
Keesokan harinya dan matahari belum muncul di ufuk timur, aku tidak langsung berbenah rumah seperti biasa melainkan bermalas malasan di atas kasur. Sambil menunggu Zain bangun, aku mengambil ponselku yang jarang sekali ku gunakan. Aku berselancar di akun Facebook ku, hanya sekedar ingin mengetahui ada kabar apa di sana.
Kabar pertama yang muncul di beranda adalah sebuah foto liburan teman sekolah saat SMA bersama dengan suami serta anaknya di singapore. Aku tersenyum melihatnya, membayangkan betapa beruntung dan bahagianya temanku itu telah mendapatkan suami yang baik, mau mengajak istri dan anaknya jalan jalan hingga ke luar negeri. Sementara aku, jangan kan keluar negeri, di sekitar daerahku saja mas Surya tidak pernah mengajak kami jalan jalan.
Kemudian menyusul sebuah foto pria tinggi dan tampan terlihat sedang berada di Istambul, Turkey. Foto seorang pria yang sangat aku kenal sejak dari SD. Dengan rasa penasaran karena akunnya aktif kembali aku membuka profil facebooknya dan menemukan banyak sekali foto foto dirinya sedang berada di beberapa negara. Foto foto nya terlihat keren karena dirinya yang tampan pula. Namun yang aku heran kan di sini adalah foto foto itu hanya dirinya sendiri tanpa ada foto istrinya barang satu pun.
"Sepertinya Andre sudah menjadi orang sukses sampai dia bisa liburan ke manca negara." Aku bergumam dalam hati.
Setelah itu, aku mengecek pesan inbox. Ternyata cukup banyak orang yang mengirim pesan padaku salah satunya adalah Andre, Teman SD satu tingkat di atas ku. Kemudian aku membaca pesannya.
"Syukurlah kalau kamu masih di Indonesia. Jadi, aku tidak susah mencari mu nanti ketika aku pulang ke Indonesia he he. Oya, apa foto balita itu anak mu? tampan sekali dia mirip seperti ibunya yang cantik."
Aku membalasnya dengan emoticon senyum dan ucapan terima kasih saja. Aku pikir andre tidak akan membalasnya lagi namun di luar dugaan ku dia membalas kembali dalam hitungan detik melalui chat messanger. Pada akhirnya kami terlibat obrolan yang cukup lama hingga aku mengakhirinya karena Zain sudah bangun.
Namun sebelum aku keluar dari facebook, Tanpa sengaja pandanganku tertuju pada sebuah foto keluarga yang terlihat harmonis serta bahagia berlatar di sebuah restauran. Nampak seorang wanita berpostur tubuh semok serta make up tebal dan dua anak laki laki yang terlihat kurus seperti kurang gizi sedang duduk melingkar di kursi sambil menikmati hidangan di atas meja. Selain mereka, ada pula mas Surya di tengah tengahnya.
Foto itu disertai dengan caption," we really Miss you papa, we love you! sering sering ya ajak kita makan di restauran."
Aku tersenyum kecut melihatnya. Suamiku mengajak makan enak mantan serta kedua anaknya di restauran sementara dia melupakan jika ada istri sah dan anak darah dagingnya yang dia abaikan. Jangankan mengajak kami makan di restauran untuk nafkah bulan ini saja dia tidak mengirimnya.
Aku tau mantan istri suamiku sengaja mengupload foto itu karena mungkin dia melihat Facebook ku sedang online. Begitu kah tujuannya meminta pertemanan di Facebook dengan ku agar dia bisa pamer padaku? untuk kali ini ku akui dia berhasil telah membuat hatiku kesal.
Kemudian aku senyap kan foto itu agar tak nampak lagi di berandaku. Rasanya ingin sekali memblokir Facebook miliknya namun aku tidak ingin dia menganggap ku cemburu dan kalah darinya. Selain itu, aku juga ingin tau apa saja yang mas Surya lakukan terhadap mantan istrinya.
Setelah itu, Aku mengecek beberapa foto Zain yang aku upload beberapa hari yang lalu. Ternyata banyak sekali yang berkomentar dan memuji ketampanan Zain. Ketika sedang asik membaca satu persatu komentar di foto Zain yang ku upload, sebuah pesan inbox masuk dan aku segera mengeceknya karena penasaran. Aku tercengang membaca pesan dari pemilik akun bernama Ipah Saripah, mantan istri mas Surya.
__ADS_1
"Itu anak mu sama mas Surya? kok tidak mirip dengan mas Surya ya? apa jangan jangan dia bukan anak nya mas Surya melainkan anak pria lain! "
Aku kesal sekali pada mantan istri suamiku telah menuduh Zain bukan anak mas Surya hanya karena Zain tidak mirip dengannya. Andai saja dia ada di dekatku saat ini, mungkin aku sudah merobek bibir tebal bergincu merah darah miliknya. Tangan ku rasanya gatal sekali kemudian aku segera mengetik membalas pesannya.
"Apa karena anak saya tampan banget ya mba, sampai mba punya pikiran seperti itu? Tapi tidak apa apa anak saya tidak mirip dengan papanya karena kalau mirip belum tentu anak saya setampan ini lalu di senangi banyak orang. ya seperti anak anak mba, mereka semua mirip dengan mas Surya kan ya?"
Ku perhatikan pemilik akun Ipah Saripah sedang mengetik. Aku masih setia menunggu balasannya.
"Oh, jadi maksud kamu anak anak ku tidak ganteng karena mirip dengan mas Surya?"
Tanpa ku jelaskan ternyata dia mengerti juga apa maksud dari ucapan ku. Kemudian aku kembali membalas pesannya.
"Wah, saya tidak mengatakan mereka tidak tampan lho mba, saya hanya bilang anak anak mba mirip dengan mas Surya."
"Secara tidak langsung kamu sudah mengatai anak anak ku jelek karena mirip mas Surya. Awas saja akan aku adu kan kamu sama mas Surya."
"Silahkan saja mba, saya juga akan mengirim percakapan kita ini biar mas surya menilai sendiri siapa yang memulai duluan."
Aku mengancam balik meskipun sebenarnya aku tak yakin mas Surya akan lebih membelaku daripada mantan istrinya. Aku masih setia menunggu balasan nya namun sudah lebih dari sepuluh menit pesannya tak muncul lagi.
Drrtt
Baru saja hendak meletakkan ponsel ku di dalam laci, tiba tiba pesan SMS masuk dari mas Surya. Aku membukanya dengan penasaran tumben tumbenan dia kirim pesan padaku.
"Apa maksudmu menghina anak anak ku jelek Nuri? apa kau lupa mereka itu darah daging ku? kamu menghina mereka sama dengan menghina ku sebagai suamimu."
__ADS_1
Ternyata ancamannya tidak main main, dia benar benar mengadu pada mas Surya dan aku yakin dia melebihkan lebihkan kata. Karena aku malas berdebat dengan mas Surya, aku kirim saja pesan obrolan kami biar dia baca sendiri apakah aku menghina anak anaknya? Aku mengirim percakapan kami melalui pesan MMS, karena aku ini hidup seperti di tahun dua ribu sepuluh kebawah saja, yang mana saat itu belum ada yang namanya aplikasi chat. Padahal saat ini hampir semua orang menggunakan aplikasi chat di ponselnya tapi aku tidak.
Setelah aku mengirim isi percakapan kami, selanjutnya aku mengirim pesan berupa kalimat sindiran.
"Apa mas pikir Zain bukan darah daging mu mas? kenapa hanya mereka saja yang kamu anggap darah daging sementara Zain tidak? oya, tolong beri tau mantan istrimu itu, tidak perlu pamer sedang makan di restauran sama mantan suami, kesannya norak, seperti orang kampung yang baru pertama kali makan di restauran saja."
"Jangan asal fitnah kamu Nuri, kapan aku makan di restauran bersama mereka?"
Aku tidak langsung menjawabnya melainkan mengirim foto yang aku comot di Facebook milik mantannya. Apakah dia masih bisa menyangkalnya.
"Silahkan di cek apakah itu bukan kamu mas?"
"Sudah lah Nuri, aku tidak mau berdebat dengan mu, bikin kepala ku tambah pusing saja. Mending kamu bantuin aku cari duit buat bayar hutang."
Aku tercengang membaca pesannya. Dia menyangkal dan seenak jidatnya menyuruh aku mencari uang untuk membayar hutangnya. Entah hutang bekas apa? ku abaikan saja pesannya tidak lagi ku tanggapi.
Setelah aku selesai mengerjakan pekerjaan rumah, aku duduk santai di sofa ruang tamu sambil memainkan ponsel jelek ku, Sementara Zain sedang bermain mobil mobilan.
Aku membuka kembali akun Facebook ku, kemudian mendapati sebuah pesan inbox dari mantan istri suamiku.
"Ha ha ha bagaimana rasanya di maki sama mas Surya? menyedihkan sekali bukan? makannya jangan macam macam sama aku kalau tidak ingin ku buat lebih menyedihkan lagi."
Aku membalasnya dengan santai.
"Dih, siapa yang mba maksud menyedihkan? saya ? apa tidak sebaliknya mba sendiri yang hidupnya menyedihkan karena tidak bisa move on dari mantan? kasihan sekali."
__ADS_1
"Enak saja kamu bilang. Justru mas Surya yang tidak bisa move on dari ku. Gimana tidak bisa move on coba, orang istrinya yang sekarang saja level nya jauh lebih rendah dari ku. Pendidikannya saja rendah terus pengangguran lagi. Selain itu, penampilannya saja kucel kumel dekil. ha ha ha!"
Dadaku bergemuruh, tanganku mengepal mendapat penghinaan dari mantan istri suamiku yang bermulut lemas. Namun aku menahan emosi ku dan bersikap sesantai mungkin. Sebelum aku mengetik untuk membalasnya kembali, Zain memanggilku ingin buang air kecil. Terpaksa ku abaikan pesan pedasnya karena aku harus membawa Zain ke kamar mandi. Setelah itu, aku memilih untuk menyimpan ponselku saja dan tidak akan membalasnya lagi. Bukannya aku merasa takut atau kehabisan kata kata untuk membalas ucapannya, karena percuma hanya akan membuang buang waktu serta energi ku saja menanggapinya.