Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Penolakan keluarga Surya


__ADS_3

Setelah selesai membesuk mas Surya kami melanjutkan perjalanan kami menuju rumah orang tua mantan suami ku untuk mengantar kan kedua anak mas Surya. Setelah tiba di halaman rumah nya nampak mantan ibu mertua sedang menyuapi suaminya yang sedang duduk di kursi roda. Namun dia segera meletak kan piring yang tengah di pegang olehnya ketika melihat kedatangan mobil kami. Dari kaca mobil aku memperhatikan wajah mantan bapak mertuaku. Kepalanya miring ke samping dan mulutnya pun miring seperti terkena penyakit struk. Di tengah memperhatikan mereka Raihan mengejutkan ku.


"Sayang, mau turun tidak?"Tanya nya sembari menepuk pelan pundak ku.


Aku sedikit terperangah lalu meliriknya." Iya lah Rai, memang nya kamu mau bicara langsung sama mereka untuk menyerahkan kedua anak mas Surya?"


Raihan memajukan bibir bawahnya."Aku tidak mengenal mereka, sayang."


Aku tersenyum lalu menoleh kebelakang ternyata kedua anak mas Surya sedang tidur. Pantas saja tidak mendengar suara mereka. Aku pun segera membangun kan kedua anak itu.


"Apa sudah sampai Tante?" Tanya si cungkring lalu mengucek matanya begitu pula dengan adiknya.


"Sudah. Ayok kalian turun dan bawa tas nya masing-masing." Mereka pun mengangguk lalu turun satu persatu sambil membawa tas berisi pakaian mereka.


Begitu pula dengan aku dan Raihan ikut turun. Namun baru saja kami keluar dari mobil kedua adik mas Surya keluar dari rumah nya kecuali Elis, adik bungsu mas Surya.


"Nenek, kakek!" teriak si cungkring dan adiknya lalu berjalan cepat ke arah sekumpulan orang orang yang sedang memperhatikan kedatangan kami dengan berbagai ekspresi. Ada yang datar ada yang sinis ada pula yang terkejut.


"Mau apa kalian kemari?" Tanya adik pertama mas Surya dengan sinis pada kedua anak mas Surya. Langkah kedua anak itu seketika terhenti. Aku dan Raihan yang masih berdiri di samping mobil saling pandang.


"Ma...mau tinggal disini, wa." Ucap si cungkring.


"Mau tinggal di sini! siapa yang menyuruh kalian tinggal disini? Di sini itu lagi susah. Lihat itu kakek mu sedang sakit. Kalau kalian tinggal disini hidup kami makin susah dan repot."


Si cungkring dan adiknya menunduk. Mereka yang sudah besar dan mengerti tentu sedih di perlakukan demikian oleh Tante nya sendiri.


Aku geleng-geleng kepala mendengar kalimat penolakan yang semestinya tidak pantas di ucapkan pada keponakannya sendiri. Anak dari kakak kandungnya bukan kakak tiri atau pun sodara jauh.


"Mba!" Ucap ku sembari melangkah mendekati kedua anak mas Surya yang sedang terisak lalu merangkul kedua anak itu.


"Oh, kamu yang sengaja bawa mereka kemari, Nur?" Tanya nya dengan tatapan sinis.


"Iya, kalau tidak kemari lantas kemana lagi, mba? Kalian itu kan satu satu nya keluarga yang mereka miliki."


"Mereka kan masih bisa tinggal di rumah mereka meskipun bapak mamak nya tidak ada. Apa lagi si cungkring sudah besar bisa lah jagain adik nya."

__ADS_1


"Apa kalian akan setega itu membiarkan mereka hidup berdua? Mereka itu masih anak anak lho mba, masih butuh perlindungan dari orang dewasa seperti perlindungan dari kakek nenek nya dan Tante Tante nya. Dan satu hal yang harus kalian tahu, mereka tidak punya rumah lagi. Rumah mereka sudah di sita sebagai penebus hutang orang tua mereka."


"Apa!"mantan ibu mertua yang awalnya datar saja tiba tiba bersuara dengan nada terkejut.


"A..apa maksud mu, Nuri? apa kamu sedang membohongi kami?" Ucap ibu nya kemudian.


"Saya tidak bicara bohong Bu, kalau tidak percaya tanya saja sama mereka berdua."


"Apa benar itu, cah?"Tanya nya pada kedua anak mas Surya.


Si cungkring mendongak dan membalas tatapan sang nenek." Iya nek, rumah kami di sita. Kata mereka mama punya hutang lima ratus juta dan tidak bayar."


"Apa!" kedua mata mantan ibu mertua seketika membelalak. Begitu pula dengan kedua adik mas Surya.


"Ru..ru..rumah ku di sita!"Ucap nya dengan terbata bata sembari memegang dadanya dan nafasnya pun nampak tersengal sengal.


Aku cukup terkejut melihat apa yang terjadi pada mantan ibu mertua ku. Dia nampak shock sekali mendengar kabar buruk dariku. Aku takut dia terkena serangan jantung apalagi dia memegang dadanya dan nafasnya pun tersengal sengal.


"Ibu...!" Ucap adik kedua mas Surya yang sudah nampak panik lalu memegang lengan.


"Ada apa ini ada apa?" Tiba tiba Elis keluar dengan penampilan handuk menggulung kepalanya. Sepertinya dia baru selesai mandi.


Kemudian dia menoleh ke arahku."Mba Nuri!" ucap nya lalu menoleh pada ibunya yang sedang tersengal." Ibu...ibu kenapa mba?" Tanya Elis pada kedua kakaknya sembari mendekatinya.


"Tuh, gara-gara mantan kakak ipar kesayangan mu." Ucap sinis adik mas Surya yang pertama.


Sejenak Elis menoleh ke arah kami yang masih berdiri mematung lalu mengalihkan kembali pandanganya pada ibunya.


"Ayok, kita duduk kan ibu mba!" kata Elis. Setelah di dudukan Elis buru buru masuk ke dalam rumah nya. Tidak lama kemudian dia kembali lagi membawa air minum.


"Minum dulu Bu!" ucap Elis sembari mendekatkan gelas berisi air minum itu ke mulutnya. Perlahan mantan ibu mertua ku meminumnya dan tak lama nafasnya nampak stabil. Jika ku perhatikan Elis yang paling muda tapi dia yang paling cekatan dan lebih peduli pada orang tuanya. Buktinya, sudah tau ibu nya hampir terkena serangan jantung tapi kakak ke dua Elis hanya memegang lengannya dan di biarkan berdiri dan kakak pertamanya bukan nya ikut menolong malah marah dan menyalahi ku.


"Ibu mau masuk?"Tanya Elis namun mantan ibu mertuaku menggeleng kemudian menangis sesenggukan.


Aku dan Raihan saling pandang melihat ibu mas Surya menangis. Sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi berurusan dengan mas Surya mau pun keluarganya tapi entah kenapa aku justru ingin menolong anak anak nya. Bukan karena aku masih cinta pada ayah mereka tapi lebih pada rasa kasihan.

__ADS_1


"Ibu kenapa nangis Bu?" Elis bertanya sembari mengusap usap punggung nya. Sementara mantan bapak mertua ku yang tidak bisa bergerak hanya mengeluarkan air mata melihat istrinya.


"Kamu tanya saja itu sama si Nuri?" kata kakak pertama Elis. Elis menoleh ke arahku lalu berdiri dan mendekat.


"Maaf mba, memang nya ada apa sih? kenapa ibu bisa shock seperti itu?" Tanya Elis padaku. Kemudian dia menunduk melihat pada kedua anak mas Surya. "Terus ini, kenapa ada anak anaknya mas Surya? dengan siapa kalian kemari?" Tanya Elis tapi kedua itu hanya menunduk dan terisak saja.


"Maaf Lis, kedatangan kami kemari bukan bermaksud untuk membuat ibumu shock. Tapi niat ku datang kemari hanya ingin menitip kan kedua anak mas Surya ini sama satu satunya keluarga mereka."


"Menitipkan? maksudnya mba?"


"Apa kamu tidak tau berita tentang mas Surya dan Ipah?"


Elis nampak berpikir." Tau sih mba, aku lihat di berita tapi aku belum menemui mas Surya."


"Oleh karena itu Lis, aku mau menitip kan anak anak mereka sama kalian karena kamu tau sendiri kan dimana orang tua mereka sekarang? mas Surya di penjara dan akan di hukum dalam waktu yang lama. Sementara mba Ipah juga tidak tau kapan sembuhnya. Dokter bilang wajah mba Ipah rusak total, Lis."


"Aku tau mba, dan biarkan saja mereka menerima ganjarannya masing masing atas kesalahan mereka. Lagi pula aku sudah mengingatkan mas Surya untuk tidak kembali lagi sama si Ipah eh dia malah nikahi si singa betina itu. Ya gitu kalau otak nya letak nya di dengkul. Benar benar bodoh sekali dia, membuang berlian dan memungut kerikil di jalanan. Andai saja dia tidak menceraikan mba mungkin hidup nya tidak akan semiris seperti sekarang."


"Eheem." Raihan tiba tiba berdehem lalu menarik pinggangku. Aku cukup terkejut di buatnya. Selain itu aku juga malu pada Elis serta semua orang yang sedang memperhatikan kami.


"Apa bicara nya sudah selesai sayang? lebih baik kita pulang sekarang saja sebentar lagi akan gelap. Kasihan Zain butuh istirahat." Kata Raihan.


Aku melirik Elis nampak kedua alisnya saling bertautan."I..ini siapa mba?"


"Kenal kan mba, saya Raihan Hermawan Gemilang pendiri sekaligus CEO R&N GROUP dan calon suami Nuri." Sebelum aku menjawab pertanyaan Elis Raihan lebih dulu menjawabnya dengan lengkap sembari mengulurkan tangannya.


"Calon suami mba Nuri dan seorang bos besar." Lalu memperhatikan tubuh Raihan dari wajah hingga kaki." Sempurna sekali." Nampak nya Elis kagum pada kesempurnaan Raihan.


Raihan tersenyum tipis."Terima kasih atas pujiannya mba dan saya harap mba serta keluarga mba bisa datang ke acara resepsi pernikahan kami yang akan di adakan di hotel the westin Jakarta Minggu depan." Aku tidak tau apa alasan Raihan mengundang mereka


Elis sedikit membulatkan pupil matanya dan aku melirik pada ketiga wanita yang sedang memperhatikan kami nampak wajah mereka memancarkan wajah tercengang. Aku tidak tau apa yang mereka pikirkan tentang aku dan aku pun sudah tidak peduli meskipun mereka berpikir negatif tentang aku yang baru selesai masa Iddah langsung menikah lagi.


"Oya kami tidak punya banyak waktu dan karena mba yang paling baik di antara saudara saudara mba bahkan orang tua mba kami titip kedua anak mas Surya ya? mba tidak perlu khawatir saya yang menanggung biaya kebutuhan mereka bahkan mba juga akan saya beri uang jika mba bersedia merawat mereka dengan baik. Bagaimana mba, apa mba setuju?"


Elis melirik pada ketiga wanita yang sedang menatap kami. Mungkin dia meminta persetujuan dari mereka tapi sayangnya ketiga wanita itu diam dan datar saja.

__ADS_1


"Keluarga yang aneh." Gumam Raihan pelan namun masih terdengar di telingaku. Apa yang dia katakan memang benar jika keluarga mantan suamiku memang memiliki sikap yang aneh.


__ADS_2