
Sudah seminggu berlalu namun mas Surya belum saja memberikan keputusannya atas apa yang aku ajukan antara dua pilihan yaitu untuk menceraikan aku atau menceraikan Ipah. Dia tidak pernah lagi menghubungiku atau mengangkat telpon serta membalas pesan pesan yang aku kirimkan padanya. Aku hanya ingin status yang jelas dan aku butuh kepastian dari mas Surya. Memikirkan statusku yang menggantung cukup membuat aku pusing sekali dan sepertinya aku butuh hiburan.
"Apa aku pergi rekreasi saja biar otak ku fresh! toh, aku punya uang," ucap ku sembari memijit keningku yang terasa pening.
Selama beberapa bulan ini aku memang di rumah saja sibuk berjibaku dengan pekerjaanku, membuat kerupuk serta mengedarkannya. Hari ini aku berencana untuk meliburkan dulu pekerjaanku di rumah dan memutuskan untuk pergi rekreasi saja bersama Zain, Sekali kali bikin Zain senang juga.
"Zain, kita jalan jalan yuk?"ajak ku pada Zain yang sedang mendorong mobilan nya.
"Alan alan mama...holeee alan alan!" Zain berseru sembari loncat - loncat kegirangan. Setelah itu, aku bersiap mengganti pakaian ku serta Zain dengan pakaian yang lebih layak.
Ketika aku membuka pintu, aku di kejutkan oleh kedatangan Andre yang sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum manis kepadaku. Dalam hati aku bertanya, kapan Andre datang? karena aku tidak mendengar suara mobilnya.
"Andre..!"sapa ku sembari menelisik penampilannya yang terlihat kasual, celana pendek serta kaos oblong. Sebab, tak biasa nya Andre berpenampilan seperti itu dan jika bertemu denganku dia selalu memakai kemeja serta celana panjang.
"Hai...Mahmud, tampan..apa kabar?"Andre menyapa balik, tangannya terulur mencubit kecil pipi Zain dan membuatnya tertawa lebar.
"Kami baik Dre, kamu tumben..!"aku tidak melanjutkan ucapan ku namun mataku masih menelisik penampilannya yang terlihat lebih sederhana.
"Tumben aku berpakaian seperti ini ya?"ternyata Andre menyadari atas keheranan ku.
"Meskipun penampilanku seperti ini tapi ketampanan ku tidak pudar kan Nuri?"sambungnya dengan percaya diri.
Jujur ku katakan, memakai baju bolong - bolong seperti seorang gembel pun tidak akan mengurangi ketampanan Andre, dia memang tampan dan aku tak menampik hal tersebut.
"Anyway...kalian mau kemana? sudah rapih sekali."
"Alan alan..om!"celetuk Zain tiba tiba.
Andre berjongkok kemudian bertanya,"Wow, Zain mau jalan jalan kemana? apa om boleh ikut?" Zain mendongak tinggi melihat ke arah wajahku, aku tau apa yang Zain pikir kan dia seperti meminta persetujuanku. Andre pun ikut mendongak dan bertanya,"bagaimana Mahmud, apa om yang tampan ini boleh ikut?"
"Tidak!"aku buru buru menolak, bukan tanpa alasan aku menolak nya karena aku tidak ingin kepergian kami bersama akan menjadi sebuah fitnahan seperti beberapa waktu lalu.
"Kamu menolak aku ikut dengan kalian mahmud?" tanya nya sembari berdiri menegak kan tubuhnya kembali.
"Aku tidak ingin seperti waktu itu jadi bahan gosip sekampung Dre!"
__ADS_1
"Apa orang tiga yang sok agamis itu menyebarkan isu di kampung ini?" tanya nya dengan wajah serius. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain karena aku tidak ingin menatap sorot mata Andre.
"Dimana rumah mereka aku mau kasih pelajaran pada mereka?" tanya nya lagi dengan nada geram.
Aku menghela nafas pendek."Sudahlah Dre tidak usah di bahas lagi, aku mau pergi sekarang." Kemudian aku mengunci rumahku dan menuntun Zain melangkah pergi namun baru beberapa langkah Andre bersuara.
"Apa kamu marah padaku Nuri?" tanya Andre dengan suara sedikit tinggi. Aku memiringkan wajahku melihat ke arahnya dan menjawab,"aku tidak marah Dre, aku hanya kesal."
"Apa bedanya dengan marah Nuri!"
" Beda andre!"
"Sama saja Nuri!"
"Beda dong!"aku masih kekeh pada pendapatku.
Andre tertawa renyah kemudian berkata,"ya sudah kalau begitu kalian hati hati saja di sana."
Setelah sedikit berdebat dengan Andre aku melangkah kan kaki ku kembali namun baru beberapa langkah aku kebingungan, bingung bagaimana caranya agar aku cepat sampai di jalan raya karena kampung ku sangat jarang ada jasa ojek. Aku menoleh ke belakang terlihat Andre masih berdiri di tempat memperhatikan ku sembari menyunggingkan senyum meledek.
"Apa kamu membutuhkan bantuan ku Nuri?"tanya Andre dengan nada menyindir.
Andre memberhentikan mobilnya tepat di sampingku kemudian membuka kaca mobilnya."Ayok naik, aku antar kamu sampai jalan raya,"aku terdiam dan kebingungan untuk menerima tawarannya atau menolak.
"Kamu ini banyak mikir sekali Nuri, cepat naik kasihan Zain kalau kalian jalan kaki." Andre masih mengajak dengan sedikit memaksa.
Aku mendengus kesal kemudian membuka pintu mobil dan menaikinya. Andre tersenyum melihat tampang ku yang cemberut.
"Mau manyun, mau mangap, mau nyengir mama mu tetap terlihat cantik Zain dan om tetap terpesona pada mama mu."Andre menggodaku. Aku mencebik kan bibirku dan mengalihkan pandanganku ke arah kaca samping.
"Jangan coba coba menggoda wanita yang sudah bersuami kalau tidak mau terkena bogeman dari suaminya,"ucap ku dengan pandangan tetap menyamping. Andre tertawa lebar mungkin menurutnya ucapan ku sebuah lelucon, kemudian dia menimpalinya."Sekuat apa sih suamimu itu? aku jadi penasaran ha ha ha." Aku melirik malas ke arahnya karena dia menertawakan ku.
Setelah tiba di jalan raya Andre tidak memberhentikan mobilnya melainkan melaju menambah kecepatan. Aku di buat bingung olehnya kemudian melirik ke arah Andre yang sedang fokus menyetir lalu protes." Kenapa kamu tidak memberhentikan mobilmu di pengkolan tadi Dre? terus ini kamu mau membawa aku kemana?"
"Memangnya kamu mau jalan jalan kemana Mahmud?biar aku antar saja pakai mobilku ini."
__ADS_1
Aku mendengus kesal pada sikap Andre yang pemaksa, sudah ku katakan bahwa aku tidak ingin pergi bersamanya namun dia masih saja memaksa.
"Turunkan saja aku di sini Dre!" titah ku padanya.
"Tidak Nuri, aku akan antar kamu dan Zain sampai tujuan, bahaya jika wanita secantik kamu jalan sendirian, bagaimana kalau ada orang jahat yang mengganggu kamu nanti?" Andre menolak dan beralasan.
"Tapi aku tidak sendirian Dre, memangnya si Zain kamu anggap apa dia? boneka? ucap ku dengan kesal.
"Ha..ha..ha..tapi Zain masih balita Nuri, dia belum bisa melindungi kamu. Kamu itu butuh pelindung sebesar aku Nuri, aku tidak masalah meskipun di sana nanti kamu anggap aku hanya seorang bodyguard mu."
Aku mencebik kan bibirku, kesal sekali pada sikap Andre yang aku rasa sedikit posesif. Aku tidak lagi menimpali ucapannya dan memilih diam.
Andre membawa kami ke taman rekreasi anak anak atas permintaanku. Tadinya Andre menawari ku untuk mengunjungi pantai namun aku menolaknya karena membawa Zain, aku pikir tidak baik membawa balita ke pantai apalagi ombak nya sedang pasang serta angin laut yang cukup kencang.
Setelah tiba di sana, Andre memesan tiga tiket untuk kami. Tadinya aku mau membayarnya sendiri namun Andre memaksa menggunakan uang nya saja dan dengan terpaksa aku menyimpan kembali uangku.
"Dasar pria pemaksa."Aku mengumpat kesal, kemudian beranjak pergi meninggalkan Andre yang sedang tertawa renyah mendengar umpatan ku.
Setelah memasuki area taman rekreasi yang cukup luas, tidak sedikit pasang mata yang memperhatikan kami bertiga, mungkin mereka pikir kami adalah satu keluarga kecil yang sempurna, Andre yang tampan, Zain yang tampan serta menggemaskan dan aku yang kata kebanyakan orang memiliki fisik sempurna.
Aku mengabaikan tatapan kagum orang orang pada kami kemudian mengajak Zain ke area kebun binatang terlebih dahulu sebelum ke area lainnya karena aku ingin memperkenalkannya pada jenis jenis hewan yang ada di sana.
"Zain biar aku gendong saja Nuri, kasihan kalau jalan kaki tempat nya lumayan jauh." Andre menawarkan diri untuk menggendong Zain dan aku membiarkannya saja.
Setelah tiba di area kebun binatang, aku memperkenalkan satu persatu jenis jenis hewan yang sedang di kurung. Zain terlihat antusias sekali melihat serta mendengar penjelasan yang aku sampaikan padanya. Ini merupakan pengalaman baru bagi Zain melihat bermacam macam Hewan secara nyata.
Cukup lama kami berada di area kebun binatang dan selanjutnya kami memutuskan untuk mengunjungi tempat permainan anak anak. Andre menawarkan diri lagi untuk menggendong Zain menuju tempat permainan anak anak dan aku membiarkannya saja. Dalam hati aku berkata, ada untungnya juga Andre ikut, selain membayarkan tiket dia juga menggendong Zain ke sana kemari sehingga aku tidak perlu payah atau kelelahan menggendong nya.
Setelah tiba di tempat permainan anak anak, kami duduk di sebuah bangku panjang untuk menghilangkan rasa lelah sejenak.
"Kalian tunggu sebentar di sini ya?" kata Andre tiba tiba.
Aku melirik ke arah Andre yang sedang duduk di samping Zain kemudian bertanya,"kamu mau kemana Dre?"
"Aku mau membeli minuman dulu, kalian haus bukan?" jawabnya, kemudian berdiri tegak. Aku memegang tenggorokan ku yang memang terasa haus lalu mengangguk pelan.
__ADS_1
Setelah itu, Andre beranjak pergi mencari penjual minuman dan aku menatap punggungnya hingga sampai di kejauhan dengan pikiran menerawang dan berandai andai.
"Ternyata kamu ada disini Nuri!"sapaan suara seorang pria membuyarkan lamunan ku. kemudian aku menoleh ke arah samping dimana arah sumber suara itu dan seketika aku terperangah mendapati pria yang selama ini sulit sekali ku hubungi sedang berdiri tegak di hadapanku.