Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Nuri sakit


__ADS_3

Subuh ini aku terbangun dalam keadaan tubuhku yang terasa remuk redam setelah di gempur berkali kali oleh mas Surya tadi malam. Aku melayani nafsu birahinya yang seolah olah tidak ada habisnya. Ku dapati tubuhku yang penuh dengan kissmark akibat perbuatan mas Surya dan aku sangat benci melihat jejak jejak bekas mas Surya di tubuhku.


Ku lihat mas Surya masih tertidur di sampingku. Semalam mas Surya tidak membolehkan aku tidur dengan Zain dia mengancam akan berbuat lebih kasar lagi jika aku tidak menuruti perintahnya. Sekuat kuatnya aku tetap saja akan kalah oleh tenaga laki laki. Oleh karena itu, aku tidak berani melawannya.


Ketika aku hendak bangun dan tanpa ku duga mas Surya ikut terbangun lalu menahan ku agar tidak bangun.


"Tolong lepaskan mas, aku harus mandi dan sholat subuh."


"Nanti saja sholatnya. Waktunya masih lama bukan?"


"Tapi mas aku harus melihat Zain dulu...!"


Mas Surya tidak menanggapi ucapan ku dia malah menindih tubuh polos ku kembali.


"Tolong mas, jangan lakukan aku sudah tidak kuat lagi mas!" Sambil menangis di bawah kungkungan nya aku memohon pada mas Surya karena aku benar benar sudah tidak bertenaga lagi untuk melayaninya.


Mas Surya tidak menanggapi permohonan ku dia malah memasukan pedang tumpulnya ke lubang milik ku yang sudah terasa sakit dan perih. Aku pasrah terhadap jajahan pria hypers e x. Aku merasa mas Surya seperti iblis berwujud manusia tega sekali menyetubuhiku di waktu subuh dimana seharusnya melaksanakan sholat subuh.


Mas Surya mengerang setelah mencapai pelepasannya. Dia tertidur kembali setelah puas menggauliku. Sementara aku, tubuhku benar benar lemas dan tak bertenaga sehingga untuk duduk pun aku tidak mampu. Dalam ketidakberdayaan ku aku menumpahkan air mataku dan dalam tangisanku aku menyebut nama Raihan dengan lirih. Aku membutuhkannya, aku membutuhkan perlindungannya.


Entah sudah jam berapa samar samar aku mendengar tangisan Zain. Perlahan aku membuka mataku lalu aku menoleh ke samping mas Surya masih tertidur. Aku memaksakan kakiku untuk menyentuh lantai. Aku harus bangun untuk menemui anak ku Zain. Ku raih pakaianku yang teronggok di lantai lalu memakainya. Setelah itu, dengan sisa tenaga yang ada aku keluar dari kamar lalu berjalan tertatih ke arah kamar dimana Zain tidur tadi malam.


Ku buka pintu kamar dan ku dapati Zain yang tengah menangis mencari ku. Semalaman Zain tidur sendirian tidak ada aku di sisinya. Aku memeluk anak ku dengan erat lalu ikut menangis bersamanya.


Setelah aku merasa tenang dan Zain tidak menangis lagi aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku serta Zain. Setelah itu, aku keluar rumah saat mas Surya serta ibu belum bangun. Aku berjalan sambil menggendong Zain menuju warung bubur Bu Minah karena aku harus makan untuk mengumpulkan kembali tenagaku yang terkuras.


Ketika aku sedang berjalan pelan sambil menggendong Zain sebuah motor sport berhenti di sampingku. Aku menoleh, Raihan tersenyum manis ke arah ku. Aku sedikit tidak percaya ternyata Raihan masih mau menemui ku setelah kemarin dia marah padaku.


"Raihan..!"ucap ku lirih karena aku memang tidak memiliki tenaga untuk berucap dengan suara keras.


"Mba Nuri mau kemana?"


"Aku..aku mau ke warung bubur Bu Minah."


Raihan memperhatikan wajahku yang ku tundukan saja karena aku tidak sanggup melihat sorot matanya.


"Mba terlihat pucat sekali, apa mba lagi sakit?"


"Ti..tidak Rai !" jawabku dengan gugup.


Raihan tersenyum manis sekali. Senyuman yang mampu membuat siapa saja wanita yang melihatnya akan terpesona padanya.


"Yuk mba, aku antar !"


"Tidak usah Rai, aku jalan kaki saja dekat kok."


"Sekalian mba, aku juga mau mencari sarapan. Lagi pula kasihan Zain kalau berjalan kaki."


"Hi, Zain, apa Zain mau naik motor bersama uncle?" ajak Raihan pada Zain yang sedang ku gendong.


"Mau uncle..!"

__ADS_1


"Tuh, Zain saja mau naik motor denganku mba!"


Raihan memaksaku untuk ikut naik motor bersamanya dan Zain sendiri terlihat ingin ikut dengan Raihan. Dengan perasaan malu akhirnya aku mengikuti ajakan Raihan. Setelah itu, Raihan membawaku dan Zain ke warung bubur Bu Minah. Tiba di sana Raihan memarkirkan motornya di depan warung bubur. Sebelum turun dari motor kami sudah menjadi pusat perhatian orang orang yang ada di warung bubur. Aku menjadi merasa ragu sekali untuk menghampiri warung bubur karena kedatangan kami menjadi pusat perhatian.


"Yuk, mba." Ajak Raihan lalu mengambil alih Zain dari gendonganku.


Kami berjalan memasuki warung bubur dan orang orang di sana masih saja memperhatikan kami. Aku tau apa yang menjadi pusat perhatian yaitu keberadaan Raihan bersamaku. Seorang penjual gorengan datang ke warung bubur bersama pemuda tampan anaknya Hajah Fatimah.


Terlihat ada Bu Rida sedang memesan bubur sambil memandangku dengan wajah datar tanpa senyum. Aku merasa heran, biasanya Bu Rida selalu tersenyum jika bertemu denganku namun kali ini tidak. Apa karena aku datang bersama Raihan? Raihan yang ingin di jadikan menantu olehnya beberapa waktu yang lalu.


Meskipun Bu Rida berwajah datar saja melihatku aku memberikan senyuman dan menyapanya. Namun sapaan ku di abaikannya malah sebaliknya Bu Rida menyapa Raihan dengan sangat ramah.


"Kemarin Risa cerita katanya dia di antar sama kamu ke toko buku ya?" Bu Rida memberi tahu tentang Raihan yang mengantar Risa ke toko buku dengan suara di besarkan seperti sengaja agar aku mendengarnya.


"Hanya kebetulan saja satu arah Bu, makannya saya bisa mengantar Risa."


"Main main Rai, ke rumah. sekarang Risa tidak lagi mengontrak tapi bolak balik ke pulang ke rumah."


"Iya Bu, terima kasih. kapan kapan saya mampir ke rumah ibu."


"Di tunggu lho Rai!"


Raihan tersenyum dan mengangguk.


Bu Rida melihat ke arahku kemudian menyunggingkan senyum sinis lalu pergi dari warung bubur sambil membawa satu kotak bubur.


Raihan menoleh ke arahku yang berdiri di pojokan sambil menunduk.


Aku menggelengkan kepalaku. Raihan tersenyum hangat ke arahku.


"Biar aku saja yang pesan ya mba?"


Aku mengangguk.


Raihan memesan bubur pada Bu Minah dan aku duduk di lantai bersama Zain karena di warung itu tidak menyediakan kursi. Tak lama Raihan membawa satu kantong plastik berisi tiga kotak bubur lalu menghampiriku.


"Kok di bungkus Rai?"


"Apa mba mau makan di tempat ramai seperti ini?"


Warung bubur Bu Minah memang selalu ramai jika pagi hari karena di kampung ku hanya warung Bu Minah lah satu satu nya warung bubur yang ada.


Aku menaiki motor Raihan lalu meninggalkan warung bubur. Setelah tiba di jalan depan rumah dan Raihan hendak membelok kan motornya ke arah rumahku aku mencegahnya. Raihan memberhentikan motornya.


"Kenapa mba?"


"Aku tidak ingin pulang ke rumah Rai!"


"Terus, apa mba mau ikut bersamaku pulang ke rumahku?"


Aku terdiam dan bingung. Di satu sisi aku merasa malu pada Raihan karena sering merepotkan nya namun di sisi lain aku tidak ingin bertemu dengan mas Surya. Aku takut dia akan menjajah ku lagi.

__ADS_1


Raihan tidak lagi bertanya dia langsung menancap gas melajukan kembali motor sport nya menuju rumahnya.


"Ayok mba, masuk!" Raihan mempersilahkan aku masuk setelah membuka kan pintu untuk.


"Rai, apa Bu haji belum pulang?" tanya ku sambil berjalan ke arah dapur.


"Belum mba, katanya mau nambah waktu lagi lima hari. Maklum jarang bertemu dengan anaknya yang lain jadi masih kangen mungkin."


"Owh!"


Raihan meletak kan kantong plastik berisi bubur di atas meja lalu membukanya sementara aku menduduk kan Zain di kursi lalu ikut duduk di samping kursi Zain.


"Ayok mba, di makan. Biar aku saja yang menyuapi Zain."


"Tidak usah Rai, biar aku saja yang menyuapi Zain." Aku menolak Raihan untuk menyuapi Zain karena aku merasa tidak enak hati Raihan terus yang menyuapi anak ku.


"Mba Nuri terlihat pucat sekali, mba harus cepat makan. Biar aku saja yang menguapi Zain."


Aku menuruti perintah Raihan karena aku sendiri merasa tidak enak badan. Aku menyuapi bubur perlahan ke arah mulutku namun ketika bubur sudah berada di mulutku aku merasa mual sekali. Aku berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutku. Raihan terlihat panik melihatku muntah lalu dia berlari ke arahku.


"Apa mba sakit? wajah mba pucat sekali. kita ke dokter ya mba?"


Aku menggelengkan kepalaku lalu seketika saja pandanganku berkunang kunang lalu gelap sekali dan aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya padaku.


Ketika aku membuka mataku, aku sudah berada di atas ranjang kamar Raihan. Ku dapati wajah tampan Raihan tersenyum manis padaku. Sambil tangannya menggenggam erat telapak tanganku.


"Mba sudah sadar? mba tadi pingsang. Kita ke dokter ya mba? aku khawatir sama mba."


Aku menggelengkan kepala ku.


"Tidak perlu Rai, sepertinya aku hanya masuk angin saja tidak lama lagi pasti sembuh."


"Mba yakin?"


Aku mengangguk yakin.


"Kalau gitu mba makan dulu ya!" Raihan mengambil bubur ayam yang belum sempat aku makan di atas nakas.


"Ku suapi ya mba!"


"Biar aku saja Rai!"


"Biar aku saja mba." Raihan mengaduk bubur di dalam mangkok lalu mengarahkannya padaku.


"Ayok, mba, di buka mulutnya. Mba harus makan, harus sehat kasihan Zain kalau mba sakit."


Aku mengikuti perintah Raihan, meskipun mulutku terasa pahit sekali tapi harus ada asupan makanan di tubuhku. Aku tidak ingin sakit lama lama kasihan anak ku tidak ada yang menjaga. Ku buka mulutku menyambut bubur yang di sodorkan oleh Raihan hingga tujuh sendok bubur sudah masuk ke dalam perut. Namun ketika suapan ke delapan kali aku merasa perutku mual lalu aku pun muntah kembali di hadapan Raihan. Dengan sabar dan tidak ada rasa jijik Raihan membersihkan bekas muntahan ku. Aku merasa sangat merepotkan Raihan dan tidak enak hati padanya.


"Maaf Rai, aku sudah sangat merepotkan kamu."


"Tidak usah di fikirin mba, aku sama sekali tidak repot."

__ADS_1


Raihan berjalan ke arah lemari lalu mengambil sebuah selimut. Setelah itu, dia menggantikan selimut yang terkena muntahan ku dengan selimut yang baru dia ambil dari lemari.


__ADS_2