Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Melabrak Yati


__ADS_3

Aku pamit pulang pada Sumi dan mengatakan padanya jika sore nanti aku akan kembali membawa makanan untuk makan malamnya.


Lagi lagi Sumi menangis dan memeluk ku. Ucapan terima kasih terus menerus dia lontarkan padaku. Dia bilang jika tidak ada aku tidak akan tau bagaimana nasib ibunya dan dia bilang hanya aku lah satu satunya orang yang mau menolong keluarganya. Saudara dari ibu serta dari bapaknya pun tidak ada yang peduli pada keluarganya apalagi para tetangga yang rumahnya besar besar itu tidak ada yang melirik dan iba karena mereka menganggap keluarga Sumi adalah keluarga miskin. Aku pikir kesenjangan sosial itu hanya berlaku bagi penduduk kota ternyata di kampung pun ada.


Tidak sedikit orang di kampung yang merendahkan dirinya dan beranggapan bahwa Sumi kerja di sebuah club malam di kota dan ada pula yang mengatakan bahwa Sumi seorang kupu kupu malam hanya karena mereka melihat penampilannya, rambut di cat pirang serta kadang memakai pakaian press body. Padahal sebenarnya Sumi hanya bekerja di sebuah salon kecantikan yang letak nya di mall. Terkadang aku berpikir kenapa orang sering kali menilai buruk orang lain hanya karena penampilannya.


Sumi bernasib sama denganku, sama sama wanita yang di sia sia kan oleh suaminya. Namun, dia lebih dulu bercerai ketika anaknya baru berumur enam bulan. Setelah itu, dia memutuskan untuk bekerja di kota karena dia harus menghidupi anak, ibu serta adik adiknya. Dan sekarang kami sama sama single mom yang sedang berjuang membesarkan seorang anak karena mantan suami kami tidak menafkahinya. Aku tidak tau diantara kami mana yang lebih beruntung karena masing masing dari kami memiliki kelebihan dan kekurangan.


Setelah berpamitan pada Sumi dan ibunya, aku melajukan motorku menuju rumahku. Namun di tengah jalan dan ketika rambu-rambu lalu lintas warna merah menyala, aku pun berhenti bersama pengendara lainya. Pada saat menunggu lampu warna hijau menyala, aku menoleh ke samping kiri ku dan seketika pupil mataku membulat melihat sosok wanita yang sangat aku kenal sedang berada di dalam mobil berwarna hitam dengan seorang laki laki tua yang pernah aku lihat bersamanya beberapa waktu yang lalu. Aku dapat melihat mereka dengan jelas karena kaca mobil dalam keadaan terbuka. Wanita itu tidak menyadari jika aku berada di samping mobil yang dia tumpangi karena aku sendiri memakai helm menutupi semua wajahku.


Aku berpikir apa sebaiknya aku ikuti saja wanita ini untuk mengambil bukti perselingkuhannya dengan banyak pria. Jadi ketika aku memberitahu pada bang Supri tentang perselingkuhan istrinya, bang Supri tidak menganggap aku sedang berbohong.


Beberapa menit kemudian, rambu warna hijau menyala, kemudian semua pengendara roda dua atau roda empat mulai melajukan kembali kendaraanya. Aku mengikuti mobil yang di tumpangi oleh mba Yati dengan jarak sedikit jauh karena aku takut ketahuan sedang membuntutinya.


Mobil itu berbelok ke arah jalanan yang sedikit sempit dan sepi pengendara. Aku tidak ingin kehilangan jejak maka aku terus saja mengikutinya hingga sampai pada sebuah bangunan tidak terlalu besar dan terlihat sudah usang. Ku perhatikan tempat itu ternyata ada tulisan "hotel melati" yang hurufnya telah pudar sehingga tidak nampak dari kejauhan. Setelah melihat tulisan itu aku baru tau bahwa gedung yang terlihat usang itu adalah sebuah hotel tanpa bintang.


Aku memarkirkan motorku dengan jarak cukup jauh agar tidak dicurigai oleh mereka. Cukup lama aku menunggu mereka turun namun mereka belum saja turun sehingga membuat aku berpikir sedang apa mereka di dalam mobil.


Sepuluh menit kemudian terlihat kaca mobil mereka terbuka, nampak mba Yati sedang membenarkan rambutnya yang berantakan kemudian memoles bibir tebalnya dengan gincu. Aku geleng-geleng kepala saja melihatnya karena aku tau apa yang sudah mereka lakukan.


"Dasar wanita gatel, laki laki sudah peyot saja di embat, apa enaknya coba." Aku menggerutu kesal.


Tak lama kemudian mereka turun dari mobil lalu jalan sambil bergandengan tangan masuk ke dalam hotel. Aku yang masih di atas motor kebingungan bagaimana caranya aku memergoki mereka di dalam kamar karena aku yakin mereka datang ke hotel ini akan melakukan e na e na.

__ADS_1


Cukup lama aku berpikir hingga sebuah mobil datang dan memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil selingkuhan mba Yati. Terlihat seorang wanita sudah tua namun berpenampilan ala wanita sosialita keluar dari mobil itu lalu mengitari dan memperhatikan mobil yang sedang aku buntuti. Aku mengernyitkan dahi ku melihat tingkah wanita itu. Entah apa yang sedang dia lakukan. Aku merasa hatiku terpanggil untuk menghampiri wanita itu. Aku pun membuka helm ku terlebih dahulu lalu menaruhnya di atas jok kemudian berjalan mendekati wanita tua itu.


"Permisi Tante?"sapa ku. Padahal aku tidak biasa memanggil seorang wanita tua dengan panggilan Tante. Karena wanita ini terlihat orang kaya dan sepertinya orang kota aku panggil saja dia Tante sebab aku takut dia tersinggung jika aku memanggilnya ibu.


Wanita itu melirik ke arah ku lalu bertanya," anda siapa ya?"alisnya saling bertautan mungkin dia bingung ada orang asing yang tiba tiba menyapanya.


"Maaf kalau saya boleh tau Tante sedang mencari siapa?"tanyaku dengan hati hati. Aku tidak memberi tau siapa aku melainkan langsung bertanya pada intinya saja.


Dia nampak terdiam namun lirikan nya menelisik penampilan ku dari atas hingga bawah, Entah apa yang dia pikirkan tentang ku. Namun tak lama kemudian dia menjawab." saya... sedang mencari pemilik mobil ini."


"Memang pemilik mobil ini siapanya Tante?"


"Suami saya."


"Oh, saya melihat nya kok."


"Mba serius melihat suami saya?"


Aku mengangguk."Suami Tante ada di dalam hotel ini."


Wanita itu terlihat tercengang namun dia bertanya kembali."Apa mba melihat dia jalan dengan seorang wanita?"


Aku mengangguk." Karena saya sendiri sedang membututi mereka."

__ADS_1


"Ada urusan apa mba dengan suami saya?"


"Saya tidak punya urusan dengan suami Tante tapi saya punya urusan sama wanita yang sedang bersamanya."


Wanita itu mengernyitkan keningnya yang sudah nampak mengkerut karena di makan usia.


"Bagaimana kalau kita menemui mereka bersama Tante?" saran ku.


Dia menyetujuinya.


Akhirnya aku bisa memasuki hotel itu dengan mudah berkat sogokan uang yang telah di berikan oleh wanita yang sedang bersamaku pada resepsionis yang berkerja di hotel itu. Dia menunjukan dimana kamar dua orang yang kami cari. Setelah berada di depan kamarnya mba Yati dan selingkuhannya samar samar kami mendengar suara erangan yang menjijikan di dalam sana. Nampaknya kamar hotel murah ini tidak menggunakan peredam suara sehingga orang orang yang sedang berbuat mesum akan terdengar dari luar.


Aku dan wanita itu saling pandang.


"Apa kita dobrak saja pintunya?"saran ku.


Wanita itu terlihat berpikir. Namun ketika seorang roomboy lewat dia memanggilnya. Setelah pria itu sudah berada di dekat kami dia menyuruh roomboy itu untuk membukanya dengan kunci serep tapi karena di dalamnya ada kunci yang menempel jadi sulit terbuka dan mau tidak mau roomboy itu harus mendobraknya dengan iming iming duit yang akan dia berikan. Roomboy itu pun setuju dan akhirnya mendobrak pintu itu.


Brakkk


Nampak dua orang gi la sedang melakukan e na e na. Mba Yati berada di atas tubuh si pria dalam keadaan polos tanpa memakai baju sehelai pun. Aku tidak mau membuang kesempatan, aku langsung mengabadikan momen itu dengan berupa memotret serta video.


"Dasar pe la cur," teriak wanita itu.

__ADS_1


Dua orang itu terlihat panik. kemudian wanita itu mendekati mereka lalu tanpa ampun menarik paksa rambut mba Yati hingga tubuh toples nya pun ikut terseret. Wanita itu langsung menghajar mba Yati abis abisan dan aku menyaksikan nya saja. Setelah merasa cukup mengambil bukti aku bergegas pergi meninggalkan tiga orang yang sedang hajar menghajar. Aku pun tidak peduli bagaimana nasib mba Yati setelah di hajar oleh wanita tua tapi memiliki tenaga super.


__ADS_2