Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kejutan sebuah ponsel


__ADS_3

Raihan meletak kan dua paper bag di atas meja setelah aku mempersilahkannya masuk ke dalam rumahku. Kemudian dia duduk di atas sofa dan menyender kan punggungnya lalu memijit keningnya sambil memejamkan mata, dia terlihat lelah sekali. Bagaimana tidak lelah, seharian di sibuk kan di kantor barunya dan malam ini dia datang ke rumahku yang jarak tempuhnya memakan waktu empat jam perjalanan.


Aku bergegas melangkah menuju dapur berinisiatif membuatkan teh hangat untuknya. Setelah selesai membuat teh, aku kembali lagi ke ruang tamu."Minum dulu Rai!" titah ku, sembari meletak kan teh hangat di hadapannya dan ikut duduk berhadapan dengannya.


Raihan tersenyum kemudian menegak kan duduknya." terima kasih ya sayang," ucapnya, Lalu menyeruput teh itu dengan nikmat.


"Mba..."


"Hem."


Raihan menepuk sofa di sampingnya. Aku mengernyit kan dahi karena tidak mengerti apa maksudnya.


"Mba.."panggil Raihan lagi.


"Kenapa sih Rai?"aku sedikit kesal karena dari tadi dia hanya menepuk sofa saja tanpa bicara.


Raihan menepuk sofa di sampingnya kembali."Sini mba duduknya," titah Raihan kemudian.


Aku mendengus dan sedikit memajukan bibirku lalu menggeleng kan kepala." Disini saja Rai."


"Jangan di manyunin gitu bibirnya mba, bikin aku makin gemas dan ingin...."


"Rai..."aku menatap kesal, Raihan tersenyum nyengir lalu mengelus pelipisnya.


"Di habiskan teh nya Rai, mumpung masih hangat," titah ku. Raihan mengambil cangkir teh itu lagi dan meneguknya kembali hingga menyisakan hanya beberapa tetes saja.


"Kenapa nekat sekali Rai, malam malam datang ke rumah bawa motor pula."Aku mengomel dengan kedua tanganku terlipat di atas perut.


Raihan meletak kan cangkir teh di tempat semula. Senyum nya belum memudar, kemudian kedua netra matanya mengarah padaku." Karena aku rindu banget sama kamu mba. Kalau kita sudah nikah nanti mba mau kan tinggal bersamaku di Jakarta agar aku tidak perlu payah lagi datang ke kampung ini."kata Raihan dan raut wajahnya terlihat serius sekali.


"Apa kamu sudah tidak ingin tinggal di kampung ini lagi?"aku balik bertanya.


"Bukannya tidak mau tapi usaha ku di sana mba."


"Apa kamu tidak kasihan sama ibumu yang tinggal sendirian di kampung ini?"


"Bukanya aku tidak kasihan pada ibuku mba, tapi kondisinya seperti ini. Sebenarnya aku juga sudah meminta ibu untuk tinggal di Jakarta saja bersamaku tapi ibu tidak mau."


"Mba, kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi, mba mau tidak tinggal bersamaku di Jakarta setelah menikah?"


Aku menghela nafas berat kemudian melontarkan pertanyaan padanya." Apa menurutmu ibu mu...."


"Ibu ku pasti setuju kalau kita menikah mba, dia sendiri tau kalau aku mencintai mba dari dulu." Raihan memotong pertanyaan ku yang belum selesai. Dengan percaya diri dia berkata demikian. Apa dia tidak tau bahwa ibunya lebih mendukung keponakannya untuk menikah denganku daripada menikah dengan anaknya.


"Lalu bagaimana dengan Nura?"


"Aku sudah bilang akan memutuskan dia secepatnya mba,"Jawab Raihan, sikapnya terlihat tenang.

__ADS_1


"Semudah itu?apa kamu tidak memikirkan perasaannya Rai?"


Raihan mendengus kesal."Kenapa mba selalu memikirkan perasaan orang lain?"


"Karena aku wanita sama dengan Nura, aku tau bagaimana rasanya di putus secara sepihak."


"Lantas sekarang mba mau nya bagaimana? apa mba mau aku tetap dengan Nura dan meninggalkan mba?"tanya Raihan, suara nya sedikit lebih tinggi mungkin dia mulai kesal.


Aku menelan saliva ku, di satu sisi aku tidak ingin menyakiti Nura, namun di sisi lain aku mencintai Raihan dan aku tidak ingin Raihan meninggalkan aku.


"Kenapa diam saja mba? apa mba mau aku tetap dengan Nura dan meninggal kan mba? tanya Raihan ulang karena aku masih diam membisu.


Aku mengalihkan pandanganku dari tatapan tajam Raihan. Aku tau Raihan sedang kesal padaku. Kemudian aku mengabaikan pertanyaannya dan balik bertanya.


"Ini apa Rai?" tunjuk ku pada dua paper bag beda warna dan beda ukuran di atas meja. Aku sengaja mengalihkan pertanyaannya karena aku bingung menjawabnya.


Raihan mengusap wajahnya, sikapnya tenang seperti semula."Oia aku hampir lupa mba, ini.." dia mengambil satu paper bag yang berukuran paling besar." Dalam nya seafood mba, tadi aku mampir ke restauran yang waktu itu pernah kita kunjungi,"sambungnya kemudian.


"Terus yang ini...." dia mengambil paper bag yang berukuran kecil lalu merogoh isinya dan mengeluarkannya, terlihat sebuah kotak ponsel mahal berlogo Apple.


"Ini ponsel untuk mba,"ucapnya kemudian. Mulut ku menganga menatap pada ponsel berlogo Apple tipe 14 pro max 1TB dengan kisar harga di atas tiga puluh juta yang sedang di pegang olehnya.


Aku menggeleng kepala."Tidak Rai, tidak. Aku tidak mau menerima pemberian mu lagi. Sudah cukup kamu memberiku berlian dan motor yang mahal."


"Aku butuh komunikasi yang lancar dengan mba, mba tau kan aku selalu rindu sama mba. Dengan ponsel ini setidaknya aku bisa sedikit mengobati rasa rinduku ketika aku sedang berada di Jakarta." Raihan kekeh pada keinginannya agar aku mau menerima ponsel itu.


"Tapi Rai, kita masih bisa komunikasi menggunakan ponsel ku yang lama." Aku beralasan, karena terus terang aku tidak ingin menerima barang barang mewah lagi darinya. Bukan tanpa alasan karena aku merasa tidak enak hati pada Bu haji jika beliau mengetahui anak nya memberikan barang mewah untuk ku, lantas bagaimana tanggapan nya nanti? aku tidak ingin Bu haji mengira aku memanfaatkan perasaan cinta Raihan padaku.


"Bisa kok bisa, aku hanya tidak menggunakan aplikasi chat saja."


"Mba, apa pun alasan mba, aku tidak mau tau pokoknya mba harus menerima ponsel ini."


"Tapi Rai.."


"Tidak ada penolakan. Mba kan calon istriku, memang salah ya kalau aku ingin menyenangkan mba?"


Aku terdiam, rasanya percuma menolak sekalipun dengan berbagai alasan karena Raihan akan tetap memaksa.


"Ya...ya sudah kalau begitu, terserah kamu saja." Akhirnya aku menyerah dan menerima ponsel mewah itu.


Raihan tersenyum kemudian memberitahu kalau ponsel itu sudah di pasang nomer yang baru dan paket internet jadi aku tinggal memakainya saja.


Disaat aku sedang fokus menyimak cara menggunakan ponsel itu yang di ajarkan oleh Raihan, tiba tiba perutku keroncongan kembali. Raihan melirik ke arah perutku, aku menunduk malu sekali padanya. Dalam hati aku mengumpati perutku yang tidak bisa di ajak kompromi.


Raihan tersenyum melihatku yang sedang menunduk malu."Mba lapar ya?"tanya nya.


Aku salah tingkah, mau mengelak pun rasanya percuma karena Raihan sudah tahu

__ADS_1


lebih dulu. Dengan perasaan malu yang di tahan aku mengangguk.


"Aku juga lapar mba, makan dulu yuk?"ajak nya. Aku mengangguk, kemudian bangkit dan bergegas ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.


Setelah itu, aku mengeluarkan beberapa kotak isi seafood, terlihat menggiurkan sekali, ada nasi, udang, cumi, kerang dan ikan bakar di setiap masing masing kotak.


Kami mulai menikmati hidangan yang ada. meskipun ada sendok tapi aku memilih makan menggunakan tangan langsung agar lebih nikmat karena aku pikir ini di rumahku bukan di restauran. Aku juga tidak mempedulikan keberadaan Raihan di hadapanku. Cara makan ku yang sedikit tergesa dan belepotan membuat Raihan mengernyitkan dahinya, aku tahu dia pasti heran melihat cara makan ku seperti orang yang sedang kelaparan.


Tangan Raihan terulur lalu meraih bibirku dan mengusap sisa makanan yang menempel. Aku terkesima mendapat perlakuan manis darinya. Kami saling tatap menyelami netra mata lebih dalam dan dalam hitungan menit kami tersadar bahwa kami sedang makan.


"Seperti bocah saja makannya,"ledek Raihan setelahnya.


Aku tidak menghiraukan ledekan nya melainkan melanjutkan makan karena perutku masih terasa lapar. Kemudian kami makan dalam diam hingga makanan habis tinggal menyisakan tulang belulang saja.


Aku membereskan bekas makan kami dan Raihan membantu ku. Setelah itu aku membawanya ke dapur. Ketika aku sedang mencuci piring di wastafel, tiba tiba hujan dan suara petir menggelegar cukup membuat aku terkejut. Tak selang lama mati lampu. Aku berteriak kecil, selain terkejut aku juga takut kegelapan.


"Rai...Raihan kamu dimana Rai?"aku memanggil Raihan dengan sedikit keras karena jarak dapur dan ruang tamu cukup jauh.


Pandangan ku benar benar gelap sehingga aku tidak bisa bergerak kemana mana karena takut menabrak sesuatu. Aku hanya berdiri di tempat berharap Raihan menyusul ku ke dapur. Setelah cukup lama aku menunggu akhirnya Raihan menyusul ku.


"Mba, mba Nuri dimana?"panggil Raihan dalam kegelapan.


"Aku dekat wastafel Rai."


"Wah, aku lupa dimana letak wastafel nya mba."


"Kenapa tidak menggunakan senter ponsel saja Rai?"


"Ponsel ku lowbet mba. Kalau ponsel mba aku lupa menaruh nya dimana."


"Terus bagaimana ini? gelap sekali Rai."


"Wastafelnya dekat kompor tidak mba? kalau dekat coba nyalakan kompornya.


"Ah, Iya." Dalam hati aku mengumpati diriku sendiri kenapa tidak kepikiran tentang menggunakan cahaya kompor untuk penerangan dari tadi. Kemudian aku meraba raba dan akhirnya aku menemukan tombol kompor lalu menyalakannya. Senyum mengembang di bibirku mendapat penerangan meskipun remang-remang.


Raihan berjalan mendekatiku setelah ada pencahayaan di area sekitar ku. Kemudian dia memeluk ku sambil berkata," mba tidak ada apa apa kan?"Raihan seperti khawatir sekali padaku.


"Aku tidak apa apa Rai," jawabku, aku membiarkan Raihan memeluk ku karena aku merasa pelukan Raihan sudah menjadi candu bagiku.


"Apa mba tidak memiliki lilin?"tanya Raihan masih dalam posisi memeluk ku.


"Sepertinya ada sisa satu tapi di dalam lemari atas di ruang TV."


"Ya sudah, mba tunggu disini biar aku yang mencarinya."Raihan melepaskan pelukannya kemudian berjalan pelan sambil meraba dinding. Setelah mendapatkan lilin yang di cari, dia kembali lagi lalu menyalakan lilin tersebut menggunakan api kompor. Baru saja menyalakan lilin, terdengar Zain berteriak memanggil ku di dalam kamar.


"Rai, Zain di kamar."

__ADS_1


"Ya sudah mba yuk temui Zain."


Dengan bantuan cahaya lilin aku dan Raihan memasuki kamar ku untuk menemui Zain yang sepertinya terbangun dan ketakutan mendapati kegelapan.


__ADS_2