Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Menemui si penculik 2


__ADS_3

"Bangun dek, sudah sampai di terminal pulo gadung, dek."


Tubuh ku terasa berguncang serta samar samar terdengar suara laki laki menyebut nama panggilan untuk seorang adik atau seseorang yang usianya lebih muda. Perlahan kelopak mataku terbuka dan setelah terbuka lebar nampak seorang pria masih muda berdiri di sampingku. Spontan aku menegak kan duduk ku dan mengucek mata.


"Sudah sampai di terminal Pulo gadung, dek," ulang pria itu. Ternyata pria itu adalah seorang kernet sedang membangunkan aku yang tertidur.


"Terima kasih mas."


"Sama sama, dek." Kemudian pria itu menjauh.


Aku tersenyum tipis melihat pria itu. Dia menyebutku dengan panggilan yang seharusnya lebih pantas untuk seorang yang usianya lebih muda darinya. Andai saja dia tau berapa usiaku dan sudah memiliki satu orang anak mungkin panggilan nya akan berubah menjadi "mba" seperti Raihan memanggilku. Mengingat Raihan aku jadi merindukannya tapi apa dia masih ingat padaku atau justru sebaliknya. Terakhir kali bertemu dengannya saat dia bersama Nura dan keluarganya. Apa Raihan sudah bisa menerima Nura sebagai kekasihnya? tiba tiba saja aku jadi ingin tau bagaimana kabarnya.


Aku menoleh ke arah jendela bus dan nampak suasana di luar sana sudah gelap namun diterangi oleh beberapa lampu di setiap masing masing sudut. Ku rogoh ponsel yang tersimpan di dalam tas melihat jam yang tampil di layar ponsel itu ternyata sudah menunjukan pukul tujuh malam.


Setelah menjalani proses ribet karena harus naik turun kendaraan umum akhirnya aku tiba di terminal Pulo gadung tepat pukul tujuh malam. Hal ini merupakan pengalaman pertama ku ke Jakarta menggunakan transfortasi umum.


Setelah itu, aku membenarkan letak jilbab ku sebelum turun dari bus yang ku tumpangi. Ketika aku berdiri hendak turun, ku edar kan pandanganku ke setiap bangku namun aku tidak menemukan satu pun kepala manusia di dalam bus itu. Aku pun tidak ingin membuang waktu lalu buru buru turun. Setelah berada di bawah bus aku kebingungan mencari taksi karena di area itu hanya terdapat bus antar kota saja.


"Adek mau kemana?"Tanya seseorang di belakang ku.


Aku cukup terkejut lalu berbalik. Ternyata orang yang sedang menyapaku adalah pria yang membangunkan aku tidur di dalam bus tadi.


"Saya sedang mencari taksi tapi kok taksi nya tidak ada ya!"


Pria itu tersenyum lebar lalu berucap." Iyalah dek, di sini tidak ada taksi karena di sini khusus tempat bus. Kalau mau cari taksi adek harus jalan dulu ke arah sana," tunjuk nya ke suatu arah dan aku mengikuti arah telunjuk nya." Nanti di sana adek akan menemukan banyak taksi yang sedang mangkal."


"Oh, begitu ya mas. Kalau begitu terima kasih banyak ya!"


"Sama sama dek."


Setelah pamit padanya aku berjalan kearah sesuai arahan pria tadi dan ternyata benar saja banyak taksi yang sedang mangkal di sana.


"Permisi pak!" sapa ku pada seorang sopir taksi yang sedang berdiri menyender di mobil nya sembari memainkan ponsel.


Sopir taksi itu mendongak lalu segera berdiri tegak."Iya dek, apa mau booking taksi saya?"


Lagi lagi aku tersenyum tipis. Ku temukan lagi sosok orang yang memanggilku adek." Iya pak. Emm, kira kira the westin Jakarta itu jauh tidak dari sini?"


"Maksud adek the westin hotel yang gedungnya paling tinggi itu ya dek?" Pak sopir balik bertanya.

__ADS_1


Aku menautkan ke dua alis ku." Hotel?"


"Iya hotel. Hotel mewah bintang lima. Gedung tertinggi di Jakarta."


Ternyata penculik itu membawa Zain ke sebuah hotel lalu dia memintaku untuk menemuinya di hotel itu. Lantas apa maksudnya? seketika itu pula aku langsung berpikir negatif.


"Jangan-jangan dia mau menukar Zain dengan tubuhku." Monolog ku. Dan tanpa sadar aku geleng-geleng kepala memikirkan hal negatif itu.


"Dek, kenapa dek?" Tanya sopir itu.


Aku terperangah melihatnya."Ti...tidak pak, tidak."


"Terus gimana jadi tidak?"


Aku diam. Perasaanku mulai bimbang antara mengurungkan niat lalu kembali pulang atau melanjutkan perjalananku hingga ke sana. Di satu sisi jika aku tidak menemui penculik itu maka aku tidak akan bertemu dengan anak ku lagi namun di sisi lain jika aku menemui nya aku takut dia akan berbuat macam-macam padaku.


"Bagai mana dek, jadi tidak?" Tanya ulang pak sopir.


"Ja..jadi pak." Jawab ku dengan ragu. Aku ragu namun tidak punya pilihan lain. Demi anak ku apapun akan aku lakukan meskipun harus mengorbankan diriku sendiri.


Supir taksi itu tersenyum, mungkin dia senang dapat penumpang saat ini."Ya sudah dek, mari saya antar." Ucap nya dan mendapat anggukan dariku lalu aku masuk ke dalam taksi itu.


"Sudah sampai dek."Pak sopir tiba tiba membuyarkan lamunan ku.


"Di the westin?" Tanya ku memastikan.


"Iya dek, kita sudah sampai di the westin hotel. Itu ada tulisannya.


Aku menoleh ke arah dimana ada sebuah kaca yang sangat besar serta beberapa orang yang sedang berjalan keluar masuk melalui kaca besar itu. Selain itu, di kaca besar itu pun ada dua orang satpam yang tengah berdiri tegap.


"Apa itu pintu masuk?" Tunjuk ku pada kaca besar itu.


"Benar dek, itu pintu masuk nya." Ternyata sopir taksi itu membawa ku langsung ke depan pintu utama hotel yang nampak sangat mewah meskipun hanya di lihat dari luar.


"Berapa pak?"Aku menanyakan berapa ongkos yang harus aku bayar.


"Seratus dua puluh ribu dek."


Aku segera mengambil uang di dalam dompetku. Uang warna merah dua lembar lalu memberikan nya pada pak sopir.

__ADS_1


"Kembaliannya ambil saja untuk bapak." Ucap ku. Aku pikir pak sopir harus diberi ongkos lebih karena sudah membawaku ke tempat yang aku cari dengan benar.


Pak sopir nampak tersenyum." Alhamdulilah, terima kasih banyak dek."


"Iya pak, sama sama. Kalau begitu saya turun dulu ya pak!"


"Iya dek, hati hati."


Aku tersenyum padanya lalu membuka pintu mobil. Setelah sopir itu pergi dari hadapan ku, aku melirik ke arah pintu dan menatap nya dengan perasaan ragu. Namun disaat itu pula getaran ponsel terasa di dalam tas ku lalu aku pun segera merogoh nya.


"Sudah sampai dimana?" Sebuah kalimat pertanyaan dari si penculik.


Aku pun segera membalasnya." Aku sudah di depan lobby. Mana anak ku? cepat kembalikan padaku."


"Be calm nona. Tunggu beberapa menit."


Aku mengikuti saran nya menunggunya dalam beberapa menit sembari me re mas jari jari tangan ku.


"Selamat malam!" sapa seseorang di sampingku.


Aku melirik ke samping nampak seorang pria cukup tampan dan berpenampilan rapih sedang berdiri menatap ku.


"Ka...kamu siapa?"Tanya ku mulai gugup.


"Apa anda bernama Nuri?"Pria itu balik bertanya.


"I iya. Apa anda..."


"Maaf, saya di perintahkan oleh boss saya untuk menyusul anda." Dia memotong pertanyaan yang belum sempat ku ajukan.


"Boss!"kedua alisku saling bertautan.


"Iya, mari ikut saya sekarang. Beliau sedang menunggu anda saat ini."


Masih dalam keadaan heran pada pria itu dan ingin mengajukan beberapa pertanyaan tapi pria itu meminta aku untuk segera ikut dengannya untuk menemui bos nya yang entah siapa dan semakin membuatku penasaran.


"Baik." Aku menyanggupi untuk mengikuti keinginannya.


Kemudian pria itu langsung menggiring ku menuju sebuah lif tanpa menghadap resepsionis terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah berada di dalam lif aku cukup terkejut saat pria itu memencet tombol enam puluh tujuh yang artinya dia akan membawaku ke atas ketinggian enam puluh delapan lantai.


__ADS_2