
Raihan dan kak Bayu menyusul aku yang sudah keluar dari rumah itu lebih dulu. Kemudian Raihan membantuku memijit tengkuk ku ketika aku sedang memuntahkan isi perut dan membuangnya ke dalam selokan pembuangan limbah yang ada di gang sempit itu.
Apa yang sedang kami lakukan menjadi pusat perhatian warga dan juga perhatian pemilik rumah yang baru kami singgahi. Ibu itu berdiri di ambang pintu dan menatap kami dengan tatapan yang sulit ku artikan.
Raihan dan kak Bayu pamit terlebih dahulu pada pemilik rumah itu. Sementara aku yang masih merasakan mual hanya menunggu dan memperhatikan mereka saja.
"Mba.."
Tiba tiba ibu itu memanggilku setelah kami melangkah hendak meninggalkan rumah nya. Aku pun berbalik melihat pada wanita itu.
"Kalau ibu saya memiliki kesalahan sama mba atau keluarga mba tolong di maafkan ya mba!"
Sejenak aku terdiam. Aku bingung bagaimana harus menyikapi permintaan ibu itu karena semuanya masih abu abu dan belum tentu mantan perawat itu bersalah. Namun agar wanita itu tidak merasa kecewa pada sikapku, aku pun mengangguk dan tersenyum padanya.
"Apa kita akan melanjutkan pencarian selanjutnya?"kak Bayu bertanya setelah kami memasuki mobil.
Raihan menoleh padaku yang sedang memijit kening.
"Kita pulang saja dulu kakak ipar. Kasihan calon istriku. Besok kita lakukan pencarian lagi.
Aku melirik Raihan lalu menggeleng."Tidak, kita lanjutkan pencarian lagi saja."
"Tapi kamu sedang sakit lho sayang."
"Rai, aku tidak sakit. Aku hanya mual tidak kuat menahan bau di kamar ibu tadi."
Setelah berdebat kecil antara aku dan Raihan akhirnya Raihan mengalah dan menuruti keinginan ku untuk terus melanjutkan pencarian seorang perawat yang terakhir ke daerah sukabumi. Dan yang menjadi perdebatan kami tadi adalah masalah daerah itu cukup jauh dari jakarta namun aku tidak peduli dan tetap harus pergi.
Raihan melajukan mobilnya menggunakan jalan tol Jagorawi. Kami memilih menggunakan jalan tol agar lebih cepat sampai di Bogor-Ciawi karena jika menggunakan jalan kota akan memakan waktu yang cukup lama.
"Kakak ipar, kalau arah ke Sukabumi kemana arahnya?" Tanya Raihan pada kak Bayu yang sedang sibuk dengan ponselnya dan ketika kami sudah keluar gerbang tol Ciawi.
Kak Bayu mendongak." Lah, aku tidak tau Rai. Lagi pula baru kali ini aku ke daerah sini"
"Tadi aku melihat rambu petunjuk arah di belakang," ucap ku.
"Terus apa kamu tau kemana arahnya, sayang?"
"Tidak."
__ADS_1
"Tadi katanya lihat."
"Aku tidak memperhatikan. Aku pikir kalian tau makannya aku diam saja."
Raihan malah meng uwel-uwel gemes kepalaku.
Raihan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Di depan ada tiga arah. Arah lurus, arah kiri dan arah kanan. Namun tak lama kemudian ada pedagang asongan yang mengetuk ngetuk kaca mobil tepat di sampingku lalu aku pun membuka nya.
"Air mineralnya neng, ada yang dingin ada yang biasa." Pedagang itu menawarkan dagangannya padaku.
Aku tersenyum." Boleh pak, yang biasa saja ya tiga."
"Iya, neng." Bapak itu nampak senang lalu segera memberikan air mineral itu padaku.
Dan di saat itu pula aku bertanya." Pak, saya mau numpang tanya kalau arah ke Sukabumi arah mana ya?"
"Oh, kalau mau ke sukabumi itu lurus saja neng, kalau arah kiri itu ke puncak dan arah kanan itu ke Bogor kota."
"Apa tidak ada jalan tol menuju Sukabumi pak?" Raihan ikut bertanya.
"Masih sedang proses pembangunan mas, tapi tidak tau kapan selesainya."
"Waduh, apa tidak ada uang pas saja neng!"
"Kembaliannya ambil saja untuk bapak."
"Serius neng?"
"Iya pak."
Bapak itu tersenyum lebar lalu beranjak pergi setelah mengucapkan terima kasih.
"Lurus saja, Rai." Kak Bayu yang diam saja dan sibuk dengan ponselnya tiba tiba bersuara.
Aku dan Raihan menoleh ke belakang." Apa nya yang lurus kak?" Tanyaku.
"Arah Sukabumi."
Aku dan Raihan saling pandang lalu tertawa bersama. Ternyata kak Bayu tidak menyimak pembicaraan kami dengan pedagang asongan tadi hingga dia tidak tau kalau kami sudah tau lebih dulu daripada pencarian nya di ponsel.
__ADS_1
Raihan melajukan mobilnya kembali melewati jalanan yang cukup renggang dan lancar hingga semakin jauh dan semakin mendekati daerah sukabumi kami mulai sering menemukan kemacetan karena kedatangan kami bertepatan dengan jam pulang nya para pekerja. Ternyata mulai dari batas Bogor hingga Sukabumi itu kawasan pabrik yang rata-rata adalah pabrik garmen.
Setelah melewati jalanan yang cukup berliku liku, akhirnya kami tiba di desa Babakan pari kecamatan Cidahu. Sesuai dengan alamat yang ada di data tersebut. Aku harap perjuangan kami datang kemari tidak lah sia sia dan aku berharap menemukan titik terang karena perawat inilah satu satunya harapan ku.
Desa itu nampak lengang bahkan cenderung sepi karena waktu sudah menjelang malam.
"Apa setidaknya kita mencari penginapan saja dulu. Besok kita lanjut mencari orangnya." Kak Bayu memberi saran.
"Mau mencari penginapan dimana kak? lupa ya kalau kita ini sedang berada di kampung," kata Raihan.
Kak Bayu menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum nyengir.
"Masih jam delapan, aku rasa orang sini belum semua nya tidur," kata ku.
"Terus apa kita harus mendatangi rumah penduduk one by one gitu?" Tanya kak Bayu.
"Perumahan di kampung itu tidak seperti perumahan di kota yang gampang di cari lewat internet kakak ipar. Apalagi rata-rata perumahan di kampung itu tidak pakai nomer rumah. Jadi ya cari nya harus manual dari mulut ke mulut."
"Gimana kalau kita datangi rumah RT nya saja. Dia pasti tau dimana rumah wanita itu."
"Mencari rumah pak RT juga butuh orang untuk kita tanyain kakak ipar. Memangnya kakak tau dimana rumah RT nya?
Kak Bayu nampak terbengong melihat Raihan.
Meskipun keadaan sudah malam dan kampung itu nampak sepi kami memutuskan untuk turun dan melakukan pencarian wanita yang bernama Suryanah malam ini juga. Aku sendiri sudah tidak sabar ingin cepat menemukan perawat itu.
Di tengah kami melangkah nampak seseorang sedang duduk di teras depan rumahnya sembari berbicara lewat telpon. Kami pun memutuskan untuk menghampiri orang itu.
Setelah berada di depan rumah orang itu kami mengucapkan salam lalu menanyakan keberadaan rumah pak RT setempat. Orang itu pun menunjukan dimana letak rumah pak RT.
Kami melanjutkan langkah kami mendatangi rumah pak RT yang sudah di beri tau oleh orang itu. Dan kebetulan ketika kami mendatangi rumahnya beliau sedang duduk di teras bersama anak istrinya. Kemudian mereka mempersilahkan kami untuk memasuki rumahnya.
Setelah itu, kami memberitahu maksud kedatangan kami ke kampung ini untuk mencari wanita yang bernama Suryanah dan pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit Sucipto. Awalnya RT itu nampak kebingungan sebab warganya tidak ada yang bernama Suryanah. Namun istrinya memberitahu bahwa wanita yang bernama Suryanah itu ada tapi sekarang namanya sudah di ganti bukan lagi Suryanah melainkan Ninih.
"Apa ibu Suryanah dalam keadaan sehat, Bu?" Tanya ku pada Bu RT. Aku takut dia dalam keadaan sakit seperti perawat sebelumnya.
"Sehat mba, tapi tidak sehat sehat banget. Kadang penyakit pikunnya kumat."
"Pikun!" aku dan Raihan saling pandang. Jika wanita yang bernama ibu Suryanah itu pikun apa dia masih bisa mengingat masa lalunya? Aku mulai cemas kembali.
__ADS_1