini merupakan acara pernikahan mba Nuri. Aku merasa duniaku runtuh seketika telah mendapat kenyataan yang amat pahit bahwa wanita yang aku cintai selama ini telah menikah dengan pria lain.