
Malam berganti pagi, aku terbangun disaat silauan sinar matahari menerpa wajahku melalui celah tirai jendela kaca. Aku langsung terduduk dan sambil mengucek, ekor mataku melihat ke arah jam dinding yang menempel dan seketika saja mataku membelalak melihat jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan pagi.
Tadi malam tiba di rumah pukul setengah tiga dini hari dan di tambah tubuh yang lelah membuat aku tidur lelap dan bangun kesiangan. Ku lirik Zain yang sedang tertidur di sampingku kemudian mengelus pipinya." Zain juga lelah ya sudah siang belum bangun."
Tiba tiba aku teringat Andre, apa dia sudah bangun juga? tadi malam aku meminta Andre untuk tidur di rumahku saja karena aku tidak tega menyuruhnya langsung pulang. Aku tidak ingin dia mengemudi dalam keadaan ngantuk karena akan berakibat fatal.
Aku menggulung rambut panjang ku kemudian memasangkan jilbab rumahan di kepalaku kemudian bergegas keluar kamar untuk memastikan Andre sudah bangun apa belum. Setelah itu, aku membuka pintu kamar sebelah dengan pelan dan nampak Andre masih tidur meringkuk di atas kasur lantai. Kasihan sekali melihatnya, biasanya dia tidur di kasur empuk tapi malam ini dia tidur di kasur lantai, habis bagaimana hanya ada kasur lantai saja di rumah ku karena memang kamar itu tidak berpenghuni.
Kemudian aku menutup pelan kembali pintu kamar itu lalu beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku terlebih dahulu sebelum melakukan aktifitas siang ini.
Ketika aku baru saja selesai mandi dan membuka pintu kamar mandi, aku di kejutkan oleh sosok tubuh tinggi Andre.
"Astaghfiruallah Dre!" latah ku, sembari memegang dada. Beruntung aku sudah memakai baju setelan panjang dan hijab rumahan mengingat di rumahku ada orang yang sedang menginap. Andre tersenyum nyengir kemudian berkata sambil kedua tangannya memegang sesuatu di bawah perutnya." Aku tidak kuat menahan kantong kemih ku yang sudah penuh Nuri." kemudian menerobos masuk dan membuat tubuhku ikut terdorong ke dalam kamar mandi.
"Kamu tidak sopan sekali sih Dre main dorong saja." Aku mengomel di dalam kamar mandi. Kesal sekali padanya.
"Habis bagaimana Nuri aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil," Andre beralasan sambil tangannya sibuk membuka seleting celana dengan posisi berbalik.
Aku geleng kepala melihat tingkahnya kemudian bergegas pergi ke luar kamar mandi sebelum melihat Andre buang air kecil di depan ku.
Dari dapur terdengar suara gemericik air seperti orang yang sedang mandi mungkin Andre sekalian membersihkan tubuhnya. Kemudian aku berinisiatif untuk mengambilkan handuk bersih yang ku simpan di dalam lemari.
"Dre, apa kamu sedang mandi?" teriak ku di depan pintu kamar mandi.
"Iya, memang kenapa Nuri? apa kamu mau ikut mandi bersamaku?"
"isshh sembarangan sekali, aku hanya mau memberikan handuk untuk mu."
Andre membuka pintu kemudian aku segera memalingkan wajahku kearah lain karena aku tidak ingin melihat tubuh telanjang Andre namun tangan yang sedang memegang handuk ku sodorkan padanya.
"Kau kenapa Nuri?" tanya Andre, pura pura polos.
"Kenapa kenapa, cepetan ini di ambil handuk nya!" namun Andre masih belum mengambilnya.
"cepetan ambil Dre, pegal tanganku." Aku mulai kesal karena Andre tidak juga mengambilnya.
Andre berdecak kemudian berkata," aku tidak mau mengambilnya, kamu saja tidak sopan memberinya."
"Tidak sopan bagaimana, apa kamu pikir aku suka melihat tubuh telanjang mu?"
"Siapa yang telanjang Nuri?"
Aku terdiam sejenak kemudian melirik sedikit ke belakang ternyata Andre masih berpakaian lengkap sembari menyenderkan tubuhnya di tiang pintu dan bersedekap dada.
__ADS_1
Aku mendengus kesal kemudian melempar pelan handuk itu lalu mengenai dadanya. Andre tidak marah melainkan tertawa kecil namun aku memilih mengabaikannya saja dan kembali ke dapur untuk memasak buat sarapan kami.
"Mama..!" ketika aku sedang memasak Zain menyapaku, ternyata dia sudah terbangun dan mencari ku ke dapur.
"Hei, anak ganteng mama sudah bangun?" Aku berjongkok mensejajarkan tinggi ku dengannya. Zain menguap khas orang bangun tidur kemudian mengangguk.
"Anak om sudah bangun tenyata, mandi dengan om dulu yuk?" Andre tiba tiba datang dan mengajak Zain mandi. Aku mendongak tinggi melihat ke arah wajahnya kemudian berdiri. Terlihat rambut Andre basah dan wangi shampo yang sering aku pakai mungkin dia menggunakan shampo ku.
"Maaf lho Nuri, tadi aku pakai peralatan mandi mu,"ucap Andre, aku mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
"Ayok Zain, mandi dengan om, sudah siang lho!" ajak Andre pada Zain yang sedang memegang kakiku.
"Biar aku saja yang memandikannya. Kamu duduk dulu biar aku buatkan kopi untuk mu."
"Tidak perlu repot repot Nuri, lebih baik kamu mandikan Zain saja dulu lagi pula aku jarang meminum kopi."
"Oh begitu, ya sudah tunggu sebentar ya?" kemudian aku menggendong Zain dan membawanya ke kamar mandi.
Aku melirik ke arah jam yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul setengah sepuluh. Aku buru buru memakaikan baju pada tubuh Zain karena dia belum di beri makan pagi begitu pula dengan Andre serta diriku sendiri yang belum memakan apa apa.
"Zain main sama om Andre dulu ya, mama mau mempersiapkan sarapan buat kita."
"Iya mama!" kemudian aku menuntun Zain keluar kamar lalu melihat ke arah Andre yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Zain....Nuri..!" panggil Andre menuju arah kami. Kemudian dia tersenyum mendapati aku yang sedang menata makanan di atas meja dan Zain yang sedang duduk manis di kursi meja makan.
"Sempurna sekali hidupku, jika memiliki istri yang cantik dan anak yang tampan seperti kalian." Andre mulai menggoda sembari ekor matanya melirik ke arah ku.
"Makan dulu Dre, menggombal juga butuh tenaga kan?"Aku menyindirnya.
"Ha ha ha, mama mu menggemaskan sekali Zain." Aku mencebik kan bibirku kemudian menggeser kursi di samping Zain untuk ku duduki.
"Dre, setelah sarapan kamu langsung pulang kan?"aku bertanya di sela sela makan kami. Andre terbatuk lalu segera mengambil air yang sudah ku tuangkan di dalam gelas sebelumnya kemudian meneguk nya hingga tandas. Setelah itu, dia meletak kan kembali gelas kosong itu.
"Kamu mengusirku Nuri?" Andre balik bertanya dengan tatapan seriusnya.
"Aku tidak bermaksud mengusir mu Dre, tapi lagi pula kamu ngapain disini bukannya kamu harus kerja ya?"aku beralasan.
"Aku bukan seorang karyawan yang terikat dengan perusahaan yang di wajib kan bekerja dan datang tiap hari tapi aku ini seorang bos, ya meskipun tidak sebesar Raihan. Aku bekerja ketika hanya untuk mengontrol usahaku saja selebihnya aku serahkan pada para staf ku. Jadi aku memiliki banyak waktu untuk mu dan Zain."
Aku terdiam serasa kehabisan kata kata untuk menyuruhnya segera pulang. Kemudian aku fokus makan lagi.
"Kamu dan Raihan terlihat akrab? apa kalian sudah berteman lama?" Andre bertanya sekaligus mengingatkan aku kembali pada Raihan. Aku menelan saliva ku dengan susah payah kemudian berkata," kami ini satu kampung tentu saja aku mengenal lama."
__ADS_1
"Apa kalian berteman akrab?" tanya Andre kembali, dia seperti seorang wartawan saja yang banyak tanya.
"Ti...tidak juga, justru jarang bertemu," ucap ku dengan gugup.
"Soalnya aku merasa Zain dekat sekali dengan Raihan seperti memiliki hubungan yang sangat dekat saja."
"Aku rasa hanya perasaanmu saja Dre!"
"Masa sih, eh, tapi...kamu perhatikan tidak sih sikap Raihan ke pacarnya yang bernama Nura itu? dia seperti kaku tepat nya cuek sama pacarnya. Padahal kalau di lihat mereka pasangan yang serasi, masih muda dan sama sama orang kaya."
Lagi lagi aku menelan saliva ku dengan susah payah. Andre benar, mereka memang pasangan yang serasi, masih muda dan sama sama orang kaya. Sementara denganku siapa lah aku ini hanya wanita yang sudah berumur dan seorang ibu satu orang anak. Jujur, aku merasa insecure.
"Kenapa hanya di aduk aduk saja nasi gorengnya?"pertanyaan Andre membuyarkan lamunan ku.
"Oh, aku sudah kenyang." Ketika aku hendak berdiri Andre memegang tanganku sehingga aku tidak jadi berdiri. Kemudian dia bertanya," Aku perhatikan semenjak kita pulang dari Jakarta kamu banyak melamun, ada apa Nuri?" Andre bertanya dengan nada menyelidik.
Aku bingung harus bagaimana menjawabnya? di satu sisi aku ingin sekali bercerita bagaimana perasaanku pada Raihan mengingat Andre adalah sepupunya namun di sisi lain Andre juga mengharapkan aku dan mencintaiku, apa tidak akan menyakiti hatinya jika aku berterus terang? tidak, aku tidak boleh berterus terang padanya. Aku pun tidak ingin membuat dua saudara sepupu itu bertengkar hanya karena gara gara aku.
"Aku..aku hanya....pusing memikirkan surat cerai yang belum aku terima." Alasan tak logis tapi sudah terlanjur di ucap kan. Entah Andre percaya atau tidak.
"em begitu?" apa kamu sedang tidak berbohong?"Andre mengintrogasi dan
aku mengangguk cepat agar dia tidak curiga.
"ehm, kalau sudah sah bercerai secara agama dan negara nanti kamu mau kan menikah dengan ku menjadi istri serta ibu dari anak anak ku?" tanya Andre dengan wajah serius. Ini untuk ke berapa kalinya dia bertanya.
Aku terperangah mendapat pertanyaan demikian dari Andre. Ku tatap sorot mata milik Andre dan aku melihat ada keseriusan serta ketulusan di sana.
"Dre..."
"Aku serius Nuri...!"
"Tapi.."
"Kenapa Nuri, apakah sudah ada pria lain di hatimu sehingga kamu sulit mengatakan,"iya."
"Dre..aku baru saja bercerai, masa Iddah ku harus nunggu tiga bulan baru bisa menikah lagi jika aku ingin menikah. Lagi pula aku dan mas Surya belum pisah secara negara masih dalam proses."
"Ya aku mengerti, tadi kan sudah ku bilang jika kamu sudah cerai sah secara agama dan negara kamu mau kan menikah dengan ku? Ini sebagai bentuk lamaran tak resmi tapi nanti aku pasti akan membawa keluargaku untuk meminang mu."
Aku terdiam harus bicara apa, dalam hati aku mengharapkan Raihan yang berbicara demikian padaku bukan Andre.
Aku memejamkan mata ku, ku pasrah kan segala urusan ku pada Tuhan, rezeki serta jodohku. Jika tuhan berkehendak suatu hari nanti aku harus menikah dengan Andre aku terima dan ikhlas menerimanya.
__ADS_1