
Ketika aku mengingat kejadian di masa tiga tahun yang lalu dimana mba Nuri menikah tanpa sepengetahuanku, rasa sakit itu mencuat kembali. Aku yang sebelumnya tak pernah jatuh cinta dan tak pernah sakit hati, pada akhirnya mengalaminya juga dua hal tersebut di hidupku.
Pada saat itu dengan percaya diri, aku meyakini bahwa tidak ada laki laki yang mendekati mba Nuri selain aku. Namun pada akhirnya, tanpa sepengetahuanku ternyata ada laki laki lain yang sudah mengincar dan bergerak lebih cepat daripada aku.
Apa setelah itu aku membenci mba Nuri? menyalahkan dirinya? atau aku kecewa padanya? tidak, aku tidak membenci mba Nuri dan aku tidak pula menyalahkannya. Hubungan kami hanya sebatas teman, bagaimana mungkin aku membenci dirinya karena pernikahannya bukanlah sebuah pengkhianatan nya padaku. Aku juga tidak mungkin menyalahkan mba Nuri karena dia tidak salah justru aku yang salah, selama dua minggu tidak menghubunginya serta memberi kabar padanya bahkan tidak pula menemuinya. Namun, aku kecewa padanya karena dia tidak ingin memberitahu ku pada saat terakhir kali kita bertemu dan makan bersama jika ada seseorang yang akan menikahinya.
Lantas, apa aku menyesal? sangat, sangat menyesal sekali kenapa aku tidak lebih dulu mengungkapkan perasaanku padanya sebelum orang lain meminangnya? Aku merutuki diriku yang sangat bodoh ini. Namun, semua sudah menjadi bubur dan tak akan kembali menjadi nasi. Aku tidak mungkin lagi memiliki mba Nuri karena sekarang dia sudah menjadi milik orang lain.
Aku menjalani hari hariku dengan hampa dan tak terarah. Seperti kapal yang berlayar dan kehilangan arah lalu terombang ambing di lautan. Setiap hari aku hanya mengurung diri di kamar merenung dan melamun. Semangatku memudar, dan rasanya aku tak ingin lagi melanjutkan hidup karena tujuan hidupku adalah menikah dengan bidadari ku. Namun, bidadari ku telah menjadi milik orang lain.
Terpikir untuk mengakhiri hidup. Namun, ketika aku belum sempat menggores kan sebuah pisau di tangan untuk memotong urat nadiku, ibu ku lebih dulu merebut pisau yang ada di genggamanku. Aku berteriak, aku menangis histeris, aku depresi hanya karena bidadari ku telah di ambil oleh orang lain.
Ibu mendekap ku dengan erat, dia ikut menangis. Mungkin dia tidak menyangka anak lelakinya yang terlihat kuat ternyata rapuh hanya karena di tinggal nikah oleh seorang wanita yang sangat di cintai nya.
Ibu menasehati ku dengan sabar dan bijak. Aku menyimak serta mencerna kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulutnya hingga pada akhirnya hatiku luluh. Aku tidak lagi berteriak, tidak lagi menangis histeris apalagi menggores urat nadi ku dengan pisau.
__ADS_1
Dari waktu ke waktu aku belajar ikhlas menerima kenyataan yang ada. Aku mulai menyibukkan hari hari ku dengan segala aktifitas yang ku lakukan secara penuh dan aku berharap caraku ini dapat menghapus mba Nuri dari pikiranku. Aku mulai sibuk kuliah, Sibuk menjalani bisnisku yang sempat down. Selain itu, aku rutin berolah raga di pusat kebugaran.
Setahun kemudian. Ayah ku jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit. Dan ayah menghembuskan nafas terakhirnya tepat di hari ulang tahunku yang ke sembilan belas tahun. Aku kembali down dan untuk kedua kalinya aku kehilangan sosok yang berarti dalam hidupku. Tapi untuk kali ini, aku tidak sekonyol dulu, aku lebih menyikapinya secara dewasa.
Setelah tiga bulan kepergian ayah, Ibu membagi warisan untuk ketiga anaknya. Ibu bilang pembagian warisannya sekarang saja karena ibu takut belum sempat membacakan wasiat ayah sudah terlebih dulu di panggil oleh sang pencipta. Aku terkejut atas ucapan ibu seolah olah dia akan menyusul ayah saja. Aku katakan padanya ibu tidak boleh pergi dulu sebelum melihat cucu ibu dari anak ku menikah. Apa yang aku katakan pada ibu membuatnya serta kedua kakak ku menertawakan aku.
Setelah itu, wasiat pembagian warisan pun di bacakan oleh ibu. Aku tercengang, tidak menyangka jika aku akan mendapat bagian yang lebih besar daripada kedua kakak perempuanku dan kedua kakak perempuanku pun tidak merasa keberatan atas keputusan yang sudah ayah putuskan. Aku juga tidak menyangka bahwa orang tuaku memiliki harta yang begitu banyak. Ibu bercerita bahwa dulu sebelum aku ada di dunia, ayah ku adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di Surabaya. Bahkan ibu mengenal ayah itu sebagai seorang pengusaha bukan sebagai seorang pejabat pemerintahan. Pantas saja aku memiliki jiwa pembisnis ternyata mewarisi dari ayahku sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, usaha ayah mengalami kemunduran dan mau tak mau ayah menutup perusahaanya. Sebenarnya ayah bisa saja menjalankan usahanya kembali dengan memakai uang yang sudah dia investasikan ke beberapa perkebunan. Namun, ayah tidak ingin melakukan nya karena dia takut jika dia melakukan itu lalu usaha nya bangkrut lantas bagaimana dengan masa depan anak anaknya jika hartanya habis semua? ayah lebih mementingkan nasib kami daripada egonya.
Aku jadi ingin menjadi seperti sosok ayah yang hebat. Mencari uang sebanyaknya lalu menginvestasikan untuk masa depan anak anak nya. Jadi ketika sudah tidak ada di dunia ini, tidak akan khawatir anak anaknya hidup terlantar.
Satu tahun sudah aku menjalani usaha showroom mobil dan usaha ku pun berjalan lancar serta berkembang pesat karena aku menggaet perusahaan leasing dan kredit untuk bekerja sama dengan showroom mobil milik ku.
Tidak ada yang tau siapa aku? seorang pengusaha multi yang selalu bersembunyi di balik sikap kepribadiannya yang sederhana. Karena aku sendiri tidak suka pamer harta dan sikap ku ini pun mewarisi sikap dari orang tua ku yang tidak suka pamer harta pula. Jika orang tua ku mau, mereka bisa saja membangun rumah besar dan mewah di kampung Kenanga serta berjejer mobil di dalamnya mengingat uang mereka yang banyak. Tapi tidak, orang tua ku tidak ingin melakukannya. Terbukti, rumah kami di bangun sederhana yang berlantai dua serta dua buah mobil saja. Itu pun satu mobil sebagai fasilitas ayah dari kantornya serta satu mobil milik kami pribadi.
__ADS_1
Teman teman kampus ku pun tidak ada yang tau siapa aku? Mereka menganggap aku sama seperti mereka, seorang mahasiswa biasa yang masih mengandalkan kebutuhannya pada orang tua. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengira aku berkuliah sambil bekerja paruh waktu. Sama hal nya dengan orang orang di kampung ku yang menganggap aku hanya seorang pemuda biasa dan masih kuliah serta bekerja.
Pada suatu pagi ketika aku libur kuliah, tanpa sengaja aku melihat di balik jendela kaca rumahku seorang wanita memakai pakaian lusuh serta menggendong anak balita sedang menawarkan dagangan gorengan pada ibuku di teras depan rumahku. Ketika dia menoleh ke arah jendela, aku merasa tidak asing lagi dengan wajahnya tapi aku menepisnya karena rasanya tidak mungkin dia. Pemandangan itu menjadi daya tarik tersendiri bagiku yang mana seorang ibu mencari uang tanpa harus meninggalkan anaknya dan aku yakin itu sebagai bentuk kasih sayangnya. Jujur aku kagum sekali pada wanita yang sedang menjual gorengan.
Tak lama kemudian, wanita itu pergi dari rumahku dan mungkin akan menjajakan dagangannya ke tempat lain. Ketika aku sedang memperhatikan punggung wanita yang memiliki postur tinggi sedang berjalan ke luar pintu gerbang rumahku, ibu memasuki rumah dan mendapati ku sedang berdiri di balik jendela. Ibu menyapa sekaligus bertanya apa yang sedang aku lakukan di balik jendela? aku menjawabnya dengan beralasan dan ibu mempercayainya. Ibu masuk ke dalam rumah tidak dengan tangan kosong melainkan sebelah tangan kiri memegang satu piring gorengan serta tangan kanannya memegang satu kantong plastik besar berisi pakaian.
Aku berjalan mendekati ibu lalu mencomot satu buah gorengan di atas piring yang sedang di pegang nya. Sambil menyuapkan gorengan ke dalam mulutku, aku bertanya apa yang ada di kantong plastik itu? ibu menjawabnya kalau di kantong plastik itu adalah pakaian kotorku yang sudah di cuci bersih oleh mba Nuri. Ibu langsung menceritakan bagaimana pakaian ku bisa di dicucikan olehnya dan ibu juga menceritakan bahwa sudah dua hari ini mba Nuri jualan gorengan keliling. Aku merasa gorengan yang aku makan merasa tersangkut di tenggorokan dan tak dapat tertelan setelah mendengar cerita ibu. Rasanya tidak percaya jika hidup mba Nuri berubah drastis menjadi susah. Bukan kah suaminya telah mencukupi kebutuhannya serta membahagiakannya? lantas kenapa mba Nuri bisa sampai menjual gorengan? sudah tiga tahun ini, aku tidak pernah lagi ingin tau tentang bagaimana kabar hidup mba Nuri karena itu hanya akan membuat ku tidak bisa move on. Aku selalu menganggap bahwa hidup mba Nuri sudah bahagia dengan suaminya.
Aku segera mengambil alih kantong plastik di tangan ibu. Kemudian membawanya ke dalam kamarku. Setelah itu, aku mengeluarkan dari dalam plastik, benar saja beberapa celana serta baju sudah terlipat rapih dan wangi sekali seperti habis di loundry. Seketika dadaku berdegup kencang menyentuh pakaianku sendiri yang telah di cuci dan di setrika oleh tangan mba Nuri yang dulu aku cintai. Dan tanpa sadar aku mendekap pakaianku dan menciumi wanginya. Aku merasa rindu sekali pada sosok mba Nuri yang sudah tiga tahun ini aku hindari. Kenapa perasaan itu belum saja pergi dari hatiku? Apakah aku gagal move on?
Keesokan harinya aku di kejutkan oleh sosok seorang balita yang sedang bermain sendirian di dalam rumahku. Kemudian aku menghampiri anak itu dan berjongkok mensejajarkan tinggi ku dengannya. Balita itu menatap ku dengan sorot mata yang sulit aku artikan. Aku memandangi wajahnya, ya Allah mirip sekali dengan wajah mba Nuri! aku bergumam dalam hati. Seketika aku teringat tadi malam ibu memberi tau bahwa hari ini akan ada mba Nuri ke rumah untuk membantu memasak karena hari ini adalah hari ke dua tahun meninggalnya ayah.
Ku raih wajah tampan nya, ku usap usap pipinya, balita itu tidak menangis melainkan merapatkan diri pada tubuhku seolah olah ingin ku peluk. Aku tersenyum padanya lalu memeluknya serta menciumi wajahnya. Ku tumpahkan kerinduan pada mba Nuri melalui balita ini. Setelah itu, aku menyuruhnya untuk bermain kembali.
Aku berjalan ke arah dapur dan ku perhatikan dari kejauhan sosok tubuh yang ku rindukan sedang sibuk memasak di dapur. Aku ingin menyapanya tapi bingung untuk memulainya. Seketika aku mendapatkan ide pura pura mengambil air minum di dalam dispenser. Ketika hendak berjalan ke arah dispenser, mba Nuri lebih dulu berjalan ke arahnya. Aku pun tak ingin membuang waktu, aku berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di belakangnya. Ingin rasanya aku merengkuh tubuh yang sedang berdiri di hadapanku tapi aku sadar bahwa dia sekarang adalah istri orang. Tak selang lama, dia berbalik lalu menubruk dada bidang ku. Dia mendongak kan wajahnya melihat ke arah wajahku dan seketika ekspresi wajahnya menunjukan keterkejutan. Aku memberikan senyuman termanis ku padanya. Masih dalam ke adaan terkejut dia bertanya seperti memastikan apakah aku ini Raihan yang dulu dekat dengannya apa bukan? aku menjawab dengan tegas bahwa aku adalah Raihan.
__ADS_1
Wajar jika dia merasa terkejut dan sedikit tidak mengenaliku karena perubahan fisik ku. Meskipun garis wajah ku tidak berubah tapi fisik ku yang lain berubah lebih macho. Tubuh ku yang sekarang lebih tinggi dan tegap serta terbentuk perut kotak enam karena aku yang sering berolah raga di pusat kebugaran. Dulu aku memiliki tinggi yang sama dengan mba Nuri tapi sekarang aku jauh lebih tinggi dari padanya hingga dia harus mendongak lebih tinggi agar dapat melihat wajahku seperti saat ini.
Setelah pertemuan di rumahku, rasanya aku tidak ingin lagi menjauh dari mba Nuri. Apalagi setelah mengetahui bahwa hidupnya selama ini kesulitan. Satu hal yang ingin aku lakukan padanya adalah melindunginya dan membantunya meskipun aku tidak dapat memilikinya.