
Suara ayam berkokok cukup membuat tidur anak ku terusik. Padahal masih jam setengah empat subuh. Aku heran kenapa tetanggaku yang beternak ayam kampung itu sudah melepaskan ayam ayamnya di pagi buta sehingga berkeliaran di rumah rumah tetangga.
Zain menggeliat mendengar ayam berkokok berulang ulang kali di samping kamarku. Ku elus- elus punggungnya agar ia kembali tidur. Namun, ayam itu masih saja berkokok sehingga Zain sempat terbangun.
Lama lama aku kesal juga karena Zain lagi lagi terusik bahkan terbangun. Aku bangun lalu ke luar rumah. Ku ambil sapu lantai yang tergantung lalu aku mengusir ayam jantan yang berjumlah tiga ekor itu di samping kamarku.
"Hus hus hus." Aku mengusir ayam - ayam itu sambil menggebrak gebrak sapu di tanganku. Akhirnya ayam - ayam itu berlarian kemana mana.
Aku kembali meletak kan sapu yang ku pegang ke tempat semula lalu masuk kembali ke dalam rumahku. Setelah itu, aku melangkahkan kakiku menuju dapur untuk membereskan beberapa pekerjaan.
Suara Adzan subuh berkumandang aku segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Ku perhatikan pintu kamar ibuku. ibu tidak muncul - muncul dari kamarnya padahal waktu sudah menunjukan pukul setengah enam. Aku heran pada ibu karena jika ku perhatikan dia jarang sekali melaksanakan sholat padahal ibu orang yang aktif mengikuti pengajian. Pernah aku menegurnya namun ia malah balik memarahiku. Oleh karena itu, sampai saat ini aku tidak berani lagi menegurnya.
Aku mulai memasak ikan pesanan ibu tadi malam. Empat potong ikan ku masak pindang kuah kuning dan satu potong ikan ku goreng untuk makan Zain nanti. Setelah selesai, aku memasuki kamarku dan ku dapati Zain sudah bangun dia sedang bermain mobil rongsokan yang ku temukan beberapa hari yang lalu.
"Zain mandi dulu yuk, sudah pagi."
"iya, mama."Kemudian Zain beranjak dari duduknya lalu menghampiriku. Anak ku seorang balita penurut dan tidak pernah menangis ketika meminta sesuatu dariku tapi tidak ku turuti. Seolah olah mengetahui akan kesusahan hidup mamanya dan aku bersyukur memiliki seorang anak semanis Zain. Ku gendong Zain lalu ku bawa ke dalam kamar mandi.
Aku menyuapi Zain di ruang TV. ku nyalakan TV itu sebagai hiburanku pagi ini sambil menyuapi Zain. Ku lihat ibuku yang baru saja keluar dari kamarnya dengan rambut acak acakan yang juga sedang menoleh ke arahku.
"Jangan ganti ganti chanel lagi Nur, susah lagi nanti aku carinya." peringatan ibu padaku.
Aku tidak menjawabnya. Ku abaikan saja ucapannya lalu fokus kembali menyuapi Zain dengan nasi dan ikan. Kasihan anak ku sangat jarang sekali memakan ikan. Tapi aku bersyukur Zain tidak pernah protes di kasih makan apa saja dia selalu mau dan memakannya.
__ADS_1
Ibu menatap ke arah piring yang sedang ku pegang." Kok ikan nya kamu makan Nur? kan itu ikan ku kenapa kamu makan?" protesnya padaku.
"Aku tidak sedang makan Bu, tapi aku sedang menyuapi Zain makan. Zain itu cucu ibu kenapa tidak mau berbagi sedikit untuk cucu ibu? lagi pula ikan ini aku yang beli bukan pakai uang ibu tapi uangku. Wajar kan kalau Zain juga ingin menikmatinya?"
Terdengar ibu mendengus kesal lalu menghentak kan kakinya dan beranjak pergi dari hadapanku. Aku kesal sekali padanya. Ikan yang dapat aku beli saja tidak boleh ikut menikmatinya juga oleh ibuku.
"Zain sudah kenyang nak?"
"cudah mama."
"ya sudah kalau sudah kenyang Zain main lagi ya, mama ke dapur dulu."
Ku tatap lauk yang tinggal separuh sisa Zain makan. Rasanya ingin sekali memakannya tapi aku mikir lagi jika ku makan sisa ikan itu nanti siang Zain makan dengan apa? Meskipun di dalam kulkas masih ada satu potong ikan lagi tapi ikan itu untuk Zain makan besok. Aku mengurungkan keinginan ku lalu beranjak ke dapur untuk menyimpan.
Ku lihat ibu sedang makan dengan lahap di atas meja padahal dia baru bangun dan belum mandi. Jorok sekali memang. Apa dia tidak merasa jijik sama mulutnya yang belum sikat gigi.
"Jangan di ambil Nur. Kalau di makan sama kamu nanti siang aku makan sama apa?" ucap ibuku sambil menoleh ke arah belakang dimana aku berdiri.
Aku menghela nafas." Aku hanya mau mengambil kuahnya saja Bu, karena aku harus makan biar ada tenaga. Kalau aku sakit nanti siapa yang mengerjakan ini itu? mengerjakan perintah ibu dan siapa yang membuat kerupuk?" jawab ku. Lagi lagi aku memiliki keberanian untuk menjawab secara menohok membungkam mulut cerewet ibu. Dia terdiam lalu melanjutkan makannya lagi yang belum selesai.
"Nuri....Nurii.....!" teriak ibu dari depan rumah. Aku yang baru selesai mencuci piring menghampiri ibu di depan.
"Ada apa lagi Bu?" tanyaku di ambang pintu.
__ADS_1
Ibu menoleh ke arahku."Lihat tuh liat kotoran ayam di mana mana."
Aku menunduk, benar saja kata ibu kotoran ayam bertebaran di lantai teras rumahku.
"Kurang ngajar banget itu si Yanto memelihara ayam kok merugikan tetangga," umpat ibuku dengan raut wajah kesal.
Untuk kali ini aku setuju dengan ucapan ibuku. Kami sebagai tetangganya merasa di rugikan oleh pak Yanto tetanggaku yang beternak ayam kampung. Dia yang beternak ayam kami yang menanggung kotorannya. Apa pak Yanto tidak memikirkan ayam ayamnya akan mengotori rumah orang jika di lepas? padahal jika ayam ayamnya mau di lepas dari kandangnya bukan kah lebih baik pak Yanto memagari pekarangan rumahnya terlebih dahulu agar ayam ayamnya tidak berkeliaran bebas memasuki pekarangan rumah orang lain. Dan hal ini bukan lah untuk yang pertama kali nya melainkan sudah sangat sering dan kami membiarkan saja selama ini.
"Cepat bersihkan lantainya Nur, jijik aku lihatnya," titah ibu padaku lalu dia turun dari teras entah mau pergi kemana.
Aku segera mengambil ember di isi air dan alat pel untuk membersihkan lantai yang terkena kotoran di teras. Ketika aku sedang mengepel terdengar keributan dari arah rumah tetanggaku pak Yanto yang berjarak enam ratus meter dari rumahku. Aku menajamkan pendengaran ku. Suara cempreng ibuku ada di antara keributan orang orang tersebut.
Aku segera menyimpan ember serta alat pel terlebih dahulu. Setelah itu, Aku bergegas pergi ke rumah pak Yanto. Ku lihat ibu ku sedang adu mulut dengan pak Yanto serta istrinya. Pak Yanto berkacak pinggang sambil menunjuk nunjuk ibuku pakai telunjuknya.
"Ada apa ini Bu, pak Yanto?" tanya ku sambil berjalan ke arah mereka.
Mereka semua menoleh ke arahku yang baru datang dengan ekspresi tidak sedap di pandang oleh mataku.
"Ajari ibumu untuk bersikap sopan santun sama orang Nur, sudah tua kok bikin masalah saja sama orang lain. Kalau dia laki laki sudah aku tonjok dari tadi,"ucap pak Yanto sambil berkacak pinggang.
"Heh, apa kamu bilang aku bikin masalah sama orang? apa kamu tidak mikir justru kamu yang bikin masalah sama orang lain membiarkan ayam ayam mu bebas buang kotoran di rumah orang. Kalau kamu mau memelihara ayam dan melepasnya mending kamu tinggalnya di hutan saja sana jangan disini biar tidak merugikan orang lain ayam ayam mu itu," balas ibuku tidak kalah sengit.
"Enak saja nyuruh aku tinggal di hutan. Ini tanah ku dan ini rumahku suka suka aku mau memelihara ayam atau tidak karena aku juga punya hak di kampung ini."
__ADS_1
Sebelum ibu menimpali ucapan pak Yanto dengan emosi, aku memberanikan diriku untuk menengahi. Sebenarnya lidahku juga sudah gatal ingin komplain dari dulu hanya saja aku belum berani angkat bicara.
"Pak Yanto, Bu Yanto maaf sebelumnya jika penyampaian ibu saya kurang sopan. Begini pak dan Bu Yanto. Tadi subuh ayam ayam bapak berkokok tepat di samping kamar saya dan itu sangat mengusik tidur anak saya. Dan barusan kami mendapati kotoran ayam berceceran di lantai teras rumah kami. Sebenarnya hal ini bukan untuk pertama kalinya tapi sudah sangat sering dan kami sebagai tetangga merasa kurang nyaman dengan keberadaan ayam ayam itu di sekitar rumah kami. kalau saya boleh memberi saran apa tidak sebaiknya bapak memagari pekarangan rumah bapak agar ayam ayam nya tidak berkeliaran bebas ke rumah tetangga bukan hanya kami tapi tetangga yang lainnya juga."