
Setelah selesai makan kami meneruskan lagi perjalan kami namun sebelum kami tiba di kampung halaman aku baru teringat tujuan ku pulang juga akan menjenguk kedua anak mas Surya.
"Rai, bagaimana kalau kita jenguk anak anak mas Surya dulu?"
"Apa tidak sebaiknya kita pulang dulu saja sayang?"
"Sekalian capek biar tidak bolak balik. Setelah ini kita kan harus mempersiapkan pernikahan kita."
"Ya sudah kalau itu mau kamu."
"Makasih ya."
Raihan tersenyum lalu mengusap usap kepalaku.
Raihan melajukan mobilnya mengikuti arah petunjuk ku karena Raihan belum pernah ke rumah Ipah Saripah sebelumnya.
"Kita belok kemana ya?" Tanya Raihan ketika tiba di sebuah persimpangan jalan.
"Belok kanan." Raihan pun membelok kan mobil nya ke sebelah kanan."
Setelah melalui jalan panjang akhirnya kami tiba di depan rumah Ipah. Di depan rumah itu ada sebuah mobil hitam terparkir dan pintu rumah itu pun nampak terbuka.
"Apa ini rumahnya sayang?"
"Iya, ayok kita turun."
Aku turun begitu pula dengan Raihan ikut turun sembari menggendong Zain.
Kami berdiri di samping mobil sembari memperhatikan rumah itu.
"Seperti nya sedang ada tamu sayang."
Belum sempat aku menimpali ucapan Raihan tiba tiba suara bentakan seseorang terdengar menggelegar di telingaku. Aku tersentak dan tak lama suara tangisan dan rengekan pun terdengar yang bersumber dari rumah Ipah.
"Tidak mau, aku tidak mau keluar dari rumahku. Lepas kan tangan ku, lepaskan."
Aku dan Raihan saling pandang. Aku pikir pasti sedang terjadi sesuatu pada kedua anak mas Surya lalu tanpa berpikir panjang lagi aku melangkah lebar memasuki rumah Ipah tanpa permisi lebih dulu.
Setelah berada di dalam rumah itu aku sangat terkejut melihat seorang pria berbadan kekar dan bertato sedang menarik paksa si cungkring yang sedang memegang erat kaki meja. Sementara pria satu lagi yang penampilannya tak kalah seram dari pria yang menarik si cungkring sedang menahan kedua tangan adik si cungkring yang sedang menangis histeris.
"Hei, lepas kan mereka." Teriak ku. Aku geram sekali anak sekecil mereka di perlakukan seperti menangkap seorang penjahat saja.
Kedua pria seram itu menoleh pada kami lalu pria yang sedang menahan tangan adik si cungkring menautkan kedua alisnya.
"Tante, om, tolong aku."Teriak si cungkring di bawah kaki meja.
Pria yang sedang menarik tangan si cungkring melepaskan tarikan nya lalu berdiri dan menatap tajam ke arah kami."Siapa kalian?"
"Tidak perlu tau siapa kami. Lepas kan mereka atau aku akan menghubungi polisi."
Kedua orang seram itu saling pandang lalu si pria yang sedang menahan adik si cungkring berkata."Enak saja melepaskan mereka. Kalian jangan ikut campur urusan kami."
"Kami tidak akan ikut campur urusan kalian kalau orang yang sedang kalian perlakukan secara kasar itu bukan para bocah."
"Ha ha ha." Mereka tertawa terbahak bahak.
"Kalian mau jadi pahlawan kesiangan yang mau menyelamat kan anak anak dari pemilik hutang pada bos kami?"
"Hutang, apa maksud kalian?"
"Si Ipah memiliki hutang pada bos kami sebanyak lima ratus juta." Aku membulatkan bola mataku mendengarnya. Ipah memiliki hutang sebanyak itu pada seorang rentenir. Tidak menyangka Ipah yang profesinya sebagai seorang rentenir meminjam uang pada seorang rentenir lagi.
"Si Ipah tidak bisa membayar hutang pada bos kami padahal bos kami sudah memberi tempo dua Minggu tapi sayang nya si Ipah tetap saja tidak mengembalikan uangnya malah sekarang dia masuk rumah sakit gara gara selingkuh dan di siram air keras oleh suaminya. Dan bos kami meminta untuk mengambil alih rumahnya ini."
Raihan terdiam begitu pula dengan aku. Jika masalahnya hutang aku bisa apa, apalagi hutangnya ratusan juta jika hanya jutaan mungkin aku bisa membayar nya.
Raihan menoleh ke arah ku." Ya sudah sayang ini masalah hutang kita tidak bisa ikut campur."
__ADS_1
"Tapi Rai, bagai mana dengan anak anak itu kalau rumah nya di sita?"
"Apa kalian akan mengambil rumah ini sekarang juga?" Tanya Raihan pada mereka.
"Tentu saja sekarang dan dua bocah ini harus cepat pergi dari rumah ini.'
"Ini rumah ku, aku tidak mau pergi."Si cungkring menolak.
"Diam kau apa kau mau ku lempar ke laut?"
Seketika itu pula si cungkring terdiam dan geleng kepala.
"Kemasi barang barang mu dan adik mu sekarang." Titah Raihan pada cungkring.
Cungkring terdiam namun tak lama dia mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya begitu pula dengan adiknya masuk ke dalam kamarnya setelah pria menyeramkan itu melepasnya.
Setelah pakaian mereka terkemas kami membawa dua anak itu masuk kedalam mobil dan membawanya pergi menjauhi rumahnya yang sudah di ambil alih oleh seorang rentenir.
Aku menatap iba pada dua kakak beradik yang sedang berpelukan seperti saling menguatkan. Dua anak mantan suamiku dan mantan anak tiriku. Akibat dari perbuatan orang tua yang tidak memiliki rasa tanggung jawab dan egois anak anak mereka yang menjadi korbannya. Lantas jika sudah begini bagaimana.
"Apa kalian sudah makan?"Tanya ku dan mereka menggeleng cepat.
"Kami belum makan dari kemarin saat mama dan papa tidak pulang pulang." Kata si cungkring.
Aku terbengong mendengar bahwa mereka tidak makan dari kemarin, kasihan sekali. Ibu egois yang hanya mementingkan kesenangan nya sendiri tega meninggalkan anaknya dan malah tidur di hotel dengan laki laki lain. Begitu pula bapaknya tidak pikir panjang lagi sebelum bertindak.
"Rai, kita cari rumah makan dulu ya!"
"Iya sayang."
Raihan memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan karena jalanan yang kami lewati tidak ada restauran melainkan hanya rumah makan biasa.
"Ayok, kalian turun kita makan." Mereka nampak tersenyum senang.
Kami memasuki rumah makan dan meminta mereka untuk memilih makanan apa saja yang mereka mau. Aku dan raihan hanya memperhatikan mereka makan dengan amat lahap bahkan si cungkring makan sampai nambah tiga kali. Apa sebegitu lapar nya mereka? kasihan sekali.
"Ee...."
"Tante aku ingin ketemu orang tuaku, aku ingin ketemu sama papa dan mamaku." Di saat aku sedang berpikir si cungkring merengek.
"Ketemu orang tua mu!"
Cungkring mengangguk lalu menyeka air matanya dengan bajunya.
Aku dan Raihan saling pandang. Jika informasi dari siaran berita yang aku dengar Ipah sedang di rawat di rumah sakit kabupaten. Begitu pula dengan mas Surya di tahan di lapas kabupaten. Jika kami menuruti kemauan si cungkring terpaksa kami harus balik lagi ke kota kabupaten.
"Aku mohon Tante, om. Aku ingin ketemu sama mama dan papa. Tolong bawa kami ke mereka."
"Bagaimana sayang?" Tanya Raihan.
"Apa kamu tidak keberatan kalau harus mengantar mereka menemui orang tua mereka?" Aku balik bertanya.
"Aku terserah kamu saja. Tapi apa kamu tidak merasa lelah?"
"Lelah sih, tapi aku tidak tega sama mereka, Rai."
"Terus?"
"Kalau kita antar dulu bagaimana?"
"Ya sudah."
Raihan memutar balik mobilnya menuju kota kabupaten setelah dua jam lamanya akhirnya kami tiba di depan rumah sakit.
Aku dan Raihan menggiring anak anak memasuki rumah sakit lalu mendekati seorang resepsionis.
"Permisi mba!" sapa Raihan.
__ADS_1
"Iya mas, ada yang bisa kami bantu."
"Saya mau bertanya apa ada pasien atas nama Ipah saripah korban penyiraman air keras?"
"Sebentar ya."
Hening
"Ada mas, di ruang satu kosong dua."
"Oh ya terima kasih ya mba. Mari."
Aku dan Raihan menggiring anak anak menuju ruang rawat yang sudah di beri tau oleh resepsionis. Setelah menemukan ruang rawatnya kami pun memasukinya.
Terdengar isakan tangis pilu seorang wanita yang sedang duduk di atas ranjang pasien dengan penampilan persis seperti mumi. Seluruh kepala hingga leher begitu pula dengan sebelah tangannya di tutup penuh dengan perban dan hanya menyisakan sedikit sorot mata dan lubang mulut nya.
Dia menyadari kedatangan kami lalu menghentikan tangisannya. Dia pun terdiam dalam waktu yang cukup lama mungkin dia tidak menyangka musuhnya ada di hadapan nya saat ini.
"Ka..kalian!" Ucap Ipah gugup.
Aku melangkah lebih mendekatinya."Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa diri mba ya! sebenarnya kedatangan kami kesini hanya ingin mengantar anak anak mba karena mereka ingin bertemu dengan mamanya."
"Kakak, Dede kalian..a..ada di sini!"kata Ipah pada kedua anak nya.
"I..iya mama!" Kemudian kedua anak itu memeluk Ipah. Seburuk apapun ibunya, Ipah adalah ibu mereka tentu saja kedua anak nya menyayanginya. Begitu pula dengan aku. Seburuk apa pun perlakuan ibu padaku, dia adalah ibuku dan aku menyayanginya.
"Maaf sebelumnya mba, terpaksa saya harus mengatakan nya. Rumah mba sudah di sita sama orang yang meminjamkan uang sama mba."
Ipah melepaskan pelukan dari kedua anaknya lalu menangis pilu. Kedua anaknya pun ikut menangis. Melihat penderitaan Ipah saat ini membuat aku melupakan perlakuannya dulu pada ku. Perlakuan yang membuat aku dan anak ku hidup menderita. Mungkin apa yang sedang dia alami saat ini merupakan balasan langsung dari tuhan sekaligus teguran agar kedepannya dia mau memperbaiki dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi bukan berarti aku senang melihatnya menderita, sama sekali tidak ada rasa senang justru sebaliknya aku merasa kasihan dan prihatin.
Tiba tiba seorang suster masuk keruangan Ipah lalu bertanya pada kami.
"Apa mas dan mba ini keluarga pasien?"
"Bukan, memang kenapa sus?" Raihan balik bertanya.
"Sudah dua hari ini kami menunggu keluarga pasien tapi tidak ada satu pun yang datang. Pihak rumah sakit kebingungan karena tidak ada pihak keluarga yang bertanggung jawab mengenai biaya pengobatan pasien. Kalau tidak ada keluarga yang bertanggung jawab terpaksa pihak rumah sakit akan memberhentikan pengobatannya."
Setelah suster itu bicara tiba tiba Ipah menangis lagi dengan tangisan yang cukup keras. Kemungkinan dia mendengar percakapan kami. Miris sekali memang.
Aku dan Raihan saling pandang.
"Apa pasien tidak memiliki kartu BPJS mba?"
"Tidak ada mba. Kalau misalnya pasien punya sodara, sodara nya itu bisa mengajukan surat keterangan tidak mampu ke Pemprov tapi ini tidak ada. Yang menjenguk saja baru mba dan mas."
"Ya sudah mba, lanjutkan saja pengobatannya sampai dia sembuh. Untuk masalah biaya biar saya yang bertanggung jawab."
Aku terbengong mendengar perkataan Raihan. Dia bersedia membiayai pengobatan orang yang sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengannya." Apa..apa kamu serius Rai?
"Iya sayang, aku melakukan nya atas rasa kemanusiaan."
Aku tersenyum." Makasih ya calon suamiku yang baiknya kebangetan."
Raihan menyunggingkan senyum lebar.
Setelah itu kami pamit pada Ipah dan mengatakan padanya akan membawa anak anak ke lapas untuk bertemu dengan mas Surya. Ipah menangis saat kami hendak keluar dari ruangannya.
"Nuri...saya...saya...minta maaf! dosa saya banyak sekali sama kamu Nuri...tolong maafkan saya. Tolong maaf kan saya Nuri." Ucap Ipah sembari menangis.
Aku tersenyum. Kata kata penyesalan dan minta maaf itu yang aku tunggu dari dulu keluar dari mulutnya. Tapi tidak mengapa meskipun di ucapkan baru sekarang yang penting dia tulus minta maaf.
"Aku sudah memaafkan mba dari dulu. Sekarang mba fokus sama kesembuhan mba saja. Anak anak akan kami titipkan pada keluarga mas Surya dan kami juga akan membantu membiayai kebutuhan mereka baik sekolah maupun kebutuhan sehari hari."
"Terima kasih Nuri terima kasih." Ucap Ipah sembari terisak Isak.
Kemudian kami meninggalkan ruangnya dan meninggalkan rumah sakit itu di iringi isakan tangis kedua anak Ipah.
__ADS_1