
Mas Surya mendekatiku dengan wajah datar. Kemudian dia menoleh ke arah Raihan yang baru saja selesai menyuapi Zain makan.
"Kamu kenapa Nur? tiga hari pergi dari rumah tidak bilang suami tau tau ada disini. Bikin repot saja hidupmu." Mas Surya berucap dengan nada kesal tanpa ada kekhawatiran sedikit pun di dirinya melihatku sakit. Aku menelan saliva ku mendengar kalimat yang tidak enak di dengar dari mulut suamiku sendiri.
Aku melirik ke arah Raihan yang sedang menatap tajam ke arah mas Surya dengan tangan terkepal namun mas Surya tidak menyadarinya.
"Terus ini apa maksudnya sok sok an di rawat di ruang VIP siapa yang mau menanggung biayanya Nur? jangan sampai kamu minta aku yang bayarin rumah sakit ya? aku tidak punya duit," sambungnya lagi sembari berkacak pinggang. Jujur aku malu sekali pada Raihan atas tanggapan suamiku terhadap sakit ku. Suami yang tidak memiliki rasa khawatir dan empati pada istrinya yang sedang terbaring lemah. Di tambah lagi mas Surya terang terangan tidak ingin membiayai perawatan ku.
"Ck, lantas mau apa mas datang kemari?" tanyaku dengan kesal. Aku kesal padanya yang datang langsung mengomeli ku tanpa ada rasa iba sedikitpun padaku.
"Pake tanya lagi mau ngapain? ya jenguk kamu lah. Aku kalau tidak di paksa sama bocah ingusan itu," tunjuk mas Surya ke arah Raihan."Tidak sudi menjenguk istri pembangkang kayak kamu Nuri !" sambungnya lagi.
Dadaku bergemuruh, sampai segitunya mas Surya bilang tidak sudi menjengukku. Aku tidak ingin berbelas kasihan padanya dan aku pun menjawab nya seolah olah aku tidak membutuhkannya.
"Aku juga tidak sudi di jenguk oleh suami yang tidak ada rasa empati sedikitpun terhadap istrinya. Kalau mas datang hanya untuk mengomel lebih baik pergi saja karena aku tambah sakit melihatmu ada di sini."
"Sombong sekali kamu Nuri. Rasain kamu di kasih sakit sama allah. Orang kamu selalu membangkang sama suamimu. Apa kamu lupa surgamu ada di telapak kakiku? kalau kamu mau aku maafkan dan masuk surga kamu berlutut dulu di kakiku."
Bughh....
Tiba tiba Raihan meninju wajah mas Surya dari arah samping hingga mas Surya terdorong dan pelipisnya mengeluarkan darah. Aku tersentak kaget melihat aksi dadakan Raihan.
"Kurang ngajar kau berani memukulku!" ucap mas Surya dengan sorot mata nyalang ke arah Raihan.
"Itu balasan karena kamu sudah mengatai ku bocah ingusan. Bagaimana rasanya di tinju oleh bocah ingusan?" tanya Raihan dengan nada mengejek.
"Brengsek kau!" Mas Surya maju dan hendak memukul Raihan namun Raihan lebih dulu meninju perutnya dan membuat mas Surya terjungkal ke lantai.
__ADS_1
Aku memekik kaget melihat Raihan memukul mas Surya.
"Rai...sudah Rai..sudah!" cegah ku. Raihan menoleh ke arahku dan berucap," Laki laki brengsek ini harus di kasih pelajaran mba, biar bisa menghargai wanita yang sudah melahirkan anaknya."
Mas Surya berdiri sambil memegang perutnya dan sedikit membungkuk kan tubuhnya. Mungkin pukulan Raihan menyisakan sakit di perutnya.
"Apa urusanmu mencampuri urusan rumah tanggaku?" tanya mas Surya dengan wajah merah padam.
"Jelas saja jadi urusanku, karena kamu sudah menyakiti mba Nuri."
"Ha...ha...ha...terserah aku dong mau aku apakan si Nuri dia itu istriku." Mas Surya tertawa lantang aku benci sekali melihatnya.
Raihan mengepalkan tangannya dan tanpa ampun Raihan meninju kembali wajah mas Surya sehingga hidungnya mengeluarkan darah.
"Pukulan itu untuk laki laki ke pa rat yang bisanya hanya menyakiti hati serta fisik mba Nuri." ucap Raihan sambil bersedekap dada. Sementara aku tercengang, bagaimana Raihan bisa tau bahwa bukan saja hatiku yang di sakiti oleh mas Surya melainkan fisik ku juga, apa Raihan tau penyebab kenapa aku bisa sakit seperti ini? jika iya, aku malu sekali padanya.
Mas Surya mengelap hidungnya yang mengeluarkan darah. Pandanganya tertuju pada Raihan dengan tatapan nyalang. Terlihat sekali kebenciannya pada Raihan yang sudah berhasil memukulnya berkali kali.
"Kau menuduh istri baik baik seperti mba Nuri berselingkuh? ck, bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa kau tidak malu menuduh istrimu selingkuh sementara kamu sendiri pun berbuat seperti itu?" jawab Raihan dengan tenang. Aku mengerutkan dahi ku, apa iya mas Surya menyelingkuhi ku? pikir ku.
"Jangan asal nuduh kamu brengsek." Mas Surya terlihat semakin geram. Kedua tangannya terlihat mengepal. Aku tidak ingin melihat pertengkaran lebih jauh lagi lalu aku pun berteriak.
"Cukup, cukup. Sudah Raihan cukup. Dan kamu mas Surya cepat pergi dari sini. Aku semakin sakit melihatmu mas!"
"Kau mengusir suamimu sendiri Nur!"
"Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu tidak ingin membiayai perawatan ku mas? lantas mau apa kamu lama lama di sini kalau tidak ingin membantuku?"
__ADS_1
"Jangan kepedean kamu Nur, apa kau pikir aku sudi berlama lama di sini? membiayai perawatan istri pembangkang sepertimu? Apa lagi ada laki laki brengsek seperti dia?" tunjuk mas Surya pada Raihan yang masih bersikap tenang.
"Ck, mengatai istri pembangkang. Bilang saja kalau kamu itu suami pelit yang tidak ingin mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit istrimu sendiri. Tidak usah mencari alasan dengan mengatakan mba Nuri istri pembangkang."
"Apa kau bilang aku pelit? jangan sok tau kamu, kalau aku pelit aku tidak akan mengirimi dia uang tiap bulan. Aku tidak akan mencukupi kebutuhan hidupnya. Dia tanpa uangku tidak akan bisa hidup. Si Nuri saja pengangguran darimana dia dapat duit kalau bukan dari aku suaminya paham kau?" Mas Surya berbicara seolah olah sesuai dengan kenyataannya saja. Mencukupi kebutuhan hidupku? ingin rasanya aku tertawa yang lantang sekali dan rasanya aku ingin bilang terus terang pada Raihan berapa nafkah tiap bulan yang aku dapatkan darinya.
"Ck, kalau mba Nuri tercukupi kebutuhannya tidak mungkin dia harus bersusah payah menjual gorengan keliling. Tidak mungkin Zain memakai baju baju bekas orang pakai. Dan tidak mungkin mereka makan seadanya. Apa itu yang kau sebut telah mencukupi kebutuhan hidupnya? kalau kamu tidak sanggup menafkahinya lebih baik lepaskan saja dari pada membuatnya hidup tersiksa denganmu."
Aku tercengang mendengar jawaban Raihan. Dari mana dia tau tentang hidupku? Zain yang hanya memakai baju bekas dan kami yang hanya makan seadanya? padahal aku sendiri tidak pernah cerita padanya atau pun pada orang lain. Lantas darimana Raihan tau tentang hidupku?
Mas Surya terlihat salah tingkah setelah ujarannya di patahkan oleh Raihan. Dia seperti kehabisan kata kata untuk membalas ucapan Raihan.
Seorang perawat memasuki kamar rawat ku lalu menoleh pada mas Surya dan juga Raihan.
"Maaf ya pak, ini rumah sakit tempatnya orang sakit. kalau bapak mau bertengkar lebih baik keluar saja karena dapat menggangu kenyamanan pasien kami."
Entah darimana perawat itu tau bahwa mas Surya dan Raihan sedang bertengkar sehingga dia menyuruh mas Surya dan Raihan keluar dari kamarku.
"Saya ini suaminya, yang seharusnya keluar dari sini itu dia," tunjuk mas Surya pada Raihan yang masih berdiri dan bersedekap dada." Karena dia bukan siapa siapa," sambungnya lagi.
Raihan mencebik kan bibirnya."Owh, tidak masalah jika aku keluar dari sini asal kamu mau membiayai semua perawatan mba Nuri yang berjumlah dua puluh juta. Bagaimana, apa kamu setuju?"
Aku membelalak kan mataku, apa benar biaya rawat inap ku berjumlah dua puluh juta? atau Raihan hanya sekedar menakuti mas Surya agar dia yang keluar dari kamar rawat ku.
"Bohong kamu, tidak mungkin sampai dua puluh juta. Kamu sengaja kan menakuti ku?" sanggah mas Surya.
Raihan menoleh ke arah perawat dan berucap,"mba apa boleh saya minta tolong? tolong print kan biaya administrasi atas nama Nuri dan berikan pada pria brengsek ini karena dia yang akan membayar semuanya."
__ADS_1
"Baik mas!"
"Tidak perlu. Lagi pula siapa juga yang mau berada lama di sini? lebih baik aku kerja cari duit dari pada menunggu istri pembangkang yang sakit." Mas Surya terlihat ketakutan Raihan melimpahkan biayanya ke dirinya sehingga dia memilih pergi dari ruangan ku daripada harus membayar biaya rumah sakit. Benar benar suami yang perhitungan dan tidak punya hati.