
Aku terbangun ketika mendengar suara adzan subuh berkumandang. Pertama kali yang ku lihat ketika membuka mataku adalah wajah Raihan yang masih terpejam dan tangannya masih melingkar di tubuhku. Sepertinya sepanjang malam Raihan tidak melepaskan pelukannya. Aku mendapati baju Raihan yang basah bahkan kasur yang ditidurinya pun ikut basah oleh keringat yang mengucur di tubuhnya karena kepanasan. Aku menyibakkan selimut dari tubuh kami dan aku menepuk pelan pipi Raihan membangunkannya. Raihan membuka matanya lalu menatapku.
"Ada apa mba, apa yang dirasa?" tanya Raihan terlihat cemas.
Aku menggeleng kan kepalaku lalu tersenyum padanya.
"Sudah subuh Rai!" ucap ku. Aku sengaja membangunkannya siapa tau Raihan mau melaksanakan sholat subuh.
Raihan menoleh ke arah jam dinding.
"Oh, iya sudah subuh. Apa mba sudah tidak kedinginan lagi?"
"Tidak Rai, terima kasih ya?"
"Syukurlah," ucapnya sembari tersenyum. Sepertinya dia senang sekali kalau aku sudah tidak lagi menggigil.
"Rai..!"
"Hem, kenapa mba?"
"Baju mu basah, apa semalam kamu menahan panas?"
"Tidak apa apa mba, yang penting mba merasa hangat dan nyaman."
"Terima kasih ya Rai..!"
"Untuk?"
"Untuk segalanya. Untuk kebaikan mu terhadapku sama Zain."
"Sudah berapa kali mba mengucapkan terima kasih sampai aku bosan mendengarnya mba!"
Aku mencubit kecil perutnya dan perbuatan ku membuatnya kegelian.
"Aduh mba, jangan sampai adik kecil ku bangun. Kalau bangun mba harus tanggung jawab lho!" goda Raihan sambil tersenyum.
"Rai...!"
"He..he aku hanya becanda mba. Ya sudah mba aku mau mandi dulu ya? badanku rasanya lengket sekali."
Kemudian Raihan melepaskan tangannya dari tubuhku lalu bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Aku hanya memperhatikan punggung nya saja. Aku menoleh pada Zain yang sedang tertidur pulas di atas kasur bulu. Kasihan sekali dia sepanjang malam tidur sendiri tanpa ku peluk.
Raihan keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut basah. Segar sekali melihatnya. Kemudian dia memakai baju Koko, sarung serta peci. Dia menoleh ke arahku memberikan senyuman manisnya terlihat tampan sekali. Setelah itu, Raihan menggelar sajadah dan melaksanakan sholat subuh. Aku memperhatikannya di atas pembaringan hingga dia selesai.
__ADS_1
"Mba, aku tinggal ke bawah dulu ya?" ucap Raihan setelah mengganti penampilannya dengan kaos dan celana pendek. Aku mengangguk. Selama kepergian Raihan yang cukup lama aku hanya berbaring saja dengan pikiran menerawang kemana mana. Aku menyesali perbuatan mas Surya yang telah membuatku sakit seperti ini. Aku benci sekali padanya.
Pukul setengah tujuh Raihan kembali sambil membawa mangkok berisi bubur. Aku tersenyum padanya begitu pula dengannya.
"Maaf ya mba lama, sarapan dulu ya, aku sudah buatkan bubur untuk mba. Mba makan sekarang mumpung Zain belum bangun."
"Terima kasih Rai!"
Raihan menyuapi bubur hasil olahannya. Jujur aku kagum sekali padanya. dimata ku dia sosok yang sempurna. Selain tampan, Raihan sosok pria yang baik, lembut, pintar juga bisa memasak. Wanita mana yang tidak akan terpesona padanya dan aku pun tidak munafik bahwa aku terpesona pada Raihan namun aku sadar diri bahwa aku wanita yang sudah bersuami dan lebih tua darinya.
Perlahan lahan Raihan menyuapiku. Namun pada suapan ke enam aku muntah kembali. Aku merasa lambungku tidak mau menerima asupan makanan dan mungkin itu sebabnya yang membuat aku lemah tak berdaya.
Raihan dengan sabar membersihkan kembali bekas muntahan ku. Lagi lagi aku merepotkan nya dan tidak enak hati padanya.
"Rai, maaf...aku muntah lagi."
"Tidak apa apa mba, kita ke dokter ya setelah Zain bangun."
Baru saja Raihan membicarakan Zain, dia sudah terbangun dan berjalan ke arah kami.
"Mama..!"sapa Zain. Namun Raihan segera menggendongnya.
"Zain, kita mandi dulu ya? habis mandi kita bawa mama berobat." Raihan berjalan ke arah kamar mandi namun aku memanggilnya dan Raihan menoleh ke arahku.
"Aku..aku tidak mau berobat Rai!" ucapku.
"Kenapa mba? mba harus berobat tidak mungkin seperti ini terus. Bukannya aku tidak ikhlas merawat mba tapi aku kasihan pada Zain kalau mba lama sakitnya."
"Aku...aku tidak punya uang untuk berobat Rai!" Dengan perasaan malu akhirnya aku berterus terang tentang alasan kenapa aku selalu menolak di ajak berobat.
"Mba tidak usah khawatir."
"Tapi Rai...!" aku belum selesai bicara namun Raihan sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Raihan menggendongku ala bridal style menuju mobilnya kemudian mendudukkan aku di jok tengah lalu menurunkan sandaran jok hingga aku sedikit terlentang. Namun sebelumnya Raihan lebih dulu membawa Zain ke dalam mobil dan di dudukannya di jok depan.
Setelah tiba di rumah sakit dan setelah di tangani, dokter menyarankan aku untuk di rawat di rumah sakit barang dua sampai tiga hari tergantung kondisiku. Awalnya aku tidak ingin di rawat karena mengingat biaya rumah sakit yang pastinya memakan biaya yang tidak sedikit dan aku tidak ingin membebani Raihan dengan biayanya. Tapi Raihan memaksa ku untuk mengikuti saran dokter agar di rawat.
"Mba tidak udah khawatir, aku ada uang kok untuk biayanya."
"Tapi Rai, bagaimana kalau uangmu habis?"
"Kalau habis ya nyari lagi mba he..he !"
__ADS_1
Aku merasa Raihan sama sekali tidak merasa keberatan dan dia terlihat tenang saja. Sambil menggendong Zain Raihan berjalan menuju arah tempat administrasi.
Sepuluh menit kemudian, dua orang perawat mendorong brankar ku menuju ruang rawat dan ketika tiba di ruang rawat aku tercengang melihat kamarnya.
"Rai...kenapa kamu membawaku ke kamar ini?" aku protes pada Raihan karena dia memesan kamar VIP sebagai ruang rawat ku."
"Biar lebih nyaman saja mba, kasian Zain kalau di ruang rawat biasa tidak ada tempat tidur dan tempat main Zain," jawab Raihan dengan santai.
"Tapi Rai... kamar ini pasti mahal bagaimana nanti kamu membayarnya?"
"Mba ini lagi sakit masih saja cerewet ya?"
Dua perawat yang sedang memasangkan jarum infus di tanganku tersenyum saja mendengar perdebatan ku dan Raihan.
Sama halnya dengan di rumah Raihan merawat ku dan mengasuh Zain. Meskipun ada perawat tapi Raihan tetap ingin turun tangan membantuku, seperti ketika aku ingin ke kamar mandi dia menggendongku dan ketika waktu makan dia menyuapiku. Hanya dua hal yang tidak dia lakukan yaitu mengelap tubuhku serta mengganti kan pakaianku.
Sudah dua hari aku berada di rumah sakit. Dokter belum membolehkan aku pulang karena kondisiku yang masih saja lemah. Dan sudah tiga hari Raihan tidak berkuliah dia hanya mengerjakan pekerjaannya di layar laptop.
Aku menoleh pada Raihan yang sedang menidurkan Zain di sebuah sofa berbentuk tempat tidur. Awalnya aku ingin meminta bantuan padanya untuk membawaku ke kamar mandi karena aku ingin buang air kecil. Tapi karena Raihan sedang mengusap usap punggung Zain aku urungkan.
Aku menurunkan ke dua kakiku ke atas lantai lalu berjalan pelan ke arah kamar mandi sambil memegang besi penyangga infusan. Raihan melihatku kemudian berlari ke arahku.
"Kenapa mba tidak menyuruh aku? kalau mba terjatuh bagaimana?" Raihan mengomeliku.
"Aku..!"
Sebelum aku melanjutkan ucapan ku Raihan lebih dulu menggendongku membawa ke kamar mandi lalu mendudukkan aku di closet. Setelah itu, dia keluar dan menungguku di depan pintu.
"Apa sudah selesai mba?" teriak Raihan di luar kamar mandi.
"Sudah Rai !"
Kemudian Raihan membuka pintu lalu menggendongku dan meletak kan aku di ranjang tidur kembali.
"Tidurlah mba!" ucap Raihan lalu menutupi tubuhku dengan selimut. Raihan kembali ke sofa merebahkan tubuhnya di samping Zain.
Ku perhatikan Raihan dari ranjang ku, dia terlihat menguap berkali kali hingga tertidur.
"Hutang budiku banyak sekali pada mu Rai, aku tidak tau bagaimana caranya membalas kebaikanmu."
Ke esokan harinya setelah di periksa, dokter menyarankan aku untuk menambah rawat inap ku karena seharusnya hari ini pulang namun melihat kondisiku dokter belum membolehkan aku untuk pulang hari ini.
Ketika sang dokter keluar dari kamarku tanpa di sangka mas Surya memasuki ruang rawat ku. Aku tercengang melihatnya. Dari mana mas Surya tau jika aku sedang di rawat di rumah sakit.
__ADS_1