Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pak Bagas mengantar pulang


__ADS_3

Aku mengunyah perlahan menikmati bubur pemberian dari pria paruh baya yang baru saja ku kenal dan mengingatkan aku pada almarhum ayahku.


"Bagai mana rasanya enak tidak?" Tanya nya dengan antusias.


Aku tersenyum tipis dan mengangguk. Mungkin jika dalam keadaan sehat bubur yang sedang ku makan ini rasanya sangat enak tapi karena aku sedang sakit makanan seenak apapun tetap saja terasa pahit. Aku mengangguk karena aku hanya ingin menghargainya saja agar beliau tidak merasa kecewa.


Satu hingga dua suapan telah masuk ke dalam perutku dan ketika suapan ketiga akan memasuki mulut ku pintu kamar mandi terbuka nampak Raihan menggendong Zain keluar dari kamar mandi itu.


Raihan menoleh ke arah kami lalu terdiam entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Hai Zain, cucu opa sudah mandi?"Tanya pak Bagas.


"Cudah Opa." Jawab Zain sembari tersenyum nyengir.


"Pak Bagas kapan datangnya?" Tiba tiba Raihan bertanya setelah terdiam lalu berjalan ke arah kami.


"Sejak beberapa menit yang lalu Rai, ini saya sedang menyuapi Nuri makan bubur yang saya beli di restauran C." Pak Bagas memperlihatkan bubur di dalam kotak itu pada Raihan yang sedang berdiri dan menggendong Zain.


"Apa bubur itu sehat pak?" Wajah Raihan nampak cemas. Sepertinya dia takut bubur yang sedang ku makan adalah bukan bubur yang layak di konsumsi oleh orang sakit yang sedang membutuhkan asupan gizi yang sehat.


Pak Bagas tertawa renyah." Tentu saja Rai, bubur ini sangat steril dan terbuat dari bahan bahan berkualitas campuran dari beras, salmon dan sayur sayuran. Saya tidak mungkin memberikan makanan sembarangan pada Nuri."


Wajah cemas Raihan berubah menjadi tersenyum." Oh, maaf pak." Lalu menggaruk tengkuknya.


"Apa kamu mau meneruskan menyuapi nya? Nuri nampaknya suka sama bubur ini, iya kan Nuri?"pak Bagas meminta pendapatku, aku pun langsung mengangguk.


"Tapi, saya mau memakaikan pakaian Zain dulu, pak."


"Sini biar saya yang memakaikan pakaian Zain dan kamu menyuapi Nuri." Pak Bagas meletak kan bubur itu di sampingku lalu berdiri dan mengambil alih Zain.


"Tapi apa tidak merepotkan pak Bagas?"


"Sama sekali tidak. Ya sudah sayang, opa yang memakaikan baju Zain ya?"


"Iya opa." Kemudian sambil menggendong Zain pak Bagas menjauh dan membawa Zain ke atas sofa karena baju Zain sudah di sediakan di sana.


"Kita makan lagi ya sayang." Ucap Raihan lalu duduk dan mulai menyuapiku perlahan.


Sembari di suapi Raihan, seringkali aku memperhatikan pak Bagas yang sedang memakaikan baju Zain dan nampak kesulitan. Jika melihat gerakan tangannya yang kaku seperti nya dia tidak pernah memakai kan pakaian pada seorang balita. Setelah Zain selesai di pakaikan baju, pak Bagas nampak tersenyum melihat penampilan Zain.


...****************...


Tidak terasa sudah enam hari lamanya aku di rawat di rumah sakit dan selama itu pula Raihan dengan sabar mengurus ku dan Zain. Bahkan selama itu pula dia tidak bekerja melainkan melimpah kan semua urusan kantor pada asistennya, Dino. Sementara pak Bagas pun masih bolak balik menjenguk ku tiada bosannya. Aku bersyukur sekali telah di perhatian oleh dua pria itu. Yang satu calon suamiku dan satu lagi bukan siapa siapa aku namun aku merasa sangat dekat sekali dengan nya.


Selain itu, kesehatanku pun berangsur membaik dan jika hari ini aku benar benar sudah pulih maka besok dokter membolehkan aku pulang.


Suara ketukan pintu terdengar. Aku yang sedang duduk di atas ranjang menoleh pada pintu itu. Tak selang lama pintu itu terbuka nampak pria tinggi berwajah manis jika tersenyum namun sayangnya wajah itu selalu datar tanpa ekspresi.


"Dino!" ucap ku.


Dia masuk ke ruanganku sembari mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu.


"Apa kamu mencari Raihan, Dino?" Tanya ku. Dia menoleh lalu mengangguk datar tanpa berucap. Benar benar harus sabar menghadapi si pria dingin ini.


"Dia lagi ke luar dengan anak ku. Kamu tunggu saja sebentar lagi paling datang."


Dino tidak merespon ucapan ku melainkan berjalan ke arah sofa lalu duduk dan menumpukan sebelah kakinya keatas.


Aku geleng-geleng kepala saja melihat sikap dinginnya. Ini merupakan untuk ke tiga kalinya dia datang ke ruang rawat ku untuk bertemu bos nya yaitu Raihan. Dan setiap bertemu selalu bersikap demikian padaku. Aku heran kenapa ada pria dengan sikap se dingin es freezer di Indonesia.


Tak selang lama pintu terbuka kembali. Nampak Raihan sedang menggendong Zain masuk dan membawa sekantong buah buahan. Kemudian pandanganya tertuju pada pria yang sedang duduk sembari bermain ponsel.


"Eh ada Dina. Sudah lama Lo Din?"kata Raihan sembari berjalan ke arah Dino.


Nampak Dino hanya menyunggingkan senyum samar nyaris tidak terlihat kemudian dia menurunkan sebelah kaki nya dan menegak kan duduknya.


"Ada masalah tentang tanah yang di Lampung boss."


"Masalah, kenapa?" Tanya Raihan lalu duduk di hadapan Dino.


"Tanah yang kita beli ternyata tanah sengketa."

__ADS_1


"Apa! kok bisa. Terus Lo udah transfer duit nya?"


"Sudah, tapi belum semua nya boss masih sedikit."


"Berapa?"


"Lima milyar boss."Ucap Dino mengecilkan volume suaranya namun masih terdengar di telingaku.


"Apa! lima milyar kamu bilang masih sedikit? lima milyar itu gaji mu seumur hidup Dinaaa" Raihan nampak kesal suaranya saja terdengar ngebass.


Dino yang mulanya duduk tegak jadi menciut kebelakang." Maaf boss."


"Pokoknya aku tidak mau tau bagaimana caranya uang ku harus balik."


"Tapi boss, orangnya melarikan diri ke luar negeri." Ucap Dino sembari menunduk kan wajah.


"Apa! kamu benar benar ya Dina kali ini bikin aku sangat kesal. Kenapa tidak di cek dulu bibit bebet bobot nya tanah itu sebelum deal, Dina."


"Kan boss sendiri yang menandatangi nya."


"Ya, memang aku, tapi bukanya tanah itu atas rekomendasi dari teman mu dan kamu mempercayainya seratus persen? tapi nyata nya apa teman mu itu bawa kabur duit perusahaan, Dina."


"Maaf bos, aku tidak tau kalau temanku itu akan menipu kita."


"Pokok nya aku tidak mau tau ya Dina. Kamu harus kejar orang itu sampai ke lubang semut pun. Kalau tidak dapat aku tidak akan menggaji kamu seumur hidup."


Dino nampak terperangah mendengar ancaman Raihan yang nampak serius jika di lihat dari mimik wajah kesalnya." Jangan gitu dong boss, lima milyar itu hanya nominal kecil bagi R&N GROUP boss."


"Kecal kecil kecal kecil tetap saja itu duit Dina. Bisa buat gaji seluruh karyawan selama tiga tahun termasuk gaji kamu."


Tiba tiba pintu terbuka nampak dokter yang menanganiku dan seorang perawat masuk ke ruang rawat. Raihan dan Dino menoleh kearah pintu dan menghentikan obrolannya ketika sang dokter menyapa kami satu persatu.


Dokter dan perawat itu mendekatiku lalu memeriksa aku kembali. Raihan pun beranjak dari duduknya lalu mendekatiku. Sementara Dino nampak mengusap usap wajahnya.


"Bu Nuri sudah tidak lagi merasakan demam atau pusing?"


"Tidak dok."


"Sudah tidak dok, hanya saja mulut saya masih terasa pahit."


"Kalau mulut nya masih terasa pahit itu wajar Bu Nuri. Tapi tidak usah khawatir lama lama akan hilang dengan sendirinya seiring dengan pulihnya kesehatan Bu Nuri."


"Jadi saya bisa pulang sekarang dok?" Tanya ku dengan antusias.


"Tidak untuk sekarang. Tensi Bu Nuri masih sedikit rendah tapi kalau besok sudah normal bu Nuri boleh pulang."


"Terus bagaimana caranya supaya tensi darah saya normal kembali dok?"


"Usahakan makan yang banyak ya Bu, terutama makanan yang mengandung zat besi. Meskipun mulutnya terasa pahit harus di paksakan makan ya Bu Nuri."


"Iya dok, terima kasih."


Dokter dan perawat itu pun keluar setelah selesai memeriksa ku. Raihan menoleh ke arah Dino.


"Hei, Dina!"


Dengan sigap Dino melihat ke arah kami."Ya boss."


"Gimana surat undangan itu apa sudah selesai di cetak?"


"Sudah boss tinggal di ambil."


"Bagai dengan wedding organizer apa kamu sudah mencari yang benar benar handal dan amanah?"


"Sudah beres boss, mulai venue, catering, make up artis dan ***** bengeknya sudah beres semua."


"Bagus. Kau boleh pergi sekarang."


"Jadi, bagaimana dengan masalah penipu itu?"


"Biarkan dulu. kamu fokus bantu persiapan pernikahan ku dulu nanti setelah aku menikah kita cari teman mu itu." Dino nampak menyunggingkan senyum tipis, tipis sekali namun aku masih bisa melihatnya tapi tidak tau dengan Raihan.

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar pembicaraan mereka yang sudah menyiapkan segalanya untuk pernikahan kami. Raihan benar benar akan menikahi ku bukan hanya omongan semata.


Raihan mengalihkan pandangannya padaku setelah Dino pergi dari ruang rawat ku." Hei sayang, kamu dengar kan tadi! si Dina sudah mempersiapkan segalanya. Jadi aku mohon kamu harus cepat sembuh ya dan jangan sakit sakit lagi."


Aku tersenyum padanya lalu menghambur ke pelukan nya. Raihan memeluk ku erat sembari mengecupi pucuk kepalaku. Dalam hati tidak henti hentinya aku mengucap kan rasa syukur telah di pertemukan dengan pria berhati lembut dan penyayang seperti Raihan. Bukan karena Raihan tampan dan kaya tapi terlebih pada sikap dan sifatnya yang membuat aku benar benar yakin untuk menikah dengannya.


Keesokan hari dan di pagi hari.


Aku senang sekali ketika dokter sudah membolehkan aku pulang pagi ini setelah melakukan pemeriksaan yang terakhir. Setelah pulang dari rumah sakit mungkin akan istirahat sebentar di apartemen Raihan setelah itu aku akan kembali ke kampung untuk memberitahu keluarga ku tentang pernikahan ku yang akan di lakukan tujuh hari lagi.


Aku tersenyum melihat Raihan yang sedang sibuk berkemas dan Zain membantunya. Di tengah berkemas pintu terbuka dan ternyata pak Bagas yang datang. Hari ini adalah hari Minggu jadi tidak heran jika pak Bagas datang pagi hari untuk menjenguk ku.


"Lho, sudah siap siap mau pulang to!" kata pak Bagas sembari berjalan ke arah Raihan dan Zain lalu mengangkat tubuh Zain dan di gendongnya.


Raihan tersenyum padanya." Iya pak, dokter sudah membolehkan Nuri pulang. Lagi pula Nuri sudah merengek terus minta pulang."


"Apa Nuri sudah benar benar sembuh total?"


"Sembuh total sih belum pak, mungkin nanti istirahat saja di rumah."


"Oh, begitu."


Di tengah obrolan mereka seorang perawat datang membawa kursi roda yang Raihan pesan sebelumya.


"Nah, kursi rodanya sudah ada apa kita pulang sekarang, sayang?" Tanya Raihan padaku dan aku mengangguk.


"Emm, Rai, bagaimana kalau saya ikut antar kalian? kamu pasti kerepotan harus membawa Zain, Nuri dan juga barang barang apa lagi nanti kamu harus nyetir." Tiba tiba pak Bagas menawarkan diri untuk mengantar kami pulang. Aku dan Raihan saling pandang lalu tak lama Raihan melihat ke arah pak Bagas yang sedang menunggu jawaban.


"Apa kami tidak merepotkan pak Bagas?"


Pak Bagas tersenyum lebar." Tidak sama sekali dong Rai. Justru saya senang bisa ngantar kalian dari pada di rumah sumpek dan kesepian."


"Lho, memang nya Tante Meri dan Nura tidak ada di rumah pak?"


"Mereka sedang tidak ada di rumah Rai, istri saya pulang dari Singapura lanjut ke jepang katanya di sana ada bisnis apa saya tidak tau. Terus si Nura sedang liburan ke Bali bersama teman teman nya."


"Oh."


Pantas saja pak Bagas bolak balik ke mari ternyata dia merasa kesepian di rumahnya. Kasihan juga jika di pikir, memiliki seorang istri dan anak tapi seringkali di tinggali oleh mereka.


Setelah siap, kami keluar dari ruang rawat itu. Aku di dorong Raihan menggunakan kursi roda sementara Zain di gendong oleh oleh pak Bagas.


Setelah sampai di depan rumah sakit Raihan menitipkan aku dan Zain pada pak Bagas sementara dia mengambil mobil di parkiran terlebih dahulu.


Tak selang lama mobil Raihan datang lalu dia membantuku duduk di jok tengah. Pak Bagas pun masuk dan duduk di jok yang sama denganku sembari memangku Zain.


Mobil pun mulai bergerak namun tengah jalan menuju apartemen Raihan sedang terjadi kemacetan cukup parah. Setelah bertanya pada pengendara lain apa yang terjadi di depan mereka bilang ada demo kenaikan BBM.


"Apa sebaiknya kita cari jalan tikus saja, Rai!" Usul pak Bagas.


"Jalan tikus, lewat mana pak?"


"Di depan sedikit belah kiri ada gang sempit tapi nanti tembusnya ke sebuah pemakaman umum."


"Iya pak."


Mobil mulai merayap perlahan kemudian Raihan membelok kan mobilnya ke gang itu lalu berjalan pelan melewati pemukiman penduduk setempat dan tembus ke sebuah jalanan cukup besar namun tidak terlalu ramai pengendara.


"Arah mana pak?"


"Kanan."


Raihan mengambil arah kanan dan ternyata benar jalanan itu melewati pemakaman yang nampak rapih dan bersih. Aku melirik pada pak Bagas dia terlihat melamun memandangi pemakaman itu. Bahkan aku sempat melihat dia menjatuhkan air matanya.


"Maaf pak, pak Bagas kenapa?"


"Oh, maaf Nuri. Di sana ada istri dan anak saya dan saya sudah lama sekali tidak mengunjungi mereka."


Aku terdiam menatap sedih pada kak Bagas.


"Apa bapak mau menjenguk mereka sekarang?" Entah mengapa lidah ku ini rasanya enteng sekali berkata demikian dan hati ku pun bergerak ingin sekali mengunjungi makam keluarga pak Bagas.

__ADS_1


__ADS_2