Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pura pura pingsan


__ADS_3

Sebenarnya aku penasaran kenapa bang Supri bisa pingsan setelah berdebat dengan pak Yanto. Apa mungkin terkena pukulan pak Yanto? tapi tidak ada luka yang terlihat di tubuh bang Supri. Terkena serangan jantung? tapi kayaknya bang Supri tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Lantas kenapa? peristiwa pingsannya bang Supri menjadi teka teki tersendiri untukku karena hanya bang Supri, pak Yanto dan ibu lah yang tau kejadian sebenarnya.


Ku lirik ibu yang duduk di samping bang Supri. Dia masih menangis tersedu. Apa ibu sebegitu sedihnya melihat anak kesayangan nya pingsan? Aku menyunggingkan senyum kecut. Ingin rasanya aku ditangisi ibuku. Merasa kehilanganku seperti saat ini yang dia lakukan pada bang Supri. Tapi sepertinya ibu tidak akan pernah menangisi ku dan tidak akan pernah merasa kehilanganku sekalipun aku mati.


Entah kenapa aku tidak merasa sedih melihat bang Supri pingsan, justru sebaliknya perasaanku biasa biasa saja. Apa mungkin karena aku sudah sangat sering di sakiti olehnya sehingga hati ini tak lagi memiliki rasa empati padanya.


Ku perhatikan muka bang Supri seperti ada yang aneh terutama pada bagian mata. Apa orang pingsan itu matanya kedip kedip? Ku perhatikan lagi mata bang Supri dengan cermat. Terlihat kelopak matanya seperti menahan agar matanya tetap tertutup. Entah mengapa terlintas di pikiranku kalau bang Supri hanya pura pura pingsan saja. Seketika sebuah ide tiba tiba muncul di otak ku. Aku bergegas masuk ke dalam rumah lalu ku langkahkan kakiku menuju dapur. Aku mengambil sebuah ember berukuran sedang. Setelah itu, aku mengangkat sebuah bak berisi air kotor bekas cuci piring lalu menuangkannya ke dalam ember.


Aku kembali lagi ke luar rumah sambil menenteng ember. Senyum usil pun tersungging di bibirku karena aku akan mengerjai balik orang yang sudah mengerjai ibuku termasuk diriku. Aku berdiri di atas bang Supri bersiap untuk menumpahkan isi ember yang ku bawa.


Ibu mendongak kan mukanya ke arahku lalu membelalak kan matanya karena melihatku sudah bersiap untuk menumpahkan isi air kotoran.


"Apa apaan kamu Nur? kakak mu lagi pingsan kok mau di siram sama air." Sentak ibu padaku sambil melotot.


"Menyiram dengan air comberan adalah cara ampuh untuk membangunkan orang yang sedang pingsan Bu. Apalagi pingsannya lebih dari sepuluh menit." Ucap ku sengaja ku lantang kan.


"jangan macem macem kamu Nur, masa anak ku mau kamu siram dengan air comberan? Jangan bertindak bodoh kamu Nur!"


Anak ku, ya anak ku. Ibu mengakui bang Supri adalah anaknya lalu bagaimana dengan diriku yang tak pernah ia sebut sebagai anaknya? miris bukan? Ibu mengatakan bahwa tindakanku bodoh. Lantas bagaimana dengan dirinya menangisi orang yang hanya pura pura pingsan? apakah itu bukan sebuah tindakan bodoh juga? Oleh sebab itu, agar dia menyadari tindakan bodohnya maka aku harus segera membangunkan orang yang sedang pura pura pingsan ini.


"Aku mau bantu ibu agar tidak menangisi bang Supri lagi. makannya menjauh dulu Bu, supaya tidak terkena air comberan yang akan aku tumpahkan ke tubuh bang Supri sekarang juga. Ku hitung sampai lima....satu...dua...tiga....empat...Lim....!" tiba tiba bang Supri menggulingkan tubuhnya ke arah samping kiri menghindari guyuran yang sudah ku angkat tinggi ember nya.


Ibu terperangah kaget melihat anak kesayangannya yang sedang pingsan tiba tiba terbangun setelah mendengar akan di siram oleh air comberan.


"Lihat, benarkan kataku kalau air comberan ini ampuh untuk membangunkan orang yang sedang pura pura pingsan. Apa tindakan aku ini bodoh Bu?" Sindir ku pada ibu.


Ibu tidak menjawab pertanyaan ku. Ku perhatikan dia sedang menatap kesal ke arah bang Supri yang baru saja menegak kan tubuhnya.

__ADS_1


Bang Supri menatap nyalang ke arahku. Aku tau dia semakin marah padaku.


"Dasar adik kurang ajar. Beraninya kamu mau menyiram ku dengan air kotor." Bentaknya dengan sengit.


"Yang kurang ajar itu aku apa kamu bang? beraninya bohongi orang tua pura pura pingsan segala."


"Siapa bilang aku bohong aku benar benar pingsan be go."


"Mana ada orang pingsan matanya kedip kedipan seperti lampu diskotik."


Bang Supri terdiam namun pandangannya tetap nyalang ke arahku.


"Apa benar kamu pura pura pingsan Supri?" tanya ibu dengan wajah serius.


"Jangan percaya sama omongan si Nuri bodoh ini Bu. Aku beneran pingsan, kan Ibu tau sendiri gimana tadi si tukang ayam itu menonjok perutku." Bang Supri membela diri dan aku yakin ibu percaya saja sama ucapan bohongnya.


"Ck, badan sama mulutnya doang yang gede. Tenaganya mah memble kalah gede sama orang kurus kayak pak Yanto." Aku berdecak menyindir kakak ku yang kerap kali menindas ku dengan mulut serta badannya yang gede. Aku tidak tau dia merasa atau tidak, marah atau tidak karena aku langsung masuk ke dalam rumahku.


Gara gara mengurusi bang Supri yang pura pura pingsan kerjaan ku jadi tak terurus. Ku tatap jam di dinding sudah menunjukan pukul lima sore. Aku hampir saja lupa belum memandikan Zain sore ini. Ku hampiri kamarku untuk melihat Zain. Terlihat anak ku sedang duduk di atas kasur sambil memegang mainan nya lalu menoleh ke arahku.


"mama..!"ucap Zain lalu berdiri di atas kasur. Aku mendekatinya memeluk serta menciuminya.


"Zain mandi dulu yuk!" ajak ku dan Zain mengangguk.


Sambil menggendong Zain, ku langkahkan kakiku menuju dapur namun saat tiba di dapur aku menemukan ibu sedang memasuk kan kerupuk ke dalam kantong berukuran besar. Aku ternganga melihatnya. Mau ibu apakan kerupuk itu? pikir ku. Lama lama lidah ku gatal juga.


"Lho Bu, itu kerupuknya mau di apakan? kan sedang aku bungkusi untuk di edarkan ke warung besok."

__ADS_1


"Mau dibawa sama si Supri buat oleh oleh si Yati." Ucap ibu dengan entengnya.


"Apa harus sebanyak itu Bu? terus mana kerupuk yang untuk di jual besok kalau ibu memberikan kerupuk sebanyak itu sama mba Yati?"


"Besok si Yati mau mengadakan ulang tahun Nur, ngundang orang. Aku sebagai mertua rasanya wajar saja kalau mau nyumbang sesuatu buat menantu. Dan kerupuk ini buat tambahan menu nanti."


Lagi lagi ibuku membela menantu dari pada anaknya sendiri. Padahal menantunya itu tidak pernah memperhatikan ibu tapi tetap saja di belanya.


"okey, berarti besok tidak ada pengiriman kerupuk serta tidak ada penerimaan uang ya Bu." ku pertegas ucapan ku pada ibu agar besok dirinya tidak mengomeli ku jika tidak dapat uang.


Ibu melongo ke arah ku. Sebelum ibu berucap ku tinggalkan dia terlebih dahulu berjalan ke arah kamar mandi.


"Kamu kan bisa goreng lagi Nur!" teriakan ibu menggema di dapur. Aku yang sedang berdiri di ambang pintu menoleh ke arahnya.


"Apa ibu pikir stok mentahnya masih ada? minyak gorengnya masih ada? kemarin aku sudah bilang bahan bahan sudah habis lalu kenapa uang modalnya ibu kasih ke bang Supri?"


"Si Yati kan lagi butuh Nur, apa salahnya aku sebagai mertua memperhatikan menantuku sendiri. Lagi pula kamu kan bisa beli bahan bahan bahan pakai duit mu dulu Nur. Jangan perhitungan sama ibu sendiri atau saudara dosanya besar kamu Nur. memangnya kamu mau masuk neraka?"


Lagi lagi menantu yang ibu bela. kalau di film atau cerita novel, biasanya menantu yang sering di tindas oleh mertuanya tapi ini, aku sebagai anak kandungnya yang di tindas oleh ibu kandung ku sendiri bukan menantunya.


Andai saja ibu tau berapa nafkah yang tiap bulan aku dapatkan dari suamiku, mungkin kah ibu akan menjadi iba padaku? akan menyayangiku? atau sebaliknya? Tapi tidak. Sebagai seorang istri aku harus bisa menjaga harkat dan martabat suamiku. Aku harus menjaga kekurangan atau aib suamiku. Cukup aku saja yang tau dan merasakannya.


"Tidak ada yang salah Bu, hanya cara ibu saja yang salah." jawabku dengan pelan.


"Apa maksud mu caraku yang salah Nur?"


Aku tidak menghiraukan pertanyaan ibu. Ku tutup pintu kamar mandi lalu mulai memandikan Zain. Di tengah memandikan Zain, kedua sudut mataku menitik kan air mata.

__ADS_1


__ADS_2